SECRET PROJECT

Utopia

Subscribe to RSS feed

BAB 67: Peringatan dan Perintah

, ,

“Komandan, kamera pengawas mengangkap pergerakan seseorang di sekitar pilar yang berada tak jauh dari Gedung Organisasi Pemerintahan Dunia!”, seorang prajurit melapor.

“Baik.”, sahut Jim Walsh, orang yang disebut komandan. “Aku yakin orang itu merupakan salah satu dari mereka.” Jim tampak berpikir sebentar. “Mungkin kita harus mencegahnya melakukan sesuatu yang aneh.”

“Negatif, Komandan!” Prajurit itu menanggapi. “Kita dilarang melakukan kontak dengan mereka, kecuali terpaksa.” Dia mengingatkan. “Dari informasi yang telah diterima, mereka terlalu kuat. Sangat kuat.”

“Apa menurutmu begitu, Prajurit?”, tanya Jim. “Bukankah kalian semua sudah terlatih?” Jim menatap mata prajurit di depannya. “Aku akan memerintahkan pasukan untuk bersiap.”

“Ta…tapi…” Prajurit tersebut terkejut dengan apa yang dikatakan komandannya.
“Apa yang kau takutkan, Prajurit?” Jim terheran. “Kalau perlu, kita akan mengerahkan satu batalion tempur untuk menghentikannya.”, kata Jim. “Apa kau mau menolak perintahku?”

Prajurit itu tampak gugup. “Ti…tidak, Komandan!” Dia memberi hormat.
“Bagus.” Jim tersenyum. “Siapkan beberapa kendaraan berat dan senjata.”, perintah Jim. “Kita akan berangkat ke sana 5 menit lagi.”

“Siap laksanakan!” Prajurit itu memberi hormat pada Jim, kemudian berlari menemui teman-temannya yang lain.

**

Franz sedang memasang kuda-kuda untuk meninju pilar dihadapannya, ketika dia merasakan getaran yang kuat pada tanah. “Ulah Danny lagi ‘kah?” Dia menebak.

Namun tak lama dia mengetahui juga asal usul getaran tadi, 3 buah panser dan 2 buah tank yang dilengkapi persenjataan lengkap, bergerak beriringan menghampirinya. Melihat hal tersebut, Franz bersiul kagum.

“Di sini adalah daerah terlarang, harap segera meninggalkan daerah ini.” Suara speaker terdengar dari salah satu kendaraan di hadapan Franz. “Atau kami akan melakukan tindakan yang diperlukan.”
“Kau bercanda, ‘kan?” Franz tampak bingung. “Ya, kau pasti sedang bercanda!” Franz tertawa.

Suara speaker kembali terdengar. “Sebaiknya…...” Belum sampai dia menyelesaikan kalimatnya, Franz bergerak maju dan meninju salah satu panser, tempat suara speaker tersebut berasal. Bagian depan panser itu langsung penyok seperti dihantam besi.

Para prajurit yang melihat kejadian itu, sangat terkejut. Kendaraan berat itu, kemudian bergerak membentuk lingkaran, dan mengepung Franz.

Sebuah peluru meriam di tembakan dari tank yang berada di sisi kanannya. Dengan sekejap Franz menahan peluru meriam tersebut dengan kekuatannya, dan langsung dikembalikan. Tank tersebut kemudian meledak dan terbakar. Beberapa prajurit terlihat keluar dari dalam tank tersebut, dan mencoba menyelamatkan diri.

Sial bagi para prajurit yang ada di sana, karena energi Franz masih banyak. Dia pun mengangkat panser yang sudah penyok dihadapannya, lalu dilemparkan ke panser yang ada di belakangnya. Suara berdebum keras terdengar saat kedua panser tersebut beradu.

Peluru meriam kembali ditembakkan lagi ke arah Franz dari arah kiri. Kali ini Franz berhasil menahannya lagi dan mengarahkan peluru meriam tersebut ke arah dua panser yang tadi beradu. Seketika muncul ledakan besar.

Franz kemudian merasakan tubuhnya ditembaki. Tapi, karena tubuhnya kuat, peluru-peluru tersebut tidak sampai menembus tubuhnya. Dengan kekuatannya, Franz mengangkat dua orang prajurit kemudian melemparkan mereka ke arah panser yang tadi meledak. Terdengar suara teriakan.

Franz beralih ke tank yang masih tersisa. Dia menghampiri tank tersebut, lalu dihadapan tank tersebut dia menghujamkan tinjunya ke tanah. Perlahan-lahan, muncul retakan-retakan di tanah, yang makin lama makin besar, kemudian tanah tersebut membelah dan menjatuhkan tank itu. Sebagian besar tank tersebut sekarang terkubur, dan tak bisa digerakkan.

Franz melangkah ke panser yang berada di samping tank tadi. Dia hendak membalik dan menghancurkan panser tersebut, ketika seseorang memanggilnya. “Cukup Franz!”

“Kau terlambat.” Franz membalik badan. “Seharusnya kau tahu aku akan melakukan ini, Chizu…” Franz tersenyum. “Apa kemampuanmu sekarang telah menghilang?”

“Aku telah memperingatkan mereka tentang kau.”, ujar Chizu. “Namun beberapa hal memang tidak bisa dirubah, dan harus terjadi.”

“Ya, sama seperti kehancuran dunia.”, tanggap Franz.
“Tidak!”, bantah Chizu. “Kami memiliki kesempatan yang sama untuk menuliskan akhir berbeda.”
“Benarkah, Chizu?” Franz tidak percaya. “Kita buktikan saja nanti…”
“Ya, mari kita buktikan.” Keringat Chizu mulai menetes karena panas yang disebabkan oleh api sisa ledakan tadi. “Sama seperti pertarungan yang akan kita lakukan sebentar lagi.”, katanya. “Aku meramalkan kemenanganku...”

Franz tampak marah mendengarnya. “Baik, mari kita lakukan sekarang!”
“Dengan senang hati.” Chizu tersenyum.

BAB 66: The Knower versus The Lightning Emperor

, ,

Ian memegang pilar penahan gelombang pikiran yang ada dihadapannya. Dia berkonsentrasi sebentar, lalu mengeluarkan listrik 100 juta volts dari dalam tubuhnya, mencoba melelehkan pilar dihadapannya. Sepertinya keputusan Ian tepat, karena sekarang pilar tersebut mulai memerah dan melunak, yang disebabkan panas yang ditimbulkan olehnya.

Baru saja usahanya mulai berhasil, ketika tubuhnya terlempar ke samping dan menabrak sebatang pohon. Dia diserang tiba-tiba. Serangan tersebut telah membuat pohon yang ditabrak Ian nyaris patah, karena menahan dorongan yang kuat dari hempasan tubuhnya.

Ian mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling, mencari siapa penyerangnya, dan dia pun menemukannya. “Ah, Benjamin! Serangan yang baik!” Ian melihat ke arah penyerangnya. “Aku tak menyangka bahwa kau yang akan menjadi lawanku.” Ian pun bangkit dan membersihkan pakaiannya.

“Lawan? Aku tak ingin mencari lawan.” Ben menurunkan tangannya. Rupanya tadi dia menyerang Ian dengan bola energi, yang dikeluarkan dari telapak tangannya. “Aku hanya harus menghentikan perbuatanmu.”

“Sama saja bukan?” Ian berjalan mendekati Ben dengan sikap waspada.
“Tidak.”, tegas Ben. “Kalau kau tidak bersikeras menghancurkan pilar itu, atau menghancurkan dunia.”
“Kau tahu, sebenarnya aku juga tak mau melakukan ini.” Ian tampak sedih.

“Lalu, kenapa kau lakukan?”, tanya Ben.
“Karena aku ingin melindunginya...”, jawab Ian lirih.
“Siapa?” Ben mengerutkan dahi. “Kau ingin melindungi siapa?”
“Kau juga tahu.” Ian memaksa tersenyum.
“Hera?” Ben menebak.
“Aku mencintainya.” Pandangan Ian menerawang. “Dan, aku akan melakukan apapun untuk melindunginya.”

“Termasuk menghancurkan dunia?”
Ian terdiam sesaat, kemudian mengangguk. “Dia membutuhkanku.”
“Berarti tidak ada jalan lain.”, kata Ben. “Sekarang, kau dan aku adalah lawan.”
“Ya, mari bertarung sampai salah satu dari kita mati.” Ian mengusulkan.
“Baik.” Ben menyetujui ucapan Ian, dan bersiap.

