Skip navigation.

Paw

musik itu di sekelilingku

Posts tagged with "music"

STICKY POST

AKOR

, ,

Akor adalah berbunyinya 3 nada atau lebih secara bersamaan. Akor sering digunakan untuk mengiringi melodi-melodi lagu, sehingga lagu-lagu lebih memiliki harmoni.
Akor-akor tersusun dari tangga nada yang digunakan dalam lagu. Lagu Mayor, mengunakan tangga nada Mayor:
Nada : 1 - 2 - 3 - 4 - 5 - 6 - 7 - 1
Jarak : 1 1 1/2 1 1 1 1/2

SUSUNAN NAMA AKOR MAYOR.
Kadensa Nama Not Jenis
I Tonika 1 - 3 - 5 Mayor
II Supertonika 2 - 4 - 6 minor
III Sub Median 3 - 5 - 7 minor
IV Sub Dominan 4 - 6 - 1 Mayor
V Dominan 5 - 7 - 2 Mayor
VI Median 6 - 1 - 3 minor
VII Leading Not 7 - 2 - 4 Diminished

Contoh Susunan Akor dalam keseluruhan tangga nada.
Nada Dasar I II III IV V VI VII
do = C C - Dm - Em - F - G - Am - Bdim
do = D D - Em - F#m - G - A - B - C#dim
do = E .................................
do = G .................................
do = F .................................
dst

Pola GERAK AKOR untuk iringan musik sederhana.
Pola ............... Contoh
1. I - IV - I D - G - D
2. I - V - I D - A - D
3. I - IV - V - I D - G - A - D
4. I - V - IV - I D - A - G - D

Pola GERAK AKOR SUBSTITUSI

1. I - VI - II - V - I : contoh : C - Am - Dm - G - C
2. I - III - IV - V - I : contoh : G - Bm - C - D - G
3. I - II - V - I ; contoh : A - Bm - E - A
4. I - III - II - V - I ; contoh : C - Em - Dm - G - C
5. I - VII - VI - V - IV - III - II - V - I; contoh : G - D/F# - Em - D - C - Bm - Am - D - G
6. I - IV - III = VI -II - V - I; contoh : D - G - F#m - Bm - Em - A - D
7. I - VI - II - V - III - VI - II - V - I ; C - Am - Dm - G - Em - Am - Dm - G - C
dll
Akor substitusi banyak berkembang di jalur musik pop.

SUSUNAN NAMA AKOR MINOR.
Kadensa Nama Not Jenis
I Tonika 6 - 1 - 3 minor
II Supertonika 7 - 2 - 4 diminished
III Sub Median 1 - 3 - 5 Mayor
IV Sub Dominan 2 - 4 - 6 minor
V Dominan 3 - 5 - 7 Mayor
VI Median 4 - 6 - 1 Mayor
VII Leading Not 5 - 7 - 2 Diminished

contoh susunan Akor Minor :
la=Am ; Am - Bdim - C - Dm - E - F - G - Am
la=Dm ; Dm - Edim - F - Gm - A - Bes - C - Dm
la=Em ; Em - F#dim - G - Am - B - C - D - Em

Pola gerak Akor Minor yang sering digunakan diantaranya :
1. I - IV - I
2. I - V - I
3. I - IV - V - I
4. I - V - IV - I
--------------------
5. I - IV - VII - III - VI - II - V - I
6. I - VII - VI - V - I
7. I - VI - IV - I
dan jika lihat perkembangan musik di jalur pop, masih banyak pola yang dapat dikembangkan.

(**paw)

