Skip navigation.

Paw

musik itu di sekelilingku

AKOR

, ,

catatan bagi anak2 ku di SMAN 2 Bandung

Read more...

URUSAN FREKUENSI DALAM MUSIK

,

Siapa yang pernah melupakan lagu-lagu masa kecil dulu. Sebut saja “Cicak-cicak”, “Pelangi-pelangi”, “Balonku”, Naik-naik ke Puncak Gunung”, “Topi Saya Bundar”, dll. Diyakinkah pada semua orang tak ada yang pernah melupakannya meskipun sudah dimakan oleh jaman dan derunya musik-musik masa kini.
Mengapa bisa begitu kuat menempel diingatan kita.
Jawabannya tidak lain adalah karena frekuensi melodi lagu-lagu tersebut sangat sederhana dan sangat kuat struktur bangunannya. Apalagi lagu-lagu tersebut memang dibuat singkat dengan lirik2 sederhana. Ditengarai dari berbagai referensi yang ada, anak2 usia 3 - 5 tahun masa hebat-hebatnya otak manusia merekam semua. Kreativitas mulai berkembang teramat dahsyat.
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana anak-anaj di usia itu mampu menyanyikan lagu-lagu dewasa, berbahasa asing sekalipun. Meskipun mereka tidak tahu apa lirik yang mereka nyanyikan. Gemas rasanya melihat tingkah anak-anak itu. Tanpa disadari, disana ukuran-ukuran frekuensi nada-nada tertanam kuat. Otak kanan bekerja merasakan tinggi-rendahnya nada. Lalu otak kiri menterjemahkan menjadi ukuran-ukuran yang tepat.
Mari kita coba eja lagu ”Alphabet: berikut”
A B C D E F G --- H I J K L M N – O P Q R S T U --- V W X Y Z
Apa yang sebenarnya terjadi ? Lihat nada berikut :
1 3 5 5 6 6 5 --- 4 4 3 3 2 2 1 --- 5 5 4 4 3 3 2 – 1 3 5 5 1
Itulah frekuensi yang sedang bekerja dan terukur. Ada nada rendah dan tinggi, bergerak-gerak membentuk gelombang musikal. Bisa dibayangkan, bagaimana seseorang berusaha mengukur tinggi rendah nada dibunyikan ketika menirukan nyanyian-nyanyian.

Pernah selintas membaca artikel dari berbagai hasil riset, termasuk di sebuah buku terkenal ”Efek Mozart”, musik dinyatakan sebagai salah satu instrumen yang turut menciptakan pengembangan kecerdasan manusia. Benarkah?
Mungkin logika sederhananya adalah dimana frequensi berbunyi dan mengalir ke telinga, frequensi tersebut mengalir ke otak kanan yang mampu merasakan sebagai wujud yang abstrak. Sinyalnya mengalir ke otak kiri, dan direkam sebagai suatu besaran. Jika ia harus membunyikan nada-nada tersebut, pastilah dikirim frequensi yang tepat dari otak kiri untuk diterjemahkan kembali oleh otak kanan. Sepanjang manusia memiliki perbendaharaan mendengar musik yang melodius, yakinlah bahwa frequensi-frequensi tersebut mendorong berkembangnya kemampuan otak kiri. Karena otak kiri dialiri sesuatu yang abstrak.

Mengelola Event

, , , ...

Dewasa ini marak bermunculannya Organisasi Event atau Event Organized (EO), atau mungkin dengan peristilahan. Lain seperti : Manajemen Event, Panitia Kegiatan Pertunjukan, Show Manajemen, dll. Menjamurnya kegiatan ini di kalangan anak muda umumnya didorong dari berbagai pengalaman di sekolah atau lingkungan ketika mengadakan sebuah kegiatan.
Pada dasarnya semua sama adalah mengelola sebuah acara agar berlangsung dengan sukses. Sebagai indikator suksesnya acara biasanya adalah partisipasi pengisi acara sangat diapresiasi oleh penonton yang hadir. Lantas selama pertunjukan berlangsung tidak ada kendala teknis. Apalagi bila sebuah acara memang memiliki tujuan untuk bisnis atau mencari pendapatan. Tentunya akan diperoleh sejumlah dana hasil dari penjualan acara tersebut. Entah hasil keuntungan tersebut untuk kegiatan bisnis semata atau kegiatan amal. Sama saja...
Apa yang harus menjadi pijakan untuk menciptakan sebuah acara menjadi menarik? Ini harus dimulai dengan Tema, lalu berkembang menjadi konsep acara sesuai dengan misi dari pertunjukan atau kegiatan tersebut. Tema harus menggambarkan tentang sesuatu yang besar, yang dapat memberikan keleluasaan untuk mengembangkan konsep acara.
Sebagai contoh :
Tema : Bangun Pemuda Pemudi Indonesia
Anak Tema : Kreativitas Bandung yang Tidak Pernah Berhenti.
Konsep : Forum Kreativitas (bisa lebih detail lagi)
Bentuk : Pentas Seni dan Lomba Kreativitas