**

Tubuh Ian memancarkan percik-percik listrik yang dikeluarkan tubuhnya. Sinar kekuningan yang tercipta dari percikan listrik itu menari-nari disekeliling tubuh Ian. Tampak Indah, namun mematikan. Ian memasang kuda-kuda, siap menyerang.

Ben berdiri tenang dihadapan Ian. Tanpa melakukan banyak gerakan berarti. “Ayo mulai.”

Ian sempat menyunggingkan senyum sebelum dia bergerak cepat menuju Ben dan menyerangnya. Ian menyerang Ben dengan membabi buta, namun tak satupun serangannya berhasil masuk. Ben dapat menghindari serangan Ian dengan baik.

“Percuma.”, ujar Ben ditengah-tengah serangan Ian. “Aku bisa membaca pikiranmu seperti aku membaca buku.”, lanjutnya. “Aku bisa tahu apa yang akan kaulakukan.”

Ian menghentikan serangannya, dan melompat ke belakang. “Kau benar.” Ian menyetujui perkataan Ben. “Tapi bagiku tidak masalah.” Seusai berkata seperti itu, percikan-percikan listrik yang keluar dari tubuh Ian bertambah besar dan banyak. Hal tersebut membuat tanah disekitarnya bergetar dan retak.

“Apa yang ingin kau lakukan?” Ben memasang kuda-kuda bertahan.

“Kau mungkin tahu apa yang kupikirkan, tapi…” Ian mengambil jeda. “Apa kau cukup cepat untuk mengantisipasinya?” Ian tersenyum penuh kemenangan. “Aku memiliki kecepatan cahaya.” Ian langsung menyerang Ben kembali. Kali ini kecepatan serangannya bertambah berkali-kali lipat.

Apa yang dikatakan Ian terbukti, Ben tidak cukup cepat. Semua serangan Ian masuk. Ben akhirnya kepayahan dan memuntahkan darah. Tanpa peduli, Ian meninju pipi Ben hingga dia melayang beberapa meter, dan jatuh terlentang.

Ian menghilangkan kekuatan listriknya dan mendekati Ben yang sekarang tubuhnya dipenuhi memar serta berlumuran darah, akibat serangan yang dilakukannya. Ben terbatuk-batuk sambil memegangi tulang rusuknya. Ben terlihat tidak berdaya.

Ian berdiri di samping kepala Ben, dan menatapnya. “Selamat tinggal, Ben.” Kemudian, Ian melayangkan tubuhnya 10 meter di atas kepala Ben, dan kembali mengeluarkan kekuatan listriknya. “Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang, kawan.” Ian pun meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi, berniat menghancurkan kepala Ben.

Mengetahui apa yang hendak dilakukan Ian, Ben memejamkan matanya.

BAB 65: The Life Maker versus The King of the Beast

, ,

Adam dan Julia berdiri berhadapan. Atmosfir diantara mereka berdua menegang. Adam mengeluarkan buku sketsa kecil dari sakunya, dan merobek salah satu halaman di dalamnya. Julia bersikap waspada. "Hiduplah Rocky!" Adam melemparkan kertas ke depan, dan dengan sekejap dari dalam kertas itu keluar sesosok makhluk besar yang seluruh tubuhnya terbuat dari batu.

Dalam hitungan detik, makhluk tersebut -- Rocky -- menyerang Julia. Dengan cepat Julia melompat dan melayang beberapa meter di atas Rocky. Rocky tampak tidak sabar dan melompat berusaha menggapai Julia, tapi dia tidak berhasil.

Julia memejamkan matanya sebentar, dan ketika dia membukanya lagi matanya berubah menjadi merah dan tampak seperti mata binatang buas. Tidak hanya itu, lengan-lengan Julia pun bertambah besar, berotot dan berbulu coklat. Kuku-kuku Julia terlihat memanjang dan menajam. Gigi-giginya berubah menjadi taring tajam. Kemudian, dengan gerakan cepat Julia meluncur ke arah Rocky, dan memukul perutnya.

Diserang tiba-tiba, Rocky tidak siap, pukulan Julia pun tidak dapat dielakkan. Rocky berteriak. Tangan Julia menembus tubuh Rocky. Rocky pun mati dan kembali berubah menjadi tinta hitam.

"Apa itu tadi?" Adam penasaran. "Aku tidak tahu kau bisa seperti itu."
"Possessed... Perasukkan..." Julia kembali ke wujud asalnya. "Aku tak hanya bisa mendengar dan bicara dengan binatang, asal kau tahu."

"Perasukkan? Itu menarik...", tanggap Adam. "Bisa kau jelaskan sedikit?"
Julia memandang Adam dengan heran. "Ya, aku bisa memanggil roh-roh para binatang, memasukkannya dalam tubuhku, dan meminjam kekuatan mereka." Julia memutuskan untuk menjelaskannya pada Adam.

"Wow!" Adam tertawa senang. "Lalu, roh binatang apa yang merasukimu tadi?"
"Beruang grizzly coklat." Julia tersenyum.

Adam mengangkat salah satu alisnya sambil menganalisa Julia sebentar. "Hmmm... Kau yakin tak mau berubah pikiran dan bergabung dengan kami?" Adam memberikan penawaran. "Kita ini dewa, apa kau paham?"

"Kita ini bukan dewa." Julia tersenyum mengejek. "Kita ini hanya produk hasil eksperimen manusia."

Ekspresi wajah Adam berubah. Dia tidak senang mendengar pernyataan Julia. "Oke, sudah cukup mengobrolnya. Mari kita lanjutkan kembali." Adam mengangkat dan menengadahkan tangan kanannya ke depan, sejajar dengan bahu, dia berkonsentrasi.

Tiba-tiba, genangan tinta bekas raksasa dan juga makhluk batu yang tadi mati, bergerak serentak menuju Adam. Tinta itu kemudian menyatu, membungkus tubuh Adam dan membentuk bola besar yang terlihat berputar.

Julia terkejut dengan apa yang sedang terjadi. Dia melangkah ke belakang, menjaga jarak, dan tetap bersikap waspada.

Tak lama tinta berbentuk bola dihadapan Julia terlihat terhisap ke tengah dan menghilang dengan cepat, dan sekarang digantikan oleh sesosok makhluk asing setinggi 2 meter. Tubuhnya tampak kurus rata, dan berwarna hitam mengkilap. Kedua tangannya berbentuk seperti bilah pedang yang tajam. Kedua matanya menyolok berwarna kuning menyala, namun wajahnya rata, tanpa hidung dan mulut. Secara sekilas, dia terlihat seperti alien dalam film-film fiksi.

"A...apa itu kau, Adam?" Julia sedikit terbata.
"Tentu saja." Adam mengangkat tangan pedangnya ke arah Julia. "Tidak hanya kau yang bisa 'dirasuki'…” Suaranya terdengar berat dan serak. “Aku juga bisa." Adam segera melesat ke depan dan menyerang Julia.

Julia berhasil menghindar, memejamkan matanya sebentar, lalu dia kembali dirasuki roh binatang. Kali ini Julia dirasuki oleh Cheetah. Julia bergerak dengan menggunakan kedua tangan dan kakinya. Dia berhasil menghindari serangan Adam beberapa kali, kemudian menyerang balik Adam dengan menggigit lehernya, namun tidak berhasil. Julia pun melompat mundur menjauhi Adam.

“Kau tidak akan berhasil, Julia.” Adam tertawa melihat serangan Julia yang gagal. “Tubuhku ini sama kuatnya dengan berlian“, ujarnya. “Tidak ada yang sanggup menghancurkannya.”

Adam kembali menyerang Julia. Beberapa kali serangan Adam masuk, dan berhasil mengenai Julia. Tubuh Julia mulai dipenuhi oleh luka sabetan tangan pedang Adam. Serangan Adam bahkan telah melukai perut kiri Julia. Darah pun mengotori pakaian Julia.

Namun Julia juga tidak menyerah. Dia kembali menggunakan roh beruang, dan menyerang Adam hingga berhasil menghantam wajahnya, namun tidak ada efek apapun. Dia menggunakan roh gajah, dan menyeran Adam lagi. Tendangannya berhasil masuk dan mengenai perut Adam, tapi tetap saja sia-sia.

