Saturday, 13. June 2009, 03:49:33
Pupuk yang menyuburkan tanah?
Selama ini pemakaian pupuk NPK sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan petani. Bahkan ketergantungan terhadap pupuk NPK telah menyebabkan beberapa petani mengalami gagal panen atau tidak bisa bertanam saat pupuk menjadi langka karena "supply and demand" kata pemerintah. NPK telah menjadi kebutuhan yang sangat mutlak bagi pertanian kita sekarang ini.
Kita perlu heran mengapa ini terjadi. Di jaman dahulu tidak ada pupuk kimia, tapi hasil pertanian negeri kita diakui oleh negara - negara lain. Di jajah oleh negara eropa juga salah satunya karena hasil pertanian yang melimpah. Kita mulai menganut pemakaian pupuk ini karena didikan dari negara barat. Seandainya kita tetap menganut model tanam tradisional kita tidak akan mengalami ketergantungan terhadap pupuk kimia seperti sekarang ini.
Di eropa, pertanian baru mengenal pupuk kimia di awal tahun 1900 an. Sebelumnya mereka sama dengan kita menggunakan pupuk yang alami dengan alat pertanian dari kayu. Dengan diperkenalkannya pupuk kimia, kita mulai tertarik untuk menggunakannya karena pupuk kimia memberi hasil pertanian yang lebih banyak. Namun banyak yang tidak sadar bahwa setelah beberapa tahun hasil pertanian mulai berkurang dan hasil tidak akan bagus bila tidak menggunakan puupuk, kita menjadi sangat tergantung pada pupuk kimia.
Dalam buku Coats & Schauberger - Living Energies - Viktor Schaubergers Brilliant Work With Natural Energy Explained, diceritakan bahwa pupuk buatan akan menghancurkan kesuburan tanah dan meracuninya. Pada akhir abad ke 19 ahli kimia Jerman Baron Justus von Liebig (1803-1873) banyak melakukan penelitian yang berhubungan dengan pengaruh bahan kimia pada kesuburan tanah. Pada suatu saat Liebig menemukan bahwa yang menentukan kesuburan tanah selain Kalsium (Ca) adalah Nitrogen (N), Fosfor (P) dan Potassium (K). Ketiganya biasa disebut dengan NPK.
Penemuan ini membangkitkan industri baru dibidang pembuatan pupuk. Karena pupuk ini bisa dibuat dari sampah industri biaya yang dibutuhkan relatif rendah, keuntungan membuat pupuk bagi industri sangatlah menggiurkan. Yang menjadi masalah adalah justru dari sumber bahan pupuk ini. Pemrosesan suatu bahan dengan suhu tinggi akan menghancurkan unsur pembangun dan akan menambahkan unsur perusak pada bahan tersebut. Sisa dari pemanasan juga akan membuat suburnya bakteri penyakit. Bila pupuk tersebut disebarkan ke tanah akan merusak tanah. apalagi bila pemberian pupuk ini dilakukan dalam bentuk serbuk. Serbuk akan menyerap kandungan air berserta mineral penting di dalam tanah yang seharusnya diperlukan oleh tumbuhan.
Setelah melakukan penelitian lanjutan Liebig meralat hasil penemuan tersebut dengan mengumumkan bahwa kesuburan tanah tidak bergantung kepada hanya kepada ketiga bahan tersebut. Unsur yang diperlukan oleh tanah lebih komplek daripada itu. Ia takut bila tidak deteliti lebih lanjut [emberian yang tidak seimbang hanya akan merusak tanah.
Viktor Schauberger mengamati bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh pemberian pupuk NPK sangatlah merugikan. Selain tanah menjadi tidak subur dan menjadi tergantung pada pupuk tersebut, penyakit tanaman juga makin bertambah dan kualitas tanaman menjadi menurun. Pemberian hasil dari sisa pembakaran akan menyebabkan air tidak naik ke permukaan secara alami. Tanah akan membutuhkan lebih banyak air, lebih banyak pupuk NPK, dan lebih banyak obat penyakit pada setiap masa tanam berikutnya. Pemberian yang terus menerus akan menyebabkan tanah menjadi kering dan tandus.
