Skip navigation.

Meniti jalan meraih harapan - Blaze the way of life for reach the aspired.

menunggu hidup

PULANG KAMPUNG

PULANG KAMPUNG
Hari ini adalah pagi yang istiwewa bagiku, sebelum mentari terbangun dari tidur lelapnya, aku sudah terjaga berkemas menyusun bekal. sikecil pun ikut sibuk sendiri, pilah pilih baju kesayangan buat di pakai di perjalanan.
Selepas adzan subuh kutinggalkan kota Bandung, kudengarkan senandung lagu sunda, pikirian menerawang indahnya suasana pedesaan, padi terhampar menguning berganyut di dahanya yang mulai mengering, gemerisik tertiup sayup belaian angin.
Berhayal tiduran di dangau tengah sawah, beralas tikar dipeluk semilir angin sepoi.

7 jam perjalanan sudah kulalui, masih seperti dahulu kampungku tidak banyak yang berubah. Jalanan bergelombang, batu-batu putih menyembul, berserakan tak teratur entah sudah berapa tahun tidak pernah di jamah kebijakan pemerintah dan entah kapan akan bisa dipakai nyaman oleh penduduknya atau mungkin menunggu bapak-bapak terhormat lewat dikampungku.
Hilang sudah lelah dalam perjalanan saat ketemu dengan orang tuaku, segala rasa kerinduan kutumpahkan, semua perasaan ku sampaikan. Semburat rona bahagia memancar dari wajah yang sudah mengeriput, mungkin sekian lama kesepian terpisahkan dari orang-orang yang di sayangi.
Sikecil walaupun lama tek bersua dengan eyangnya senang berada dalam gendongan, mungkin ikatan batin telah menyatukannya.
Menjelang sore, saat mentari kembali keperaduan, saat malam mulai menjelang ketika adzan magrib mulai berkumandang, kaum lelaki berbondong mulai pergi ke mushola mengisi kembali benteng hati yang sudah mengering, sayup lantunan ayat-ayat al Quran mengalun mengisi malam yang mulai senyap.
Malam terus beranjak, kunang-kunang mulai mengitari malam cahayanya kelapkelip di sela dedaunan, bintang gemintang mulai berarak terhampar mengangkasa, suara jangkrik mengalun mengantarkan malam bagai sebuah simponi, samar suara radio tetangga mengudara wayang golek seolah bersaing dengan suara bintang malam, mengiringi lelapnya tidur bersama mimpi-mimpi harapan orang-orang desa.

OLD CITY IN BANDUNG


Kebudayaan “Indisch”.
Indische Empire Style” adalah suatu gaya arsitektur kolonial yang berkembang pada abad ke 18 dan 19, sebelum terjadinya “westernisasi” pada kota di Indonesia di awal abad ke 20. Pada mulanya gaya arsitektur tersebut muncul di daerah pinggiran kota Batavia (Jakarta), sekitar pertengahan abad ke 17, tapi kemudian berkembang di daerah urban, dimana banyak terdapat penduduk Eropa.
Munculnya gaya arsitektur tersebut adalah sebagai akibat dari suatu kebudayaan yang disebut sebagai “Indische Culture”, yang berkembang di Hindia Belanda sampai akhir abad ke 19.
Kebudayaan yang berkembang sangat berpengaruh terhadap sebuah karya arsitektur. Masayarakat urban pada jaman kolonial di Hindia Belanda pada umumnya terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama adalah golongan Pribumi ang, merupakan penduduk asli setempat. Kelompok kedua sering disebut sebagai
“Vreemde Oosterlingen” (Timur Asing), yang terdiri atas orang Cina, Arab serta orang Asia lainnya. Sedangkan kelompok yang ketiga golongan orang Eropa. Golongan orang Eropa terdiri dari masyarakat Indo-Eropa atau sering disebut sebagai masyarakat Eurasia dan orang Belanda totok1. Masyarakat Eurasia inilah yang awalnya melahirkan kebudayaan yang disebut sebagai ‘Indische Culture”.

