Skip navigation.

exploreopera

| Help

Sign up | Help

Posts tagged with "Lain lain"

Anak saya cuma seorang petani

Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.

" Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda.
"Oh... Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu.

" Wouw..... hebat sekali putra ibu" pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak. Pemuda itu merenung.
Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.

" Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu?? Bagaimana dengan kakak dari adik-adik nya??"

"Oh ya tentu.." si Ibu bercerita : "Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang." Pemuda tadi diam,
hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh.

"terus bagaimana dengan anak pertama Ibu ??". Sambil menghela napas panjang, Ibu itu menjawab, "Anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak, Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar."

Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... sepertinya Ibu agak kecewa ya dengan anak pertama Ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?"


Dengan tersenyum Ibu itu menjawab, "Ooo... tidak.. tidak begitu Nak....Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani"

Today's lesson :

Everybody in the world is a important person.
Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view because we can't make summary before read "the book" completely.

The wise person says...The more important thing is not WHO YOU ARE, But WHAT YOU HAVE BEEN DOING.

Manfaat lain mandi

Menurut penelitian terbaru mandi ternyata tidak hanya baik untuk membersihkan tubuh dari kotoran dan menjauhkan stress, tapi mandi juga memiliki peranan penting meningkatkan sistem kekebalan, membantu kulit terhindar dari penyakit seperti eksema dan bahkan menyembuhkan masalah medis serius.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan penderita diabetes yang menghabiskan hanya setengah jam berendam dalam bak air hangat dapat menurunkan tingkat gula darah sekitar 13 persen.

Penelitian terpisah di Jepang menunjukkan 10 menit berendam dalam air hangat dapat memperbaiki kesehatan jantung baik pria maupun wanita, membantu mereka menjalani test olahraga lebih baik dan mengurangi rasa sakit.

Apa manfaat mandi dan berapa lama anda sebaiknya mandi? Berikut beberapa petunjuk mandi asyik dan menyehatkan:

Mengeluarkan racun

Mandi air hangat sekitar 32-35 derajat Celsius membuka pori-pori yang dapat membantu mengeluarkan toksin. Mandi air hangat juga dapat membantu menurunkan tingkat gula darah, menyembuhkan sakit otot dan membantu menjaga usus besar bekerja dengan baik. Waktu yang dianjurkan selama 10-20 menit.

Stress

Jika anda benar-benar mengalami stress, mandi air dingin akan menjadi jawaban yang tepat. Temperatur yang dianjurkan sekitar 12-18 derajat Celsius. Mandi air dingin sangat baik meredakan ketegangan, sebaliknya dari air hangat karena mandi air dingin dapat mempersempit darah dan meningkatkan tingkat gula darah.

Eksema

Penyakit kulit tertentu seperti eksema, ruam atau gatal-gatal dengan menambahkan baking soda (sodium bicarbonate) ke dalam bak mandi dapat membuat perbedaan besar. Sodium bicarbonate bertindak sebagai antiseptik. Isi air dengan air hangat kuku, tambahkan kira-kira satu pound baking soda dan aduk sampai rata. Dianjurkan berendam selama 10-20 menit.

Infeksi

Infeksi yeast seperti sariawan dapat dibantu dengan menambahkan tiga atau empat cuka dari sari buah apel ke dalam bak mandi. Ini juga baik untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh karena cuka dapat menyeimbangkan kembali asam. Tambahkan pada air hangat dan berendam selama 15-20 menit.

Flu dan Sakit Kepala

Merendam kaki dalam air hangat dapat membantu menyembuhkan flu dan sakit kepala dan juga menyegarkan kembali kaki yang lelah. Masukan air hangat secukupnya dalam bak sampai menutupi kaki dan pergelangan kaki tambahkan beberapa tetes minyak seperti lavender, peppermint atau lemon. Setelah selesai basuh dengan air dingin. Lakukan selama 10-20 menit.

Insomnia

Merendam kaki dalam air dingin sangat baik bagi anda yang memiliki masalah insomnia atau mereka yang memiliki masalah tidur. Masukan kaki sampai kaki merasa dingin. Pengobatan ini juga berguna bagi kaki lelah, pendarahan hidung, flu dan sembelit.

Sirkulasi

Cobalah merendam kaki secara bergantian antara air hangat dan air dingin jika anda mengalami masalah sirkulasi. Mulai dengan merendam kaki selama satu atau dua menit dalam air hangat, kemudian 30 menit dalam air dingin. Cobalah lakukan selama 15 menit kemudian diselesaikan dengan air dingin.