Giliran Adam menyerang. Serangannya sangat cepat, dan dia berhasil memotong lengan kiri Julia. Julia berteriak sangat keras. Darah mengucur deras dari lengannya yang terpotong. Julia jatuh berlutut dihadapan Adam. Kondisi Julia pun semakin melemah, karena pendarahan yang dialaminya.

Adam menghunuskan tangan pedangnya ke arah kepala Julia. “Siap untuk mati?” Adam mengejek Julia.

Julia merintih pelan, kesakitan karena lengannya terpotong. Dia menengadah menatap Adam. “A…aku…siap untuk apapun!”, sahut Julia sedikit terbata sambil menahan sakit.

“Baiklah.” Adam bersiap. “Sampai bertemu di neraka.” Dia pun menghujamkan tangan pedangnya ke arah Julia.

BAB 64: Evakuasi

, ,

Samuel Jackson, seorang kepala polisi lokal di kota itu, bersandar di samping mobil patrolinya seraya menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya sekaligus dengan nafas panjang. Pikirannya bercabang akibat perintah yang diterimanya dua hari lalu – mengevakuasi seluruh penduduk di kota itu.

Samuel termenung sejenak, dia berpikir bahwa mungkin atasannya sudah gila, atau lebih tinggi lagi, pemerintah di negara ini sudah gila. Ah, semua orang memang sudah gila sekarang!, seru Samuel dalam hati. Krisis ekonomi memang telah mambuat semua orang jadi gila! Samuel menyimpulkan.

Sekali lagi Samuel menghisap rokoknya, dia membayangkan pembicaraan yang telah dia lakukan dua hari lalu bersama atasannya. “Mengevakuasi penduduk karena ada ancaman serangan dari teroris, katanya…” Samuel bergumam. “Apa sekarang para teroris berbaik hati, dan memberi tahu tempat dimana dia akan menyerang?” Dia tertawa mengejek. “Dan, apa mungkin mereka bisa menyerang satu kota? Apalagi di sini ada kantor Organisasi Pemerintahan Dunia yang memiliki keamanan terketat. Pilihan yang buruk untuk melancarkan serangan.” Dia berbicara sendiri. “Tapi yah, semua orang memang sudah gila…”

“Pak…Pak…Pak…”, seseorang memanggil Samuel, menyadarkannya dari lamunan.

“Oh, maaf!”, sahut Samuel. “Ada apa?”
Dihadapan Samuel telah berdiri seorang polisi muda yang menjadi bawahannya. “Evakuasi siap dilakukan sekarang, Pak.”

“Bagus.” Samuel membuang rokok yang tadi dihisapnya ke tanah, lalu menginjaknya untuk mematikan apinya. Yah, perintah adalah perintah. Jalani saja., kata Samuel dalam hati.

Samuel baru saja hendak melangkahkan kakinya ketika dia mendengar suara gemuruh keras yang mengagetkan. Secara spontan dia dan orang-orang yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara keras tersebut. “Ya Tuhan!”, seru Samuel ketika dia telah melihat sumber suara tersebut. “Apa itu?!”

Segera saja, terdengar beberapa teriakan histeris wanita. Sebagian lagi bergumam, dan membaca doa keras-keras. Ada juga yang hanya diam terpaku karena shock. “Apa itu?!” Samuel masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Yang dilihat oleh mereka semua adalah seorang raksasa besar yang memegang kapak besar dan juga perisai. Raksasa itu tampak berjalan ke arah mereka. Di sepanjang jalan yang dilaluinya, dia menghancurkan gedung-gedung dan rumah-rumah dengan kapak besarnya. Raksasa itu pun semakin lama semakin dekat ke arah mereka.

“Evakuasi!”, teriak Samuel. “Lakukan evakuasi sekarang!”
Semua orang sibuk masuk ke dalam kendaraan evakuasi lalu satu persatu kendaraan tersebut melaju. Setelah memastikan semuanya telah terevakuasi, Samuel masuk ke dalam mobil patrolinya dan menyalakan mesin.

Sebelum menjalankan mobilnya, sekali lagi Samuel menoleh ke arah raksasa yang telah semakin dekat. Dia menangkap satu pemandangan yang aneh. Agaknya dia melihat seorang pemuda berdiri dibahu si raksasa. Kemudian dengan secepat kilat dia menjalankan mobilnya.

“Gila! Dasar gila!”, Samuel menyumpah. “Makhluk apa itu?! Dan apa yang tadi aku lihat adalah benar seorang pemuda?!” Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya. “Oh, ini benar-benar gila!” Dia tak habis pikir dengan kejadian yang sedang dialaminya. “Aku bersumpah, jika kali ini aku selamat, aku akan berhenti merokok!” Samuel pun melaju dengan kecepatan penuh.

**

Adam tampak senang melihat raksasa ciptaannya mengamuk menghancurkan kota. Dikejauhan dia melihat beberapa pengungsi mencoba melarikan diri. "Hey, lihat di sana!" Adam berbicara pada raksasanya sambil menunjuk ke arah para pengungsi. "Jangan biarkan ada satu pun yang lolos." Adam menepuk pipi sang raksasa.

Raksasa itu kemudian berteriak keras tanda mengerti, dan mempercepat langkahnya menuju ke arah yang dimaksud. Adam berpegangan erat pada rambut raksasa itu. Raksasa itu berhasil mengejar mobil polisi terakhir, dan mulai mengangkat kapak besarnya, bersiap untuk menghancurkan mobil polisi beserta orang di dalamnya. Raksasa itu sekali lagi berteriak keras, namun tiba-tiba gerakannya terhenti.

Mobil polisi dihadapan raksasa itu pun dalam sekejap melaju dan melarikan diri. "Hey, ada apa denganmu?!", bentak Adam. Adam menatap wajah raksasa itu sebentar, lalu tiba-tiba darah muncrat keluar dari arah dada sang raksasa. Melihat hal tersebut, segera saja Adam melompat di ke atap gedung yang terletak tak jauh darinya, pergi dari pundak sang raksasa.

Tak lama setelah Adam melompat, raksasa itu pun terjatuh ke depan dan menimbulkan suara berdebum yang keras. Raksasa itu mati, dan berubah kembali menjadi tinta hitam, yang sekarang menggenang membentuk siluet tubuh raksasa. "Sial!", Adam sedikit kecewa.

"Apa kau sudah puas menghancurkan kota?" Sebuah suara terdengar dari arah belakang tempat Adam berdiri. Adam tersenyum mendengar suara itu.

"Apa yang kau lakukan pada ciptaanku?" Adam masih membelakangi asal suara tadi.

"Mudah saja." Suara itu tertawa. "Aku meminta bantuan teman-temanku untuk menggerogoti jantungnya secara perlahan-lahan."

"Khas dirimu sekali ya, Master of Beast..." Adam memutar tubuhnya. "Senang bertemu denganmu lagi."
Sosok yang dipanggil Master of Beast, atau Julia, hanya diam dan tak menanggapi perkataan Adam.

"Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?", tanya Adam.
"Pergi minum teh sambil membicarakan masa lalu?", kata Julia sedikit sarkastik sambil tertawa. "Setelah itu kita bisa nonton film."

"Aha, sejujurnya aku ingin melakukan itu." Adam tersenyum. "Namun sayang, aku baru bisa melakukannya setelah aku menyelesaikan tugasku.", kata Adam. "Bagaimana kalau kau bergabung denganku, sehingga tugasku bisa cepat selesai?"

"Kau tahu ‘kan aku tak bisa melakukan itu?"
"Sayang sekali ya..." Adam terlihat kecewa. "Jadi, sekarang tidak akan ada acara minum teh sambil bernostalgia?"

Julia menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada acara nonton film bersama?", tanya Adam lagi.
Julia sekali lagi menggelengkan kepalanya.
"Dan, apa kau sudah benar-benar yakin tak mau bergabung denganku?" Adam belum menyerah.
“Yakin.” Kali ini Julia mengangguk.

Adam menghela nafas. "Kalau begitu, hanya satu hal yang bisa kita lakukan sekarang..."
"Yaitu?" Julia bertanya.
"Mandi darah..." Adam tersenyum menyeringai kepada Julia.

BAB 63: Bergerak

, ,

Seekor laba-laba kecil bergerak dengan hati-hati. Dengan kaki-kaki kecilnya dia berjalan menyusuri lantai, menghindari beberapa orang yang hampir menginjaknya, lalu masuk ke bawah celah pintu. Di balik pintu dia mengarahkan pandangannya ke sekeliling, karena laba-laba itu terlalu kecil, dia pun memutuskan untuk memanjat dinding untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas.

