Monday, 17. July 2006, 14:09:36

Dengan nama Allah,Yang maha pengasih lagi maha Penyayang
Segala puji bagi Allah,Rabb seluruh alam.Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Muhammad dan keluarga sucinya. Dan semoga Dan semoga laknat Allah bagi semua musuh2 mereka.
Saya bersaksi bahwa tada tuhan selain Allah, Yang Satu, dan tiada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi bahwa muhammad adalah abdi dan rasul-Nya; dan bahwa ali amirul mukminin dan anak keturunannya yang ma'shum as adalah para penerusnya; dan apapun yang dibawa oleh rasulullah adalah kebenaran; dan bahwa kubur, kebangkitan, surga, dan neraka adalah benar dan bahwa Allah akan membangkitkan siapa yang ada didalam kubur.
Inilah wasiat dari seorang ayah yang telah tua, yang telah menyia2 kan hidupnya dalam kecongkakan tanpa mempersiapkan bekal bagi kehidupan yang kekal, tak pula mengambil langkah yang tulus dijalan menuju Rabb Yang Agung lagi penyayang. Tak jua ia terbebaskan dari perangkap godaan setan dan keburukan nafsu badani.Begitupun Ia tak berputus asa dari keridhaan dan keagungan Rabb yang Agung,dan menanapkan harapannya atas ampunan dan berkah_Nya, sebagai satu2-Nya bekal perjalanannya. Wasiat ini ditujukan kepada sorang anak lelaki yang menikmati anugrah kemudaan dan berada dalam posisi yang lebih baik untuk menyucikan dirinya dan mempersembahkan layanan kepada para makhluk-Nya. Diharapkan, sepertiayahnya ridha kepadanya, Allah juga kan ridha dengannya Allah jugakan ridha dengannya dan membantunya untuk mempersembahkan pelayanan bagi orang papa dan terindas yang sesungguhnya adalah bagian dari bangsa - bangsa yang paling mulia seperti yang dianjurkan oleh islam.
Ketergantungan Manusia Kepada Allah. Ahmad khomeini, Anakku! Semoga Allah menganugrahkan hidayahnya kepadamu. Entah dunia ini kekal dalam waktu atau tidak, dan entah rantai kemaujudan dan berujung atau tidak, semua kemaujudan itu faqir(bergantung pada sesuatu yang lain) karena mereka bukannya ada dengan sendirinya.
Jika kau amati segenap rantai tak berujung kemaujudan dengan akal, kamu akan mendengar jeritan kebutuhan dan kebergantungan(esensial)-untuk adanya mereka maupun penyempurnaan mereka . Mereka mengakui kebergantungan mereka dengan yang Ada dengan sendirinya (dan) Yang kesempurnaan-Nya adalah milik-Nya sediri, Jika dengan suara akal enkau berbicara kepada rantai kemaujudan yang (secara esential) bergantung itu, dan bertanya kepada mereka:"wahai kemaujudan yang faqir,siapakah gerangan yang mampau memuasi kebutuhanmu?" maka dengan serentak mereka akan secara serempak menjerit dengan lisan fitrah mereka,"kami butuh akan suatu wujud yang tak bersifat faqir seperti kami, dalam hal keberadaannya maupun kesempurnaannya."
BAhkan lebih dari itu, fitrah mereka pun (sebenarnya) bukan milik mereka:Fitrah Allah yang atasnya Dia menciptakan manusia. Tak sekali-sekali ada perubahan dalam (alam)ciptaan Allah.(Qs:Al-Rum[30]:30).
Fitrah tauhid adalah dari Allah, dan apa saja yang dalam dirinya bersifat bergantung (al-faqir bi al-dzat)takkan bisa menjadi serba mencukupi diri(ghani bi al-dhat). Perubahan seperti itu adalah sesuatu yang mustahil. Dan,KArena mereka (secara esensial) bergantung dan membutuhkan, tak ada kecuali Dia yang mencukupi Diri yang dapat mengatasi kebutuhan dan kepapan mereka. Karena kepapaan ini bersifat esensial bagi mereka dan takkan pernah bisa diatasi entah dari rantai(kemaujudan)ini memiliki awal(abadi)dan kekal atau tidak. Dan,tak ada sesuatupun selain-Nya yang dapat memuasi kebutuhan mereka. (karenanya) apapun yang memiliki keindahan sifat itu bukanlah miliknya, melainkan pengejawantahan Kesempurnaan dan Keindahan-Nya,...dan kalian tidak melempar ketika kalian melempar, tetapi Allahlah yang melempar.(Qs Al-Anfal[8]:17).
HAl ini benar berkenaan dengan semua tindakan,ucapan dan perbuatan. Seseorang yang menangkap fakta ini dan memahami (secara intuitif)kebenaran ini takkan terikat dengan siapapun kecuali Dia dan takkan meminta sesuatu apapun dari sesuatu apapun kecuali Dia. Cobalah menyelam kedalam kilatan Ilahi ini dalam kesendirianmu dan bisikkan kedalam telinga sang bayi yang ada dihatimu. Ulang-ulangilah hingga dia membuka lisannya untuk berbicara serta sinarnya menerangi wilayah jasadi (mulki) dan nirbendawi (malakut) kemaujudanmu. Ikatkan dirimu kepada yang mencukupi Diri secara mutlak agar engkau dapat mencampakkan apa2 selain-Nya. Kejarlah kemenangan persatuan (wushul) dengannya agar ia membebaskanmu dari apa saja termasuk dirimu sendiri, (dan kemudian ia) menerimamu untuk masuk (kedalamnya).