Para pemakai kebanyakan tergiur pada hasil awal yang sangat menjanjikan, namun mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menghancurkan lahan mereka sendiri. Untuk itu para peneliti sebaiknya juga tidak membatasi percobaan hanya pada beberapa masa tanam saja, namun juga sepanjang mungkin.
Di barat sekarang ini sedang tren mencoba meniru tanah Terapetra di Brazil yang membuat lahan menjadi subur. Di Brazil terapetra diperjualbelikan sebagai pupuk. Terapetra adalah tanah subur berwarna abu - abu, serupa dengan tanah lapisan bawah di tempat sekitar gunung berapi yang biasa dibuat untuk keramik. Menurut saya tanah abu - abu tersebut adalah sisa abu gunung berapi yang memang membuat tanah menjadi subur. Di gunung bromo setelah beberapa minggu setelah hujan abu turun, tanah akan menjadi lebih subur dengan hamparan abu - abu dari hujan abu.
Para ahli dari barat mempunyai pendapat berbeda, mereka percaya bahwa terapetra adalah buatan manusia yang mungkin dibuat dari sisa pembakaran tanaman, dalam bentuk arang (charcoal). Mereka memperkenalkan beberapa metode untuk membuatnya dan menamakannya biochar. Seperti pemberian pupuk NPK, pemberian biochar ini memberikan peningkatan hasil panen. Tanaman menjadi lebih cepat besar dan hasilnya lebih banyak. Namun perlu diwaspadai karena ternyata penelitian untuk biochar ini hanya dilakukan dalam beberapa masa panen saja. Belum ada laporan tentang pemakaian biochar setelah beberapa tahun.
http://bionecho.org/charcoalab/project.phpDi Indonesia sekarang ini sedang tren untuk menggunakan penyubur buatan yang mengandung jamur penyubur. Jamur penyubur ini biasanya terbentuk secara alami di lahan yang subur. Namun karena tanah pertanian kita sudah rusak oleh pengaruh pupuk kimia, pemberian penyubur buatan ini sangat membantu mengembalikan kesuburan tanah. Namun masih perlu dicermati apakah pembuatannya menggunakan unsur panas atau tidak. Dan masih perlu diteliti apakah penggunaan dalam jangka panjang akan menyuburkan tanah.
http://ditjenbun.deptan.go.id/benihbun/benih/index.php?option=com_content&task=view&id=212&Itemid=30http://ditjenbun.deptan.go.id/benihbun/benih/index.php?option=com_content&task=view&id=152&Itemid=30http://ditjenbun.deptan.go.id/benihbun/benih/index.php?option=com_content&task=view&id=79&Itemid=30http://www.sugihciptasantosa.com/Banyak yang sudah sadar untuk mulai menggunakan pupuk dari bahan alami yang dibuat tanpa pemanasan. Kita bisa melihat usaha mereka di:
http://agrobinautama.blogspot.com/2009/03/petani-beralih-ke-pupuk-organik.htmlhttp://ditjenbun.deptan.go.id/benihbun/benih/index.php?option=com_content&task=view&id=172&Itemid=30Pengembalian kesuburan tanah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia akan membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum tanah kembali kesuburannya. Pemberian pupuk hewan atau pupuk nabati juga tidak boleh terlalu banyak karena tanah membutuhkan keseimbangan. Selain pupuk juga ada beberapa hal penting lain yang harus diperhatikan.
Air
Air yang ada di alam mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan, menyuburkan atau memberi kehidupan. Saat air terkena panas sinar matahari air akan berubah sifatnya menjadi mematikan. Air di alam secara natural dilindungi oleh pepohonan yang rindang yang melindunginya dari panas matahari. Air akan memberi nutrisi yang dikeluarkannya dari tanah kepada tanaman disekitar alirannya untuk tetap menjaga keutuhan kualitasnya. Secara natural air akan mengalir membentuk lintasan yang berkelak kelok, dimana makin jauh jarak yang ditempuh makin besar kelokannya.
