Assalamu'alaikum Wr. Wb.

yUdi pAtoNi

Subscribe to RSS feed

Bakar Ikan Angkatan 2006 (swEet mEmoRies)

, ,

Kegiatan di luar kuliah banyak kenangan yang tidak terlupakan. Apalagi kalau ada acara BAKAR BATU....e sory salah bakar ikan he he. Ini pengalaman pertamaku memiliki teman yang kompak banget dan khususnya acara bakar ikan. Rasane pasti udah pada tau MAK NYUS banget (kata Pak Bondan). Kalau dihitung mungkin udah lebih dari 5 x atau mungkin lebih??

Acara bakar ikan tidak bisa lepas dari tangan-tangan terampil dari ibu-ibu (istri dari teman-teman) yang kebetulan ikut menemani di Semarang. Mereka pokok_e canggih banget dech soal memasak. Jadi.....dalam acara bakar batu di bagi tugas dengan jelas, bapak-bapaknya mencari ikan di TPI dengan bawa motor/ mobil khususnya trima kasih buat Pak Ruben Ayomi yang lebih ekstra capek dalam persiapan. Setelah itu dibagi tugas lagi ada yang buang kotoran ikan, ada yang nyiapin tempat pembakaran, kalau bumbu jangan kawatir siap banget.

Udah selesai dibuang kotoran ikannya tinggal jepit tu pake penjepin rambut..e salah lagi pake penjepit ikan dan siap dibakar. Aroma ikan udah mulai menyengat....ada yang pegangin jepitan ikan, ada yang olesin bumbu, ada juga ni tugas berat....KIPAS-KIPAS. Kalau udah tahap itu para gerombolan kucing udah menunggu dan siap mencari sasaran. Oya iya bukan kucing aja lo....ada juga tu kucing yang rambut item juga dah mulai mengincar.....apalagi ada tu yang namanya yUdi pAtoNi nda bisa liat sate cumi...langsung minggir-minggir ambil satu tusuk dan makan dech sendiri he he he......Udah selesai bakar ikan....kita makan bareng-bareng dan dengan lahapnya bisa lebih tu dari satu ikan....wah mantap banget ditambah sambelnya yang pas dan tempat bukan masalah bisa dikebun, dihalaman atau dimana aja, yang ada hanya nikmatnya kebersamaan.

Itulah salah satu kenangan yang mungkin sulit untuk diputar ulang. Waktu tidak bisa kembali. Hanya kenangan yang Insya Alloh tidak terlupakan. Mudah2an tulisan yang singkat inibisa membangkitkan kembali memori temen-temen angkatan 2006. Pokok_e Jaga kebersamaan dan kekompakan walaupun kita tidak bisa berkumpul seperti dulu lagi, namun hati dan perasaan akan tetap terjaga Insya Alloh sampai akhir hayat. Dan do'a kita mudah2an Alloh SWT memberikan kesehatan, kesahajaan, bisa mensyukuri nikmat dan umur yang bermanfaat, amin.

Kenangan Angkatan 2006

,

Kompak, kebersamaan, senang, sedih, capek selalu kami alami selama perkuliahan. Hal itu membuat kami semakin dekat akan persaudaraan. Dari yang tidak kenal dan menjadi kenal tentunya tidak perlu waktu yang lama. Berbeda suku di negeriku Indonesia ini membuat keberagaman dalam pergaulan. Teman-teman ada yang berasal dari Aceh - Lhouksumawe (Deden Nugraha Gusnindar), Dumai (Rozali), Palembang (Gindo Simanjuntak, Yuliana, Firdaus Andri), Bengkulu (Yudi Setiawan), Lampung Barat (yUdi pAtoNi), Ternate (Takdir Ali Mahmud), Papua (Ruben Ayomi, Willibrodus Nunggak, Safa'at), Pekalongan (Selamet Mulyadi), Magelang (Puji Lestari), Kendal (Iman Santosa), Semarang (Hesti Indri Mayawati, Yussi) dan Kalimantan (Ferisnilawati). Asyiiiik....itu kata pertama dalam hati. Mungkin dirasakan juga sama teman-teman.