Event akbar "F2WL" di kampus SMA Negeri 2 Bandung tahun 2006

Komponen-komponen sangat dibutuhkan.
Sebuah event dengan skala kecil maupun besar, penyelenggara harus memperhatikan secara utuh segala komponen seluruh aktivitas.

A. Nonteknis.
•Manajerial/Organisasi ; Struktur Organisasi, Job Description, dll
•Administrasi ; proposal, surat menyurat, dll
•Kesekretariatan ; Ruang khusus, Telepon, Website, e-mail, dll
•Dana/Keuangan ; Modal Awal, Donasi, Sponsorship, Tiket, dll
•Perijinan ; Kepolisian Wilayah, RT, RW, Tetangga, dll

B. Teknis
•Acara / Materi ; pentas musik, drama, seminar, pameran, talkshow, lomba-lomba, dll.
•Gedung Pertunjukan/ Panggung/Arena ; In Door atau Out Door
•Listrik (sumber PLN atau Genset Diesel sesuai dengan daya yang dibutuhkan)
•Sounds System ; Output ; ... watt, kebutuhan listrik, system yang digunakan.
•Alat Musik / Music Equipments
•Lighting System ; berapa partisi, jenis lampu, kebutuhan listrik
•Tempat Penonton (kapasitas pengunjung)
•Area Parkir Kendaraan
•Artis Room (back stage, ruang rias, ruang persiapan, dll)
•Properti
•Dekorasi
•Pintu keluar masuk penonton (tiket box, pintu masuk terpisah dengan keluar)

C. Daya Dukung / Produksi
•Publikasi ; Pamflet, Poster, Baligo, Flyer, Spanduk, media elektronik, dll
•Keamanan ; Tim Keamanan, Aparat Kepolisian, Keamanan Swasta, Parkir
•Konsumsi ; Peserta Acara, Undangan, Panitia, Petugas Lapangan/Pekerja, dll
•Dokumentasi ; Foto dan Video
•Transportasi
•Pembantu Umum
Komponen-komponen di atas tentunya tidak mutlak. Semua disesuaikan dengan bobot bentuk kegiatan. Seperti menyelenggarakan Pameran atau Seminar tentunya tidak sama dengan Pertunjukan Musik.

Tahapan Persiapan Penyelenggaraan.
1.Pembentukan Panitia.
2.Menentukan Tema – Konsep – Bentuk
3.Persiapan Administrasi : proposal, perijinan
4.Menggalang Dana / Modal / Suporting Finance / Sponsor, dll
5.Rapat Kerja Penyelenggara (Laporan, Tindak Lanjut, Evaluasi dan Arahan)
6.Persiapan Teknis
7.Monitoring kerja penyelenggara dan evaluasi
8.Latihan – latihan (jika materi berupa produksi karya)
9.Gladi Kotor
10.Gladi Resik
11.Pelaksanaan
12.Laporan

Menggambarkan berbagai persoalan dalam penyelenggaraan event, masalah ’perijinan’ adalah hal yang harus menjadi perhatian utama. Khususnya dengan pihak-pihak yang terkait dengan isi kegiatan dan tempat. Kegiatan apapun yang Anda rencanakan harus mendapat legalitas. Untuk sebuh event yang cukup besar biasanya persyaratan standar kepolisian diantaranya : sirkulasi pengunjung/penonton yang baik, tersedianya unit ambulance, dan tersedianya unit pemadam kebakaran.