URUSAN FREKUENSI DALAM MUSIK

,

Siapa yang pernah melupakan lagu-lagu masa kecil dulu. Sebut saja “Cicak-cicak”, “Pelangi-pelangi”, “Balonku”, Naik-naik ke Puncak Gunung”, “Topi Saya Bundar”, dll. Diyakinkah pada semua orang tak ada yang pernah melupakannya meskipun sudah dimakan oleh jaman dan derunya musik-musik masa kini.
Mengapa bisa begitu kuat menempel diingatan kita.
Jawabannya tidak lain adalah karena frekuensi melodi lagu-lagu tersebut sangat sederhana dan sangat kuat struktur bangunannya. Apalagi lagu-lagu tersebut memang dibuat singkat dengan lirik2 sederhana. Ditengarai dari berbagai referensi yang ada, anak2 usia 3 - 5 tahun masa hebat-hebatnya otak manusia merekam semua. Kreativitas mulai berkembang teramat dahsyat.
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana anak-anaj di usia itu mampu menyanyikan lagu-lagu dewasa, berbahasa asing sekalipun. Meskipun mereka tidak tahu apa lirik yang mereka nyanyikan. Gemas rasanya melihat tingkah anak-anak itu. Tanpa disadari, disana ukuran-ukuran frekuensi nada-nada tertanam kuat. Otak kanan bekerja merasakan tinggi-rendahnya nada. Lalu otak kiri menterjemahkan menjadi ukuran-ukuran yang tepat.
Mari kita coba eja lagu ”Alphabet: berikut”
A B C D E F G --- H I J K L M N – O P Q R S T U --- V W X Y Z
Apa yang sebenarnya terjadi ? Lihat nada berikut :
1 3 5 5 6 6 5 --- 4 4 3 3 2 2 1 --- 5 5 4 4 3 3 2 – 1 3 5 5 1
Itulah frekuensi yang sedang bekerja dan terukur. Ada nada rendah dan tinggi, bergerak-gerak membentuk gelombang musikal. Bisa dibayangkan, bagaimana seseorang berusaha mengukur tinggi rendah nada dibunyikan ketika menirukan nyanyian-nyanyian.

Pernah selintas membaca artikel dari berbagai hasil riset, termasuk di sebuah buku terkenal ”Efek Mozart”, musik dinyatakan sebagai salah satu instrumen yang turut menciptakan pengembangan kecerdasan manusia. Benarkah?
Mungkin logika sederhananya adalah dimana frequensi berbunyi dan mengalir ke telinga, frequensi tersebut mengalir ke otak kanan yang mampu merasakan sebagai wujud yang abstrak. Sinyalnya mengalir ke otak kiri, dan direkam sebagai suatu besaran. Jika ia harus membunyikan nada-nada tersebut, pastilah dikirim frequensi yang tepat dari otak kiri untuk diterjemahkan kembali oleh otak kanan. Sepanjang manusia memiliki perbendaharaan mendengar musik yang melodius, yakinlah bahwa frequensi-frequensi tersebut mendorong berkembangnya kemampuan otak kiri. Karena otak kiri dialiri sesuatu yang abstrak.

Kekuasaan “RITMIK” atas Musik Indonesia

, , , ...

Pernahkah kita menyadari, bahwa manusia Indonesia dikategorikan sangat ritmikal. Lebih ritmik dari bangsa-bangsa lain yang berada di belahan Utara atau Selatan bumi ini. Pagi hari ketika matahari terbit, kehidupan pun berjalan. Dan ketika terbenamnya matahari, kehidupan pun terhenti. Dan rutinitas berjalan begitu dan seterusnya.....
Pertanyaannya adalah Mengapa?
Perkiraan saya mungkin dikarenakan Indonesia berada di garis katulistiwa (lintasan matahari). Terit dan terbenamnya matahari selalu stabil. Iklimpun juga demikian. Jadi dengan demikian seharusnya bangsa ini memiliki budaya yang sangat disiplin dan tertib. Ketika masuk nilai-nilai budaya luar (Barat), menjadikan sulit untuk menyesuaikan diri.
Mari kita perhatikan akar musik Indonesia yang berada di seluruh etnik yang ada. Semua musik tersebut memiliki pola ritnik yang sangat kuat. Instrumen Gong dan Kendang menjadi tulang musik-musik tersebut. Dari ujung Sumatra hingga Papua, ritmik dalam musik memegang peranan yang besar. Metrum yang dibangun umumnya berbirama 4 (empat).
// 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 / 1 – 2 – 3- 4 //
Setiap kalimat musik terdiri atas 4 bar. Pada hitungan 1, diberikan tekanan lebih kuat (thesis) dengan menggunakan instrumen, misal : gong.