Kuliah memang terkadang mengasyikkan klo lagi kosong he he he......tp itu namanya warni-warni. Biar dalam kuliah tidak melulu melahap materi dan tugas. Menyenangkan bila bisa bekerjasama dengan teman yang punya pengetahuan, pengalaman dan pemahaman yang lebih dari kita. Disamping tugas cepat kelar juga pengetahuan kita otomatis ikut kena upgrade, mudah2an teman2 yang sudah dapat membantu bisa bertambah ilmunya dan tetap berusaha membantu bagi yang membutuhkan. Dan mudah2an pula menjadi salah satu amal ibadah, amin.

Pengalaman yang mungkin tidak semua bisa dirasakan sama temen yang lain, bisa sekolah tanpa biaya (alias gratiss). Ini merupakan anugerah terindah dariAlloh SWT yang telah memberikan nikmat_Nya kepada kami, harus disyukuri yang benar2 syukur. Dengan bisa mensyukuri nikmat Alloh SWT mudah2an kita tidak termasuk dalam kategori orang2 yang kufur dan bisa ditambah lagi nikmatnya, amin.

Kembali ke kuliah.....dosen memang "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Banyak ilmu yang diberikan pada kita sebagai mahasiswa. Walaupun kami masih muda dan berstatus murid tapi para dosen memberikan antusias yang cukup besar dan tidak berusaha merendahkan. Berbagi ilmu dengan iklhas dan berusaha agar kami bisa mengerti dan dengan harapan bisa diterapkan di tempat tugas masing-masing. Itu harapan dari beliau para dosen yang kami hormati. Sebagai guru menurut versi jawa adalah "perlu di gugu dan ditiru", maksudnya apa yang diucapkan perlu kita perhatikan dan kita ikuti apa yang diajarkan (koreksi kalo salah). Oya...tidak lupa ucapan terima kasih kepada Departemen Pekerjaan Umum yang memberikan kami kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih tingga, khususnya balai semarang. Mudah2an bisa menjadi salah satu amal ibadah, amin.

Kalaupun kami ada yang terpaksa ngantuk, ngobrol dan agak telmi, kami kira para dosen maklum dan tidak marah. Badan fisik serta kemampuan seseorang memang tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lain. Ini perlu kita sikapi dengan bijak agar kita maklum dan tidak terlalu memaksakan untuk bisa melakukan yang terbaik. Usaha kita yang paling bagus adalah berusaha menampilkan dan menyajikan yang terbaik dan sekali lagi kalaupun masih ada kekurangan pasti milik kita sebagai manusia karena kesempurnaan hanya milik Alloh SWT (sory Bunda Dorce minjem kata-katanya dikit he he he).

Buat temen2 angkatan 2006, mudah2an tulisan ini bisa sedikit mengenang masa-masa perkuliahan kita dan sebenarnya masih banyak lagi yang belum dimasukkan. Entar lain waktu bisa ditambah lagi. Pokoknya buat temen2 angkatan 2006....JAGA KEBERSAMAAN, PERSAUDARAAN dan SILATURAHMI. sukses

Kegiatan Karangtaruna Dukuh Kajen (Sragen)

, , , ...

Ini hanya sekedar dOkumentasi, tidak ada maksud yang lain, apalagi NaRsIs. Foto tersebut diambil dr 2 lokasi, yaitu pantai Kukup dan Baron Jogjakarta.

Karangtaruna muda-mudi dukuh kajen (Pemuka = Persatuan Muda-Mudi Kajen) memiliki anggota sekitar 80-an orang. Setiap bulan (malam minggu wage) mengadakan pertemuan yang membahas banyak hal, antara lain kegiatan pemuda (bakti sosial - hajatan), kajian rohani, permasalahan-permasalahan pemuda, isu2 hangat dikalangan pemuda maupun umum dan lain-lain. Kegiatan lain yang banyak ditunggu adalah ARISAN dan kas BON he he he.