Apa yang dilakukan laba-laba kecil itu tidak sia-sia. Akhirnya dia bisa menemukan apa yang dicarinya – seorang gadis berambut pirang keriting. Gadis itu sedang duduk sendirian dalam kamarnya, dan dia sama sekali tidak bergerak.

Laba-laba itu dengan cepat menghampiri sang gadis. Misi yang diembankan padanya telah selesai. Dia ingin melaporkan semuanya pada gadis itu. Tentang apa yang telah dilihat dan diketahuinya, juga tentang kematian teman-temannya.

Laba-laba itu berjalan dilangit-langit kamar, kemudian dia turun menggunakan benangnya. Sekarang, laba-laba itu sudah berada tepat dihadapan sang gadis. Gadis itu tampak senang, namun juga gugup.

“Beritahu aku apa yang kau temukan!”, perintah Julia pada laba-laba dihadapannya. Laba-laba di depan Julia sedikit ragu. Dengan menggunakan jari telunjuknya dia mengangkat laba-laba itu. “Apa hanya dirimu saja yang berhasil kembali?” Julia tampak sedih.

Laba-laba itu memandang Julia sebentar. Lalu menceritakan semua yang dia ketahui.

Mimik wajah Julia berubah seiring dengan cerita laba-laba tersebut. “Mengerikan!” Matanya dipenuhi rasa takut, dia tampak panik. Dengan cepat dia meletakkan laba-laba tersebut kembali ke meja, kemudian berlari keluar kamar. “Aku harus menemui Nina secepatnya!”

Laba-laba itu memandang Julia sampai dia menghilang di balik pintu. Tak lama tubuhnya terasa kaku. Mungkin disebabkan karena dia masuk ke dalam ruangan terlarang itu. Tempat dimana dia melihat semua manusia memakai pakaian pelindung lengkap ketika memasukinya, sementara dia tidak. Tempat dimana teman-temannya tak mampu bertahan, dan akhirnya mati.

Sangat mungkin nasibnya akan sama dengan teman-temannya. Tapi laba-laba itu tidak khawatir, karena sekarang dia telah berhasil menjalankan misinya. Tak lama, laba-laba itu pun memejamkan matanya, dan mati dengan tenang.


**


Adam, Danny, Franz, dan Ian berdiri berhadap-hadapan di depan rumah tempat persembunyian mereka. Suasana tampak sedikit tegang, dan tidak ada satu pun yang yang mengeluarkan suara. "Akhirnya terjadi juga ya..." Franz memecah keheningan.
Mereka saling berpandangan sejenak. "Sekarang atau tidak sama sekali." Danny menanggapi. "Kuharap semua bisa berjalan sesuai rencana."

Ian menghela nafas panjang. "Aku tidak pernah mengharapkan hal ini bisa terjadi."

“Ya, sudah pasti aku tak akan memuat hal ini dalam komik buatanku.”, sambung Adam. “Seharusnya kita semua ini berada dalam satu tim!”

"Sedikit menyakitkan memang." Franz menepuk bahu Adam. "Sejujurnya aku masih berharap bisa membujuk mereka."

Di tengah-tengah percakapan yang sedang mereka berempat lakukan, tiba-tiba Gray keluar, diikuti oleh Hera. "Membicarakan strategi?" Gray berjalan ke arah mereka berempat. "Apa kalian sudah siap?"

"Ya, Gray." Mereka berempat mengangguk dengan kompak.
"Sempurna!", seru Gray. "Sekarang persiapkan diri kalian dan pergilah.", ujar Gray. "Buat kerusakan sebanyaknya, dan temui aku di 'tempat itu'." Gray tersenyum.

Sekali lagi mereka semua mengangguk.

**

Adam berdiri di atas bukit tak jauh dari kota. Di tengah kota tersebut, terdapat salah satu pilar pemancar penahan gelombang otak, yang berfungsi untuk membentengi gedung organisasi pemerintahan dunia.

Kemudian, dari balik bajunya Adam mengeluarkan buku sketsa kecil, dan membalik-balik halamannya. Setelah menemukan halaman yang dicarinya, dia merobek halaman tersebut dan meletakkannya di tanah. "Hiduplah makhluk ciptaanku...", kata Adam. "Hiduplah Prajurit Raksasa (Giant Armor)!"

Tiba-tiba tanah di sekitar Adam bergetar hebat, dan dari dalam kertas yang diletakkan Adam di tanah tadi, keluarlah makhluk besar setinggi 8 meter. Wujud makhluk tersebut seperti ksatria viking raksasa. Pada tangan kanan raksasa tersebut terdapat kapak besar, sedang tangan kirinya memegang perisai bundar.

Adam memandang makhluk besar dihadapannya dengan perasaan puas. Lalu, dengan satu gerakan singkat, Adam melompat ke bahu raksasa itu, dan berdiri di atasnya. "Ayo kita hancurkan benteng, sekaligus kota itu.", perintah Adam sambil menunjuk kota yang terdapat tak jauh darinya.

Raksasa itu meraung keras, mengayunkan kapak besarnya, dan melangkah ke arah kota yang ditunjuk Adam.

**

Danny berdiri di pinggir kota tempat gedung organisasi pemerintahan dunia berada. Danny berjalan berkeliling tempat itu sebentar sambil mengamati sekitarnya. Kemudian dia berdiri membelakangi kota tersebut, membungkuk, menyentuh tanah dihadapannya, dan mengeluarkan kekuatannya.

Dalam sekejap, dari dalam tanah muncul tembok es setinggi 10 meter yang memanjang, mengelilingi kota tersebut. Mengurung semua warganya di dalam tembok es padat. Setelah selesai melakukan tugasnya, dia bangkit kembali. Dia tampak sedikit kelelahan karena apa yang baru saja dilakukannya.

"Selamat datang di neraka." Danny tertawa sambil melihat sekilas tulisan 'Selamat Datang' besar, yang terletak tak jauh darinya. "Dan sekarang tugas kedua...", kata Danny. "Menghancurkan pilar." Danny pun melangkah memasuki kota, dan menuju tempat yang dimaksud. Tempat pilar kedua berada.

**

Franz bertugas untuk menghancurkan pilar ketiga, dan sekarang dia telah berada tepat didepannya. Dia menengok ke belakang pilar, dan mengamati sebentar gedung organisasi pemerintahan dunia yang berdiri tak jauh darinya. “Jadi, ini akan menjadi hal yang terakhir ya…”, ujar Franz dengan suara perlahan.

Franz berjalan mendekati pilar dihadapannya, tiba-tiba dia berhenti sebentar karena merasakan getaran kecil pada tanah yang dipijaknya. “Ah, Danny rupanya sudah memulai aksinya.” Franz bergumam kecil. “Sekarang giliranku.” Dia pun meneruskan langkahnya.

Franz memegang pilar yang terbuat dari besi baja di depannya. Tinggi pilar itu sekitar 4 meter dengan ketebalan 50 cm. Pada ujung atas tiang terdapat antena pemancar. “Bagus betul buatannya…” Franz terkagum. “Tapi, tidak ada yang cukup kuat di dunia ini selain aku.”

Kemudian Franz meregangkan kepala dan tangan-tangannya, lalu memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menghancurkan pilar dihadapannya. “Bersiaplah, kawan!” seru Franz lagi sambil memberikan senyuman sekilas sebelum dia menghancurkan pilar itu.

**

Ian berdiri di depan salah satu pilar pemancar penahan gelombang otak. Pilar keempat. Pilar keempat letaknya berada di hutan kota, jadi tidak begitu menarik perhatian orang, dan hal tersebut dapat memberikan kemudahan baginya.

Ian berjalan mundur, mengambil sedikit jarak dari pilar. “Saatnya menghancurkan.”, ujarnya. “Untuk awal, seratus ribu volts mungkin cukup…” Ian melihat pilar di depannya sambil mereka-reka. Kemudian dia merentangkan tangannya dan mengeluarkan listrik seratus ribu volts yang langsung meluncur cepat mengenai pilar.