Di sungai yang masih alami, airnya masih jernih dan tidak berbau. Kuman penyakit akan susah hidup di air yang sehat ini. Di tengah alirannya hanya akan ada bebatuan besar karena bebatuan kecil akan di pinggirkannya ke tepi. bebatuan besar di tengah akan mengurangi sedimentasi dan tetap menjaga kedalaman sungai walau ketinggian air berubah ubah.
Sekarang ini air dipaksa untuk bergerak secara lurus di saluran buatan manusia. Air terkena panas matahari secara langsung karena air tidak terlindungi dari sinar matahari. Akibatnya air bergerak secara brutal dan akan merusak segala yang ada di alirannya apabila debit air tinggi. Pernah dibahas cara mengatasi masalah ini di catatan sebelumnya. Apabila air ini diberikan kepada tanaman, maka efeknya tanaman tidak akan subur dan akan memerlukan lebih banyak lagi penyubur tambahan.
Untuk mengurangi efek merusak dari air, air yang dipergunakan untuk tanaman sebisa mungkin dilindungi dari sinar matahari. Ada beberapa saran dari peneliti air untuk mengurangi sifat merusaknya. Diantaranya dengan melewatkan air ke sebuah corong untuk membuat air bergerak memutar. Dikatakan gerakan memutar akan menetralisir unsur negatif yang ditambahkan oleh panas atau gerakan tidak alami. Sebagian juga mempercayai bahwa dengan melewatkan air melalui magnet air akan berubah sifatnya dan akan berganti memberikan kesuburan pada tanah.
Pada percobaan yang saya lakukan sendiri dengan menambahkan gerakan memutar pada ujung selang dengan pipa tembaga membuat daun tanaman lebih hijau gelap, berukuran lebih besar dan lebih sehat dalam waktu satu bulan. Dan kerena pengaruh tembaga, air menjadi lebih lama menempel ke tanah dan menyebabkan tumbuhan berkesempatan lebih lama untuk mendapatkan air.
Di Jepang air yang dipisahkan telah banyak dipakai sebagai pengganti pestisida. Air garam yang dipisahkan menjadi air asam dan air basa dengan bantuan elektrolisis. Air basa bila dipergunakan untuk menyirami tanaman akan membuat tanaman tumbuh hingga dua kali ukuran normal. Sementara air asam akan mematikan bakteri penyakit secara lebih efektif daripada pestisida. Di Jepang ini sangat berguna di pertanian rumah kaca. Dengan tidak dipergunakannya pestisida, rumah kaca menjadi lebih aman untuk petaninya. Sebelumnya petani harus mengenakan pakaian ala astronot untuk menyiram tanamannya.
Sehubungan dengan air ini, ada beberapa tanaman yang akan tumbuh lebih cepat tinggi dan padat bila tidak terkena panas. Ini diamati oleh Viktor Schauberger terutama pada tumbuhan sejenis kayu jati. Pengembangan kayu jati yang sekarang ini umum adalah dengan membiarkannya terkena sinar matahari. Padahal bila terkena sinar matahari kayu jati akan tumbuh secara horisontal (membesar) dari pada meninggi. Hasilnya kayunya juga tidak sepadat apabila kayu jati dibiarkan tumbuh tidak terkena sinar matahari. Kita perlu belajar bagaimana tumbuhan hidup di alam agar kita bisa dapat hasil yang maksimal darinya.
Alat pertanian, menghindari besi
Sekarang ini penggunaan besi di bidang pertanian sudah merupakan keharusan. Semua alat pertanian dibuat dari besi atau turunannya seperti stainless steel atau baja. Tanpa disadari bahwa besi sebernarnya mempunyai pengaruh yang jelek terhadap tanah. Sebuah pipa logam yang ditempatkan ditanah akan membuat tanah dalam radius beberapa meter akan berkurang kesuburannya. arat yang ditimbulkannya menimbulkan efek panas, mengurangi kadar air di tanah dan mengundang tumbuhnya penyakit.
