Skip navigation.

Journal of a Tukang Potret*

Posts tagged with "da'wah"

Well-known People

(lanjutan dari artikel sebelumnya: "Dari Malem Mesennya")

"Kecuali, kita dah dikenali sama si tukang bubur, sebagai pelanggan
tetap" begitu saya bercerita. Si tukang bubur akan nganterin bubur,
diminta tanpa diminta. "Ass., Pak, Bu, ini bubur panasnya. Silahkan
disantap. Masih panas. Enak," begitulah si tukang bubur bakal brtutur
ketika menawarkan buburnya. Bahkan, si tukang bubur masih melengkapi
dengan seledri, kerupuk, sate usus/kulit ayam dan sambel tambahan.
Jaga-jaga kita membutuhkannya.

Kenapa bisa demikian? Ya itu tadi. Kita biasa mesen sama dia. Jadi,
mesen ga mesen, dianggap mesen. Bahkan sudah tidak perlu harus membayar
cash lagi. Dah ga penting. Hubungannya lebih dari sekedar penjual ke
pembelinya. Tapi antara penjual dengan pelanggannya. Hubungan emosional.

Maka, biasakanlah berdoa. Justru di saat kita sehat, lapang, ga ada
keperluan, ga ada hajat mendesak, sedang kaya, sedang jaya, sedang
lancar-lancarnya usaha, sedang baik-baiknya anak-anak dan keluarga.
Insya Allah ini akan menjadikan kita dikenal di langit sebagai
orang-rang yang bila berdoa, sekali angkat tangan Allah akan kabulkan.
Bahkan seperti siloka di atas, ga perlu mengangkat tangan saja, sudah
Allah akan berikan yang baru terbersit di hati dan pikiran. Masya Allah.
Juga biasakanlah bersedekah di saat-saat di mana Allah melapangkan semua
jalan bagi kita. Supaya Allah jaga nikmat-Nya untuk kita dan senantiasa
ditambah segala nikmat sebab kita dah jadi hamba-Nya yang bersyukur.

Subhaanallaah, semoga Allah dan para malaikat-Nya betul mengenali kita
sebagai hamba-Nya yang saleh, rajin dan taat beribadah. Amin Allahumma
amin.

By: Ustadz Yusuf Mansyur

Dari Malem Mesennya

(lanjutan dari artikel sebelumnya : "Mesennya Sedari Awal")

Ngomong-ngomong tentang "mesen bubur dari pagi", ada yang lebih dahsyat lagi. Kita datengin aja tuh tukang bubur dari malem. Jauh sebelum ia jualan esok paginya. Ntar tuh tukang bubur kaget sendiri. Kita dateng, kita kasih mangkok kita, dan kita bayar dia. Seraya kita mengatakan kepada nih tukang bubur, "Bang, anterin ya besok pagi. Saya pengen makan itu dari pagi-pagi". Percaya dah, kayaknya si tukang bubur, ga perlu nunggu dia punya gerobak rapih, ia akan menyegerakan merapihkan bubur pesenan kita dulu.

Inilah yang saya sebut dengan mintalah sejak malam. Yakni lewat tahajjud, lewat shalat malam. Ketika hamba-hamba Allah bersiap-siap dari pagi, kita sudah bersiap sejak malamnya. Masya Allah. Kita terjaga dari tidur kita, sebab kepengen menghadap duluan ke hadirat Ilahi Rabbi yang memiliki pagi, siang dan sore. Allah pemilik segala hasil dari ikhtiar kita. Bahkan Allah lah yang memiliki ikhtiar kita. Kalau DIA tidak menghendaki kita berikhtiar, adalah mudah bagi-Nya. Dengan dibuat sakit kepala saja, maka bisa jadi kita akan segera memarkir badan kita dan beristirahat. Dan sebaliknya, karena rizki juga milik-Nya, maka kalau DIA sudah berkenan menjadikan rizki menjadi bahagian dari rizki kita, maka ikhtiar kita menjadi tidak perlu bagi-Nya. Bisa saja kita kemudian diberi-Nya rizki bukan lewat jalan ikhtiar kita.

Pengen jajal? Coba saja istiqamahkan bangun malam, dan rasakan perbedaannya di kehidupan kita, di kualitas hidup kita, di perbedaan hasil kerja dan usaha kita, termasuk di perjalanan doa dan sedekah kita.

