Skip navigation.

Paw

musik itu di sekelilingku

October 2009

( Monthly archive )

URUSAN FREKUENSI DALAM MUSIK

,

Siapa yang pernah melupakan lagu-lagu masa kecil dulu. Sebut saja “Cicak-cicak”, “Pelangi-pelangi”, “Balonku”, Naik-naik ke Puncak Gunung”, “Topi Saya Bundar”, dll. Diyakinkah pada semua orang tak ada yang pernah melupakannya meskipun sudah dimakan oleh jaman dan derunya musik-musik masa kini.
Mengapa bisa begitu kuat menempel diingatan kita.
Jawabannya tidak lain adalah karena frekuensi melodi lagu-lagu tersebut sangat sederhana dan sangat kuat struktur bangunannya. Apalagi lagu-lagu tersebut memang dibuat singkat dengan lirik2 sederhana. Ditengarai dari berbagai referensi yang ada, anak2 usia 3 - 5 tahun masa hebat-hebatnya otak manusia merekam semua. Kreativitas mulai berkembang teramat dahsyat.
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana anak-anaj di usia itu mampu menyanyikan lagu-lagu dewasa, berbahasa asing sekalipun. Meskipun mereka tidak tahu apa lirik yang mereka nyanyikan. Gemas rasanya melihat tingkah anak-anak itu. Tanpa disadari, disana ukuran-ukuran frekuensi nada-nada tertanam kuat. Otak kanan bekerja merasakan tinggi-rendahnya nada. Lalu otak kiri menterjemahkan menjadi ukuran-ukuran yang tepat.
Mari kita coba eja lagu ”Alphabet: berikut”
A B C D E F G --- H I J K L M N – O P Q R S T U --- V W X Y Z
Apa yang sebenarnya terjadi ? Lihat nada berikut :
1 3 5 5 6 6 5 --- 4 4 3 3 2 2 1 --- 5 5 4 4 3 3 2 – 1 3 5 5 1
Itulah frekuensi yang sedang bekerja dan terukur. Ada nada rendah dan tinggi, bergerak-gerak membentuk gelombang musikal. Bisa dibayangkan, bagaimana seseorang berusaha mengukur tinggi rendah nada dibunyikan ketika menirukan nyanyian-nyanyian.

Pernah selintas membaca artikel dari berbagai hasil riset, termasuk di sebuah buku terkenal ”Efek Mozart”, musik dinyatakan sebagai salah satu instrumen yang turut menciptakan pengembangan kecerdasan manusia. Benarkah?
Mungkin logika sederhananya adalah dimana frequensi berbunyi dan mengalir ke telinga, frequensi tersebut mengalir ke otak kanan yang mampu merasakan sebagai wujud yang abstrak. Sinyalnya mengalir ke otak kiri, dan direkam sebagai suatu besaran. Jika ia harus membunyikan nada-nada tersebut, pastilah dikirim frequensi yang tepat dari otak kiri untuk diterjemahkan kembali oleh otak kanan. Sepanjang manusia memiliki perbendaharaan mendengar musik yang melodius, yakinlah bahwa frequensi-frequensi tersebut mendorong berkembangnya kemampuan otak kiri. Karena otak kiri dialiri sesuatu yang abstrak.

Mengelola Event

, , , ...

Dewasa ini marak bermunculannya Organisasi Event atau Event Organized (EO), atau mungkin dengan peristilahan. Lain seperti : Manajemen Event, Panitia Kegiatan Pertunjukan, Show Manajemen, dll. Menjamurnya kegiatan ini di kalangan anak muda umumnya didorong dari berbagai pengalaman di sekolah atau lingkungan ketika mengadakan sebuah kegiatan.
Pada dasarnya semua sama adalah mengelola sebuah acara agar berlangsung dengan sukses. Sebagai indikator suksesnya acara biasanya adalah partisipasi pengisi acara sangat diapresiasi oleh penonton yang hadir. Lantas selama pertunjukan berlangsung tidak ada kendala teknis. Apalagi bila sebuah acara memang memiliki tujuan untuk bisnis atau mencari pendapatan. Tentunya akan diperoleh sejumlah dana hasil dari penjualan acara tersebut. Entah hasil keuntungan tersebut untuk kegiatan bisnis semata atau kegiatan amal. Sama saja...
Apa yang harus menjadi pijakan untuk menciptakan sebuah acara menjadi menarik? Ini harus dimulai dengan Tema, lalu berkembang menjadi konsep acara sesuai dengan misi dari pertunjukan atau kegiatan tersebut. Tema harus menggambarkan tentang sesuatu yang besar, yang dapat memberikan keleluasaan untuk mengembangkan konsep acara.
Sebagai contoh :
Tema : Bangun Pemuda Pemudi Indonesia
Anak Tema : Kreativitas Bandung yang Tidak Pernah Berhenti.
Konsep : Forum Kreativitas (bisa lebih detail lagi)
Bentuk : Pentas Seni dan Lomba Kreativitas


