Prologue

Who am I?

Subscribe to RSS feed

Aku Mau Potong Rambut!

"Aku mau potong rambuuuuuuut!" teriak Ninda si bungsu dengan penuh amarah.

Sejak melihat kakak keduaku yang pulang ke rumah dengan potongan rambut baru anak ini tak henti-hentinya merengek pada ibunya yang merupakan kakak tertuaku untuk segera mengantarnya ke tempat orang merapikan rambut. Dasar anak kecil, kalau sudah maunya tidak akan mau walau dibujuk dengan cara apapun juga. Beda dengan kakaknya, Nanda. Walau mereka kembar tapi Nanda masih bisa dibujuk. Ibunya berjanji akan mengajak mereka berdua ke salon besok sore. Walau masih menggerutu akhirnya anak itu diam juga dengan sendirinya setelah ibu dan ayahnya pulang. Dua keponakan kembarku ini memang tinggal di rumah orangtuaku, karena ibu dan ayahnya bekerja maka mereka disekolahkan disini. Mereka baru diajak pulang pada hari Sabtu sampai Minggu juga liburan sekolah. Si bungsu Ninda memang maunya menang sendiri dan kakaknya Nanda terkadang harus mengalah padanya. Jika sedang berebut mainan terkadang mereka juga sering bertengkar yang pada ujungnya salah satu pasti ada yang menangis karena tidak memperolah mainan yang diinginkan. Kalau mereka tidak ada dirumah rasanya ada yang kurang pas.

"Mbak, aku mau potong kayak mbak Dwi." lagi-lagi Ninda merajuk pada kakakku.
"Iya, besok ke salon sama ibumu."
"Gak mau. Sekarang!"
"Sekarang itu waktunya tidur. Salonnya sudah tutup."
"Hm... mesti."

 Ketika semua sudah terlelap kedua anak yang sudah biasa tidur malam ini mulai melakukan aksinya. Di depan cermin mereka telah mempersiapkan peralatan ajaib mereka. Menurut penuturan Nanda sih, kejadiannya seperti ini.

"Aku mau potong rambutku sendiri kak." si bungsu yang tengah bercermin sambil menyisir rambut mulai menuturkan rencananya pada sang kakak.
"Jangan dik, nanti jelek."
"Bagus kok."

Karena begitu penasaran dengan apa yang dilakukan adiknya ini Nanda hanya melihat di sampingnya. Sekarang sisir sudah tergeletak di lantai dan benda berujung logam tajam yang biasa digunakan untuk memotong kertas oleh mereka berdua telah mantap di dalam genggaman si bungsu. Kres kres kres. Sehelai demi sehelai rambut si bungsu mulai berguguran. Sang kakak yang berada di sampingnya hanya mengingatkan tapi lupa untuk memberi tau aku atau pun orang-orang yang ada di rumah.

"Ayo kak aku potong sekalian." si bungsu mulai membujuk sang kakak. Tanpa menunggu jawaban dia langsung memainkan benda ajaibnya itu pada sisi kiri rambut kakaknya.
"Jangan dik, nanti di marahin mas Yayan." Nanda yang mulai tersadar dan tidak mau rambutnya jadi jelek seperti rambut adiknya yang sudah mulai tak berbentuk mencoba menghindari benda ajaib adiknya.
"Ya sudah kalau gak mau." dia meneruskan lagi usahanya untuk memotong rambutnya supaya terlihat seperti rambut tantenya, kakakku.

Setelah tersadar bahwa rambutnya tak bisa seperti rambut kakakku malah terlihat begitu mengerikan, akhirnya dia membangunkan kakeknya. Bapakku yang terbangun dari mimpi indahnya begitu kaget dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat cucunya yang satu ini. Dasar anak bandel tidak mau menuruti perkataan ibunya hihihi jadi begini deh akhirnya. Setelah berganti pakaian mereka berdua pun tidur. Dan keesokan paginya begitu anak itu sudah bangun, bapakku langsung merapikan rambutnya yang tidak karuan menjadi potongan rambut anak laki-laki karena memang sudah tidak bisa lagi di bentuk menjadi potongan model rambut anak perempuan. Para tetangga pun yang melihatnya tadi pagi juga terheran-heran, karena kemarin waktu mainan masih panjang rambutnya. Saat mau berangkat ke sekolah pun dia jadi uring-uringan dan tidak mau ke sekolah.