Pilar tersebut tersengat listrik Ian, dan memercik. Namun, pilar itu tetap berdiri kokoh seakan tidak terjadi apapun. “Ah, tentu saja.” Ian tampak tidak terkejut karena serangannya gagal. “Mereka pasti membuatnya supaya bisa menghantarkan listrik.” Ian memegang dagunya, tampak berpikir sejenak. “Hmm… Apa yang harus kulakukan padamu, pilar?”

“Oh, tentu saja!” Ian mendapatkan suatu ide. “Sekarang, berapa lama kau bisa menahan panas dari listrikku, dan tidak meleleh?” Ian bersiap mengeluarkan listriknya lagi. “Bagaimana kalau sekarang kita mulai dari seratus juta volts?” Ian tersenyum.

BAB 62: Keanehan

, ,

Nina duduk sendiri diruang rapat Organisasi Pemerintahan Dunia. Dia tampak sangat serius memikirkan sesuatu. Tiba-tiba pintu dibuka, dan masuklah Ben beserta Chizu.

“Apa kau baik-baik saja, Nina?”, tanya Chizu. “Sebaiknya kau beristirahat.”
“Aku baik-baik saja.” Nina tersenyum tipis pada Chizu dan Ben. “Lagipula bagaimana bisa aku beristirahat jika sesuatu yang besar sedang berlangsung.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Ben mendekati Nina, dan berdiri tak jauh darinya.
“Entahlah…” Nina menghela nafas. “Aku hanya merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi, mungkin ini hanya perasaanku saja.”

“Sesuatu yang aneh?” Ben mengerutkan dahinya. “Mengenai apa?”
“Gray.”, jawab Nina singkat.
“Gray?” Chizu menghampiri Nina dan duduk disampingnya. “Apa yang aneh?”
“Rencananya.” Nina menatap Ben dan Chizu bergantian. “Tidakkah kalian pikir bahwa rencananya sangat aneh?”

“Jika yang kau maksud adalah rencana lamanya untuk mengambil alih dunia, atau rencana barunya untuk menghancurkan dunia…”, Chizu mengambil jeda. “Bukankah hal itu sudah menjadi sifat Gray? Kurasa itu tidak aneh.”

“Bukan itu.” Nina menggeleng. “Aku memahami Gray sampai pada titik itu.”
“Lalu, apa yang aneh?” Ben mulai tidak sabar.
“Rencananya.”, ujar Nina. “Rencananya dalam menargetkan tempat ini, untuk dihancurkannya pertama kali.”

“Mengapa aneh?” Ben semakin tidak mengerti. “Bukankah dia melakukan itu karena dia membenci organisasi ini?”

“Justru karena itu aneh.” Nina menggigit bibir bawahnya. “Jika aku adalah Gray, aku akan menjadikan tempat ini sebagai tempat terakhir yang akan kuhancurkan.” Nina menatap Ben. “Aku akan memperlihatkan pada organisasi ini kehancuran total dunia, karena menurutku mereka lah yang bertanggung jawab atas semua.”

“Kalau dipikir seperti itu, memang sangat masuk akal.” Chizu menyetujui.
“Tapi, yang terjadi sekarang adalah sebaliknya.”, lanjut Nina. “Apalagi, mereka tampak ingin sekali menghancurkan tempat ini, sampai harus mengubah strategi dan menyerang dari 4 arah yang berbeda, untuk merusak ‘benteng’.”

“Apa kau pikir ada sesuatu yang mereka ingin lakukan, atau mungkin mereka butuhkan, di tempat ini?” Ben berasumsi.

“Mungkin saja.”, jawab Nina. “Itulah yang sedang aku pikirkan sekarang.”
“Menarik sekali.” Ben tersenyum. “Haruskah kita selidiki hal ini?”
“Ya, jika memang ternyata mereka benar ingin melakukan atau membutuhkan sesuatu di tempat ini, kita harus mencari tahu.”, kata Nina. “Kurasa Organisasi Pemerintahan Dunia telah menyembunyikan sesuatu dari kita.”

“Baik, aku akan menyelidikinya.” Ben menawarkan diri.
“Jangan. Kita tidak boleh gegabah menyelidiki.”, tolak Nina. “Apalagi kau punya tugas untuk membangun ‘benteng’. Aku akan meminta bantuan Julia.”

“Tapi, apa kau yakin dengan semua ini?” Chizu tampak khawatir.
“Ya, patut untuk dicoba.” Nina terdiam sebentar. “Lagipula, aku menemukan satu keanehan lagi.” Nina mengetuk-ngetuk jari telunjuknya perlahan-lahan di atas meja. “Dan, aku telah memikirkan hal ini untuk beberapa saat.”

“Masih ada?” Chizu terkejut. “Mengenai apa?”
“Cara.”, sahut Nina.
“Cara?” Ben tampak bingung.
“Ya.” Nina mengangguk. “Bagaimana cara Gray menghancurkan dunia ini dalam waktu singkat.” Pandangan mata Nina menerawang. “Aku benar-benar tidak tahu bagaimana dia akan melakukannya.”, lanjutnya. “Apa Gray benar-benar memiliki kekuatan besar seperti dewa?” Nina tampak cemas, sementara Chizu dan Ben hanya bisa terpaku mendengar kata-katanya.

**

Julia berjongkok di depan saluran udara, yang terletak di dalam kamarnya. Dia terlihat memegang kotak kecil di tangannya. Kemudian, dengan perlahan-lahan dia membuka kotak tersebut. Ternyata, di dalam kotak tersebut terdapat ribuan laba-laba kecil yang bergerak dan berjalan cepat di dalam kotak.

“Ini giliran kalian.”, bisik Julia pada laba-laba tersebut, seraya mendekatkan kotak pada jaring-jaring tempat saluran udara. “Geledah seluruh tempat ini, lalu kembali secepatnya padaku.”

Seperti diperintah, semua laba-laba itu keluar dari kotak dan masuk ke dalam saluran udara. Dalam sekejap saja mereka semua menghilang dari pandangan Julia.

“Kembalilah dengan selamat teman-temanku…” Julia berdiri sambil terus memandangi saluran udara dihadapannya. “Semoga saja kalian tidak membawa kabar buruk.” Julia menghela nafas sekali, dan tampak sangat cemas.

BAB 61: Peringatan

, ,

Chizu tersentak kaget, dan terbangun dari tidurnya. Dia kemudian duduk dan mengamati sekelilingnya dengan sedikit panik. Pandangan matanya terbatas karena kamarnya gelap.

Perlu waktu lama untuk Chizu untuk menyadari bahwa dia sedang berada di salah satu kamar, di gedung kantor Organisasi Pemerintahan Dunia. Sudah satu bulan ini, Chizu, Nina, Ben, dan juga Julia, tinggal di sana.

Chizu mengambil nafas perlahan, menenangkan dirinya. Lalu, dia meraba-raba sisi tempat tidurnya, dan menyalakan lampu. “Kau tidak apa-apa?”, sebuah suara mengagetkan Chizu.

“Ben!”, serunya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku mendengarmu berteriak.”, jawab Ben. “Apa kau baru saja bermimpi tentang masa depan?”

“Ya.” Wajah Chizu memucat.
“Apa yang kau lihat?” Ben mengernyitkan dahi. “Ceritakan padaku?” Ben duduk di kasur Chizu.

“Gray…” Chizu menggenggam selimutnya, tampak tegang. “Dia sudah sadar.”

“Apa?” Ben terkejut. “Dia sadar lebih cepat dari perkiraan kita!”

“Itu belum berita yang terburuk, Ben.”, ujar Chizu. “Dia akan menyerang tempat ini 3 hari lagi!” Tubuh Chizu bergetar karena takut. “Dan, dia akan menghancurkan serta membunuhi orang-orang dalam perjalanannya ke sini!”

“Tidak apa-apa.” Spontan Ben memeluk tubuh Chizu. “Kita pasti bisa menghentikannya.”

“Ya. Terima kasih, Ben.” Chizu membalas pelukan Ben. “Ben, kita harus memberitahu yang lain soal ini.” Chizu melepaskan pelukannya. “Kita harus memperingatkan mereka.”

“Oke.” Ben mengangguk. “Ayo kita temui mereka.”

**


“Kita harus mengubah rencana.” Nina tampak berpikir setelah mendengar penjelasan dari Chizu.

“Apa?” Andreas tampak tidak mengerti dengan jalan pikiran Nina.

“Kita tidak bisa membiarkan orang-orang itu mati begitu saja, bukan?” Nina menoleh pada Andreas.

