Tuesday, 31. October 2006, 01:24:23
Lain lain
10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita. 90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi memberi respon.
Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang menimpa kita. Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil ban pecah atau kemps tertusuk paku. Pesawat mungkin terlambat, dan mengacaukan seluruh jadwal kita. Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah kemacetan lalu-lintas. Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini.
Yang 90% lagi berbeda. Kita menentukan yang 90%!Bagaimana? Dengan reaksi kita. Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita. Jangan biarkan orang lain mempermainkan kita, kita dapat mengendalikan reaksi kita!
Contoh kasus,..
Kamu sedang sarapan bersama keluarga. Anakmu menumpahkan secangkir kopi ke kemeja kerja mu. Kamu tidak dapat mengendalikan apa yang telah terjadi itu.
Apa yang terjadi kemudian akan ditentukan oleh bagaimana kamu bereaksi.
Kamu mengumpat, lalu dengan kasar memarahi anakmu yang menumpahkan kopi. Dia menangis. Setelah itu, kamu melihat ke istrimu, dan Mengkritiknya karena telah menaruh cangkir kopi terlalu dekat dengan tepi meja. Pertempuran kata-kata singkat menyusul. Kamu naik pitam dan kemudian pergi mengganti kemeja. Setelah itu kamu kembali dan melihat anakmu sedang menghabiskan sarapan sambil menangis dan siap berangkat ke sekolah. Dia ketinggalan bis sekolah. Istrimu harus segera berangkat kerja. Kamu segera menuju mobil Dan mengantar anakmu terlebih dulu ke sekolah.Karena kamu terlambat, kamu mengendarai mobil lewat bahu jalan tol dan akhirnya kena tilang.
Setelah tertunda 15 menit karena urusan tilang, kamu tiba di sekolah. Anakmu berlari masuk. Kamu melanjutkan perjalanan, dan tiba di kantor terlambat 20 menit, dan kamu baru sadar, bahwa tas kerjamu / HP-mu atau kerjaanmu tertinggal. Hari-mu begitu buruk.Kamu ingin segera pulang.
Ketika kamu pulang, kamu menemukan ada hambatan dalam hubungan dengan istri dan adikmu.
Kenapa? Karena reaksimu pagi tadi.
Kenapa hari mu buruk?
a) Karena secangkir kopi yang tumpah?
b) Kecerobohan anakmu?
c) Polisi yang menilang?
d) Karena dirimu sendiri?
Jawaban-nya adalah D.
Kamu tidak dapat mengendalikan tumpahnya kopi itu. Bagaimana reaksi-mu 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan hari mu menjadi buruk.
Ini yang mungkin terjadi jika kamu bereaksi dengan cara yang berbeda.
Kopi tumpah di kemejamu. Anakmu sudah siap menangis. Kamu dengan Lembut berkata : "Tidak apa-apa sayang, lain kali kamu lebih hati-hati ya". Kamu pergi mengganti kemejamu dan tidak lupa mengambil tas kerjamu atau HP-mu. Kamu kembali dan melihat anakmu sedang naik ke dalam bus sekolah. Istrimu menciummu sebelum kamu berangkat kerja. Kamu tiba di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan riang Menyalami para karyawan. Atasanmu berkomentar tentang bagimana baiknya hari ini buat mu.
Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal yang sama, tapi berakhir dengan berbeda.
Kenapa? Karena REAKSI kita. Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi.Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.
Bagaimana menurut anda?
Wednesday, 11. October 2006, 01:33:16
Guyonan
Bayan Semun memang anak kampung yang hidup jauh dari keramaian kota, dari madiun naik bis kearah barat +/- 8 km turun maospati, nyambung naik angkot kearah selatan +/- 40 km, turun Gorang gareng nyambung naik dokar +/- 4 km, turun menelusuri pinggir kali +/- 1 km , sampai di ujung kali nyebrang lewat pematang sawah +/- 500 m dan kalau mau cepat sampai mesti kebo.