"Ayo sekolah." bujuk ibuku padanya.
"Iya dik ayo sekolah." kakaknya pun ikut mengajaknya berangkat sekolah.
"Gak mau rambutku jelek." si bungsu menjawab sambil nangis dan berbaring di kursi.

Setelah lumayan lama dibujuk akhirnya berangkat juga dia ke sekolah. Menurut cerita ibuku yang mengantarkannya sekolah karena tak mau berangkat kalau hanya berdua dengan kakaknya, gurunya memujinya cantik dan dia pun tak jadi malu di sekolah smile.

 

Hihihi.. kalau ingat kejadian ini selalu membuatku tertawa lol. Kejadian ini sudah lama berlalu ketika mereka berdua masih TK kecil, tapi aku baru sempat menuliskan kisahnya sekarang p.

Posted via email from Nyol's Posterous

Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 3)

Semalam aku sudah mempersiapkan sepedaku dengan baik agar terhindar dari kemungkinan yang tidak diinginkan karena rencananya kami akan berkeliling di pusat kota. Selepas sholat subuh, aku melihat bang Roy yang sudah begitu siap dengan perlengkapan tempurnya lengkap. Aku yang tak mau ketinggalan segera berpamitan pada Ibu dan Bapak. Pukul 5 tepat kami mulai mengayuh sepeda menuju pusat kota yang masih gelap. Menyapa beberapa orang yang tengah olah raga pagi maupun akan pergi ke pasar. Begitu memasuki jalan raya kami juga bertemu dengan para pengendara sepeda lain dan kami pun bergabung bersama mereka menuju kota. Minggu pagi memang enak buat bersepeda, selain jalanan tidak macet seperti hari biasa banyak orang juga yang menyempatkan hari Minggunya itu untuk melancong ke taman-taman kota.

Setelah lelah bersepeda keliling kota, kami pun menuju taman bunga yang ada di jalan Sam Ratulangi. Sungguh begitu ramai taman itu ketika kami tiba. Tepat di tengah-tengah aku melihat beberapa orang sedang melakukan senam aerobik bersama yang dipimpin oleh seorang instruktur. Lain lagi di sebelah selatan, disana banyak anak kecil yang sedang bermain-main karena memang kawasan itu adalah area anak yang terdapat banyak macam permainan. Di sebelah timur adalah tempat bersantai bagi sebagian orang setelah capek berolahraga yang menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman. Lalu disisi utara hingga ke barat adalah tempat terindah yang menjadi rujukan nama dari taman itu. Barisan bunga berjajar rapi mulai dari mawar, melati, bunga sepatu, dan masih banyak lagi. Disana banyak juga anak kecil yang asyik berlarian ingin menangkap kupu-kupu, ada juga satu dua orang yang sedang bergaya di depan seorang tukang foto keliling, dan tidak ketinggalan juga banyak muda-mudi yang berjalan dengan formasi dua orang bergandengan tangan satu sama lain, yang satu tertawa lepas mendengar lelucon dari yang lain.

Disana aku ditraktir makan bakso Malang yang rasanya memang mak nyus. Bang Roy mulai bercerita tentang kekasihnya Tia yang menikah dengan orang lain hingga membuatnya begitu terpukul. Aku menyimak setiap kata yang keluar dari isi hatinya. Dia tidak tau harus berbuat apa setelah mendengar kejadian itu.

"Rasanya ingin mati saja Rid." matanya yang bulat memandangku lekat-lekat.
"Istighfar bang. Mungkin kak Tia bukan jodoh abang, Allah tau yang terbaik buat abang." aku mencoba menghiburnya.

Setelah puas bercerita tentang rasa sakit yang selama ini dikuburnya dalam-dalam padaku, kami pun kembali mengayuh sepeda kembali ke rumah.

 

Oke.. sepertinya gini aja deh akhir ceritanya cry. Aku gak tau mau dikasih konflik seperti apa. Dan lagi sepertinya aku memang gak pandai merangkai kata deh sad. Lain kali deh bikin cerita lagi yang lebih seru p.

Posted via email from Nyol's Posterous

Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 2)

Belum juga aku sampai di dekatnya tiba-tiba gerombolan anak nakal berlari menuju bang Roy lalu berteriak-teriak kencang, "Orang gilaaa.. orang gilaaaa..."