Uang


Deni adalah seorang copywriter di sebuah biro iklan lokal. Teman- temannya mengatakan bahwa Deni sedang kesulitan keuangan. Kok tahu?
Ya taulah. Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia hampir selalu meminjam uang.

Memang, setelah gajian utangnya pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik taxi ke kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan. Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office boy?

Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang.

Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni? Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy tersebut. "Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya selalu habis setelah tengah bulan." Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya.

Jadi uang gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak"

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. "Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" tanya Deni.

"Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh beliau." katanya.

Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak."

Hidup prihatin

Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara membendungnya? " Nenek saya menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi."

"Tapi nanti kurang nek."

"Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima gaji, segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup." Lalu saya diajak menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih."

"Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang."

Deni bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab."

"Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas."

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik taxi. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah. Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!

Aa' dan Neng

Budi dan Ani adalah tipikal pasangan pacar orang Sunda di mana sang pria memiliki panggilan 'Aa' dengan wanitanya 'Neng'.
Satu bulan pertama, bagi Budi dan Ani, adalah surga.
Mendekati 9 bulan pacaran, drama dimulai.


1. Cemburu
Ani menatap Budi dengan tajam. Kedua tangannya melipat defensif,menunjukkan sikap penuh permusuhan.
Budi sedang mengonsumsi dosis harian menerima semprotan Ani.
Satu isu kecil dapat berubah menjadi letusan gunung.
"Kenapa semalem Neng nelepon gak Aa' bales?"
"Geulis (cantik)?, soalnya Aa' semalem baru pulang jam 2."
"Ngapain aja?" Mata Ani semakin tajam , membuat Budi merasa seperti imigran gelap yang sedang diinterogasi petugas imigrasi.
"Aa'?Aa' semalem kan siaran."
" Kan sampe jam dua belas."
"Abis itu, mengantarkan pulang Risa."

Kesalahan terbesar kebanyakan pria adalah kejujuran.
"Enak amat yah jadi Risa. Dianter kamu pulang malem-malem. Padahal kan dia bukan pacar kamu."
Matanya semakin hostile.
Budi menggaruk-garuk kepalanya.
Dia mulai mengerti maksud omongan Ani.
Sudah saatnya wanita bersikap mandiri dan mampu pulang sendiri ke rumahnya di tengah malam melewati gang-gang penuh preman, maling pemerkosa.
Belum lagi resiko dicabik-cabik anjing liar gila.
Di tahap ini, pembantu Ani yang berprofesi ganda sebagai pengamat sinetron Indonesia secara transparan berpura-pura tidak menguping pertengkaran.
"Daerah rumah dia kan Cikaso. Gak aman."
"Suruh dia pindah rumah dong. Biar kamu gak perlu anter-anter," ujar
Ani sambil mengabaikan beberapa faktor kecil seperti:
a. Bahwa mencari rumah baru sulit
b. Harga rumah mahal
"Neng kenapa sih mesti cemburu?"
"Cemburu? Neng gak cemburu. Siapa yang cemburu? Apakah Neng terdengar seperti orang yang cemburu? Menurut kamu ini cemburu? Menurut kamu Neng cemburuan? Nggak!" dengan desibel yang meningkat dari 8 kali level normal dengan dahi berkerut.


2. Dominasi
Ini adalah agenda keseharian Budi.
Pagi - Antar Ani ke kampusnya.
Siang - Mendatangi Ani di kampusnya, makan siang bersama.
Sore - Menjemput Ani dari kampus.
Malam - Menelpon Ani.
Budi mulai jengah dengan aktivitas yang menuntut mobilisasi tinggi ini. Dia mengusulkan agar Ani juga pro-aktif untuk pergi ke kampus Budi sesekali dan mengurangi frekuensi pertemuan.
"Neng, kalo kayak gini terus, Aa' bisa cacat permanen dan jatuh miskin."
"Katanya sayang?"
"Gak mesti tiap hari kan ketemuan?"
" Kan kangen A'."
"Kalo Neng kangen, ya Neng juga dong sekali-kali pergi ke kampus Aa'."
"Nggak. Aa' aja yang ke kampus Neng."
"Ntar Aa' kecapekan."
"Kalo sebaliknya, Neng dong yang kecapekan."
"AAAARRRGGGHHHHHHH"