“Ya, kita bisa.” Andreas menatap Nina. “Itu lebih baik daripada kita kehilangan lebih banyak orang lagi, dengan menyerangnya disaat mereka memiliki kekuatan penuh.”

“Apa kau serius, Andreas?” Lionel tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Yang kau bicarakan itu nyawa manusia!”

“Aku hanya berpikir secara logis.” Andreas tetap bersikap tenang. “Apa kita akan mengerahkan batalion-batalion tempur, dan menjadikan sebuah kota sebagai medan perang?”, lanjutnya. “Pikirkan resikonya. Apalagi sudah sangat jelas siapa yang akan menang dalam pertempuran itu.”

“Tapi...”, Lionel tampak tidak puas.
“Dia benar.” Nina menyetujui Andreas. “Chizu, bagaimana pola penyerangan yang akan mereka lakukan? Apa kau tahu?”

“Ya, Gray telah sangat memperhitungkan semua.”, jawab Chizu. “Untuk membuat kita terpecah, dia akan menyerang dari 4 titik berbeda, Utara, Selatan, Timur dan Barat.”, terangnya. “Tujuan mereka hanya satu...” Chizu menatap satu persatu orang disekelilingnya. “Menghancurkan tempat ini.”

“Rencana yang bagus, Gray.” Nina tersenyum kecil.
“Kupikir mereka telah tahu rencana kita tentang ‘benteng’.” Ben memberi pendapat. “Oleh karena itu, mereka menyerang dari 4 titik. Mereka ingin menghancurkan ‘benteng’ kita.”

“Kupikir juga begitu.” Nina menyetujui. “Hera dapat menyusup kemari dengan mudah.”

“Lalu, menurutmu apa yang harus kita lakukan, Nina?”, tanya Julia.

“Bagaimana, ya…” Nina tampak berpikir. “Kita di sini berempat, dan mereka menyerang dari 4 titik…” Nina menoleh ke arah Ben. “Bagaimana menurutmu, Ben?”

“Kemungkinan yang akan diutus untuk ‘membuka jalan’ adalah Adam, Danny, Franz, dan Ian.” Ben ikut berpikir.

“Kalau menurutmu, Chizu?”, tanya Nina lagi.
“Gray, sebagai ‘raja’ kemungkinan besar hanya akan menunggu, sampai waktunya untuk bertindak tiba.” Chizu menjawab pertanyaan Nina. “Dia hanya akan mengawasi ‘pion-pionnya’ berjalan sesuai perintahnya.” Chizu menambahkan. “Jadi, kurasa aku bisa menghentikan mereka.”

“Jawaban yang ingin kudengar.” Nina tersenyum. “Julia?”
“Aku setuju, dan aku akan membunuh mereka semua.” Julia membuat tanda jempol terbalik, sambil tersenyum.

“Apa yang kalian bicarakan?” Lionel tampak bingung. “Apa yang kalian rencanakan?”

“Kita akan menghancurkan mereka di luar ‘benteng’!” Julia tampak bersemangat.

“Apa?” Lionel tampak terkejut. “Kalian seharusnya menunggu saja hingga mereka berada di dalam ‘benteng’, dan kekuatan mereka hilang. Dengan begitu semua akan menjadi lebih mudah, karena kami akan membantu kalian.”

“Mereka tidak akan pernah berada di dalam ‘benteng’.”, ucap Andreas. “Mereka berencana menghancurkan ‘benteng’ yang telah kita bangun.” Andreas tampak sangat tertarik mendengar pertarungan di luar benteng yang hendak mereka lakukan.

“Kau mengerti ya, Andreas?” Julia meremehkan.
“Aku yang menciptakan kalian, ingat?” Andreas tersenyum.
“Kurang ajar kau, Andreas!” Ben marah. “Mungkin tidak seharusnya aku melindungi manusia bodoh dan dunia bodoh ini!”

“Sebenarnya aku juga sedikit penasaran dengan itu.” Andreas menoleh ke arah Ben. “Mengapa kalian mau melakukan hal ini?”, tanya Andreas. “Akan lebih mudah jika kalian bergabung dengan mereka dan menghancurkan kami.”

“Ben, kau bisa melampiaskan amarahmu pada pertarunganmu nanti.” Nina menenangkan Ben. “Dan kau, Andreas. Jawabannya adalah karena tidak semua manusia brengsek seperti kau!”

Andreas tertawa. “Kau benar.”
“Dan mungkin, setelah ini semua berakhir...”, lanjut Nina. “Kami mungkin akan mengambil alih dunia, dan melenyapkan semua orang brengsek dari dunia ini.”

“Dan, kami akan memulainya darimu.”, Ben menunjuk ke arah Andreas, sambil tersenyum sinis.

BAB 60: Kunjungan Singkat

, ,

Chizu berjalan sendirian di ruangan serba putih. “Chizu, baik sekali kau mau datang kemari.” Seseorang menyapanya dari belakang. Chizu menoleh dan menemukan Gray berdiri di belakangnya. “Apa yang sedang kau lakukan di dalam mimpiku?”

“Gray? Kau sudah sadar?” Chizu terkejut, dan balik bertanya.

“Apa yang kau inginkan, Chizu?” Gray menghiraukan pertanyaan Chizu.

“Kau tahu apa yang kami inginkan.” Chizu bersikap waspada. “Menghentikanmu...”, jawab Chizu. “Dan, jika terpaksa…” Chizu mengambil jeda. “Membunuhmu...”

“Aku tidak mengerti.” Gray berjalan mendekati Chizu, tampak tidak terganggu dengan fakta bahwa Chizu hendak membunuhnya. “Masa depan sudah ditentukan, mengapa kalian berkeras ingin merubahnya?” Gray berhenti sekitar 1 meter di hadapan Chizu. “Dan, apa kalian juga yakin bisa merubahnya?”

“Aku tidak tahu, tapi hal tersebut layak dicoba.”
“Merubah masa depan…” Gray tersenyum tipis. “Kau tahu ‘kan tidak semua masa depan bisa berubah?”, ujarnya. “Lagipula, apa kau siap dengan efek berkelanjutan dari masa depan yang telah berubah?”

“Lalu, apa kami harus pasrah melihatmu menghancurkan dunia? Membunuhi orang-orang yang tak berdosa?” Chizu setengah berteriak.

Gray menggeleng. “Kalian bisa bergabung dengan kami.”, tawar Gray. “Kita bisa membentuk dunia baru bersama.” Gray mengibaskan tangannya, dan seketika sekeliling mereka berubah menjadi sebuah kota yang teratur. Terdapat beberapa orang mengisi kota tersebut, mereka berjalan, tertawa, bercengkrama, dan lain-lain. “Kita bisa menciptakan Utopia bersama.”

“Dengan mengubah semua yang sudah ada sekarang menjadi seperti ini?” Chizu mengibaskan tangannya, dan seketika pemandangan kota di sekeliling Chizu dan Gray berubah menjadi mengerikan. Gedung-gedung terbakar, orang-orang terlihat berlari, berteriak panik, dan juga banyak bergeletakan mayat dimana-mana.

“Bagiku itu harga yang pantas untuk sebuah Utopia.” Gray tampak tak peduli.

“Gray, mengapa kau tidak juga bisa mengerti?” Chizu tertawa kecil, setengah mengejek. “Kau tidak bisa mendapatkan kepatuhan seseorang dengan mengendalikan ketakutannya.”

“Mungkin.”, timpal Gray. Gray mengibaskan tangannya sekali lagi, dan sekeliling mereka kembali putih.

“Kau setuju?” Chizu agak terkejut. “Jadi, kau mau menghentikan rencanamu?”

“Aku tidak pernah bilang begitu.”, kata Gray dengan tenang. “Tapi, aku yakin kau tahu apa maksudku.”

“Kau…” Chizu tersentak kaget.
“Kau telah melihatnya dalam mimpimu, ‘kan?”, ucap Gray. “Masa depan baru yang kuciptakan.” Gray tersenyum. “Apa kau bisa melihat betapa indahnya karyaku itu?”

“Apa kau sungguh-sungguh akan melakukan itu?” Chizu kembali mengingat mimpinya tentang kehancuran dunia akibat perbuatan Gray. Tidak ada lagi bangunan yang berdiri. Tidak ada lagi manusia yang hidup. Semuanya telah musnah. “Apa yang bisa kau dapatkan dari kerusakan total?” Tubuh Chizu sedikit bergetar karena takut. “Apa sebenarnya sedang kau inginkan, Gray?”