Aku yang jadi naik darah melihat ulah mereka berlari kesana ingin memberi mereka pelajaran, namun bang Roy sudah menakut-nakuti mereka. Tiga anak berlari ke arah kanan menuju gang kecil dan yang lain berlari ke arah kiri masuk ke salah satu rumah yang mungkin tempat tinggal salah satu dari mereka. Bang Roy yang mengetahui aku ada tepat di belakangnya tersenyum dan menungguku untuk melangkah pulang bersamanya.

"Tadi kenapa bang?" 
"Biasa anak-anak nakal." Dia menjawab sambil tersenyum simpul.

Syukurlah, ternyata bang Roy tidak benar-benar marah. Aku semakin yakin bahwa bang Roy memang tidak gila, dia hanya mengalami sedikit stres yang membuatnya berperilaku sedikit nyleneh hingga melakukan usaha bunuh diri itu. Ini lah bang Roy yang aku kenal selama ini, bang Roy yang murah senyum. Sesampainya di rumah aku bercerita pada Ibu tentang keadaan bang Roy yang sudah membaik seperti dulu lagi. Ibu senang mendengarnya dan menyuruhku memberikan oleh-oleh yang kemarin dibawakan oleh paman dari desa pada bang Roy.

"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab bi Inem dengan suara cempreng yang begitu keras.
Aku bertanya pada bi Inem, "Bang Roy ada bi? Ini mau aku kasih oleh-oleh Wingko Babat dari pamanku."
"Ada den, tunggu sebentar ya. Oh iya, oleh-olehnya biar bibi aja yang bawain." bi Inem pun masuk kembali ke dalam rumah bersama oleh-oleh yang ku bawa.

Tak sampai satu menit bang Roy sudah ada di depanku. Dia mengajakku untuk ngobrol di tempat yang biasa dia gunakan untuk melamun sebelum dia kembali menjadi ceria seperti sekarang. Sambil makan oleh-oleh yang kubawakan bang Roy mulai bercerita.

"Enak banget Rid. Beli dimana?"
"Oleh-oleh dari paman bang."
"Oh... makasih ya."
"Iya bang sama-sama."

Di akhir pembicaraan bang Roy mengajakku bersepeda hari Minggu besok. Aku langsung saja mengiyakan ajakannya karena memang sudah lama kami tak bersepeda bersama.

Bersambung...

 

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit

Fiuuuuh... cerita selanjutnya gimana lagi ya enaknya??? Tauk deh pikir ntar aja p.

Posted via email from Nyol's Posterous

Tulisanku di Masa Kecil

Malam ini adalah malam terakhir di tahun 2010. Bersiaplah karena tahun yang baru akan segera tiba dalam hitungan beberapa ribu detik lagi. Sudah punya rencana buat tahun 2011? Keinginan utamaku saat ini adalah menulis. Entah itu menulis kejadian yang kualami, menulis mimpi-mimpiku, menulis yah pokoknya menulis apa saja. Sebenarnya sudah sejak kecil aku ingin menjadi seorang penulis. Seiring bertambahnya usia bertambah pula pengetahuan dan juga keinginan. Kalau di kumpulin bisa setinggi gunung merapi kali bigsmile hehehe. Mencoba mengingat kembali masa kanak-kanak yang indah yang tidak terlalu stres memikirkan hidup, aku menemukan keinginanku ini ketika menemukan kembali komik Dragon Ball yang sudah terkubur dalam rak buku usang yang sudah bertahun lamanya tak terjamah. Aku ingat bahwa dulu aku sering menuliskan beberapa kisahku pada lembaran-lembaran loose leaf berukuran A4 yang aku beli dari penjual yang biasa mangkal di depan sekolah SDku dulu. Lembaran unik itu memiliki dua sisi yang berbeda. Sisi depan bergambar dan tentunya gambar-gambar yang aku beli adalah gambar jagoan favoritku Son Goku. Sisi belakang itulah yang aku gunakan untuk menulis cerita.

