Biarkan Hujan Menyembuhkanmu – By Wahyu Bramastyo
Thursday, October 6, 2011 11:35:25 PM

Bebas dari belenggu sabotase diri,
Mengobati luka-luka emosi,
Dan menjadi diri yang otentik,
Itulah tulisan di Cover depan buku yang berjudul Biarkan Hujan Menyembuhkanmu. Hmm… sempat ku bergumam,,kayanya cocok buku ini dengan apa yang saya alami. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku ini.
Ini adalah buku yang bergenre psikologi – spiritual. Penulis menyajikan tulisan dalam bentuk cerita-cerita kehidupan ( lebih cenderung pengalaman pribadi penulis sih,,
). Secara umum buku ini mengisahkan kepribadian penulis. Mulai dari penulis saat ia dulu “psikisnya sedang sakit” (he.he…maaf mas wahyu ini hanya bahasa kias saja
) namun ia tak sadar bahwa ia “ sakit”. Penulis menceritakan bagaimana ia sadar akan “penyakit” yang dideritanya hingga akhirnya dia bisa menemukan “obatnya”. Sejak awal membaca saya sangat merasa interest sekali untuk segera melalap habis buku ini segera mungkin. Membaca setiap kata yang terangkai seolah membuat saya merasa sedang bercermin. Setiap peristiwa “psikis” yang diuraikan penulis, saya selalu bergumam “ itu kan saya,,saya seperti itu,,saya juga mengalami hal itu..”. Ada sedikit perasaan senang karena menemukan orang yang “senasib” dengan saya..he.he.
Buku ini benar-benar membuat saya seolah-olah memutar rekaman kehidupan saya di masa lalu. Cerita hidup saya terputar ulang, terkenang peristiwa – peristiwa hidup kala sejak kecil. Penulis benar-benar menulis dengan hati hingga ku terhanyut dalam bayang-banyang diriku sendiri.
Beberapa cuplikan tulisan yang membuat saya tersenyum simpul dan bergumam “ Aku banget sih….”.
Hal 54 - 55
Kakak saya adalah seseorang yang sangat dominan, dia mendeklarasikan kekuasaannya pada seluruh anggota keluarga terutama pada saya sebagai makhluk yang jelas-jelas secara strata dalam keluarga memiliki pangkat yang lebih rendah darinya. Upayanya menekankan bahwa ia berkuasa penuh atas diri saya ditampilkan melalui berbagai upaya menonjolkan kelebihan dirinya dan menolak mengakui sekecil apapun keberhasilan saya. Saya selalu salah di matanya, dipermalukan, serta dimarahi atas kesalahan-kesalahan kecil yang saya perbuat. Sekali dua kali hal semacam itu tidak masalah, tetapi dilakukan selama bertahun-tahun selama masa perkembangan awal seorang anak tentu saja memberi dampak luar biasa pada hancurnya konsep diri.
. . . .
Yang paling merusak saya adalah reaksi-reaksi merendahkan dan kata-kata pelecehan yang sering saya terima. Diakui atau tidak, dibandingkan peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan lainnya yang pernah saya alami, pelecehan secara verbal ini memiliki dampak lebih mendalam dan lama dalam proses perkembangan saya sebagai individu.
. . . .
Penghinaan secara verbal yang dilakukan dengan konsisten, secara tidak disadari memiliki dampak menghancurkan yang tidak kalah kuatnya terhadap diri seseorang seperti halnya bentuk pelecehan lain. Dalam kasus semacam ini yang diserang adalah konsep diri kita. Dan sekali konsep diri Anda dihancurkan, dapat dipastikan Anda akan tumbuh sebagai seorang yang “lumpuh” , jika Anda tidak merebut kendali atas diri Anda.
Hal 102 Dalam proses pemahaman diri ini, saya mencermati beberapa ciri negatif yang muncul dalam kehidupannya sehari-hari seperti :
- Munculnya perasaan rendah diri meskipun dengan semua pujian yang saya dapatkan dari lingkungan
- Seringnya muncul kata-kata negatif di dalam kepala saya yang saya tujukan pada diri saya sendiri
- Munculnya sikap perfectionist yang obsesif
- Perasaan marah pada beberapa hal di masa lalu saya
- Dapat melakukan apapun demi menyenangkan orang lain dan mengabaikan emosi saya sendiri
- Masih merasa takut pada kakak saya
- Merasa tertekan yang sering kali datang dan mengarah pada depresi
- Menarik diri dari keramaian, sangat suka mengurung diri di kamar
- Kerinduan saya yang sangat besar pada ketenangan dan kedamaian
Hal 119
Anak anak yang mudah merasa tertekan adalah anak-anak dengan kecerdasan intrapersonal yang luar biasa. Kemampuan evalusi diri dan refleksi mereka sangat mengagumkan. Anak anak ini mampu merasa dan bersikap dengan sangat dewasa, sehingga secara cerdas mampu memaknai sesuatu yang terjadi pada diri meraka atau lingkungan sekitarnya dengan sangat baik.
Hal 126?
Saya malah pada akhirnya berterima kasih karena begitu perasaan marah saya hilang, saya justru dapat melihat banyak sekali berkah dibalik peristiwa yang pernah dilakukan kakak saya kepada saya.
Itu adalah cuplikan yang saya kutip dari buku dan hal itu pulalah yang membuat saya merasa sedang bercermin.
Buku ini benar-benar WAJIB dibaca bagi temen-temen yang merasa terpenjara, terbenam dalam gelapnya perasaan negatif. WAJIB dibaca bagi seluruh Verbal Crime ‘s Victim
( Korban kejahatan verbal..he.he…bikin istilah sendiri
)Penulis merangkai setiap kalimat dalam alur yang enak diikuti. Buku psikologi yang mirip seperti buku harian, dengan segala introspeksi dan solusi atas segala pernasalahan yang dialami.
Two Thumb Up for mas Wahyu Bramastyo
. Terimakasih sudah membangunkan saya dalam buaian ketidaksadaran di dalam penjara gelap yang membelenggu diri ini.