“Pada awalnya aku ingin menguasai dunia dan menjadi dewa, tapi sekarang keinginanku berubah.”, jawab Gray. “Keinginanku sekarang adalah me-reset, mengembalikan semua ke awal.”, lanjutnya. “Kemudian, aku akan membentuk ulang.”

“Kau gila!”, bentak Chizu.
“Aku sudah sering mendengar kata-kata itu.” Gray menganggap kata-kata Chizu sebagai pujian. “Dan sebentar lagi, manusia generasi baru yang pertama akan muncul.”

“Manusia generasi baru yang pertama?” Chizu tampak bingung.
“Ya, manusia baru yang akan menghuni dunia di masa depan, setelah aku menghancurkan semua manusia yang ada saat ini, tentu saja.”

“Apa yang kau maksudkan?” Chizu sebenarnya sudah bisa menebak, tapi dia tetap ingin memastikan.

“Anakku.”Jawab Gray singkat.
“Ya, Tuhan!” Chizu setengah menjerit. “Jadi, kau…” Chizu kehabisan kata-kata.

“Anakku akan menjadi manusia generasi baru pertama.”, jelas Gray. “Dia akan menjadi manusia terkuat, dan dewa di masa depan.”

“Aku tidak akan membiarkan hal itu!”, sahut Chizu.
“Apa kau pikir anakku akan bisa dilenyapkan semudah itu?” Gray meremehkan Chizu. “Dia berada di tempat yang tepat sekarang, dan jika kau ingin melenyapkannya, kau juga harus membunuh ibunya, yang berarti membunuh Nina.”

Chizu terdiam sebentar, karena dia tahu Gray benar. “Aku tidak akan membiarkan kau mendekati Nina, sehingga kau juga tidak akan bisa mendekati…” Chizu menelan ludah. “Anakmu…”

“Mengapa kau tidak paham?” Gray tertawa mendengar perkataan Chizu. “Apapun yang akan kalian coba lakukan tidak akan pernah berhasil karena kami lebih kuat dari kalian.” Gray meremehkan. “Perang ini – jika, bisa dikatakan demikian – sudah jelas akan dimenangkan oleh kami.”, ujar Gray. “Jadi, kuharap kalian semua bisa berpikir dengan akal sehat, dan kembali padaku.”

“Tidak!”, jerit Chizu. “Kami akan melawanmu, dan memenangkannya!” Chizu menatap mata Gray. “Kami tak akan menyerah, walau harus mati!”

“Yah, jika kematian memang keinginan kalian, aku akan mengabulkannya.” Gray menanggapi dengan enteng.

“Tapi, jika kau membunuh Nina, rencanamu bisa gagal, bukan?” Chizu menemukan kelemahan pada rencana Gray.

“Kau benar.” Gray tidak membantah. “Nina adalah ibu sempurna bagi anak-anakku.”, lanjutnya. “Dengannya, kekuatan anak-anakku pasti akan sempurna.”

Chizu tersenyum penuh kemenangan mendengar kata-kata Gray. “Jadi, kau tidak bisa apa-apa ‘kan, Gray?”

“Apa kau tahu, Chizu…” Gray menggantung kata-katanya. “Jika, aku terpaksa harus membunuhnya, aku akan tetap bisa mengambil sel-selnya, dan dengan teknologi yang sama seperti mereka menciptakan kita, aku akan menciptakan anak-anakku.”

“Apa?” Chizu membelalakan matanya karena terkejut, sekaligus takjub dan ngeri mendengar pemikiran Gray.

“Jadi, kupikir aku akan tetap pada rencanaku, apapun resikonya.”, ucap Gray lagi.

“Baik, Gray…” Chizu berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Aku masih berharap akhirnya tidak seperti ini, karena sesungguhnya kami menyayangimu, Gray.” Chizu terlihat sedikit sedih. “Kami menyayangi kalian semua.”

Gray melangkah mendekati Chizu. Seketika badan Chizu menjadi kaku. Chizu terdiam dan tak bisa bergerak. Kemudian, Gray memegang pipi kiri Chizu dengan tangan kanannya. “Sampai jumpa di dunia nyata.” Setelah Gray berkata seperti itu tubuh Chizu terbakar, dan menghilang.

BAB 59: Tersadar

, ,

Dalam ruangan rekreasi di tempat persembunyian Gray dan yang lainnya, Danny dan Ian terlihat sedang bermain billiard, sementara Franz hanya duduk di kursi memperhatikan permainan keduanya. Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, Hera masuk dengan terengah-engah, seperti habis berlari. “Teman-teman…” Hera sedikit kehabisan nafas. “Sebaiknya kalian semua ikut aku sekarang!” Hera kemudian berlari lagi keluar.

Danny, Franz dan Ian sedikit bingung, tapi mereka tetap berlari mengikuti Hera. “Ada apa?”, tanya Franz sambil berlari.
“Kau bisa lihat sendiri nanti.” Hera berteka-teki.

Mereka semua berhenti di depan sebuah ruangan dengan kaca besar untuk melihat ke dalam. Ruangan tempat Gray seharusnya dirawat. Danny, Franz dan Ian terkejut dengan apa yang dilihatnya, kaca dihadapan mereka berlumuran darah. “Apa yang terjadi?” Danny merasa cemas.

Hera berjalan ke arah pintu masuk ke ruangan tersebut. “Ayo, teman-teman.” Perkataan Hera menyadarkan ketiganya dari keterkejutan.

Danny, Franz dan Ian berjalan di belakang Hera, dan ikut memasuki ruangan. Di dalam ruangan tersebut, bercak-bercak darah terlihat dimana-mana. Lalu, mereka melihat tiga mayat berlumuran darah; seorang dokter, dan dua orang perawatnya. Setelah itu mereka melihat dua orang sedang berdiri berhadapan; Adam, dan seorang pemuda bermata biru dan berambut keemasan – Gray!

“Gray?!”, seru Danny, Franz dan Ian hampir bersamaan.
Gray bertelanjang dada, dan hanya menggunakan celana panjang piyama warna biru tanpa motif. Gray menoleh ke arah mereka bertiga. “Ah, kalian semua telah berkumpul.” Hera mengambil selimut kain dari lemari yang ada di ruang tersebut, kemudian menghampiri Gray dan memakaikan selimut itu padanya.

“Brengsek, Gray! Kupikir kau tak akan pernah bangun lagi!”, Franz tertawa. “Apa kau yang melakukan semua ini?” Franz merujuk ke mayat-mayat yang ada.

“Gray, aku senang kau telah kembali.” Danny tampak lega.
“Aku tak percaya!” Ian tampak gugup. “Rasanya aku seperti melihat hantu!”

“Aku bukan hantu, karena aku belum mati.” Gray tersenyum. “Apa kalian pikir aku akan mati semudah itu?”

“Tentu saja tidak.” Ian menanggapi. “Tapi, tetap saja kejadian itu benar-benar gila.”

“Selamat datang kembali, Gray.”, ujar Franz.
“Apa sekarang kau butuh sesuatu, Gray?” Hera menawarkan.

“Aku…” Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tubuh Gray terjatuh. Untung saja Hera dan Adam berhasil menangkapnya, kemudian mereka kedua menurunkan tubuh Gray secara perlahan-lahan. Teman-teman Gray yang lain pun menghampirinya karena khawatir.

“Kau tidak apa-apa, Gray?” Adam melihat Gray tampak kesakitan.

“Aaaggghhh…” Gray berteriak sambil memegangi kepalanya. “Kepalaku…kepalaku rasanya mau pecah…”

“Seharusnya kau tidak memaksakan diri dulu tadi.” Danny menasehati. “Kau belum pulih sepenuhnya.”

“Dan, seharusnya kau biarkan dokter itu hidup lebih lama lagi.” Hera berpendapat. “Sehingga dia bisa memeriksamu secara keseluruhan.”

“Jangan memerintahku!”, teriak Gray. Mereka semua hanya bisa diam. Berangsur-angsur sakit kepala Gray pun berkurang. Dia tidak lagi mengerang kesakitan.

“Franz.”, panggil Adam. “Tolong cari dokter lain sekarang.”, perintah Adam. “Bisa kau lakukan itu?”