 

Gak kelihatan? Oke aku tulis lagi deh disini.
Tanggal 14-2-1999
Hai kawan-kawan saya mau ceritani. cerita tentang DRAGON BALL -
Yang seperti di depan. saya suka kertas ini dan juga filmnya -
Ini karanganku yang kedua. nah sekarang cerita akan dimulai
Aku sangat suka film DRAGON BALL yang sekarang diganti DRAGON -
BALL Z. teman-teman saya mau cerita sun goku ternyata -
supu saiya yang jahat kakak goku telah dibunuh pikolo -
dam ditahan oleh goku sampai goku ikut mati nama asli goku -
adalah kakaroto dan sun gohan anak goku dilati pikolo -
sampai 1 tahun dan supu saiya lain datang lagi goku masih
di jalur naga suda mau sampai di tempat raja emperor -
dan di latih sampai 1 tahun dan goku kembali sudah banyak -
yang mati pikolo,yangca,caoz,tensihan yang tersisa kerilin -
dan gohan dan nama supu saiya bejita dan napa napa ber -
tarung dengan kerilin dan gohan napa tidak bisa menahan
dan dibunu bejita sendiri dan napa mati juga dan seka -
rang kerilin,gohan,danbulma pergi ke planet namec -
untuk mencari dragenbool dan menemukan musuh baru

 

 

Hihihi.. lucu banget ya bigsmile. Tulisannya masih amburadul sana sini. Tahun 1999 berarti masih kelas 2 SD ding! lol jangan disalahin deh kalau tulisannya masih banyak kesalahan tanda baca dan kurang satu huruf belakang. Lalu bagaimana ceritanya kok bisa pengen jadi penulis? Hm.. begini. Waktu itu kan memang film kartun (sebutanku kala itu) Dragon Ball memang sangat digemari anak kecil dan aku rasa sampai saat ini juga masih banyak anak kecil yang suka karena masih tayang di Indosiar, lalu aku juga suka baca Lupus Kecil hadiah ultah ke-7 dari kakakku yang berbuah jadi kolektor seri Lupus Kecil bigsmile. Aku pikir bikin film kartun itu cuma nulis cerita terus yang gambar orang lain kayak di Lupus (ada beberapa ilustrasi gambar yang digambar orang lain bukan sang penulis buku itu sendiri) p hihihi. Demi mewujudkan mimpi masa kecil, aku akan memulai lagi kegiatan tulis menulis smile. Semoga di tahun yang baru hilang sudah semua keburukan yang sering kita lakukan dan makin bijak dalam menjalani hidup ini. Amin.

Happy New Year 2011

Posted via email from Nyol's Posterous

Latihan Bikin Cerita Fiksi (Bang Roy 1)

Semenjak kejadian itu aku tak pernah melihatnya berbicara sekalipun dengan orang lain. Mungkin kondisi kejiwaannya sedikit terganggu apalagi setelah kelakuan konyolnya sempat melakukan tindakan bunuh diri tapi gagal. Bahkan banyak anak kecil yang tertawa-tawa dan mengatainya 'orang gila' saat berpapasan ataupun mereka memang sengaja mencari gara-gara dengan mencarinya di rumah lalu menghinanya. Menurut penuturan orangtuanya sih dia stres akibat ditinggal kekasihnya menikah dengan pria lain. Mungkin bagi beberapa orang hal tersebut terlihat konyol dan menggelikan namun bagi orang-orang yang berperasaan sensitif entah seberat apa rasanya. Sudah setahun peristiwa itu berlalu, tapi pria yang pernah mengajariku bermain layang-layang maupun sepeda ini belum juga bisa melupakan sakit hatinya. Seiring waktu anak-anak nakal sudah tak begitu peduli dan tak mengatainya lagi. Kini dia juga sudah mulai sering terlihat melamun di bangku panjang di bawah pohon rindang yang ada di kebun rumahnya kira-kira sejak seminggu yang lalu. Aku yang dari tadi hanya melihatnya dari dalam rumah mencoba untuk berbicara padanya dengan sangat hati-hati takut perkataanku nanti menyinggung perasaannya.

"Assalamualaikum bang." aku mencoba memberi salam padanya, tapi dia tak menjawab.
"Pagi yang cerah gini enaknya naik sepeda keliling kota bang." Aku mencoba berbasi-basi untuk melihat tanggapannya.

Sejenak dia melihat diriku yang duduk tepat disampingnya lalu kembali menatap langit biru dan menyelam pada lamunannya. Mungkin bukan saat ini waktu yang tepat.

Sepulang sekolah aku tak melihat bang Roy ditempat biasa dia menghabiskan harinya untuk melamun.

"Baru pulang Rid?" Tiba-tiba dari belakang aku mendengar suara dan tangan seseorang memegang bahu kiriku.
"Astaghfirullah." Seketika aku memalingkan wajah.