Viktor Schauberger di eropa telah melakukan pengamatan pada beberapa lahan pertanian tradisional dan modern. Ia mengamati bahwa lahan yang masih menggunakan metode tradisional dengan alat pertanian dari kayu mempunyai hasil yang lebih baik, lebih banyak dan berkualitas daripada lahan modern yang menggunakan traktor atau alat pertanian lainnya dari besi. Dari hasil pengamatan ini dia mencoba mencari bahan logam lain yang dapat menggantikan besi dan tidak mengurangi kesuburan tanah.
Pada akhirnya ia menemukan bahwa tembaga lah yang cocok untuk dipakai menggantikan besi. Tembaga mempunyai sifat yang hampir sama dengan perak dan emas. Tembaga akan membunuh bakteri penyakit yang ada dipermukaannya dalam beberapa jam. Beberapa rumah sakit di Eropa sekarang ini sudah mulai menstandarkan penggunaan tembaga di tempat - tempat yang sering terkena sentuhan dari pasien untuk mengurangi penyebaran penyakit di rumash sakit. Selain itu tembaga mempunyai sifat magnetik yang memberi gaya tolak dibanding dengan besi. Gaya tolak ini membuat peralatan pertanian dari tembaga akan lebih mudah digunakan untuk mencangkul atau menggali daripada besi. Gaya tolak ini juga berpengaruh pada kandungan air dalam tanah. Bila tanah yang mengandung karat cenderung kering dan keras karena susah menyimpan air, tanah yang mengandung tembaga akan cenderung gembur dan basah karena mudah menyimpan air.
Menggantikan besi dengan tembaga segera mengembalikan kesuburan tanah pada lahan percobaan yang dilakukan Viktor Schauberger. Hasil pada panen pertama segera meningkat dan tetap meningkat pada panen - panen berikutnya. Keuntungannya dapat dengan cepat menggantikan biaya investasi alat tanam dari logam.
Berikut adalah hasil percobaan Viktor Schauberger, yang pada intinya menyebutkan keunggulan kualitas dan kuantitas dari penggunaan alat tanam dari bahan tembaga atau besi yang dilapisi tembaga:
http://www.implementations.co.uk/Schauberger_related/test_results_for_copper.htm"The following field trials were based on the use of various implements fitted with the above copper attachment.
Field trials at Farmleiten-Gut Heuberg
Cultivation with copper implements at a farm near Salzburg.
Field Trial No. 1: Area, 1,880 m2 (046 acre); altitude, about 630 m (2,000 ft) above sea level.
Soil Preparation: Previous crop — 1946-7 winter rye sown after initial ploughing; yield = 180 kg (400 lb);
Autumn 1947 — light application of stable-manure, ploughed in and the ground left fallow over winter;
March 1948 — cultivated with newly designed cultivator, harrowed and sown with 30 kg (66 lb) Donara summer barley. Unfortunately no second iron plough was available and so no parallel control experiment was possible using conventional methods of soil preparation.
Trial No. 1 can therefore not be considered representative. The growth of the summer barley was very good over the whole growing season. The harvest produced a net yield of 630 kg (1,388 lb), corresponding to 3,351 kg/hectare (2,990 lb/acre). The weight of harvested straw amounted to 1,200 kg (2,645 lb).
Field Trial No. 2: Area, 2,050 m2 (0.5 acre); altitude, about 650 m (2,130 ft) above sea level.
Soil Preparation:
Previous crop — 1946-7 winter wheat sown after initial ploughing; Light fertilisation with 2,500 kg (5,115 lb) stable-manure, roughly ploughed in and allowed to lie fallow;
Late March 1947 — field divided into two equal portions; Portion 1 was cultivated with the new plough, Portion 2 with the steel plough;
Sowing took place on 2 April 1947 and both portions were sown with Endress-Weisshafer oats.