Event akbar "F2WL" di kampus SMA Negeri 2 Bandung tahun 2006

Komponen-komponen sangat dibutuhkan.
Sebuah event dengan skala kecil maupun besar, penyelenggara harus memperhatikan secara utuh segala komponen seluruh aktivitas.

A. Nonteknis.
•Manajerial/Organisasi ; Struktur Organisasi, Job Description, dll
•Administrasi ; proposal, surat menyurat, dll
•Kesekretariatan ; Ruang khusus, Telepon, Website, e-mail, dll
•Dana/Keuangan ; Modal Awal, Donasi, Sponsorship, Tiket, dll
•Perijinan ; Kepolisian Wilayah, RT, RW, Tetangga, dll

B. Teknis
•Acara / Materi ; pentas musik, drama, seminar, pameran, talkshow, lomba-lomba, dll.
•Gedung Pertunjukan/ Panggung/Arena ; In Door atau Out Door
•Listrik (sumber PLN atau Genset Diesel sesuai dengan daya yang dibutuhkan)
•Sounds System ; Output ; ... watt, kebutuhan listrik, system yang digunakan.
•Alat Musik / Music Equipments
•Lighting System ; berapa partisi, jenis lampu, kebutuhan listrik
•Tempat Penonton (kapasitas pengunjung)
•Area Parkir Kendaraan
•Artis Room (back stage, ruang rias, ruang persiapan, dll)
•Properti
•Dekorasi
•Pintu keluar masuk penonton (tiket box, pintu masuk terpisah dengan keluar)

C. Daya Dukung / Produksi
•Publikasi ; Pamflet, Poster, Baligo, Flyer, Spanduk, media elektronik, dll
•Keamanan ; Tim Keamanan, Aparat Kepolisian, Keamanan Swasta, Parkir
•Konsumsi ; Peserta Acara, Undangan, Panitia, Petugas Lapangan/Pekerja, dll
•Dokumentasi ; Foto dan Video
•Transportasi
•Pembantu Umum
Komponen-komponen di atas tentunya tidak mutlak. Semua disesuaikan dengan bobot bentuk kegiatan. Seperti menyelenggarakan Pameran atau Seminar tentunya tidak sama dengan Pertunjukan Musik.

Tahapan Persiapan Penyelenggaraan.
1.Pembentukan Panitia.
2.Menentukan Tema – Konsep – Bentuk
3.Persiapan Administrasi : proposal, perijinan
4.Menggalang Dana / Modal / Suporting Finance / Sponsor, dll
5.Rapat Kerja Penyelenggara (Laporan, Tindak Lanjut, Evaluasi dan Arahan)
6.Persiapan Teknis
7.Monitoring kerja penyelenggara dan evaluasi
8.Latihan – latihan (jika materi berupa produksi karya)
9.Gladi Kotor
10.Gladi Resik
11.Pelaksanaan
12.Laporan

Menggambarkan berbagai persoalan dalam penyelenggaraan event, masalah ’perijinan’ adalah hal yang harus menjadi perhatian utama. Khususnya dengan pihak-pihak yang terkait dengan isi kegiatan dan tempat. Kegiatan apapun yang Anda rencanakan harus mendapat legalitas. Untuk sebuh event yang cukup besar biasanya persyaratan standar kepolisian diantaranya : sirkulasi pengunjung/penonton yang baik, tersedianya unit ambulance, dan tersedianya unit pemadam kebakaran.