Ternyata bang Roy yang bertanya, dia baru saja keluar dari gudang rumahnya yang memang terletak tak jauh dari jalan setapak tempatku berdiri sekarang.

"Iya bang. Abang dari mana, kok tumben?"
"Dari sana." Dia hanya menunjuk ke dalam gudang tua yang sempit dan gelap itu.
"Oh, ya sudah bang Farid mau pulang dulu." Sambil meninggalkan senyuman aku kembali berjalan menuju rumahku yang kurang bebera langkah lagi.

Aku senang karena bang Roy mau menyapaku tadi, itu tandanya ada sedikit perkembangan. Hari Jumat sepulang Sholat Jumat di masjid Al-Ikhlas aku bertemu lagi dengan bang Roy di jalan. Rupanya bang Roy yang sudah lama tak terlihat sholat berjamaah baru saja keluar dari masjid dan berjalan tepat beberapa langkah di depanku. Aku mempercepat langkahku demi bisa berbicara padanya.

Bersambung...

 

Terlalu singkat ya? Hehehe.. biarin deh kan masih latihan. Kalau tanya cerita selanjutnya seperti apa, errrrrrrgghhh aku juga belum tahu p yang baca cerita ini tinggalin komentar dong! Buat yang punya tampang di foto.. hehehe aku dapet dari om Google bigsmile gapapa kan aku pake di blogku? Gapapa kok (berlagak kayak yang punya tampang). Makasih wink

Posted via email from Nyol's Posterous

Rp.300.000.000,00

Siang itu masih sama seperti siang-siang yang lalu. Awan mendung menyebar di seluruh sudut kota Surabayaku tercinta. Kelabu, hujan, dan genangan air dimana-mana. Jadwal kuliah yang berubah-ubah pun tak menurunkan semangat untuk terus melangkahkan kaki untuk menuju kampus. Seharusnya hari itu, pada jam-jam seperti saat itu, aku dan teman-teman sudah bisa bersantai atau bermain-main sebentar sepulang kuliah seperti biasanya. Tapi nyatanya hari itu ada jadwal kuliah yang harus kami ikuti setelah kemarin sempat ditunda. Bosan hanya berdiam di kampus, Muklis mengajakku untuk main ke tempat kos teman yang terletak tak jauh dari kampus. Aku yang juga sudah merasa bosan mengiyakan saja ajakannya lalu kami pun segera menuju lift. Tempat belajar kami para mahasiswa ada di lantai 4, pusat dari seluruh kegiatan mahasiswa. Tinggi keseluruhan bangunan tempat itu adalah 6 lantai.

Teman yang akan kami kunjungi ini adalah salah satu teman seperjuangan yang telah meluluskan dirinya sendiri sebelum tiba saatnya untuk lulus. Sudah setengah tahun lebih atau hampir setahun malah kami tak pernah berjumpa dengannya, sebenarnya sudah beberapa kali aku dan Muklis ingin meluangkan waktu sejenak untuk main ke sana tapi sampai saat ini belum juga bisa bertemu dengannya. Kami tidak tau apakah dia masih tinggal di tempat itu atau sudah pindah ke tempat kos lain mengingat sekarang dia kuliah di daerah Ketintang. Tapi masa bodoh, daripada mati bosan di kampus yang amat sangat sepi di siang hari. Begitu sampai di tempat kos temanku itu ternyata pintu pagar terkunci dan tidak ada tetangga rumah kosnya yang keluar. Biasanya sih kami mengetahui keberadaannya ya dari tetangganya itu. Disana kami berdua hanya bisa celingak-celinguk, mondar-mandir kayak orang yang mau mencuri.

"Balik aja deh, tapi lewat sini yuk." Muklis mengajakku menyusuri gang kecil yang terletak tepat di samping rumah kos itu.
"Hm.. Oke." sambil berjalan mengekor dibelakangnya  aku menjawabnya.

Gang itu membawa kami keluar lewat gang lain yang ada disamping masjid yang biasa kami gunakan untuk sholat Jum'at jika ada kuliah pagi sampai siang di hari Jum'at. Tepat saat itu juga adzan dhuhur berkumandang. Seusai sholat kami ngobrol sejenak di serambi masjid sambil bersiap-siap memakai sepatu masing-masing. Tiba-tiba hape di kantong celanaku menjerit memintaku untuk menjawab telepon dari seseorang. Setelah aku lihat nomer tak dikenal yang meneleponku aku memberikan hape pada Muklis.