Penempatan/ lokasi tempat kegiatan rutin bulanan ini juga di gilir disetiap KK, jadi masing-masing akan dapat jatah tempat. Tuan rumah dalam menyambut para muda-mudi ini beragam dalam hal sajian, tergantung tuan rumah dan tidak ada paksaan untuk bisa menyediakan sajian yang mewah (biaya tinggi) karena biaya untuk tuan rumah dari kas muda-mudi sedikit. Roti dan teh hangat sudah cukup, yang penting adalah kebersamaan dari muda-mudi tersebut.

Opini dan masukan dari muda-mudi menjadi target dari setiap pertemuan. Masukan yang membangun sangat dibutuhkan untuk kelanjutan karangtaruna. Apabila dari muda-muda tidak bisa hadir harus ada alasan-alasan yang dapat dipertanggunjawabkan. Hal ini untuk membangun tanggungjawab dari masing-masing muda-mudi.

Hampir disetiap tahunnya, karangtaruna berusaha menabung diluar kas untuk acara refreshing. Picnik menjadi target yang dilakukan untuk memberikan wawasan dan membangun kebersamaan diluar dukuh. Sehingga antusias muda-mudi selama ini masih mendapat sambutan yang baik dalam hal kegiatan ini. Kalaupun ada 1 atau 2 orang yang tidak ikut dengan alasan-alasan mereka juga karangtaruna maklum.

Foto-foto tersebut termasuk dalam kegiatan ke-3 dengan mengambil lokasi Jogjakarta. Tujuan yang akan dikunjungi antara lain Pantai Kukup, Baron dan Malioboro. Mudah2an dengan muatan sedikit informasi ini, bisa menjadi semangat bagi teman-teman di dukuh/ desa/ distrik/ kampung lain bisa ikut membangun dukuh/ desa kita semaksimal yang kita bisa. Kegiatan karangtaruna mari kita hidupkan kembali, tidak ada ruginya dan pasti menguntungkan dan menyenangkan.

Sory buat teman-teman karangtaruna yang tidak sempat dimasukkan fotonya diblog ini. Pokok_e PeAce dech. Nama-nama teman-teman yang masuk dalam foto antara lain: yUdi pAtoNi, Ratno (mAs_e JakarTa), Hariyanto (AgRo), Yono (bOy LoNg), Dwi Marwanto, Yanto (pAk GuRu), Adik Suripno. by yUdi pAtoNi

RAHASIA MENGAPA ALLOH MENGHAPUS PERBUATAN BURUK

,

Orang-orang beriman bercita-cita memperoleh keridhaan, kasih sayang, dan surga Allah. Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan lupa sehingga manusia melakukan banyak kesalahan dan memiliki banyak kelemahan. Allah Yang Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Pengasih dan Penyayang memberitahukan kita bahwa Dia akan menghapus perbuatan buruk dari hamba-Nya yang ikhlas dan akan memberikan kepada mereka pemeriksaan yang mudah:
"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnya dengan gembira." (Q.s. al-Insyiqaq: 7-9).
Tentu saja Allah tidak mengubah perbuatan buruk setiap orang menjadi kebaikan. Adapun sifat orang-orang beriman yang perbuatan buruknya dihapus Allah dan diampuni-Nya diberitahukan dalam al-Qur'an.

Orang-orang yang Menjauhi Dosa-dosa Besar
Dalam sebuah ayat Allah menyatakan:
"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia." (Q.s. an-Nisa': 31).
Orang-orang yang beriman yang mengetahui fakta ini berbuat dengan sangat hati-hati dengan memperhatikan batas-batas yang ditetapkan Allah, dan mereka menghindari hal-hal yang dilarang. Jika mereka melakukan kesalahan karena kealpaannya, mereka segera berpaling kepada Allah, bertobat, dan memohon ampunan.
Allah memberitahukan kita dalam al-Qur'an tentang hamba-hamba-Nya yang tobatnya akan diterima. Dalam hal ini, jika kita mengetahui perintah Allah, namun dengan sengaja kita melakukan dosa dan berkata, "Tidak apa-apa, apa pun yang terjadi saya akan diampuni." Perkataan ini benar-benar menunjukkan cara berpikir yang salah, karena Allah mengampuni perbuatan dosa hamba-hamba-Nya yang dilakukan karena kealpaan dan ia segera bertobat dan tidak berniat mengulanginya lagi:
"Sesungguhnya tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran ketidaktahuan, yang kemudian mereka bertobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, ia mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang.' Dan tidak pula orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (Q.s. an-Nisa': 17-8).
Sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, menjauhi perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh sangatlah penting jika seseorang ingin perbuatan-perbuatan buruknya dihapuskan, dan jika tidak menginginkan penyesalan pada hari pengadilan kelak. Dalam pada itu, seorang beriman yang melakukan suatu dosa, hendaknya secepatnya memohon ampun kepada Allah.