Daftar Gedung Pertunjukan Representatif di Kota Bandung
1.Sasana Budaya Ganesha, Jl. Tamansari Bandung
Gedung Sabuga memiliki kapasitas pengunjung 6000 orang di ruang utama. Gedung ini dilengkapi fasilitas yang sangat lengkap ; Ruang ber-AC, Kursi Penonton, Panggung Luas, Parkir, Soundsystem Standar, Big Screen, Multimedia, Lighting System Standar, dll.
Akustik Ruang : Sangat Baik (****).
2.Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Utara Bandung
TBJB memiliki dua tempat pertunjukan, yakni Teater Terbuka dan Teater Tertutup. Teater Tertutup kapasitas 800 org, Teater Terbuka 2000 org. Teater Tertutup dilengkapi Soundsystem Standar, Lighting System, Kursi Penonton (800), Backstage Room, Wisma, area parkir luas, dll.
Akustik Ruang : Sangat Baik (****)
3.Gedung Rumentangsiang, Jl. Baranangsiang – Kosambi – Bandung
Kapasitas penonton 400 orang. Area Parkir cukup sulit dikarenakan berada di tengah keramaian pasar Kosambi. Gedung ini lebih sering digunakan untuk pertunjukan teater dan seni-seni tradisi.
Akustik Ruang : Baik (***)
4.Gedung YPK (**), Jl. Naripan Bandung
Gedung ini memiliki sejarah yang panjang sebagai tempat lahirnya perfilman Indonesia. Hingga kini gedung ini lebih dikenal sebagai tempat pertunjukan Wayang Tradisi.
5.Gedung Sunan Ambu – STSI(***) , Jl. Buahbatu – Bandung.
6.Gedung Asia Africa Culture Centre (AACC), Jl. Braga – Bandung
Awalnya gedung ini menjadi sentral pertunjukan seni berbagai bentuk. Apalagi berdekatannya dengan gedung Asia Africa, menjadikan gedung ini sebagai tempat pertunjukan berbagai macam seni pertunjukan dari berbagai bangsa di Asia Africa. Tetapi sayangnya belakangan, gedung ini boleh dikatakan mati.
7.Eldorado Dome(***) – Jl Setiabudhi Bandung. Digunakan untuk Umum.
8.Bumi Sangkuriang(***) , Jl. Ki Putih – Ciumbeuleuit.
9.Auditorium Maranatha(****), Jl. Prof. Dr. Suryasumantri Bandung. Digunakan terbatas untuk lingkungan Universitas Maranatha.
10.Aula Barat / Timur ITB(****), Jl. Ganesha Bandung. Digunakan terbatas untuk lingkungan ITB.
11.Gedung Landmark(**) – Jl. Braga Bandung. Biasanya digunakan untuk pameran, seminar, dll.
12.Padepokan Seni Bandung(**), Jl. Peta – Bandung. Bentuk teater terbuka dan tertutup yang biasanya digunakan untuk pengembangan/pelestarian nilai seni pertunjukan tradisi.

Merancang Event melalui Proposal yang baik

, , ,

Pernahkan Anda melihat tumpukan proposal yang menumpuk di meja seorang direktur perusahaan tertentu?
Apakah Anda mengira bahwa semua proposal itu pasti diperhatikan atau dibaca oleh direktur tersebut?
Punyakah seorang direktur membaca proposal-proposal itu?
Apa yang lebih baik, proposal dengan halaman yang tebal atau dengan halaman yang sedikit?


Jawabannya bisa saja dan bisa tidak. Semua tergantung kepada pendekatan yang dilakukan secara intensif panitia penyelenggara.

Sebelumnya agar menjadi bahan pemikiran, bahwa proposal bukanlah program kerja para penyelenggara. Sehingga tak perlulah di dalam proposal diilustrasikan secara detail semua langkah kerja penyelenggara.
Apa sebenarnya proposal itu? Proposal tidak lain adalah instrumen penyelenggara event untuk memberikan informasi tentang sebuah kegiatan. Sedangkan isi proposal itu adalah sebagai berikut :