Arsitektur “Indische Empire Style”.
Arsitektur Indisch pada abad ke 17 tersebut merupakan tiruan dari gaya aristokratik kalangan atas orang-orang Eropa. Kebanayakan yang membangun rumah ini adalah para pejabat V.O.C.yang tinggal di daerah rural, dipinggir kota Batavia. Rumah jenis ini pada waktu itu sering disebut sebagai heerenhuizen dan landhuizen. Rumah tersebut biasanya sering disertai dengan kebun-kebun yang luas6. Bentuk rumah ini sangat berbeda dengan rumah-rumah di daerah urban di Belanda, yang kebanyakan menghadap ke sungai,jarak antar satu rumah dengan rumah lainnya tidak ada dan pada umumnya.tidak mempunyai halaman sendiri. Kebun-kebun rumah model landhuizen dan kemudian rumah-rumah Indisch tersebut menunjukkan antusias orang Eropa untukmenjadi botanikus amatir. Kebun-kebun tersebut disusun dengan jajaran tanaman yang tumbuh dalam pot. Di dalam kebun tersebut juga terdapat semacam panggung (belverders) yang digunakan untuk duduk-duduk dan melihat suasana sekitarnya.
Elemen-elemen lain yang sering terlihat adalah: kolam, pergola, patung dari para
dewa dewi dari cerita mitologi Yunani, air mancur, pagar-pagar hias, jembatan mini
(Liliputan Bridge). Tidak jarang pula kita jumpai air terjun buatan, pohon-pohon yang
dipangkas dengan bentuk geometris, bahkan juga menara lonceng dan suatu
gerbang masuk yang impresif serta jalan masuk untuk kereta kuda yang dibatasi
oleh pagar-pagar model klasik dan pohon-pohon palem disekitarnya.
Yang tidak kalah unik adalah, dibagian belakang kebun tersebut terdapat burung perkutut, suatu lambang aristokrasi Jawa, yang ditaruh pada sebuah tiang.
Gaya arsitektur landhuizen yang pada awalnya mencoba meniru arsitektur Eropa pada pertengahan abad ke 18 itu mengalami perkembangan dengan datangnya Gubernur Jendral H.W. Daendels (1808-1811). Daendels adalah bekas perwira tentara Louis Napoleon dari Perancis7. Pada waktu itu di Perancis timbul aliran arsitektur Neoklasik yang disebut sebagai arsitektur “Empire Style”.

After the Revolution, the evolution of Neo Clasiscsm was largely inseperable from the need to accommodate the new institutions of bourgeois society and to present the emergence of the new republican state. That these forces were initialy resolved in the compromise of constritutional monarchy hardly detraced from the role that Neo-Calsicsm played in the formation of the bourgeois imperalist style.
The creation of Napoleon’s “Style Empire” in Paris and Freederick II’s Francophile ‘Kulturnation’ in Berlin are but separate manifestations of the same cultural tendency. The former made an electic use of antique motifs, be they Roman, Greek or Egyptian, to create the instant heritage of a republican dynasty – a style that revealed itself significantly in the theatrical tented interiors of the napoleonic campaigns and in the solid Roman embellishments of the capital city, such as Percier and Fontaine’s Rue de Rivoli and Arc du Carrousel and Gondion’s Place Vendone column dedicated to the Grande armee” (Frampton, 1985:17).

Daendels mengubah rumah landhuizen yang ada di Hindia Belanda ini dengan suatu gaya “Empire Style” yang berbau Perancis. Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan “Indische Empire Style”, yaitu suatu gaya arsitektur “Empire Style” yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat. Prototype dari gaya bangunan tersebut bisa dilukiskan sebagai berikut:
Denahnya symetri penuh. Temboknya tebal, langit-langitnya tinggi, lantainya dari marmer, ditengah ruangan terdapat ‘Central Room’, yang besar yang berhubungan lansung dengan beranda depan dan beranda belakang. Beranda depan dan belakang tersebut terbuka tanpa tembok, yang biasanya sangat luas. Diujung dari beranda tersebut terdapat barisan kolom Yunani (Doric, Ionic dsb.nya), berfungsi sebagai pendukung atap yang menjulang keatas. Disamping kiri dan kanan ‘Central Room” terdapat kamar-kamar tidur. Kadang-kadang Central Room tersebut berhubungan dengan gallery samping, dapur, kamar mandi/wc dan fasilitas service lainnya seperti gudang dan sebagainya merupakan bagian tersendiri di belakang, yang dihubngkan dengan gallery. Disamping bangunan utama biasanya juga terdapat pavilliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Keseluruhan bangunan biasanya terletak pada sebidang tanah yang cukup luas dengan kebun di depan, samping
dan belakang rumah. Dibagian depan biasanya terdapat jalan yang melingkar untuk
kendaraan yang disampingnya ditanami dengan pohon-pohon palm.