Daftar Gedung Pertunjukan Representatif di Kota Bandung
1.Sasana Budaya Ganesha, Jl. Tamansari Bandung
Gedung Sabuga memiliki kapasitas pengunjung 6000 orang di ruang utama. Gedung ini dilengkapi fasilitas yang sangat lengkap ; Ruang ber-AC, Kursi Penonton, Panggung Luas, Parkir, Soundsystem Standar, Big Screen, Multimedia, Lighting System Standar, dll.
Akustik Ruang : Sangat Baik (****).
2.Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Utara Bandung
TBJB memiliki dua tempat pertunjukan, yakni Teater Terbuka dan Teater Tertutup. Teater Tertutup kapasitas 800 org, Teater Terbuka 2000 org. Teater Tertutup dilengkapi Soundsystem Standar, Lighting System, Kursi Penonton (800), Backstage Room, Wisma, area parkir luas, dll.
Akustik Ruang : Sangat Baik (****)
3.Gedung Rumentangsiang, Jl. Baranangsiang – Kosambi – Bandung
Kapasitas penonton 400 orang. Area Parkir cukup sulit dikarenakan berada di tengah keramaian pasar Kosambi. Gedung ini lebih sering digunakan untuk pertunjukan teater dan seni-seni tradisi.
Akustik Ruang : Baik (***)
4.Gedung YPK (**), Jl. Naripan Bandung
Gedung ini memiliki sejarah yang panjang sebagai tempat lahirnya perfilman Indonesia. Hingga kini gedung ini lebih dikenal sebagai tempat pertunjukan Wayang Tradisi.
5.Gedung Sunan Ambu – STSI(***) , Jl. Buahbatu – Bandung.
6.Gedung Asia Africa Culture Centre (AACC), Jl. Braga – Bandung
Awalnya gedung ini menjadi sentral pertunjukan seni berbagai bentuk. Apalagi berdekatannya dengan gedung Asia Africa, menjadikan gedung ini sebagai tempat pertunjukan berbagai macam seni pertunjukan dari berbagai bangsa di Asia Africa. Tetapi sayangnya belakangan, gedung ini boleh dikatakan mati.
7.Eldorado Dome(***) – Jl Setiabudhi Bandung. Digunakan untuk Umum.
8.Bumi Sangkuriang(***) , Jl. Ki Putih – Ciumbeuleuit.
9.Auditorium Maranatha(****), Jl. Prof. Dr. Suryasumantri Bandung. Digunakan terbatas untuk lingkungan Universitas Maranatha.
10.Aula Barat / Timur ITB(****), Jl. Ganesha Bandung. Digunakan terbatas untuk lingkungan ITB.
11.Gedung Landmark(**) – Jl. Braga Bandung. Biasanya digunakan untuk pameran, seminar, dll.
12.Padepokan Seni Bandung(**), Jl. Peta – Bandung. Bentuk teater terbuka dan tertutup yang biasanya digunakan untuk pengembangan/pelestarian nilai seni pertunjukan tradisi.

Merancang Event melalui Proposal yang baik

, , ,

Pernahkan Anda melihat tumpukan proposal yang menumpuk di meja seorang direktur perusahaan tertentu?
Apakah Anda mengira bahwa semua proposal itu pasti diperhatikan atau dibaca oleh direktur tersebut?
Punyakah seorang direktur membaca proposal-proposal itu?
Apa yang lebih baik, proposal dengan halaman yang tebal atau dengan halaman yang sedikit?


Jawabannya bisa saja dan bisa tidak. Semua tergantung kepada pendekatan yang dilakukan secara intensif panitia penyelenggara.

Sebelumnya agar menjadi bahan pemikiran, bahwa proposal bukanlah program kerja para penyelenggara. Sehingga tak perlulah di dalam proposal diilustrasikan secara detail semua langkah kerja penyelenggara.
Apa sebenarnya proposal itu? Proposal tidak lain adalah instrumen penyelenggara event untuk memberikan informasi tentang sebuah kegiatan. Sedangkan isi proposal itu adalah sebagai berikut :