By: Ustadz Yusuf Mansyur

Mesennya Sedari Awal

(lanjutan dari artikel sebelumnya : "Tukang Bubur")

Melanjutkan si tukang bubur, kalo mo lebih cepat lagi, pesen lah dari pagi-pagi. Sebelum dia pada didatengin pembelinya. Kita udah naro mangkok dan uang duluan. Begitu si tukang bubur membuka gerobaknya, maka kitalah pelanggan pertamanya.
Inilah saya bilang dengan sholat dhuha. Ketika para pencari dunia yang laen sudah berburu dunia, kita pun udah start. Tapi kita mampu nginjek rem. Kita berhenti sejenak. Dengan air wudhu yang sudah kita bawa dari rumah, kita kemudian tegakkan shalat dhuha. Subhaanallaah, tentunya Pemilik Dunia akan memilih kita untuk menggenggam dunia-Nya. Luar biasa kan? Pagi-pagi kita udah lapor sama bos. Ibarat tukang bubur yang udah dipesen dari pagi, ia akan memprioritaskan kita dulu dan akan lebih mengingat kita ketimbang pembeli yang lain.

Subhaanallaah. Maha Suci Allah yang ga pantes saya samakan dengan makhluk-Nya. Allah tentu saja Maha Mengingat. Tapi siloka nya seperti itu. Coba saja kita lakukan itu. Dhuha nya disiplinkan. Insya Allah,
perjalanan doa dan sedekah kita, akan tercapai dengan kecepatan yang mengagumkan. Apalagi Allah dan Rasul-Nya menjanjikan pahala kebaikan dhuha yang luar biasa.

Shalat dhuha 2 rakaat, merupakan pembuka pintu rizki yang masya Allah. Ia bahkan setara pahalanya dengan ibadah haji dan umrah yang makbul. Bayangkan, yang makbul! Sedangkan kita ibadah haji dan umrah benernya saja beloman tentu makbul. Dan segudang lagi fadhilah dhuha yang besar sekali manfaatnya dunia
akhirat. Kalo bisa, jangan 2 rakaat shalatnya. Tapi 4, 6 atau bahkan 8 dan 12. Insya Allah, jadilah hamba-Nya yang berbeda.

By: Ustadz Yusuf Mansyur

Tukang Bubur

Allah, laisa kamistlihi sya-un. Ga bisa disamain dengan yang laen. Tapi contoh berikut ini adalah ilustrasi tentang doa dan amal saleh. Saya sering mencontohkan, ada ssorang dengan kain sarungnya dia keluar kamar.
Pagi hari. Dia tereak di depan rumah kontrakannya. Teriakan kecil, "Bang, bubur...". Tanda mesen bubur. Inilah saya bilang, dengan doa. Kita mengatakan, "Ya Allah, ya Allah, ya Allah...". Kita masih butuh amal saleh, agar doa kita dikabul Allah.

Apabila kita mau cepat dikabul Allah, coba lihat ilustrasi berikutini.

Kita lihat si tukang bubur sedang melayani antrian pembeli buburnya. Susah nih buat dilayanin. Masuk dalam daftar antrian. Kalau mau gampang, menyeruak saja ke dalam antrian, taroh lansung uang
di sana, "Bang, ini uangnya. Kembaliannya buat abang dah". Wah, dijamin tuh, kayaknya si tukang bubur akan memprioritaskan kita.

Tinggallah yang laen terbengong-bengong dan mengatakan, "kita kan udah nunggu dari tadi...". Iya benar, tapi yang ini bayar duluan, begitulah niscaya tukang bubur akan mengatakan kepada pelanggannya yang laen. Terus, mereka-mereka ini pada bilang lagi, "Iya, kita-kita kan bisa bayar duluan juga...". Si tukang bubur tersenyum, lalu ia bilang, "Kenapa ga dari tadi?".
Begitulah wahai saudaraku, amal saleh memang akan membedakan kita semua dari yang laen.
Apalagi dalam kaitannya dengan doa dan harapan kita. Berdoalah kita pada-Nya, jangan dengan tangan kosong. Tapi berilah sesuatu ke Allah, dari amal sedekah kita, dan amaliyah keseharian kita. Insya Allah bayaran ini pun bukan buat Allah, tapi kembali lagi pada kita. Mudah-mudahan Allah menerima amal kita.

By: Ustadz Yusuf Mansyur
Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31