Beranda belakang dan depan yang luas dari arsitektur “Indische Empire” tersebut merupakan penyesuaian dengan iklim tropis lembab, yang menyukai adanya “cross ventilation” yang baik. Hal ini mengingatkan kita akan adanya pendopo pada rumah tradisional Jawa (meskipun fungsi dan penggunaannya berbeda).

Gaya Indische Empire tersebut tidak saja diterapkan pada rumah-rumah tinggal, tapi juga pada bangunan-bangunan umum yang lain seperti: Gedung pengadilan (Raad van Justitie), Gedung Societeit dan sebagainya.
Pada akhir abad ke 19, dimana kota-kota besar makin padat, maka gaya “Indische Empire” yang memerlukan lahan yang luas tersebut terpaksa harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Di daerah gang-gang yang sempit di perkotaan pada akhir abad ke 19, banyak rumah yang dibangun dengan gaya “Indische Empire” , yang sudah disesuaikan dengan kondisi setempat. Detail-detail elemen arsitekturnya pun mengalami perubahan sesuai dengan kemajuan jaman.
Barisan kolom-kolom besar beranda depan pada akhir abad ke 19, banyak diganti dengan pipa-pipa baja yang lebih ringan yang banyak di datangkan dari Belanda.
Seng gelombang yang diimport dari luar negeri (pada waktu itu) banyak dipakai untuk melindungi jendela-jendela, dan teras depan terhadap tampiasnya air hujan serta masuknya sinar matahari secara langsung.

Arsitektur adalah materialisasi kultur. Oleh sebab itu sering disebutkan bahwa Arsitektur adalah cermin dari kebudayaan. Kebudayaan material yang berwujud arsitektur itu bisa merupaan saksi bisu tentang sejarah dan kejadian yang dialami oleh bangsa atau masyarakat dimasa bangunan itu berdiri.
Bangunan yang dibangun pada masa lalu sekarang bisa berwujud sebagai monumen. Seperti diketahui, bahwa monumen tersebut bisa bersifat mendorong (propelling), atau menghambat (pathological) dinamika kota. Monumen – monument yang bersifat mendorong, yang sudah terpakai dalam jangka waktu tertentu menyimpan potensi untuk dikembangkan, sehingga bisa dimanfaatkan kembali pada masa yang akan datang. Artinya sebagai pola, sudah terpakai dan teruji oleh fungsi kehidupan kota. Pola yang teruji tersebut bisa menjadi jiwa dari suatu tempat.
Suatu kegiatan perancangan bangunan atau perencanaan kota yang baru hendaknya mempertimbangkan keserasian dan keselarasan antara wajah bangunan
dan lingkungan baru tersebut dengan bangunan atau lingkungan yang sudah terbentuk. Dengan demikian diharapkan terjadi suatu kontinuitas antara bangunan
atau lingkungan lama dan baru. Pelestarian bangunan atau lingkungan bersejarah
perlu, karena bisa memberikan suatu identitas atau ciri dari suatu kota akan sejarahnya pada masa lampau. Kota bisa menjadi buku sejarah bagi warganya sendiri. Arsitektur “Indische Empire”, yang merupaan bagian dari sebagian besar kota-kota di Indonesia memang kurang dikenal. Minimnya informasi tentang gaya arsitektur ini menjadi salah satu sebab, mengapa asitektur tersebut kurang dikenal.
Masyarakat pada umumnya sekedar mengenal sebagai bangunan kuno peninggalan
Belanda saja. Perlu adanya pengenalan lebih lanjut, untuk menghindari strategi yang bersifat penghancuran atau perombakan total yang mengingkari konteks dan sejarah.