A. Latar Belakang ; intinya adalah sebuah pemikiran hasil pengamatan, tinjauan, analisis yang berkaitan dengan event yang akan diselenggarakan. Jadi sebenarnya latarbelakang adalah sebuah pertanyaan mengapa event itu harus diselenggarakan.
B. Dasar Pemikiran/Dasar Hukum ; memuat peraturan-peraturan (Undang-Undang, Perpu, Surat keputusan, Surat Edaran, dll), hasil rapat, musyawarah, dll.
Tujuan ; tidak bertele-tele dan tidak terlalu jauh/mimpi. Apalagi jika sangat jauh dari jangkauan.
C. Tema, Konsep, Bentuk.
Tema adalah sebuah kalimat yang bersifat exlusif, tinggi derajatnya. Contoh : Satu Untuk Negeri.
Konsep adalah ilustrasi dari hasil pengembangan tema dikaitkan dengan rencana kegiatan. Contoh : Ranah Minang dirundung duka yang dalam. Sebuah pemandangan yang konon adalah sebuah tanah dengan nilai-nilai budaya yang luhur itu, kini lenyap bagai ditelan bumi. Minang kini harus tertatih-tatih membangun diri. Dan itu tidak dapat sendiri. Masih banyak saudara-saudara di belahan nusantara ini yang untuk bisa membantu. Mari kita ringankan beban derita saudara kita di Ranah Minang. Mari kita bersama-sama yang berada di tempat ini untuk memberikan empati.
Bentuk Kegiatan ; disesuaikan dengan segmen yang menjadi sasaran. Contoh : Konser Amal.
D. Penyelenggara ; susunan panitia atau organisasi/lembaga yang menyelenggarakan.
E. Biaya Kegiatan
Pengeluaran ; Kesekretariatan, Peralatan/Logistik, Gedung, Acara, Konsumsi, Keamanan, Perijinan, Dokumentasi, Publikasi. Transportasi, dll
Pemasukan ; Modal/Kas Organisasi, Donasi/Sumbangan tidak mengikat, Sponsor.
F. Penutup.
Halaman Pengesahan ; yang menandatangani
Lampiran-lampiran ; teknis, denah lokasi, kesekretariatan, schedulle, tentang Sponsorships, dll

Mungkin untuk menuliskan itu semua tidak perlu berpanjang lebar. Dua atau tiga halaman bisa mencukupi. Yang lebih penting bagaimana seseorang dapat memahami dan mengapresiasinya dengan utuh.
Sebuah pengalaman yang menarik, proposal sebaiknya dibuat dengan desain yang cukup menarik. Bila perlu lengkapi dengan gambar-gambar atau sketsa. Jika memang kegiatan tersebut adalah untuk yang kesekian kalinya diselenggarakan, alangkah lebih informatif bila sebagai lampiran ditambahkan dokumentasi penyelenggaraan sebelumnya dalam wujud Foto-foto, Video Profile, dll.

INDONESIA RAJA , 3 stanza

, ,

centre
Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Di sanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Semw'wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja
Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo'a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
'Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra'jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem'wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Kekuasaan “RITMIK” atas Musik Indonesia

, , , ...

Pernahkah kita menyadari, bahwa manusia Indonesia dikategorikan sangat ritmikal. Lebih ritmik dari bangsa-bangsa lain yang berada di belahan Utara atau Selatan bumi ini. Pagi hari ketika matahari terbit, kehidupan pun berjalan. Dan ketika terbenamnya matahari, kehidupan pun terhenti. Dan rutinitas berjalan begitu dan seterusnya.....
Pertanyaannya adalah Mengapa?
Perkiraan saya mungkin dikarenakan Indonesia berada di garis katulistiwa (lintasan matahari). Terit dan terbenamnya matahari selalu stabil. Iklimpun juga demikian. Jadi dengan demikian seharusnya bangsa ini memiliki budaya yang sangat disiplin dan tertib. Ketika masuk nilai-nilai budaya luar (Barat), menjadikan sulit untuk menyesuaikan diri.
Mari kita perhatikan akar musik Indonesia yang berada di seluruh etnik yang ada. Semua musik tersebut memiliki pola ritnik yang sangat kuat. Instrumen Gong dan Kendang menjadi tulang musik-musik tersebut. Dari ujung Sumatra hingga Papua, ritmik dalam musik memegang peranan yang besar. Metrum yang dibangun umumnya berbirama 4 (empat).
// 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 //
Setiap kalimat musik terdiri atas 4 bar. Pada hitungan 1, diberikan tekanan lebih kuat (thesis) dengan menggunakan instrumen, misal : gong.

