Skip navigation.

exploreopera

| Help

Sign up | Help

photo

Journal of a Tukang Potret

Still busy and getting dizzy with bolt and nuts ...

Cinta Sebagai Agama

, , , , ,

Pada zaman dahulu, hidup seorang gembala yang bersemangat bebas. Dia tidak memiliki uang dan tidak punya keinginan untuk memilikinya. Yang dia miliki hanyalah hati yang lembut dan penuh keikhlasan; hati yang berdetak dengan kecintaan kepada Allah. Sepanjang hari dia menggembalakan ternaknya melewati lembah dan padang melagukan jeritan hatinya kepada Allah, "Duhai Pangeran Tercinta, dimanakah Engkau, supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Dimanakah Engkau, supaya aku bisa menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas, karena berkat-Mu aku hidup. Aku ingin mengorbankan dombaku ke hadapan kemuliaan-Mu."

Suatu hari Nabi Musa AS melewati padang gembalaan tersebut dalam perjalanan menuju ke kota. Ia memperhatikan sang gembala yang sedang duduk di tengah ternaknya dengan kepala mendongak ke langit. Sang gembala menyapa Tuhan, "Ah, dimanakah Engkau, supaya aku bisa menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, dan menyiapkan ranjang-Mu? Dimanakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Dimanakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?"
Musa mendekati gembala itu dan bertanya, "Dengan siapa kamu berbicara?" Gembala menjawab,"Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, bumi dan langit." Musa murka mendengar jawaban gembala itu, "Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!"
Sang gembala segera bangkit setelah mengetahui bahwa yang mengajaknya bicara adalah seorang nabi. Dia bergetar ketakutan. Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, dia mendengarkan Musa yang terus berkata, "Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa, sehingga Dia harus memakai sepatu dan kaus kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil, yang memerlukan susu supaya Dia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Mahasempurna dia dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapapun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!"
Gembala yang sederhana itu tidak mengerti bahwa apa yang dia sampaikan kepada Tuhan adalah kata-kata yang kasar. Dia juga tidak mengerti mengapa Nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh, tapi dia tahu betul bahwa seorang Nabi pastilah lebih mengetahui dari siapa pun. Dia hampir tak bisa menahan tangisannya. Dia berkata kepada Musa, "Kau telah menyalakan api di dalam jiwaku. Sejak ini aku berjanji akan mengatupkan mulutku untuk selamanya." Dengan keluhan yang panjang, dia berangkat meninggalkan ternaknya menuju padang pasir.
Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, Nabi Musa AS melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba-tiba Allah SWT menegurnya, "Mengepa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pencinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan ikatan diantaranya." Nabi Musa AS mendengarkan kata-kata Allah tersebut dengan penuh kerendahan dan rasa takut.
Allah berfirman, "Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak membutuhkan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah bahwa di dalam cinta, kata-kata hanya bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami, walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna."
Suara dari langit selanjutnya berkata, "Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta. Dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta. Karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri." Tuhan kemudian mengajarkan Musa rahasia cinta.
Setelah Musa memperoleh pelajaran itu, dia mengerti kesalahannya. Sang Nabi pun menderita penyesalan yang luar biasa. Dengan segera, dia berlari mencari gembali itu untuk meminta maaf. Berhari-hari Musa berkelana di padang rumput dan gurun pasir, menanyakan kepada orang-orang apakah mereka mengetahui gembala yang dicarinya. Setiap orang yang ditanyainya menunjuk arah yang berbeda. Hampir-hampir Musa kehilangan harapan, tetapi akhirnya Musa berjumpa dengan gembala itu. Dia tengah duduk dekat mata air. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut masai. Ia berada di tengah tafakur yang dalam sehingga tidak memperhatikan Musa yang telah menunggunya cukup lama.
Akhirnya gembala itu mengangkat kepalanya dan melihat kepada sang nabi. Musa berkata, "Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah jika kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apapun yang kamu sukai, dengan kata-kata apapun yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia". Sang gembala hanya menjawab sederhana, "Aku sudah melewati tahap kata-kata dan kalimat. Hatiku sedkarang diliputi dengan kehadiran-Nya. Aku tak dapat menjelaskan keadaanku padamu dan kata-kata pun tak bisa melukiskan pengalaman ruhani yang ada dalam hatiku." Kemudian ia bangkit dan meninggalkan Musa.
Nabi Musa menatap gembala itu sampai ia tak terlihat lagi. Musa kembali berjalan ke kota terdekat, merenungkan pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang gembala sederhana yang tidak berpendidikan.
Cerita tersebut melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan cintanya kepada Tuhan, dia tidak bisa lagi menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskan seluruh kecintaannya kepada Allah SWT. Di dalam cinta, kata-kata menjadi tidak punya makna.
Dari kisah ini juga kita belajar untuk bisa mendekati Allah SWT., tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi atau ilmu yang sangat mendalam. Salah satu cara utama untuk mendekati Tuhan adalah hati yang bersih dan tulus. Tidak jarang pengetahuan kita tentang syariat membutakan kita dari Tuhan. Tidak jarang ilmu menjadi hijab yang menghalangi kita dari Allah SWT.
Nabi SAW bersabda, "Innallâha lâ yanzhuru ilâ shuwarikum walakinallâha yanzhuru ilâ qulǔbikum. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak memperhatikan bentuk-bentuk luar kamu. Yang Allah perhatikan adalah hati kamu."

Siapa Mau Ikut ke Surga?Remnants of War

Write a comment

You must be logged in to write a comment. if you're not a registered member, please sign up.

October 2008
MTWTFSS
September 2008November 2008
12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031