Alam Semesta Sebagai Penampakkan AllahAnakku yang kukasihi,Dia, Subhanahu Wa Ta'ala (Yang Maha Suci dan Tinggi), adalah yang Pertama dan Yang Terakhir,yang Lahir dan yang Bathin. Persis seperti firman-Nya: Dia yang pertama dan Terakhir, yang Lahir dan Bathin. (Qs: Al-Hadid[57]:3). Dalam sebuah doa diungkapkan "Adakah mungkin bagi selain-Mu memiliki penampakkan yang tak Kau miliki sehingga ia dapat menampakkan-Mu. Kapan kiranya Kau telah tersembunyi sedemikian sehingga Kau mungkin memerlukan sesuatu untuk mengungkapkan-Mu.? Dan kapan Kau pernah menjauh sehingga menjadi mungkin untuk mencapai-Mu lewat jejak-jejak-Mu (yakni ciptaan-ciptaan-Mu)? Butalah mata yang tak menampak-MU sebagai Yang (bersifat) mengawasi diri." Atau seperti kata furuqi bustami): "kau tak pernah tak hadir sehingga kuperlu mau bertemu dengan-Mu."tak pula Kau tersembunyi sehingga kuharus mencari-Mu." Dialah yang menampakkan diri dan apa saja yang menampakkan diri adalah penampakkan-Nya. Sesungguhnya diri kita sendirilah yang menjadi hijab, egoisme, dan ego kitalah yang menghalangi pandangan kita. (ini keluhan hafiz): "kaulah hijabmu sendiri,wahai hafiz,singkirkan dirimu." Aku mohon pertolongan kepada Allah' Subhanallahu Wa ta'ala, dan memohon kepada-Nya dengan sungguh dan penuh seluruh untuk membebaskanku dari penutup2 mataku ini.
(seperti terungkapkankan dalam sebuah do'a yang lain): "Ilahi,anugrahilah daku keberpasrahan total kepada-Mu, dan sinarilah mata2 hatiku dengan pancaran pengelihatan pada-Mu, hingga mata2 hati itu mengorak hijab2 (yang menutupi cahaya itu dan mencapai sumber2 keagungan-Mu, dan jadikan ruh2 kami terpancang dalam ambang kesucian-Mu. Ilahi jadikan aku termasuk yang menyahut tatkala kau memanggil mereka , dan ketika kau menatap mereka, mereka pingsan karena terpana oleh kedahsyatan-Mu." Anakku, kita masih terjebak dalam perangkap hijab2 (yang menutupi) kegelapan, dan dibaliknya adalah hijab2 (yang menutupi) cahaya. Dan kita, yang matanya masih tertutup, terperangkap didinding jurang!
Al-Qur'an, rasul,para imam Anakku, jika kau bukan seorang pengembara didunia ruhani, setidaknya berupayalah untuk tak menyangkali maqam - maqam keruhanian dan irfani.
Karena, salah satu dari tipuan terbesar setan dan diri badani, yang menghalangi manusia dari meraih berbagai maqam kemanusiaan dan keruhanian adalah mendorong - dorong manusia untuk menyangkali atau bahkan melecehkan pelancongan ruhaniah menuju Allah. HAl ini akan menyeret manusia untuk menafikkannya. Sebagai akibatnya, matilah (potensi keruhanian kita) sebelum ia sempat tumbuh dan berkembang. Padahal, inilah tujuan semua nabi besar (alayhimus - salam, para wali yang mulia, dan semuakitab samawi, khususnya Al-qur'an yang abadi. Al-qur'an kitab (mengenai) ma'rifat (kepada) Allah danpelancongan spiritual menuju-Nya, telah jatuh dalam pengabaian dan disalah tafsiri oleh sahabat2 yang jahil akan arah (yang ditujunya). Ia menjadi korban pandangan - pandangan yang menyesatkan dan pendapat - pendapat subjektif yang sesungguhnya dengan tegas dilarang oleh para imam (alayhimus salam) sedemikian rupa sehingga setiap orang menafsirkannya secara semaunya sendiri. Kitab yang agung ini diturunkan dalam suatu lingkungan yang paling gelap dan pada suatu masa yang didalamnya hidup orang2 yang paling terbelakang. (Akan tetapi) Ia diwahyukan pada hati ilahi milik seseorang yang hidup dalam masyarakat yang sama. Didalamnya, terdapat kebenaran2 dan zjaran2 yang tak pernah didapati sebelumnya didunia pada masa itu, apalagi dilingkungan tempatnya diturunkan. Inilah mukzizat terbesar dan terluhur. Ia mengandung perkara - perkara irfani yang tak pernah didapati dalam karya2 plato dan aristoteles yang dianggap sebagai filosof - filosof terbesar masa itu.
Bahkan, para filosof muslim, yang belajar dalam buaian Al-qur'an suci dan (merasa) mengambil darinya, cenderung mengabaikan ayat2 yang secara tersurat menegaskan sifat hidup seluruh kemaujudan didunia. Dan, para 'arif besar islam, meneguhkan pernyataan pernyataan seperti ini, merekalah yang telah menyerap dari Al-Qur'an. Tak ada kitab lain yang mengandung jenis perkara2 mistikal seperti yang terkandung dalam Al-Qur'an. Inilah Mukzizat2 Rasul yang mulia, yang menghubungkan diri dengan sumber Wahyu sehingga sumber itu menyampaikan padanya rahasia2 kemaujudan. Dia jugalah yang tegak, dipuncak kesempurnaan manusia, menampakkan hakikat2 itu dengan terang benderang