Jika kita ambil garis semua bangsa di dunia yang berada di bawah garis khatulistiwa, dan umumnya ritmik adalah kekuatan musik-musik tersebut. Sebut saja misal India dengan tabuhan ‘tabla’, lalu Brazil dengan musik ‘Samba’ nya. Bandingkan dengan musik bangsa lain di belahan Utara. Umumnya lebih melodius.
Musik Klasik Barat yang dibangun dari melodi-melodi harmonis, jelas tidak mudah diterima bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Apalagi musik Jazz yang memiliki kerumitan dalam harmoni, sangat sulit diterima. Sehingga seringkali dalam pembicaraan musik, kedua musik ini ditempatkan secara eksklusif. Atau boleh dibilang berkelas tinggi..!?
Lantas bagaimana dengan musik ’Rock’. Musik Rock, tampaknya ada bagian yang masih sangat dekat dengan akar musik Indonesia. ‘Beat’ rock yang sangat kuat, menjadikan musik ini memang lebih mudah diterima.
Mengapa musik ‘Dangdut’ sangat mudah diterima? Mengapa musik ‘Pantura’ –an mudah dicerna? Mengapa musik ‘Pop Melayu’ sangat diapresiate kebanyakan orang Indonesia?
Jawabannya adalah itu semua....
Semoga berkenan...

MAYOR atau MINOR

,

Banyak orang mendengar musik dan tidak tahu apa sebenarnya musik. Wajar saja, karena umumnya mengkategorikan musik sebagai sebuah kesenangan, mengulang memori, dan me-refresh pikiran-pikiran yang melelahkan.

Ada sesuatu yang teramat penting untuk diketahui. Musik dengan jutaan dan mungkin milyaran judul lagu yang hadir di kehidupan manusia, tidak lain hanya permainan melodi-melodi yang bersama ritmik membentuk pola-pola tertentu. Lirik-lirik menambah indahnya sebuah lagu. .Melodi-melodi itu hanya terbentuk dari 7 nada (oktaf), plus nada tinggi dan rendah. Jika belum cukup tambahkan 5 nada lainnya (nada harmonic). Dan dalam lagu, sangat tidak mungkin memuat nada-nada dalam range lebih 2 oktaf. Karena apa. Suara manusia dan instrumen musik memiliki keterbatasan.tinggi dan rendah.
Lalu mengapa lagu/musik bisa tercipta dengan luar biasa tanpa habis-habisnya.
Para kreator musik, seniman musik, komposer, para pencipta lagu berlomba-lomba dengan berbekal pengalaman musikalnya menciptakan karakter melodi dan ritmik sesuai dengan nuansa ke masa kinian.

Coba di bawah ini tersebut beberapa lagu populer. Barangkali Anda bisa mengingatnya..
Kelompok A.
Lilin-Lilin Kecil (Chrisye)
Mengejar Matahari (Nidji)
Halo-Halo Bandung (WR Supratman)
Menghitung Hari (Krisdayanti)
Sempurna (Andra and Blackbone)
Burung Camar (Vina Pandiwinata)
Kaulah Segalanya (Ruth Sahanaya)

Kelompok B.
Tuhan (Bimbo)
Cinta (Vina Panduwinata)
Ayat-Ayat Cinta
Cinta (Titik Puspa)
Kopi Dangdut
Bubuy Bulan (Sunda)

Bagaimana? Bisa mengingatnya?
Lagu-lagu pada kelompok A adalah lagu-lagu bertangga nada Mayor. Sedangkan kelompok B adalah lagu bertangga nada minor.

Apa sebenarnya Mayor dan Minor dalam musik?
Perbedaan ini dapat dirasakan dari pergerakan melodi yang terbentuk. Mayor memiliki sifat lebih terbuka, megah, dinamis, luas, bahagia, gembira, romatis, agung, dll. Sedangkan minor sebaliknya lebih bernuansakan haru, sempit, tertutup, sedih, murung, menyakitkan, religius, dll.

Mengapa bisa begitu?
Secara teknis lagu Mayor menggunakan tangga nada Mayor, yakni : do-re-mi-fa-so-la-ti-do (oktaf) dengan nada dasar (nada awal) nada ‘do’ sebagai tiangnya lagu.
Lagu minor menggunakan nada Minor , yakni : la-ti-do-re-mi-fa-so-la (oktaf). Inilah yang menyebabkan susana yang dibangun dari lagu Mayor dan Minor berbeda.

Untuk mengetes pemahaman Anda, coba dengarkan music player Anda dan temukan jawabannya sendiri. Jika Anda seorang musisi, komposer atau pencipta lagu, sebaiknya Anda paham betul mengenai perbedaan ini.

Selamat bereksplorasi........!!!(paw)