Harvest yields:
Portion 1 = 342 kg (754 lb); = 1,668 kg/hectare (1,488 lb/acre);
Portion = 216 kg (476 lb); = 1,054 kg/hectare (940 lb/acre);
The increased yield of Portion 1 was thus 614 kg/hectare (548 lb/acre) or 58% greater.
Field Trial No. 3: Area, 3,000 m2 (0.74 acre); altitude, about 660 m (2,165 ft) above sea level.
Soil Preparation: Previous crop — 1946-7 winter wheat as in Trial No. 2, fertilised with stable-manure, ploughed in autumn 1946, ploughed again spring 1947;
Field divided into two portions in May;
Portion 1 was cultivated with the steel plough;
Portion 2 was cultivated with the new plough;
Mid-May; sown to seed maize for silage.
Apart from weather very unfavourable for growing maize, much damage was also caused by pigeons and crows; the crop was poor and full of gaps. Even at the beginning of the growing season, however, it was evident that Portion 2 was growing better, which was particularly apparent due to its rich, dark green colour in contrast to the pale, yellowish colour exhibited by Portion 1. Since it was harvested green, it could not be weighed. However, Portion 2 yielded about a third more.
Field Trial No. 4: The fourth trial I carried out, the results of which I was only able to establish four weeks ago, was just as successful as the previous ones. In this instance the crop was carrots, which produced almost double the yield achieved under normal methods of cultivation.
Field Trials In 1949
In 1949 rye was sown in soils already worked with copper implements in 1948. The series of field trials 1-4, with normal fertilisation with stable-manure and no artificial fertiliser, at an altitude of 630 m (2,000 ft) above sea level, produced the following results. (See Fig. 15)
Result: Ears containing up to 104 grains of extraordinary size. Length of ears 15 cm (6 in.) and more; lengths of individual grains of one cm (0.4 in.). Such results were unheard of in this district and had not been achieved even in areas well-suited to cereal crops.
Explanation: Increase in growth due to the regulation of the water content. Of especial note was the further increase in the already increased yield the
second time these implements were used.
Laboratory Analysis of Rye using material from the 1949 field trials demonstrate the quantitative and qualitative superiority of Test No.l and therefore of the cultivation of the soil with copper. From these figures a substantial improvement in flour yield is evident. Results of 1949 Field Trials with Copper Attachments Observations from four fields in Salzburg and environs. The cereals (barley, corn, oats) exhibit a remarkably healthy growth in terms
of thick stalks and very dark colour during the period of growth. The ears are larger and the increase in the number of grains per ear was estimated at
twenty per cent. The grains themselves are larger and hence heavier. Precise data concerning the increase in yield are not yet available, since the determination of weight can only be carried out after processing. The estimated increase in yield, however, is in the order of thirty to fifty per cent
in view of the above increase in ear length of twenty per cent.
Observations on an alpine farm, 1,100 m (3,600 ft) above sea level in Kitzbuhel, Tyrol.
This farm is characterised by the exceptional degradation of its soil as a result of insufficient fertilising over more than ten years and inadequate cultivation. It had been tenanted by neighbouring farmers over a number of years, who over-exploited it and on occasion diverted the manure to their own
properties. The cultivable areas consisted of leached, degraded alpine pastures, which were lightly fertilised with stable-manure before ploughing.
Ploughing took place in early May 1949, after which the land was sown to oats and corn. The growth of these cereals was conspicuously good and was characterised by robust growth of the stalk and remarkably dark green colour. The development of the grain itself was equally exceptional. With regard to the oats, the number of grains per head was never less than sixty and often as high as ninety, whereas the grain-count per ear of corn lay between fifty-six and sixty-four. When the number of grains per ear were counted in neighbouring fields, which were in a substantially more favourable location and on well-cultivated soil, the number was found to be half the above figures.