Orang-orang yang Sibuk Mengerjakan Amal Saleh
Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menutupi perbuatan buruk orang-orang yang beramal saleh. Sebagian dari ayat-ayat yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:
"Pada hari ketika Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (Q.s. at-Taghabun: 9).
"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti dengan Allah dengan kebajikan. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. al-Furqan: 70).
Setiap perbuatan dan semua tindakan yang dilakukan untuk mencari karunia Allah adalah "amal saleh". Misalnya, perbuatan seperti menyampaikan perintah agama Allah kepada manusia, memperingatkan seseorang yang tidak mau bertawakal kepada Allah atas takdirnya, menjauhi seseorang dari menggunjing, memelihara rumah dan badan agar tetap bersih, memperluas wawasan dengan membaca dan belajar, berbicara dengan sopan, mengingatkan orang tentang akhirat, merawat orang sakit, menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada yang lebih tua, mencari nafkah dengan cara yang halal sehingga hasilnya dapat digunakan untuk kemanfaatan orang lain, mencegah kejahatan dengan kebaikan dan kesabaran, semua itu merupakan amal saleh jika dilakukan untuk mencari keridhaan Allah. Orang-orang yang menginginkan agar kesalahannya diampuni dan diganti dengan kebaikan di akhirat, hendaknya selalu melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah. Untuk tujuan itu, hendaknya kita selalu ingat perhitungan pada Hari Pengadilan. Tentunya menjadi jelas bagaimanakah seseorang seharusnya berbuat, misalnya jika ia diletakkan di depan api neraka, kemudian kepadanya diperlihatkan perbuatan-perbuatan buruknya yang telah ia kerjakan semasa hidupnya, kemudian diingatkan bahwa ia seharusnya berbuat benar agar diampuni. Seseorang yang melihat api neraka, yang mendengar keputusasaan, penyesalan, dan keluh kesah para penghuni neraka yang mengalami siksaan yang pedih, dan yang menyaksikan siksa neraka dengan matanya, tentu saja akan melakukan perbuatan yang sangat diridhai Allah dan akan berusaha dengan sekuat tenaganya. Orang ini akan mengerjakan shalat tepat pada waktunya, melakukan amal saleh, tidak akan pernah lalai, tidak pernah berani melakukan perbuatan yang kurang diridhai Allah, jika ia mengetahui bahwa ada perbuatan lainnya yang lebih diridhai-Nya. Karena neraka yang ada di sisinya akan selalu mengingatkannya tentang kehidupan yang kekal abadi dan siksaan Allah. Ia akan segera melakukan apa yang diperintahkan oleh hati nuraninya. Ia akan berhati-hati dalam menjaga shalatnya. Sehingga, dalam kehidupan di dunia ini, perbuatan buruk bagi orang-orang yang melakukan amal saleh, takut kepada Allah dan hari pengadilan, bagaikan orang yang melihat neraka lalu dikembalikan ke dunia, atau bagaikan mereka selalu melihat api neraka di sisinya sehingga ia segera melakukan kebaikan. Orang-orang yang beriman ini merasa yakin tentang akhirat dan mereka sangat takut dengan azab Allah dan berusaha menjauhinya.

Sumber: http://www.harunyahya.com/indo/buku/bebarapa007.htm

Membina Kemuliaan Diri

Islam menekankan tentang pentingnya membina kemuliaan diri. Untuk meraih kemuliaan diri itu, di antaranya Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar rajin bekerja. Sebab bekerja merupakan ikhtiar untuk meraih penghidupan yang lebih layak. Dan kehidupan yang layak itu merupakan salah satu modal untuk meraih hidup mulia di tengah-tengah masyarakat dan sekaligus modal untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat. Firman Allah: Carilah kebahagiaan hidup di akhirat, tapi jangan lupakan kebahagiaan hidupmu di dunia (Q. S. 28: 77).

Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan sangat bangga terhadap lelaki yang telapak tangannya kasar karena mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar demi menghidupi keluarganya. Salah satu ajaran Islam yang sangat mengesankan tentang bekerja barangkali bisa kita simak dari hadis Nabi SAW ini: Kalau hari kiamat sudah hampir tiba, sedangkan di tanganmu ada bibit tanaman korma, tanamlah. Mudah-mudahan engkau akan mendapatkan pahala.

Makna tersurat dari hadis tadi sangat jelas: rajin dan tekun bekerja. Tanamlah bibit tanaman itu, jangan pedulikan apapun yang terjadi esok hari. Kalaupun kita sempat tidak memetik hasilnya, kita pasti mendapatkan pahala, asalkan ikhlas. Seperti seorang kakek tua yang menanam bibit kelapa tanpa mempedulikan usianya. Sebab dia yakin, meskipun dia tidak keburu memetiknya, hasil tanaman itu akan dinikmati oleh anak cucunya. Tapi makna tersirat hadis di atas jauh lebih luas lagi: Tanamlah kebaikan di mana, kapan, dan dalam keadaan bagaimanapun. Tebarlah kebaikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, teman sekantor, orang yang kesulitan, bahkan kepada orang nonmuslim sekalipun. Bukankah Islam merupakan rahmat bagi seluruh manusia? Dengan kata lain, kemuliaan diri itu sesungguhnya bila diri kita banyak memberi manfaat kepada orang lain.

Alangkah banyak pintu kebaikan, dan setiap kita mempunyai kesempatan amat luas untuk melakukannya. Tak usah berharap kebaikan itu akan berbalas dari orang-orang yang menerimanya. Allah lebih tahu membalas kebaikan hamba-hamba-Nya. Kalaupun kita tidak menikmati buah kebaikan itu di dunia, Allah sudah menyediakan balasannya di akhirat. Sesungging senyum dan sapaan ramah adalah sebuah kebaikan. Nabi mengatakan, menyingkirkan duri dan halangan dari jalan merupakan sedekah. Bahkan sekadar memberi petunjuk kepada orang yang bertanya mengenai suatu alamat pun merupakan sebuah kebaikan.

Dalam satu riwayat ada disebutkan seorang wanita pelacur yang diangkat derajatnya lantaran semasa hidupnya pernah menolong seekor anjing yang hampir mati kehausan di tengah gurun kerontang. Nabi pernah menegur salah seorang sahabat yang menyia-nyiakan seekor unta tua, padahal saat masih muda dan gagah, unta itu merupakan andalannya dalam mencari nafkah. - ah

Sumber: By Republika Contributor (http://www.republika.co.id/berita/11104.html)
Jumat, 31 Oktober 2008 pukul 17:40:00

Jeritan Anak Muda


Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu "Kapan aku menikah??".

Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai "bujang lapuk" atau"perawan tua" , "tidak laku".Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.

Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.
Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,
"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.". (QS. Al-Israa’:32 )

Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, "Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits".[Lihat Fathul Qodir (3/319)]

Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,

"Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)". (QS.Thohaa :1-3)

Allah I berfirman
"Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur."(QS. : Al-Maidah: 6)

Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!

Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

"Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi "[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1022)]

Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan "malu" dan "gengsi" hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya". [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا

"Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya". [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalam Al-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (2231)]

Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,"Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita." Beliau bersabda, "Engkau menikahinya dengan mahar berapa?" orang ini berkata:"empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)". Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ

"Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)". [HR, Muslim(1424)].

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, "Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami".[Lihat Syarh Shohih Muslim (6/214)]
Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ

"Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)" .[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]

Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ

"Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri". [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]

Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

"Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan". [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

"permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari". [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]
Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, "Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya".[Lihat Az-Zawaaj]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 54 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah
http://almakassari.com/?p=234
http://www.darussalaf.or.id/