3. Sensitifitas
"Neng keliatan gendut gak sih Aa'?"
"Nggak."
"Liat dong ke Neng kalo bicara."
"Oke."
"Gendut ah."
"Nggak kok sayang."
"Gendut."
"Ya mungkin sedikit perlu fitness kali ya?"
"JADI MENURUT AA', NENG GENDUT? TEGA!"
"Loh?"
"Apa liat-liat?"
"Tadi katanya disuruh liat."
"Liatin saya gendut?"
"Aa' minta obat tidur...4 butir...please."
"Buat?"
"Bunuh diri."
"Kenapa mau bunuh diri? Malu yah punya pacar gendut?"
"ARRRGGGHHHHH! !!"

4. Drama-drama- drama
"Halo?"
"Halo? Aa' ya?"
"Iya sayang, Neng, Aa' gak bisa ke rumah malem ini gak apa-apa ya?"
"Kenapa?"
"Aa' mau pergi sama temen-temen. Bimo ulang tahun dan mau nraktir makan."
"Nggak. Aa' ke sini sekarang juga."
"Tapi Neng, semua anak-anak pada ikutan."
"Jadi Aa' lebih seneng bergaul sama temen-temen Aa' daripada sama Neng?"
"Bukan gitu, ketemu kamu kan udah tiap hari. Bimo ulang tahun kan cuman sekali setahun."
"Bilang aja lebih sayang Bimo ketimbang sama Neng."
"Nggak kok, kamuh gak nangkep nih esensinya."
"Saya cuman sapi gila yang kamu gandeng kemana-mana. . ya, kan ?"
"Sapi sih nggak ya.."
"Hu hu hu.. udah gak ada yang sayang lagi sama Neng di dunia ini.."
"Ehm...cup cup sayang...duh, bageur..."
"Neng mending mati aja sekalian... giles aja Neng sekalian sama truk ayam, A'."
"Aduh Neng, ini bukan masalah yang besar kok, cuman semalem aja."
"Kalo bukan masalah yang besar berarti Aa' bisa ke sini, kan ?"
"....."

5. Teman
"Saya gak suka sama sahabat-sahabat kamu. Yang satu bau. Yang satu logat Sumateranya nyeremin dan yang paling Neng gak suka, yang paling deket sama kamu itu... tukang maenin cewek!"

6. Makna ganda
Budi mulai menyadari perkataan Doni di UNJAT dulu bahwa terkadang wanita bisa menjadi makhluk yang kompleks. Mereka berjalan-jalan di shopping mall.
Minggu depan adalah ulang tahun Ani.
"Ih, bagus ya Budi yah sepatu ini," ujar Ani menatap sepasang sepatu.
"Kamu mau Aa' beliin ini untuk ulang tahun kamu?"
"Nggak lah nggak usah."
"...Oke..." Budi melanjutkan jlan-jalannya, meninggalkan Ani yang masih berdiri di depan etalase sepatu.
"Kok segitu aja?"
"??"
"Paksa dong bujuk Neng supaya mau."
"Kamu tadi baru bilang bahwa kamu nggak mau."
"Iya, tapi bukan berarti saya gak mau, kan ?"
"Jadi kalo kamu bilang gak mau, itu artinya kamu mau?"
"Belum tentu juga."
"Kalo kamu bilang mau, itu artinya kamu gak mau?"
"Belum tentu juga."
Garuk. Budi garuk-garuk.