Jika kita ambil garis semua bangsa di dunia yang berada di bawah garis khatulistiwa, dan umumnya ritmik adalah kekuatan musik-musik tersebut. Sebut saja misal India dengan tabuhan ‘tabla’, lalu Brazil dengan musik ‘Samba’ nya. Bandingkan dengan musik bangsa lain di belahan Utara. Umumnya lebih melodius.
Musik Klasik Barat yang dibangun dari melodi-melodi harmonis, jelas tidak mudah diterima bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Apalagi musik Jazz yang memiliki kerumitan dalam harmoni, sangat sulit diterima. Sehingga seringkali dalam pembicaraan musik, kedua musik ini ditempatkan secara eksklusif. Atau boleh dibilang berkelas tinggi..!?
Lantas bagaimana dengan musik ’Rock’. Musik Rock, tampaknya ada bagian yang masih sangat dekat dengan akar musik Indonesia. ‘Beat’ rock yang sangat kuat, menjadikan musik ini memang lebih mudah diterima.
Mengapa musik ‘Dangdut’ sangat mudah diterima? Mengapa musik ‘Pantura’ –an mudah dicerna? Mengapa musik ‘Pop Melayu’ sangat diapresiate kebanyakan orang Indonesia?
Jawabannya adalah itu semua....
Semoga berkenan...

MAYOR atau MINOR

,

Banyak orang mendengar musik dan tidak tahu apa sebenarnya musik. Wajar saja, karena umumnya mengkategorikan musik sebagai sebuah kesenangan, mengulang memori, dan me-refresh pikiran-pikiran yang melelahkan.

Ada sesuatu yang teramat penting untuk diketahui. Musik dengan jutaan dan mungkin milyaran judul lagu yang hadir di kehidupan manusia, tidak lain hanya permainan melodi-melodi yang bersama ritmik membentuk pola-pola tertentu. Lirik-lirik menambah indahnya sebuah lagu. .Melodi-melodi itu hanya terbentuk dari 7 nada (oktaf), plus nada tinggi dan rendah. Jika belum cukup tambahkan 5 nada lainnya (nada harmonic). Dan dalam lagu, sangat tidak mungkin memuat nada-nada dalam range lebih 2 oktaf. Karena apa. Suara manusia dan instrumen musik memiliki keterbatasan.tinggi dan rendah.
Lalu mengapa lagu/musik bisa tercipta dengan luar biasa tanpa habis-habisnya.
Para kreator musik, seniman musik, komposer, para pencipta lagu berlomba-lomba dengan berbekal pengalaman musikalnya menciptakan karakter melodi dan ritmik sesuai dengan nuansa ke masa kinian.

Coba di bawah ini tersebut beberapa lagu populer. Barangkali Anda bisa mengingatnya..
Kelompok A.
Lilin-Lilin Kecil (Chrisye)
Mengejar Matahari (Nidji)
Halo-Halo Bandung (WR Supratman)
Menghitung Hari (Krisdayanti)
Sempurna (Andra and Blackbone)
Burung Camar (Vina Pandiwinata)
Kaulah Segalanya (Ruth Sahanaya)

Kelompok B.
Tuhan (Bimbo)
Cinta (Vina Panduwinata)
Ayat-Ayat Cinta
Cinta (Titik Puspa)
Kopi Dangdut
Bubuy Bulan (Sunda)

Bagaimana? Bisa mengingatnya?
Lagu-lagu pada kelompok A adalah lagu-lagu bertangga nada Mayor. Sedangkan kelompok B adalah lagu bertangga nada minor.

Apa sebenarnya Mayor dan Minor dalam musik?
Perbedaan ini dapat dirasakan dari pergerakan melodi yang terbentuk. Mayor memiliki sifat lebih terbuka, megah, dinamis, luas, bahagia, gembira, romatis, agung, dll. Sedangkan minor sebaliknya lebih bernuansakan haru, sempit, tertutup, sedih, murung, menyakitkan, religius, dll.

Mengapa bisa begitu?
Secara teknis lagu Mayor menggunakan tangga nada Mayor, yakni : do-re-mi-fa-so-la-ti-do (oktaf) dengan nada dasar (nada awal) nada ‘do’ sebagai tiangnya lagu.
Lagu minor menggunakan nada Minor , yakni : la-ti-do-re-mi-fa-so-la (oktaf). Inilah yang menyebabkan susana yang dibangun dari lagu Mayor dan Minor berbeda.