Rumahnya yang di daerah Pingkuk Magetan Madiun memang dekat dengan hutan, “Hutan Lembeyan” namanya. Suatu ketika dia bermain dihutan lembeyan hingga larut malam.
Tiba tiba terdengar suara,….”Haallllllloooo,….ada yang dengaaaaaarrrr,…” sayup-sayup terdengar dan menghilang,….bayan semun penasaran dia cari dari mana sumber suara tersebut,…..dan ketika ia temukan ternyata 2 orang sedang tersesat pula di dalam hutan,….setelah saling menyapa ternyata dua orang tersebut adalah orang kaya yang sedang berlibur di kampung untuk mencari suasana lain dengan kota tempat tinggalnya.
Bayan semunpun berkenalan : “Bayan Semun,..” kata bayan semun pendek sambil mengulurkan tangannya. “Nama saya Julia,…..” gadis yang tersesat itu mengulurkan tanganya “Dan ini teman saya Nina,..” kata yudi sambil menunjuk temannya.
Acara perkenalan selesai sementara hari sudah semakin larut , Bayan Semun Julia dan Nina sepakat untuk tetap berjalan mencari pertolongan,…..tiba-tiba Julia tersandung sesuatu,..”Aduh,..apa ini ,..” teriak Julia, diangkatnya benda tersebut dan ternyata sebuah teko koeno.
“Wah barang antik nih,..” kata Nina
“Coba sini aku lihat,..” kata Bayan Semun , dan ketika bayan semun membersihkan teko tersebut ,….tiba tiba ……wuuuuussss “hoo hooo hoooo terima kasih tuan anda telah membebaskan saya dari dalam teko ini,…” suara menggelegar jin teko terdengar.
Belum habis rasa kaget dan takut jin itupun berkata lagi “Saya akan beri hadiah untuk kalian, masing-masing satu permintaan dan saya akan mengabulkannya”
“Saya ingin pulang ke rumahku di Belanda om jin, aku tersesat di hutan ini sudah 3 hari,..” kata Julia nggak sabar.
“Pejamkan mata kalian,…Pujopa japu pinjal tumane asu,….” Wusss dalam sekejap Julia menghilang dan telah sampai kerumahnya kembali di Belanda.
Nina terheran-heran dan iapun berkata : “Saya juga ingin pulang om jin, aku masih pingin makan enak di kota dan main internetan , baca postingan Madiun-club , baca postingan kangucup baca postingan om Djum,… pokoknya aku pingin kembali ke kota asalku lagi,…”
“Okay pejamkan matamu ,…Pujopa japu pinjal tumane asu,..” wuuus lap dalam sekejap Poem kembali kekota asalnya dimana ia biasa main internetan.
“Sekarang giliran kamu , apa keinginanmu?” kata Jin kepada Bayan Semun
“Aku senang hidup di desa ini, walaupun aku nggak bisa main internetan tapi aku bahagia, disini udaranya bersih dan segar, air sungai mengalir jernih nggak seperti di kota yang kotor dan bau,….”
“Terus apa keinginanmu , apakan kamu mau computer lengkap dengan jaringannya supaya kamu bisa internetan dan chatting sama Julia, mbak Rien, Ida Faya dan Nina temanmu itu” kata Jin mulai nggak sabar.
“Tidak terima kasih om jin , aku sangat kesepian disini aku nggak punya teman cantik dan baik hati kaya Julia,…”
“Kamu ingin teman yang baik hati dan gadis cantik?” kata om jin
“Aku sudah punya teman yang cantik dan baik hati om jin, tapi sudah om jin pulangkan , jadi aku ingin dua temanku yang cantik dan baik hati itu kembali lagi kesini,..” jawab bayan semun.
“Ooo baiklah pejamkan matamu,….Pujopa japu pinjal tumane asu,….” Wusss dalam sekejap teman Bayan semun Julia dan Nina telah berada di hadapanya kembali,…..
Catatan:
Cerita ini hanyalah fiktif belaka, kesamaan nama dan tempat hanyalah suatu kebetulan yang tidak sengaja.