Jadilah Gelas Kosong

Jadilah gelas kosong, itulah pesan seorang eks sales manager nasional berbagai perusahaan top di Indonesia dengan salah satu reputasinya sebagai "Top 5 besar branding se-Asia-Pasific".
Sore itu, kami bertiga tidak akan pernah melupakan pelajaran berharga dari beliau, sebuah training aplikatif pertanyaan kami kepada beliau tentang rahasia kesuksesannya.
Cukup lama beliau berpikir hingga mengatakan "Coba Anda keluar (turun ke bawah) dan lihat ada apa di depan kantor saya". Pertanyaan ini di ulang hingga beberapa kali, dan baru saya sadar kalau ini bukan pertanyaan retorika (pertanyaan yg tidak butuh jawaban).
"Maaf, ini perintah atau pertanyaan retorika Pak ?', tanya saya memastikan.
Beliau menjawab, "Saya tidak sedang berbicara dengan OB (Office Boy), tapi dengan orang di level structural seperti anda. Kalau pertanyaan saya jelas “Do atau kerjakan” kalau masih belum jelas saya akan ulangi lagi. Bos-bos Pertamina saja saya minta begitu langsung jalan.
”Jelas Pak”, sahut saya (sambil menjelaskan kalau tadi saya hanya membayangkan ketika turun ke bawah dan melihat situasi di luar).
Saya lantas beranjak pergi keluar sambil bertanya-tanya maksud pertanyaan dan perintah tadi. Tanpa saya sadari 2 orang rekan dalam satu ruangan juga diminta melakukan hal yang sama (seorang di antaranya calon staf struktural di kantor itu).
Setelah melihat-lihat situasi diluar, kami kembali ke ruangan dan masing-masing diminta menjawab pertanyaan tadi. Dari penjelasan kami bertiga, beliau terlihat tidak antusias dan meminta salah seorang OB untuk melakukan hal yang sama sebagai jawaban pembanding.
Jawaban dari OB “Di depan kantor Bapak ada 4 sepeda motor, pot bunga, toko kue, dlsb …”. Takjub, jawaban sederhana ini yang dibenarkan oleh beliau.

Lantas kami bertiga ditanya lagi, jawaban mana yang benar ?

Kami bertiga mengakui jawaban sederhana dari OB ini yang benar dan jawaban kami bertiga tidak tepat sasaran (kami menjawab salah satunya banyak orang diluar melakukan aktivitas dengan fokus, baik tukang parkir, sopir, orang yang sedang telp, dlsb yang intinya njlimet).

Moral cerita :

1. Dengar dan jalankan perintah (bukan dengar dan persepsikan sendiri perintah).
Ini agar tidak terjadi miskonsep antara Blue Print perusahaan dengan implementasi dilapangan karena masing-masing orang sudah mempersepsikan berbeda-beda.

2. Jangan Sombong.
Menjalankan perintah sederhana yang terkesan aneh dari orang lain akan muncul rasa berontak antara patuh pada perintah atau gengsi menjalankan perintah. Ditambah banyak pasang mata melihat aksi kami seperti tidak lazim dilakukan.
Kami bertiga sadar sudah terjebak dengan perintah sederhana namun kami tangkap dengan sangat rumit. Mungkin saja kami “sudah merasa berisi” sehingga banyak pemikiran/ide, inisiatif, konsep, dan teori yang sudah mencemari pikiran sehingga tak lagi bersih seperti awal. Seorang anak kecil yang ditanya cita-citanya dengan cepat akan menjawab “ingin jadi Polisi, Dokter, atau Presiden” tapi giliran kita ditanya cita-cita tak jarang kita masih berpikir panjang. Hal itu karena anak kecil ibarat gelas yang masih kosong. Rahasia kesuksesan yang beliau pegang kalau kita bisa jadi gelas kosong yang selalu siap untuk diisi. Bandingkan dengan gelas yang selalu berisi penuh, kalau dituang air maka akan tumpah. Sama dengan pikiran kita, kalau merasa sudah berisi, pendapat, saran, gagasan dan nasehat
yang baik pun akan mental karena sudah merasa berisi. Disaat masih berupaya untuk interospeksi diri dari kesombongan, kami sudah diperintah lagi melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
“Coba kalian keluar lagi (turun ke bawah) dan lihat lagi ada apa di depan kantor saya ?".
Apa yang ada dipikiran kita kalau diperintah sama dengan jawaban yang sudah sangat jelas ?
Mungkin saja bathin ini akan berontak (dengan bertanya atau meminta penjelasan), tapi bisa saja itulah bentuk kesombongan berupa benih-benih halus yang hampir tidak kita sadari. Kami bertiga lantas beranjak keluar kantor lagi, mengamati obyek-obyek di depan
kantor lagi, di saat banyak pasang mata mengamati kami. Iyaa, benar …. mungkin kata yang tepat untuk kami saat itu terlihat “GILA”, tapi tak apalah karena kami sedang belajar mengikis habis kesombongan. Dengan berbagai gaya dan bahasa tubuh seakan-akan tidak sedang terjadi apa-apa, kami kembali ke lantai atas dan bertemu lagi dengan beliau.
“Sekarang, apa yang kalian lihat ?”, Tanya beliau.
Sambil menunggu giliran menjawab, saya sempat berpikir teka-teki apa lagi nih ? …
N’tar dikasih jawaban betul ternyata salah, mau dikasih jawaban salah ? masa’ iya sih kasih jawabanya salah ?!!.
Akhirnya satu persatu kami menjawab, ada yang melengkapi jawaban OB, ada yang mengurangi jawaban namun melengkapi disisi yang lain dan jawaban lainnya yang intinya dari ketiga orang tidak ada jawaban yang sama persis. Beliau pun tersenyum ….. itulah fakta, Anda dikasih pertanyaan yang sudah jelas dengan jawaban yang juga sudah jelas, jawaban yang Anda berikan masih saja berbeda-beda. Kalian 3 orang yang berbeda, dan tidak mungkin sama.

