Tuesday, 8. September 2009, 11:34:58
Kebudayaan “Indisch”.
Indische Empire Style” adalah suatu gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke 18 dan 19, sebelum terjadinya “westernisasi” pada kota di Indonesia di awal abad ke 20. Pada mulanya gaya arsitektur tersebut muncul di daerah pinggiran kota Batavia (Jakarta), sekitar pertengahan abad ke 17, tapi kemudian berkembang di daerah urban, dimana banyak terdapat penduduk Eropa.
Munculnya gaya arsitektur tersebut adalah sebagai akibat dari suatu kebudayaan yang disebut sebagai “Indische Culture”, yang berkembang di Hindia Belanda sampai akhir abad ke 19.
Kebudayaan yang berkembang sangat berpengaruh terhadap sebuah karya arsitektur. Masayarakat urban pada jaman kolonial di Hindia Belanda pada umumnya terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama adalah golongan Pribumi ang, merupakan penduduk asli setempat. Kelompok kedua sering disebut sebagai
“Vreemde Oosterlingen” (Timur Asing), yang terdiri atas orang Cina, Arab serta orang Asia lainnya. Sedangkan kelompok yang ketiga golongan orang Eropa. Golongan orang Eropa terdiri dari masyarakat Indo-Eropa atau sering disebut sebagai masyarakat Eurasia dan orang Belanda totok1. Masyarakat Eurasia inilah yang awalnya melahirkan kebudayaan yang disebut sebagai ‘Indische Culture”.
Arsitektur “Indische Empire Style”.
Arsitektur Indisch pada abad ke 17 tersebut merupakan tiruan dari gaya aristokratik kalangan atas orang-orang Eropa. Kebanayakan yang membangun rumah ini adalah para pejabat V.O.C.yang tinggal di daerah rural, dipinggir kota Batavia. Rumah jenis ini pada waktu itu sering disebut sebagai heerenhuizen dan landhuizen. Rumah tersebut biasanya sering disertai dengan kebun-kebun yang luas6. Bentuk rumah ini sangat berbeda dengan rumah-rumah di daerah urban di Belanda, yang kebanyakan menghadap ke sungai,jarak antar satu rumah dengan rumah lainnya tidak ada dan pada umumnya.tidak mempunyai halaman sendiri. Kebun-kebun rumah model landhuizen dan kemudian rumah-rumah Indisch tersebut menunjukkan antusias orang Eropa untukmenjadi botanikus amatir. Kebun-kebun tersebut disusun dengan jajaran tanaman yang tumbuh dalam pot. Di dalam kebun tersebut juga terdapat semacam panggung (belverders) yang digunakan untuk duduk-duduk dan melihat suasana sekitarnya.
Elemen-elemen lain yang sering terlihat adalah: kolam, pergola, patung dari para
dewa dewi dari cerita mitologi Yunani, air mancur, pagar-pagar hias, jembatan mini
(Liliputan Bridge). Tidak jarang pula kita jumpai air terjun buatan, pohon-pohon yang
dipangkas dengan bentuk geometris, bahkan juga menara lonceng dan suatu
gerbang masuk yang impresif serta jalan masuk untuk kereta kuda yang dibatasi
oleh pagar-pagar model klasik dan pohon-pohon palem disekitarnya.
Yang tidak kalah unik adalah, dibagian belakang kebun tersebut terdapat burung perkutut, suatu lambang aristokrasi Jawa, yang ditaruh pada sebuah tiang.
Gaya arsitektur landhuizen yang pada awalnya mencoba meniru arsitektur Eropa pada pertengahan abad ke 18 itu mengalami perkembangan dengan datangnya Gubernur Jendral H.W. Daendels (1808-1811). Daendels adalah bekas perwira tentara Louis Napoleon dari Perancis7. Pada waktu itu di Perancis timbul aliran arsitektur Neoklasik yang disebut sebagai arsitektur “Empire Style”.
After the Revolution, the evolution of Neo Clasiscsm was largely inseperable from the need to accommodate the new institutions of bourgeois society and to present the emergence of the new republican state. That these forces were initialy resolved in the compromise of constritutional monarchy hardly detraced from the role that Neo-Calsicsm played in the formation of the bourgeois imperalist style.
The creation of Napoleon’s “Style Empire” in Paris and Freederick II’s Francophile ‘Kulturnation’ in Berlin are but separate manifestations of the same cultural tendency. The former made an electic use of antique motifs, be they Roman, Greek or Egyptian, to create the instant heritage of a republican dynasty – a style that revealed itself significantly in the theatrical tented interiors of the napoleonic campaigns and in the solid Roman embellishments of the capital city, such as Percier and Fontaine’s Rue de Rivoli and Arc du Carrousel and Gondion’s Place Vendone column dedicated to the Grande armee” (Frampton, 1985:17).