A. Latar Belakang ; intinya adalah sebuah pemikiran hasil pengamatan, tinjauan, analisis yang berkaitan dengan event yang akan diselenggarakan. Jadi sebenarnya latarbelakang adalah sebuah pertanyaan mengapa event itu harus diselenggarakan.
B. Dasar Pemikiran/Dasar Hukum ; memuat peraturan-peraturan (Undang-Undang, Perpu, Surat keputusan, Surat Edaran, dll), hasil rapat, musyawarah, dll.
Tujuan ; tidak bertele-tele dan tidak terlalu jauh/mimpi. Apalagi jika sangat jauh dari jangkauan.
C. Tema, Konsep, Bentuk.
Tema adalah sebuah kalimat yang bersifat exlusif, tinggi derajatnya. Contoh : Satu Untuk Negeri.
Konsep adalah ilustrasi dari hasil pengembangan tema dikaitkan dengan rencana kegiatan. Contoh : Ranah Minang dirundung duka yang dalam. Sebuah pemandangan yang konon adalah sebuah tanah dengan nilai-nilai budaya yang luhur itu, kini lenyap bagai ditelan bumi. Minang kini harus tertatih-tatih membangun diri. Dan itu tidak dapat sendiri. Masih banyak saudara-saudara di belahan nusantara ini yang untuk bisa membantu. Mari kita ringankan beban derita saudara kita di Ranah Minang. Mari kita bersama-sama yang berada di tempat ini untuk memberikan empati.
Bentuk Kegiatan ; disesuaikan dengan segmen yang menjadi sasaran. Contoh : Konser Amal.
D. Penyelenggara ; susunan panitia atau organisasi/lembaga yang menyelenggarakan.
E. Biaya Kegiatan
Pengeluaran ; Kesekretariatan, Peralatan/Logistik, Gedung, Acara, Konsumsi, Keamanan, Perijinan, Dokumentasi, Publikasi. Transportasi, dll
Pemasukan ; Modal/Kas Organisasi, Donasi/Sumbangan tidak mengikat, Sponsor.
F. Penutup.
Halaman Pengesahan ; yang menandatangani
Lampiran-lampiran ; teknis, denah lokasi, kesekretariatan, schedulle, tentang Sponsorships, dll

Mungkin untuk menuliskan itu semua tidak perlu berpanjang lebar. Dua atau tiga halaman bisa mencukupi. Yang lebih penting bagaimana seseorang dapat memahami dan mengapresiasinya dengan utuh.
Sebuah pengalaman yang menarik, proposal sebaiknya dibuat dengan desain yang cukup menarik. Bila perlu lengkapi dengan gambar-gambar atau sketsa. Jika memang kegiatan tersebut adalah untuk yang kesekian kalinya diselenggarakan, alangkah lebih informatif bila sebagai lampiran ditambahkan dokumentasi penyelenggaraan sebelumnya dalam wujud Foto-foto, Video Profile, dll.

INDONESIA RAJA , 3 stanza

, ,

centre
Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Di sanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Semw'wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja
Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo'a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
'Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra'jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem'wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Kekuasaan “RITMIK” atas Musik Indonesia

, , , ...

Pernahkah kita menyadari, bahwa manusia Indonesia dikategorikan sangat ritmikal. Lebih ritmik dari bangsa-bangsa lain yang berada di belahan Utara atau Selatan bumi ini. Pagi hari ketika matahari terbit, kehidupan pun berjalan. Dan ketika terbenamnya matahari, kehidupan pun terhenti. Dan rutinitas berjalan begitu dan seterusnya.....
Pertanyaannya adalah Mengapa?
Perkiraan saya mungkin dikarenakan Indonesia berada di garis katulistiwa (lintasan matahari). Terit dan terbenamnya matahari selalu stabil. Iklimpun juga demikian. Jadi dengan demikian seharusnya bangsa ini memiliki budaya yang sangat disiplin dan tertib. Ketika masuk nilai-nilai budaya luar (Barat), menjadikan sulit untuk menyesuaikan diri.
Mari kita perhatikan akar musik Indonesia yang berada di seluruh etnik yang ada. Semua musik tersebut memiliki pola ritnik yang sangat kuat. Instrumen Gong dan Kendang menjadi tulang musik-musik tersebut. Dari ujung Sumatra hingga Papua, ritmik dalam musik memegang peranan yang besar. Metrum yang dibangun umumnya berbirama 4 (empat).
// 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 //
Setiap kalimat musik terdiri atas 4 bar. Pada hitungan 1, diberikan tekanan lebih kuat (thesis) dengan menggunakan instrumen, misal : gong.

Jika kita ambil garis semua bangsa di dunia yang berada di bawah garis khatulistiwa, dan umumnya ritmik adalah kekuatan musik-musik tersebut. Sebut saja misal India dengan tabuhan ‘tabla’, lalu Brazil dengan musik ‘Samba’ nya. Bandingkan dengan musik bangsa lain di belahan Utara. Umumnya lebih melodius.
Musik Klasik Barat yang dibangun dari melodi-melodi harmonis, jelas tidak mudah diterima bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Apalagi musik Jazz yang memiliki kerumitan dalam harmoni, sangat sulit diterima. Sehingga seringkali dalam pembicaraan musik, kedua musik ini ditempatkan secara eksklusif. Atau boleh dibilang berkelas tinggi..!?
Lantas bagaimana dengan musik ’Rock’. Musik Rock, tampaknya ada bagian yang masih sangat dekat dengan akar musik Indonesia. ‘Beat’ rock yang sangat kuat, menjadikan musik ini memang lebih mudah diterima.
Mengapa musik ‘Dangdut’ sangat mudah diterima? Mengapa musik ‘Pantura’ –an mudah dicerna? Mengapa musik ‘Pop Melayu’ sangat diapresiate kebanyakan orang Indonesia?
Jawabannya adalah itu semua....
Semoga berkenan...

