Skip navigation.

Pojok Pendopo.. .

Untuk kirim foto ke blog via MMS blogging : blog+rsmpmawr@my.opera.com

Mengenal Support dan Resistance

Harga saham sekarang sudah terbang melebihi fundamentalnya sehingga memusingkan para analis fundamental merevisi target harga saham. Sebaliknya analis teknikal lebih mudah memberi rekomendasi.
Dalam memprediksi atau menghitung harga wajar suatu saham, analis fundamental berpatokan pada kinerja dan data-data historos si emiten. Sedangkan analis teknikal memprediksi harga saham dengan mengamati harga dan volume transaksi saham. Data-data tersebut diolah dan ditampilkan dalam bentuk grafik. Analis teknikal tidak terlalu peduli dengan kondisi perusahaan atau proyeksi usahanya.Mereka percaya harga saham dipasar sudah mencerminkan semua informasi itu. Dimata analis teknikal, grafik harga saham menggambarkan pertarungan permintaaan dan penawaran saham yang ada dipasar. Selain itu harga sebuah saham juga dipengaruhi oleh tren dan emosi pasar. Pergerakan harga saham dianalisis untuk menemukan pola sehingga bisa membuat prediksi harga dimasa mendatang.
Ada banyak rumusan pola, atau metode dalam analisis teknikal. Misal, moving average, fibonacci, candle stik, stochastic, RSI, MACD atau bollinger bands. Diantara semua itu, perlu dipahami beberapa konsep dasar dalam analisis teknikal, terutama adalah support dan resistance.
Harga saham disebut berada pada level support apabila harga telah turun banyak, sehingga sukar turun lebih dalam lagi. Dengan kata lain, jika harga saham sudah mencapai titik ini, akan banyak investor memburu saham ini sehingga harganya akan naik. Pada level ini adalah saat yang pas membeli sebuah saham.
Sebaliknya, level resistance terbentuk jika harga sudah naik tinggi, sehingga sukar untuk naik lebih tinggi lagi, sebab, pada titik itu justru banyak investor akan menjual saham tersebut sehingga harganya akan turun. Level resistance adalah saat yang pas untuk menjual saham dan merealisasikan keuntungan (provit taking).

Sinyal beli dan sinyal jual

Selanjutnya kita harus memahami tren pasar. Pada grafik saham terdapat lembah dan puncak. Jika harga saham terendah pada suatu lembah naik berturut-turut, ini disebut tren naik (up trend). Hubungkan lembah-lembah tersebut, maka akan ditemukan up-trend line.
Adapun down trend terjadi jika harga tertinggi pada suatu puncak mengalami penurunan berturut-turut. Sementara sideways (tren mendatar) terjadi bila lembah dan puncak berulang dengan titik tertinggi dan terendah kurang lebih sama. Dengan membaca tren ini, kita bisa mengetahui apakah pasar sedang bullish, bearish, atau sideways.
Harga saham bisa bergerak menembus (breakout) tren. Jika harga menembus level resistance, maka level resistance itu berubah menjadi support yang baru. Begitu juga sebaliknya.
Besar kecil volume transaksi juga bisa menjadi pertanda kuat tidaknya suatu support dan resistance.
Bagi para trader yang menganut paham buy low sell high, level support sebagi sinyal membeli dan level resistance sebagai sinyal menjual sebuah saham.
Beda dengan traders yang menganut paham buy high sell higher, atau beli saat harga tinggi dan jual saat harga lebih tinggi lagi. Mereka akan membeli saham ketika harga berada pada tren naik, bahkan sering kali mulai membeli pada saat harga menembus level resistance (breakout) dan akan menjual pada saat harga naik lebih tinggi. Akan tetapi jika kemudian harga tidak naik lebih tinggi dan ternyata berbalik arah (reversal), para highlander ini akan menjual (stop loss/ cut loss) pada batas yang sudah ditentukan sendiri.

Nyam-nyam Segarnya Makan Semangka.Photo(6)

How to use Quote function:

  1. Select some text
  2. Click on the Quote link

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

If you can't read the words, press the small reload icon.


Smilies