FULL colour

mencari kawan sejati'

Sepanjang Jalan Lintas Sumatra

Pertama kuinjakan kaki dikota Padang ku bingung, hanya berbekal alamat yang tidak begitu jelas aku harus menemukan beberapa daerah berjauhan yang tidak begitu ku kenal.
Kuranji, Agam, Pasaman, Dhamasraya....nama yang aneh buat telingaku.
Bismilah ku susun rencana, langkah pertama ku harus telepon orang yang akan menemaniku supaya paling tidak biasa mengenal medan yang akan dilalui.
Karena hari itu hari Jum’at daerah pertama yang harus kukunjungi kutunda sampai jam 1 siang, sambil kutunggu waktu menjelang sholat Jum’at kumanfaatkan untuk mencari penginapan dan mobil sewaan.
Menjelang siang ku awali langkahku mengunjungi Kuranji, walau hujan rintik mengiringi kumantapkan hati, agak susah mencari akhirnya ditemukan juga, wah sangat jauh dari harapan, ternyata yang kutemukan hanya kebun kelapa dan empang kolam ikan.
Aku tidak menyanggahnya kutulis saja laporan apa adanya, belajar jujur dengan diri sendiri.
Tidak begitu lama aku disitu masih banyak yang harus kutempuh, menunggu hujan tak juga reda akhirnya kupulang kepenginapan, dipikir rasanya gak mungkin menempuh jalan yang tidak begitu kukenal menjelang malam, akhirnya kuputuskan kulanjutkan besok pagi, malam ini ku gunakan untuk istirahat.
Sang pajar mulai mengintip dari balik jendela, aku telah siap dengan semua perbekalan, sesuai janji kemarin jam 6 akan dimulai menuju tempat ke dua, kutunggu di lobby penginapan, orang itu tak juga datang, satu jam lebih akhirnya muncul juga orang yang kuharapkan, walau sedikit jengkel kutekan perasaan, aku harus memaklumi kebiasaan di negeri ini selalu toleransi dengan waktu.
Agam dan pasaman adalah tempat selanjutnya yang harus ku kunjungi, jalan berkelok diapit perkebunan kelapa sawit, sesekali kutemukan pesawahan, pemukiman penduduk tidak terlalu banyak hanya beberapa bergerombol dengan jarak puluhan kilo di beberapa kota yang kulewati ku. Bersyukur kawan dalam perjalanan orangnya ramah dan baik, ia bercerita tentang kebiasaan orang Sumatra barat lumayan menambah khasanah pengetahuanku dan biasa mengusir penat dalam perjalanan. Jam 15.00 sampai sudah di Pasaman, yang ini mungkin lebih baik dari tempat sebelumnya, lokasinya dikelilingi perkebunan kelapa sawit, beberapa ruas jalan dan selokan sedang dikerjakan, tanahnya berkontur dan gersang.
Dhamasraya adalah tujuan terakhirku, saat kutanya kepada temanku, seberapa jauhkah? ± 700 km. waw cukup jauh, kira-kira kalau ditempuh dari jam 16.00 berarti sampai sana sekitar jam 3 pagi. Aku bingung kalau tidak jadi berangkat sisa perbekalan ku menipis, tapi jika dilanjutkan penuh resiko, aku hanya berlindung kepadamu ya….Penguasa Semesta, kukuatkan hati, kuyakinkan diri, dalam keraguan kuputuskan perjalanan ku lanjutkan.
Jam 7 malam aku baru sampai padang, memasuki yang kata temenku namanya jalan kelok 9, jalan menanjak berkelok tajam sisi kanan jurang terjal tak terlihat ujungnya.
Mengusir penat aku ngobrol dengan teman dalam perjalanan, uda….seringkah mengantar orang malam hari lewat jalan ini, wah sering…….apakah tidak takut misal uda dibunuh terus mobilnya diambil orang? Jawabanya simple dan mengena, bang… setiap pekerjaan ada resiko, kalau kita punya niat baik insaalloh, Alloh akan melindungi. Kata itulah yang selalu kutanam dalam hati.
Jam 3 pagi akhirnya sampai juga kami di Dhamasraya, kami mencari tempat beristirahat, susah cari penginapan, akhirnya kita cari peristirahatan tempat bis luar kota, isi penghangat perut dan minum teh hangat lumayan mengusir dingin udara malam. Ku selonjorkan kaki di jok mobil sampai akhirnya dibangunkan panas sinar pagi yang menerobos lewat kaca mobil.
Selepas sarapan kulanjutkan aktivitas, kutuju lokasi, angan jauh dari harapan,hutan karet baru di landclearing, tetap kutulis saja seperti adanya.
Saatnya aku pulang, kunikmati perjalanan jalan berkelok membelah bukit yang masih hijau, pemukiman bergerombol, selangseling melintasi hutan, udara sejuk menerpa wajah yang leleh, sesekali mobil melintas menyalip mobil kami. Terimakasih Tuhan telah menyelamatkan perjalanan ini
.