MAYOR atau MINOR

,

Banyak orang mendengar musik dan tidak tahu apa sebenarnya musik. Wajar saja, karena umumnya mengkategorikan musik sebagai sebuah kesenangan, mengulang memori, dan me-refresh pikiran-pikiran yang melelahkan.

Ada sesuatu yang teramat penting untuk diketahui. Musik dengan jutaan dan mungkin milyaran judul lagu yang hadir di kehidupan manusia, tidak lain hanya permainan melodi-melodi yang bersama ritmik membentuk pola-pola tertentu. Lirik-lirik menambah indahnya sebuah lagu. .Melodi-melodi itu hanya terbentuk dari 7 nada (oktaf), plus nada tinggi dan rendah. Jika belum cukup tambahkan 5 nada lainnya (nada harmonic). Dan dalam lagu, sangat tidak mungkin memuat nada-nada dalam range lebih 2 oktaf. Karena apa. Suara manusia dan instrumen musik memiliki keterbatasan.tinggi dan rendah.
Lalu mengapa lagu/musik bisa tercipta dengan luar biasa tanpa habis-habisnya.
Para kreator musik, seniman musik, komposer, para pencipta lagu berlomba-lomba dengan berbekal pengalaman musikalnya menciptakan karakter melodi dan ritmik sesuai dengan nuansa ke masa kinian.

Coba di bawah ini tersebut beberapa lagu populer. Barangkali Anda bisa mengingatnya..
Kelompok A.
Lilin-Lilin Kecil (Chrisye)
Mengejar Matahari (Nidji)
Halo-Halo Bandung (WR Supratman)
Menghitung Hari (Krisdayanti)
Sempurna (Andra and Blackbone)
Burung Camar (Vina Pandiwinata)
Kaulah Segalanya (Ruth Sahanaya)

Kelompok B.
Tuhan (Bimbo)
Cinta (Vina Panduwinata)
Ayat-Ayat Cinta
Cinta (Titik Puspa)
Kopi Dangdut
Bubuy Bulan (Sunda)

Bagaimana? Bisa mengingatnya?
Lagu-lagu pada kelompok A adalah lagu-lagu bertangga nada Mayor. Sedangkan kelompok B adalah lagu bertangga nada minor.

Apa sebenarnya Mayor dan Minor dalam musik?
Perbedaan ini dapat dirasakan dari pergerakan melodi yang terbentuk. Mayor memiliki sifat lebih terbuka, megah, dinamis, luas, bahagia, gembira, romatis, agung, dll. Sedangkan minor sebaliknya lebih bernuansakan haru, sempit, tertutup, sedih, murung, menyakitkan, religius, dll.

Mengapa bisa begitu?
Secara teknis lagu Mayor menggunakan tangga nada Mayor, yakni : do-re-mi-fa-so-la-ti-do (oktaf) dengan nada dasar (nada awal) nada ‘do’ sebagai tiangnya lagu.
Lagu minor menggunakan nada Minor , yakni : la-ti-do-re-mi-fa-so-la (oktaf). Inilah yang menyebabkan susana yang dibangun dari lagu Mayor dan Minor berbeda.

Untuk mengetes pemahaman Anda, coba dengarkan music player Anda dan temukan jawabannya sendiri. Jika Anda seorang musisi, komposer atau pencipta lagu, sebaiknya Anda paham betul mengenai perbedaan ini.