Having no knowledge of the implements used in its cultivation, the Council's survey of all the farms in Kitzbuhel described the cereal grown on this farm as the best in the district. The property in question is the highest lying farm in the area, is described as being located on the shadow side and considered to be the most degraded, owing to the frequent changes in tenancy. I ascribe these extraordinary yields to the use of copper implements.
Cultivation of potatoes on this farm Area under cultivation — 825 m2 (985 yd2); tillage in May 1949 with the 'Golden Plough', light fertilising with stable-manure, seed stock — 200 kg (410 lb) of Ackersegen. Yield: 2,500 kg (5,511.5 lb) = 12.5 times the average = 30,000 kg/hectare (26,766 lb/acre). This yield is extraordinarily high even without taking the altitude into account. The potatoes have a very healthy appearance and have an extremely good flavour. (See Fig. 16)
Field Trial No. 5: Parkland belonging to the Salzburg Municipal Council
Soil Preparation: Previous crop — oats: Cultivated autumn 1948 with steel plough. Spring 1949, reploughed for parallel trials. Half with steel plough and half with 'Golden Plough'.
Observations:
Iron sector — Strong weed growth, yellowish colour, patchy, poor development of grass and clover, hence little root development, resulting in deep tractor tracks.
Copper sector — Few weeds, dark green colour, strong, thick grass and root development, tractor tracks half as deep as the iron sector. All in all the growth on the copper side is strikingly healthy and growing strongly, which is not the case on the iron side. The difference in colour can be clearly seen. According to the owner of the land, the yield in green fodder at the last mowing on the area of the field worked with the 'Golden Plough' was one hundred per cent more than on the area cultivated with the conventional iron plough. Investigation by the Primary Industry Department in Salzburg carried out by the Chief Agronomist, Dipl. Ing. Reach.
The silage maize was harvested on 9 September 1949, when the cob was beginning to form; due to insufficient time, no detailed comparison between crops treated with Iron (Fe) and Copper (Cu) could be undertaken. The crop treated with Cu, however, appeared to be growing much more vigorously and in the short period between 27 July 1949 and 13 September 1949, i.e. seven weeks, a twenty-five per cent better yield was estimated; the Cu-plants were stronger and compared with the Fe-plants, were of much darker, rich colour and the cob development much further advanced.
Field Trial No. 7: (II) Schlagler winter rye, Schloss field, Klessheim
Sown 27 September 1949 on 1.76 hectares (4.35 acres)with 290 kg (639 lb) of Schlagler rye.
Inspection date: 31 October 1949.
Findings: Cu-area substantially better germination, better colour and growth.
Field trial No. 8: Winter barley: Wasserturm field, Klessheim
Sown on 26 September 1949 with 162 kg (357 lb) winter barley.
Inspection date: 31 October 1949.
Findings: Cu-area exhibited fewer yellow plants, lusher green colour and stronger plants than on the Fe-area.
Ignaz-Harrer Strasse 79, Salzburg. 10 November 1949.
With regard to field trials Nos. 1-8, the parallel trials, without exception, were carried out under impeccable scientific procedures and under identical
field conditions. The investigations were undertaken voluntarily and those in charge of trials 1-4 and 6-8 were agricultural scientists with university
degrees and they provided the originals of the reports quoted here. All field trials were carried out in fields fertilised with stable-manure only.
The effect of these implements was to increase growth all the more, where the soil to be cultivated was very dry, for thorough observations in Nature it was determined that under certain conditions, particles of copper influence the recycling of water and the water budget very favourably, whereas in the same areas iron promoted stagnation."
Selain itu pada link dibawah ini disebutkan bahwa tembaga bisa mengurangi serangan bekicot atau hewan bertubuh lunak secara signifikan karena besi akan menarik perhatian dari binatang tersebut.
http://www.implementations.co.uk/main_pages/Copper.htmlhttp://www.implementations.co.uk/main_pages/Slugs_Snails.htmlhttp://www.implementations.co.uk/main_pages/Results_Page.html