Untuk mengetes pemahaman Anda, coba dengarkan music player Anda dan temukan jawabannya sendiri. Jika Anda seorang musisi, komposer atau pencipta lagu, sebaiknya Anda paham betul mengenai perbedaan ini.

Selamat bereksplorasi........!!!(paw)

MUSIC dan HARMONI

,

Musik bagi kebanyakan manusia diperadaban moderen ini tidak ubahnya seperti makan, minum dan bernafas. Bunyi-bunyi yang mengalir hadir di telinga kita, sudah dapat dipastikan memberikan reaksi positif atau negative. Yang positif dinamakan musik.
Mengapa Musik memberikan respon positif ?
Karena musik memiliki harmoni yang selaras dengan perasaan – perasaan manusia saat itu. Melodi musik melantunkan gerak-gerak nada yang indah. Naik dan turunnya begitu teratur. Kadang melodi meninggi, dan perasaan seseorang terbawa terbang ke atas. Dan kadang melodi jatuh ke bawah, merebahkan semua perasaan. Di penghujung lagu, memberi kesan yang melegakan. Kesimpulannya, bahwa musik memang berada satu harmoni dengan perjalanan emosi manusia. Jadi apa Anda ketika bernyanyi atau bermain musik adalah menyanyikan kehidupan.
Perlu kita sadari semua pergerakan alam sekitar kita berubah waktu ke waktu. Begitu pula musik, berubah karena alam yang turut membentuk dari pola-pola musik yang berkembang. Mengambil ungkpan filosof kuno, ”Musik merupakan bentuk-bentuk peniruan dari alam” (Aristoles). Memang pada kenyataannya musik selalu berkembang disana.

Musik Barat vs Timur.

Musik Barat akan berbeda dengan musik Timur. Latar belakang budaya sangat bertolak belakang. Di Barat, hampir semua kehidupan dilandasi ilmiah. Secara struktural, musik Barat lebih memiliki fondasi yang lebih mapan. Idiom-idiom musik tampak sudah terpola dengan rapi. Ini berkembang sejak jaman Yunani kuno sampai jaman Klasik, dan berkembang ke masa moderen.
Sebaliknya, kehidupan masyarakat Timur lebih percaya kepada kekuatan emosi dan mistis. Keilmiahan datang belakangan. Ini bisa ditunjukkan ketika kita melihat bagaimana musik-musik tradisi tumbuh dan berkembang. Ketika hadir segala piranti moderen, tetap saja perilaku para penggarap musik masih mengutamakan emosional.

Sedikit ingin berbagi cerita , saya memiliki murid yang superluar biasa tajam dalam memainkan musik. Murid tersebut memiliki spesialisasi instrumen piano. Jari jemari di atas tuts piano memang sangat luar biasa. Sentuhan ekspresinya juga boleh dikata matang. Karya Mozart, Chopin, Debussy yang mempunyai tingkat kerumitan tinggi dilalapnya habis. Pantas saja kalau ia berhasil meraih juara di Kompetisi Piano Nasional (2009) untuk tingkat remaja. Orang pasti berpikir, ia pasti berlatih dan memainkannya mengunakan repertoar (partitur) . Ternyata tidak... ia hanya menangkap musik piano itu dengan merekam dalam pikirannya. Lalu dicerna dan diterjemahkan melalui sepuluh jarinya. Sempurna..!!
Mungkin di Indonesia ini banyak orang atau musisi yang menggunakan cara memainkan musik seperti itu.
Ada seorang ibu yang bertanya pada saya, anak saya sudah saya les kan piano sejak TK. Tapi hingga sekarang koq rasanya tidak pernah ada kemajuan? Rasanya masih seperti itu-itu juga. Saya katakan, ’bu.. main musik itu tidak cukup dengan terpenuhinya sarana. Tapi perasaan si anak harus bisa menyatu dengan musik. Selama ibu paksakan les piano klasik dengan mainstream nya, bisa saja anak ibu bosan. Dan persaannya sama sekali jauh dari musik itu. Dst...’
Mungkin melalui gambaran ini ada sedikit terbuka, inilah karakter Indonesia. Jangan pernah kita menimbang-nimbang mana musik yang lebih unggul. Masing-masing baik Barat atau Timur memang memiliki harmoni di tempatnya berkembang.(paw)