Selamat bereksplorasi........!!!(paw)

Tips Berpikir Menjadi Kreatif

Sebuah pelajaran berharga dari Sim Wong Hoo(Singapore) : Dimanapun Anda berbekal kreativitas, Anda dapat menjangkau kesuksesan.
Lantas siapa Sim Wong Hoo. Dia adalah seorang pendiri dan sekaligus pemilik Creative Labs, yang menjadikan seluruh dunia tercengang atas berhasilnya Sim Wong Hoo menjadikan Komputer dapat memainkan musik, memainkan lagu-lagu, dan bersuara(1989)dengan memproduksi piranti 'Soundcard' pada komputer. Dan kita kenal dengan nama Sound Blaster.
Creative Technology tentunya bagi banyak orang sudah tidak asing lagi produk-produk apa yang dipakai di masa kini. Kabarnya 60% pengguna komputer di dunia, menggunakan produk Creative Labs ini. Padahal Sim Wong Hoo semula hanya sebagai tukang reparasi komputer. Ia memikirkan bagaimana musik yang biasa didengarkan menggunakan radio atau tape player bisa berada di komputer. Ck..ck..ck...
Ada suatu yang menjadi bahan pemikiran kita dari apa yang dikatakan oleh Sim Wong Hoo dalam membangun kreativitas.
"Bagaimana kita bisa berinovasi jika setiap waktu kita harus meminta persetujuan pada seseorang yang harus terlebih dahulu melihat buku peraturan?". Selanjutnya kunci kreativitas adalah BERPIKIR DI LUAR KOTAK (Out of the Box). Kreativitas tidak tergantung kotak dimana dimana kita berada. Jika Anda mampu berpikir ke luar dari kotak, Anda akan menjadi kreatif. (paw)

Cuplikan dari buku Rahasia Sukses MILIARDER KOMPUTER dan Dunia Cyber

MUSIC dan HARMONI

,

Musik bagi kebanyakan manusia diperadaban moderen ini tidak ubahnya seperti makan, minum dan bernafas. Bunyi-bunyi yang mengalir hadir di telinga kita, sudah dapat dipastikan memberikan reaksi positif atau negative. Yang positif dinamakan musik.
Mengapa Musik memberikan respon positif ?
Karena musik memiliki harmoni yang selaras dengan perasaan – perasaan manusia saat itu. Melodi musik melantunkan gerak-gerak nada yang indah. Naik dan turunnya begitu teratur. Kadang melodi meninggi, dan perasaan seseorang terbawa terbang ke atas. Dan kadang melodi jatuh ke bawah, merebahkan semua perasaan. Di penghujung lagu, memberi kesan yang melegakan. Kesimpulannya, bahwa musik memang berada satu harmoni dengan perjalanan emosi manusia. Jadi apa Anda ketika bernyanyi atau bermain musik adalah menyanyikan kehidupan.
Perlu kita sadari semua pergerakan alam sekitar kita berubah waktu ke waktu. Begitu pula musik, berubah karena alam yang turut membentuk dari pola-pola musik yang berkembang. Mengambil ungkpan filosof kuno, ”Musik merupakan bentuk-bentuk peniruan dari alam” (Aristoles). Memang pada kenyataannya musik selalu berkembang disana.

Musik Barat vs Timur.

Musik Barat akan berbeda dengan musik Timur. Latar belakang budaya sangat bertolak belakang. Di Barat, hampir semua kehidupan dilandasi ilmiah. Secara struktural, musik Barat lebih memiliki fondasi yang lebih mapan. Idiom-idiom musik tampak sudah terpola dengan rapi. Ini berkembang sejak jaman Yunani kuno sampai jaman Klasik, dan berkembang ke masa moderen.
Sebaliknya, kehidupan masyarakat Timur lebih percaya kepada kekuatan emosi dan mistis. Keilmiahan datang belakangan. Ini bisa ditunjukkan ketika kita melihat bagaimana musik-musik tradisi tumbuh dan berkembang. Ketika hadir segala piranti moderen, tetap saja perilaku para penggarap musik masih mengutamakan emosional.