Daendels mengubah rumah landhuizen yang ada di Hindia Belanda ini dengan suatu gaya “Empire Style” yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan “Indische Empire Style”, yaitu suatu gaya arsitektur “Empire Style” yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. Prototype dari gaya bangunan tersebut bisa dilukiskan sebagai berikut:
Denahnya symetri penuh. Temboknya tebal, langit-langitnya tinggi, lantainya dari marmer, ditengah ruangan terdapat ‘Central Room’, yang besar yang berhubungan lansung dengan beranda depan dan beranda belakang. Beranda depan dan belakang tersebut terbuka tanpa tembok, yang biasanya sangat luas. Diujung dari beranda tersebut terdapat barisan kolom Yunani (Doric, Ionic dsb.nya), berfungsi sebagai pendukung atap yang menjulang keatas. Disamping kiri dan kanan ‘Central Room” terdapat kamar-kamar tidur. Kadang-kadang Central Room tersebut berhubungan dengan gallery samping, dapur, kamar mandi/wc dan fasilitas service lainnya seperti gudang dan sebagainya merupakan bagian tersendiri di belakang, yang dihubngkan dengan gallery. Disamping bangunan utama biasanya juga terdapat pavilliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Keseluruhan bangunan biasanya terletak pada sebidang tanah yang cukup luas dengan kebun di depan, samping
dan belakang rumah. Dibagian depan biasanya terdapat jalan yang melingkar untuk
kendaraan yang disampingnya ditanami dengan pohon-pohon palm.
Beranda belakang dan depan yang luas dari arsitektur “Indische Empire” tersebut merupakan penyesuaian dengan iklim tropis lembab, yang menyukai adanya “cross ventilation” yang baik. Hal ini mengingatkan kita akan adanya pendopo pada rumah tradisional Jawa (meskipun fungsi dan penggunaannya berbeda).
Gaya Indische Empire tersebut tidak saja diterapkan pada rumah-rumah tinggal, tapi juga pada bangunan-bangunan umum yang lain seperti: Gedung pengadilan (Raad van Justitie), Gedung Societeit dan sebagainya.
Pada akhir abad ke 19, dimana kota-kota besar makin padat, maka gaya “Indische Empire” yang memerlukan lahan yang luas tersebut terpaksa harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Di daerah gang-gang yang sempit di perkotaan pada akhir abad ke 19, banyak rumah yang dibangun dengan gaya “Indische Empire” , yang sudah disesuaikan dengan kondisi setempat. Detail-detail elemen arsitekturnya pun mengalami perubahan sesuai dengan kemajuan jaman.
Barisan kolom-kolom besar beranda depan pada akhir abad ke 19, banyak diganti dengan pipa-pipa baja yang lebih ringan yang banyak di datangkan dari Belanda.
Seng gelombang yang diimport dari luar negeri (pada waktu itu) banyak dipakai untuk melindungi jendela-jendela, dan teras depan terhadap tampiasnya air hujan serta masuknya sinar matahari secara langsung.
Arsitektur adalah materialisasi kultur. Oleh sebab itu sering disebutkan bahwa Arsitektur adalah cermin dari kebudayaan. Kebudayaan material yang berwujud arsitektur itu bisa merupaan saksi bisu tentang sejarah dan kejadian yang dialami oleh bangsa atau masyarakat dimasa bangunan itu berdiri.
Bangunan yang dibangun pada masa lalu sekarang bisa berwujud sebagai monumen. Seperti diketahui, bahwa monumen tersebut bisa bersifat mendorong (propelling), atau menghambat (pathological) dinamika kota. Monumen – monument yang bersifat mendorong, yang sudah terpakai dalam jangka waktu tertentu menyimpan potensi untuk dikembangkan, sehingga bisa dimanfaatkan kembali pada masa yang akan datang. Artinya sebagai pola, sudah terpakai dan teruji oleh fungsi kehidupan kota. Pola yang teruji tersebut bisa menjadi jiwa dari suatu tempat.
Suatu kegiatan perancangan bangunan atau perencanaan kota yang baru hendaknya mempertimbangkan keserasian dan keselarasan antara wajah bangunan
dan lingkungan baru tersebut dengan bangunan atau lingkungan yang sudah terbentuk. Dengan demikian diharapkan terjadi suatu kontinuitas antara bangunan
atau lingkungan lama dan baru. Pelestarian bangunan atau lingkungan bersejarah
perlu, karena bisa memberikan suatu identitas atau ciri dari suatu kota akan sejarahnya pada masa lampau. Kota bisa menjadi buku sejarah bagi warganya sendiri. Arsitektur “Indische Empire”, yang merupaan bagian dari sebagian besar kota-kota di Indonesia memang kurang dikenal. Minimnya informasi tentang gaya arsitektur ini menjadi salah satu sebab, mengapa asitektur tersebut kurang dikenal.
Masyarakat pada umumnya sekedar mengenal sebagai bangunan kuno peninggalan
Belanda saja. Perlu adanya pengenalan lebih lanjut, untuk menghindari strategi yang bersifat penghancuran atau perombakan total yang mengingkari konteks dan sejarah.