"Jawab gih, malas aku jawab nomer asing." Muklis pun menerima hapeku dan menjawab telepon dari seseorang yang entah siapa itu.
"Dari bank Danamon." kata Muklis sambil mengembalikan hape padaku.

Setelah orang itu menjelaskan siapakah dirinya, barulah aku tau kalau dia adalah pegawai asuransi yang bekerja sama dengan bank tempatku menabung. Dia menjelaskan bahwa perusahaan asuransinya akan menambah biaya asuransi kematian-KU hingga senilai 300 juta dari yang sebelumnya hanya 10 juta. Aku yang tak begitu berminat dan tidak menyimak setiap kata yang dia sampaikan hanya mengiyakan saja apa yang dia ceritakan padaku. Hingga sampai pada ujung pembicaraan dia bertanya tentang persetujuanku. Aku kembali bertanya padanya, gratis atau bayar? Dia kembali menjelaskan bahwa kenaikan biaya asuransi (sekali lagi) kematian-KU itu akan dipotong 50 ribu tiap bulannya dari tabunganku. Akhirnya tau juga aku kalau asuransi itu tidak lah gratis.

Well, aku pun mencoba untuk menjawab orang itu dengan cara sehalus mungkin, "Gak jadi deh,..." Tuuuut tuuuuut tuuuuuut "mas."

Hehehe, ternyata orang itu memutuskan teleponnya sebelum aku selesai bicara. Sambil tersenyum lalu tertawa ringan aku menatap Muklis yang bertanya-tanya melihat diriku yang tiba-tiba gila mendadak ini. Aku menjelaskan padanya bahwa tadi itu telepon dari orang asuransi yang ingin menaikkan harga kepalaku menjadi 300 juta DEAD OR ALIVE lol (berasa jadi seperti Luffy aja nih p). Sambil meneruskan memakai sepatu dan berhayal tentang cerita kematian yang dibuat-buat demi mendapatkan uang asuransi akhirnya kami pun kembali menghabiskan waktu di kampus hingga sore hari demi mengikuti kuliah yang sempat tertunda tanpa bisa bertemu dengan teman kami itu untuk kesekian kalinya.

Posted via email from Nyol's Posterous

This Site Is Clear: Scanned By VirusTotal

, ,

"Aahhhhhh...!?!?!?!?!? Apa-apaan ini?" yikes
"Facebookku di acak-acak orang!!!" furious
"KURANG AJAR!!!!!!!!!!" bomb

Read more...

Hati-Hati, PageRank Menilai Eksistensi Kamu di Dunia Maya!

,

Masa ujian anak sekolah sudah berlalu dan kini adalah saat untuk melihat hasil yang sudah dikerjakan selama semester ganjil. Kemarin keponakanku baru saja mengambil Rapor dan hasilnya alhamdulillah bagus yes. Siapa dulu dong pamannya cool hehehe. Tinggal aku nih yang belum tau hasil pekerjaanku selama semester ganjil ini. Gimana ya hasilnya? nervous semoga bagus juga deh.. Amin.

Read more...

Selamat Hari Ibu

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia 

 

Tiada yang bisa kita lakukan untuk mengganti semua kebaikan dan kasih sayang serta doa yang selalu ibu curahkan sepenuhnya untuk anak-anaknya tiada henti. Jika kita terjatuh, ibu akan segera membantu kita untuk bangkit kembali. Jika kita bersedih, ibu akan melakukan apa pun agar bisa membuat kita tersenyum kembali. Jika kita lalai dengan apa yang telah kita perbuat, ibu tak pernah lupa untuk selalu mengingatkan kita. Terima kasih bu, karena ibu adalah ibu nomor satu di dunia smile.

My Mom is The best!

Posted via email from Nyol's Posterous

Jelajahi Facebook Menggunakan Opera Extention

, ,

Siapa sih yang nggak kenal sama facebook? Hari gini nggak kenal sama facebook? Wah.. jangan alasan kalau kalian gak punya komputer ataupun hape ya, karena hari gini tuh iklan di hampir setiap operator seluler maupun vendor hape di TV pasti ada kaitannya sama facebook. Atau jangan-jangan kalian juga gak punya TV? Hihihi... oke intermesonya sampai sini aja.

Read more...

June 2013
M T W T F S S
May 2013July 2013
1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30