Sedikit ingin berbagi cerita , saya memiliki murid yang superluar biasa tajam dalam memainkan musik. Murid tersebut memiliki spesialisasi instrumen piano. Jari jemari di atas tuts piano memang sangat luar biasa. Sentuhan ekspresinya juga boleh dikata matang. Karya Mozart, Chopin, Debussy yang mempunyai tingkat kerumitan tinggi dilalapnya habis. Pantas saja kalau ia berhasil meraih juara di Kompetisi Piano Nasional (2009) untuk tingkat remaja. Orang pasti berpikir, ia pasti berlatih dan memainkannya mengunakan repertoar (partitur) . Ternyata tidak... ia hanya menangkap musik piano itu dengan merekam dalam pikirannya. Lalu dicerna dan diterjemahkan melalui sepuluh jarinya. Sempurna..!!
Mungkin di Indonesia ini banyak orang atau musisi yang menggunakan cara memainkan musik seperti itu.
Ada seorang ibu yang bertanya pada saya, anak saya sudah saya les kan piano sejak TK. Tapi hingga sekarang koq rasanya tidak pernah ada kemajuan? Rasanya masih seperti itu-itu juga. Saya katakan, ’bu.. main musik itu tidak cukup dengan terpenuhinya sarana. Tapi perasaan si anak harus bisa menyatu dengan musik. Selama ibu paksakan les piano klasik dengan mainstream nya, bisa saja anak ibu bosan. Dan persaannya sama sekali jauh dari musik itu. Dst...’
Mungkin melalui gambaran ini ada sedikit terbuka, inilah karakter Indonesia. Jangan pernah kita menimbang-nimbang mana musik yang lebih unggul. Masing-masing baik Barat atau Timur memang memiliki harmoni di tempatnya berkembang.(paw)

DIMANA BAKAT ANDA

Ditanya akan memilih jurusan apa saat kuliah nanti, Santi mengaku bingung menentukan pilihan, apalagi ketika pilihan tersebut dikaitkan dengan bakat dan minatnya. "Jangankan memilih sesuai minat dan bakat, saya sendiri pun belum tahu minat dan bakat saya," katanya.

Santi (18), sebutlah namanya begitu, mengaku dirinya memang bukan siswa pandai di kelas. Namun, ia juga bukan nomor buncit dalam urusan nilai pelajaran. Hanya, dia merasa tidak "ngeh" soal minat atau bakatnya pada hal-hal tertentu.

Memang, kerap orang mengatakan minat dan bakat adalah teropong bagi jalan kehidupan di masa depan. Membayangkannya pun terasa menyenangkan karena dengan keduanya kita bisa menjadi siapa pun yang diinginkan asalkan mau kerja keras dan pantang menyerah.

Kenyataannya, pemahaman itu justru sebaliknya. Hal itu sering kali menimbulkan masalah ketika kita beranjak dewasa dan tiba saatnya memilih bidang pendidikan dan karier. Pemahaman itu sedikit banyak menciptakan ilusi akan beragam pilihan bidang pendidikan dan karier yang menjanjikan masa depan. Dan lagi, apakah semua itu pilihan yang benar-benar kita inginkan?

Selain itu, pemahaman tersebut juga membentuk imajinasi tersendiri bahwa kita bisa menjadi sosok terbaik di bidang apa pun yang kita minati. Duh, apa betul begitu? Apakah bisa, prestasi seorang Chris John yang dielu-elukan berkat tinjunya di atas ring itu akan bersinar oleh puja-puji pula di lapangan basket?

Nyatanya tidak. Adalah sebuah fakta bahwa kita memang tidak bisa menjadi siapa pun yang kita mau. Kita lupa, selain minat, ada faktor lain yang sangat menentukan langkah kita ke depan. Ya, bakat dan latihan khusus untuk mempertajamnya.

Temukan, Bukan Ciptakan
Kenyataan, tidak semua orang bisa menjadi seorang Chris John, Bill Gates, atau David Beckham. Mereka bertiga punya bakat alami dan telah menjadikan bakat itu sebagai investasi yang dilatihnya sejak lama. Dan kita tidak bisa membuat dan mengubahnya "semau gue".

Sekarang, lihat ke sekeliling Anda! Mungkin, ada orang yang suka duduk berlama-lama di depan laptop? Bahkan saking lamanya Anda lupa, kapan orang itu makan dan minum?

Atau, Anda pun mungkin bingung, kenapa rekan dekat Anda lebih memilih les guru bahasa Inggris ketimbang Anda yang lebih senang naik gunung atau bermain band di saat libur? Banyak, dan banyak lagi contoh yang kita pun tidak tahu keuntungan mereka melakukan semua itu.

Anda pun sebetulnya bisa begitu. Meniru untuk kreatif berekspresi seperti mereka, berhasil lalu merasa puas. Namun kelak yang terjadi, Anda tidak akan pernah merasa nyaman melakukan hal-hal di luar kerangka bakat Anda tersebut.

Ya, Anda tidak akan bisa menjadi mahasiswa arkeologi dan menjadi arkeolog mumpuni karena Anda sebenarnya sama sekali tidak hobi "keluyuran". Usaha Anda hancur terus dan kapok untuk terjun ke bidang bisnis sehingga Anda memilih kembali menjadi karyawan. Tidak salah, Anda memang tidak punya hobi itu. Anda tidak bakat!

