Skip navigation.

Journal of a Tukang Potret*

Akhirnya, Kamera Full Frame dari Sony!

, , , , , , ,


Kadang suka heran juga dengan diri sendiri, ngapain juga ditungguin. Belinya juga nggak :smile: Tapi memang agak susah menjelaskannya, bagi yang hobi fotografi seperti saya, rasanya ada sesuatu yang hilang ketika merek dari kamera yang kita punya tidak kunjung mengeluarkan produk yang lebih baru lagi.
O ya, sekedar intro, kenapa artikelnya tentang kamera Sony dan bukan merek yang lain, adalah karena saya memang dengan sangat terpaksa terikat ke Sony secara pada tahun 2006, divisi kameranya KonicaMinolta dijual ke Sony. Sedangkan saya sudah pakai kamera DSLR-nya KonicaMinolta sejak 2005. Alhasil, suka tidak suka (sebelumnya saya ndak begitu suka dengan merek Sony karena harganya mahal sementara teknologinya rasanya biasa saja), saya jadi terpaksa close monitor perkembangan DSLR-nya Sony.
Selama 4 tahun mengamati, nyata terlihat kalau komitmen Sony untuk menceburkan diri dalam bisnis DSLR sangat serius. Mulai dengan mengeluarkan 1 model saja, Sony Alpha 100 pada tahun 2006, disusul dengan Alpha 700 - Alpha 200 - Alpha 300 - Alpha 350 pada tahun 2007! Dan sekarang Alpha 900. Enam model dalam waktu 3 tahun saja, atau secara purata 2 model per tahun betul2 luar biasa. Mengingat sebelum tahun 2006 Sony dikenal hanya sebagai pembuat pocket camera saja. Sedangkan Olympus, Pentax dan merek2 lain yang sudah lebih dulu mapan saja hingga saat ini belum bisa membuat DSLR seperti Alpha 900 dimana ukuran sensornya sama seperti ukuran film 35mm atau lebih dikenal sebagai full-frame.

Automate 6Sleep Paralysis (Tertindih Waktu Bangun Tidur)

Write a comment

You must be logged in to write a comment. If you're not a registered member, please sign up.

Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31