“Tentu.” Franz mengangguk singkat, kemudian dia pergi.
“Hera.”, panggil Adam lagi. “Bisa kau siapkan sesuatu untuk dimakan oleh Gray? Kurasa dia butuh makanan untuk mengembalikan energinya.”

“Baiklah.”, sahut Hera singkat, dan dia pun pergi mempersiapkan makanan untuk Gray.
“Ian, sebaiknya kau ikut membantu Hera.” Danny memberi saran.
“Ya.” Ian pun berlari menyusul Hera.
“Kau sudah baikan, Gray?”, tanya Danny.
“Ya, aku baik.” Gray mencoba berdiri kembali, dan dia berhasil.

“Aku senang kau sudah membaik.”, ujar Adam.
“Hey, sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” Gray penasaran.

Danny dan Adam berpandangan sebentar. “Hmm… Hampir 2 bulan.” Danny menjawab.
“Selama itu, ‘kah?” Gray sedikit terkejut. “Lalu, apakah ada sesuatu hal penting yang terjadi?”
“Tidak.”, jawab Adam. “Setelah kau tidak sadarkan diri, kami tidak berani melakukan sesuatu dengan gegabah.”

“Aku mengerti.” Gray mengangguk kecil. “Terima kasih telah mengurus semua ketika aku tidak sadarkan diri.”

“Lalu, apakah kita akan melanjutkan rencana awal kita, Gray?”, tanya Danny. “
“Setelah menimbang beberapa hal, akan sulit melaksanakan rencana awal kita.” Gray tampak berpikir. “Tapi, aku memiliki beberapa rencana baru.”
“Soal ‘para pemberontak’, ya?” Danny memahami kesulitan yang sedang terjadi. “Apakah kita perlu membunuh mereka?”

“Tidak ada jalan lain.”, ucap Gray. “Membunuh atau dibunuh.”
“Berarti, rencanamu yang satu lagi akan gagal.”, sahut Adam.
“Aku harus menentukan prioritas, walaupun aku tak ingin membunuhnya. Tidak sekarang.” Pandangan mata Gray menerawang jauh. “Mungkin aku bisa sekedar membuatnya cacat, sampai tiba waktunya.” Gray tersenyum membayangkannya.

Adam dan Danny hanya diam, tidak menanggapi.
“Hey, bagaimana dengan ‘hal itu’?” kata Gray lagi memecah kesunyian. “Apakah ada perubahan?”
“Mengenai ‘hal itu’…” Adam berbicara dengan perlahan. “Banyak perubahan telah terjadi, tapi Hera berhasil menyusup dan mengetahui semuanya.”

“Menurut pengamatan terakhir, saat ini, ‘para pemberontak’ bekerja sama dengan organisasi.” Danny menambahkan.

“Begitukah? Jadi itu sebabnya banyak terjadi perubahan.” Gray tampak berpikir. “Lalu, apa mereka sudah mengetahui soal fakta itu?”

“Tidak. Mereka belum mengetahuinya.” Danny menggeleng.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Gray?” Adam bertanya.

Gray berjalan ke samping kiri Adam, dan menepuk bahu Adam dengan tangan kirinya. “Pertama-tama, beri aku laporan tentang semua yang telah terjadi selama aku tidak sadarkan diri.” Adam mengangguk singkat. “Tenang saja, kita pasti akan berhasil menjalankan rencana kita.” Setelah berkata itu, Gray pun berjalan keluar ruangan sambil tersenyum.

BAB 58: Cara

, ,

“Apa??” Nina tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Andreas. “Benarkah apa yang dia katakan, Chizu?”

Chizu mengangguk. “Maafkan aku Nina… Seharusnya aku memberitahumu sejak awal…” Chizu merasa bersalah. “Ini adalah rencana Gray…”, terang Chizu. “Sekarang ini…kau sedang mengandung anak Gray…”

“Jadi, Gray – Subjek nomor 7 – yang melakukannya?” Andreas tersenyum. “Dia benar-benar melakukannya, ya?”

“Andreas, kumohon berhenti mengganggunya!”, bentak Chizu.

“Tidak! Tidak! Tidak!” Nina tampak shock berat. “Tidak! Aku…tidak…aku…” Tubuh Nina menjadi limbung dan hampir terjatuh, jika Chizu tidak menahan tubuhnya.

Chizu memapah Nina keluar dari kamar mandi, dan mendudukkannya di sebuah sofa. “Maafkan aku karena tidak memberitahumu sejak awal…” Chizu kembali meminta maaf.

“Kita…aku…harus melakukan sesuatu…” Nina masih terlihat sangat shock. “Aku…aku…harus melenyapkannya…” Nina meremas perutnya. “Chizu… Kau harus membantuku!”

“Tapi, kita tidak bisa melakukannya…” Chizu berbicara dengan perlahan.

“Mengapa? Kau menolak untuk membantuku?” Nina sedikit histeris. “Aku…aku… benci hal ini!”

“Bukan begitu.”, bantah Chizu. “Apa kau pikir semudah itu melakukannya?” Chizu merangkul pundak Nina dengan lembut. “Dia...” Chizu mengambil jeda. “Dia memiliki genmu, dia memiliki gen Gray, dan dia juga berada dalam tubuhmu…” Chizu berhati-hati menerangkan. “Hal itu sangat mustahil dilakukan, Nina.”

“Tidak! TIdak!” Nina bangkit dari duduknya. “Aku tidak menginginkannya! Tidak!” Nina tampak bingung dan kacau. “Dia bisa menjadi sumber masalah!”

“Dia menjadi sumber masalah?”, ulang Andreas. “Kurasa tidak.” Andreas membantah. “Dia menjadi makhluk terkuat di dunia, itu baru benar!” Andreas terlihat sangat antusias. “Hey, bukankah berarti anakmu itu, secara genetik, adalah keturunanku juga?”

Nina tampak kesal mendengar perkataan tersebut, dan tiba-tiba mengarahkan tangannya ke depan Andreas, kemudian mencekik dan menerbangkan Andreas dengan kekuatannya. “Sialan kau! Tidak bisakah kau diam, dan tidak mencari masalah sekarang?”

Andreas tampak menderita dan meronta-ronta di udara.
“Nina, sudah cukup! Kau harus bisa menenangkan diri!”, seru Chizu. “Lepaskan dia!”

Nina melepaskan kekuatannya, dan membiarkan Andreas terjatuh dengan sendirinya ke bawah. Andreas terlihat kepayahan. Dia batuk beberapa kali, kemudian menghirup udara banyak-banyak.

“Andreas, lebih baik kau pergi.”, perintah Chizu. “Aku tidak tahu apakah nanti masih bisa melindungimu, jika Nina mencoba membunuhmu lagi.”

Kali ini Andreas menurut. Dia mengangguk singkat, lalu keluar ruangan dengan masih memegangi lehernya yang sakit. Dia meninggalkan Chizu dan Nina berdua dalam ruangan.

Selepas kepergian Andreas, Nina menjatuhkan dirinya ke sofa, tampak lemas. “Chizu…tolong aku…”, ujar Nina lirih. “Aku tidak menginginkan ini…aku tidak menginginkan ini…” Nina memukul-mukul perutnya sendiri. “Aku tidak mau…” Nina menitikkan air mata.

“Sudahlah, Nina…” Chizu memeluk Nina untuk menenangkannya. “Kau pasti bisa melewati ini… Kau pasti bisa melakukannya…”

“Kita harus cari cara untuk melenyapkannya…” Nina melepaskan pelukan Chizu. “Ini adalah rencana Gray…” Nina lantas menghapus air matanya dan mencoba tenang. “Kita tidak boleh membiarkan rencananya berhasil…”

Chizu hanya diam, tidak menanggapi.
“Ini merupakan hal buruk…”, ujar Nina. “Apa kau bisa bayangkan kalau dia lahir di dunia?”, lanjutnya. “Kekuatan apa yang akan dia miliki? Kekacauan apa yang mungkin akan ditimbulkan?” Nina bergidik. “Kita harus melenyapkannya…”

“Mungkin tidak akan seburuk itu.”, tanggap Chizu.
“Kau gila? Sudah pasti akan buruk!” Nina setengah berteriak. “Oke, sekarang yang penting kita pikirkan bagaimana cara terbaik untuk melenyapkannya…”, usul Nina. “Kau mau membantuku ‘kan, Chizu?”

Chizu tampak ragu-ragu sebentar, lalu mengangguk. “Apapun keinginanmu, Nina.” Chizu tersenyum tipis.