Mutlak, Anda harus paham apa yang disebut dengan bawaan atau nature (hormonal atau DNA) dan latihan atau nurture. Sejatinya, yang harus Anda lakukan ialah membentuk diri Anda tak ubahnya dengan bawaan Anda sejak lahir. Anda jangan hanya menginginkan suatu bidang pendidikan yang bisa membuahkan karir tertentu dengan gaji selangit.

Jika itu Anda lakukan, berarti Anda sudah "bunuh diri". Pasalnya, kerangka neurologis Anda yang telah membentuk bakat tersebut akan menolak. Alhasil, Anda tidak dapat menikmatinya. Kecuali, Anda memang berniat keras untuk menambal "kekurangan" tersebut dengan nurture, dengan latihan-latihan khusus.

Semakin cepat Anda sadar untuk melihat diri Anda dan menemukan potensi di dalamnya, semakin beruntung pula Anda. Pilihan minat dan bakat Anda dengan sendirinya akan lebih mudah Anda tentukan.

Anda mulai bisa memilih peran Anda, bentuk pendidikan yang cocok untuk menambal peran tersebut, serta produktifitas yang akan Anda hasilkan kelak di dunia kerja. Cara memulainya, simak beberapa hal di bawah ini:

Maksimalkan kekuatan Anda, tuntaskan pula kelemahan Anda!
Jika Anda termasuk orang yang sulit berdiplomasi, dapatkah Anda terjun bebas ke dalam bidang ini karena Anda menyukainya? Kalau Anda tergolong paling lambat mengambil keputusan, dapatkah Anda melatihnya sekeras hati? Jika Anda bukan seorang konseptor, siapkah Anda menjadi seorang "ahli lapangan" agar kekurangan Anda tersebut lenyap ditelan bumi!

Tidak cukup latihan keras, Anda butuh bakat alami!
Memang, antara pengetahuan, keterampilan, serta materi bisa Anda dapatkan melalui belajar dan latihan. Namun, hal sesungguhnya yang penting adalah bakat sebagai bawaan Anda sejak lahir. Anda akan mampu melakukan segala hal berkat keterampilan, sementara kuantitas dan kualitas Anda melakukannya adalah berkat dorongan bakat alami Anda.

Siapkan sistem pendukung hindari aktivitas tak terarah!

Sistem pendukung itu bisa saja hanya berupa pesan singkat di ponsel atau sekadar kertas-kertas yang Anda tempel di meja belajar, bahkan pintu kamar!

Sadar dan amati reaksi spontan Anda saat menyikapi hal atau kejadian
Nah, bagaimana Anda akan mengambil peran atas kejadian itu? Anda cenderung memegang kendali, membuat analisa hal itu secara seksama, atau hanya berusaha mencari sisi-sisi lain ternyata tidak penting dari kejadian tersebut?

Amati besarnya niat dan keinginan Anda melakukan aktivitas tertentu
Dari situ, yakinkan bahwa sebuah aktivitas telah membuat Anda rindu untuk berulang melakukannya. Rasa rindu itu akan senantiasa timbul hingga Anda lekas-lekas melakoninya.

Secepat apa Anda belajar dan menguasai sebuah bidang tertentu?
Secepat kilat atau selambat becak? Sadari hal itu dan bandingkan upaya Anda dengan hasil yang didapatkan oleh rekan-rekan Anda.

Sepuas apa perasaan Anda seusai melakukannya?
Entah, karena yang pasti, saat melakukannya Anda nyaman, senang, dan membuat Anda sejenak tenggelam di dalam keasyikan melakukannya.

Monitor perilaku dan perasaan Anda ketika menjalaninya
Dari sini Anda akan mengevaluasi apa yang sudah Anda lakukan. Amati dan berikan analisis pada diri Anda. Benarkah ini pilihan Anda?

Anda tidak bisa menikmati? Anda lambat dan merasa tidak berkembang?
Tinggalkan sekarang juga! Cari peran lain, jangan habiskan uang dan waktu Anda hanya untuk mengatasi kelemahan Anda, melainkan juga pertajam bakat dan kekuatan alami dalam diri Anda.

Ingat, banyak orang muda yang sukses. Yakinlah bahwa mereka memang pribadi-pribadi yang menemukan bakatnya sejak dini dan mau belatih sebagai investasi di masa depannya.

Sumber : Kompas.combakat Anda?bakat Anda[imgleft]
December 2009
S M T W T F S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31