Moral cerita :

3. Hargai Perbedaan.
Setiap manusia dilahirkan berbeda-beda bahkan untuk perintah dan jawaban yang sudah jelas pun kami bertiga tidak memberikan jawaban yang sama persis. Ituah pentingnya memahami perbedaan, terutama bagi person yang diberi amanah untuk memimpin suatu kelompok baik dalam organisasi kecil maupun besar. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa kami ucapkan saat itu kecuali pernyataan setuju.

4. Bisa Memberi dan Mau Menerima.
Dengan perbedaan kita dituntut untuk saling bisa mengisi baik ide/gagasan, pendapat maupun kritikan. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Point ini menjadi salah satu dari kesuksesan beliau. Sejenak suasana larut dalam keheningan, tiba-tiba beliau bertanya lagi. “Apakah anda tadi melihat Antenna CB, Antenna Parabola dan Pesawat Terbang ?”.
Hmm, …. dalam benak kami bertiga mungkin serentak menjawab, aneh-aneh saja pertanyaannya ? .. hiks. Namun jawaban kami variatif, a.l. ada yang menjawab “saya mungkin bisa melihat antenna CB atau Parabola tapi tidak mungkin melihat pesawat terbang (jfi : di kota kecil tempat kami hanya ada 1 penerbangan ke Jakarta, itu pun hanya dipagi hari dan hampir tidak pernah terlihat Pesawat Terbang melintas). Jawaban yang lain, kami tidak melihat antenna CB atau Parabola tapi melihat gambar Pesawat Terbang di salah satu kios penjualan tiket pesawat …. hiikkss ... “Coba, kalian jalan ke ujung dan lihat dari jendela keluar, apakah ada yang saya sebutkan tadi ?”, seru beliau.
Kami bertiga lagi-lagi harus ber-olahraga ringan (lari-lari kecil) untuk mematuhi perintah beliau. Tiga pasang mata melihat ke arah luar jendela dan “surprise” !!
Dari lantai 2 terlihat jelas sebuah antenna parabola dan antenna CB. Dan, kedua antenna ini sama sekali tidak akan terlihat dari lantai 1 karena posisinya terhalangi dan berada di atap gedung. Dalam hati kami malu, tapi mengakui kalau pernyataan kami tentang antenna telah salah. Namun, bagaimana dengan pesawatnya yah ?
Sejenak kami sempat berdiskusi dan akhirnya sepakat tidak melihat adanya pesawat terbang, Memang seperti sebuah teka-teki, tapi apa kami harus menjawab hal yang tidak kami ketahui ? Ngga’ men ?!! …. Apapun harus dihadapi dengan gentle ….
Akhirnya kami kembali lagi ke ruangan beliau. Masing-masing dari kami pun ditanya lagi satu per-satu. Semua sepakat melihat antenna, namun tidak melihat pesawat terbang. Beliau meneruskan bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.
“Coba Anda naik ke atap kantor ini dan lihat ke arah barat. Anda akan melihat sebuah Pesawat Terbang di ujung jalan”.
Kami sadar yang dimaksud ternyata sebuah “monumen Pesawat Terbang” yang berada sekitar 1 km dari tempat kami berada. Sebuah pesawat tempur yang menurut prediksi hasil lucutan tentara Jepang kala di masa penjajahan. Kami terdiam seribu bahasa, menyadari kebodohan kami bertiga yang selama ini telah dibutakan oleh banyak hal. Mungkin saja, secara teoritis kami mengetahui banyak hal sisi manajemen atau manajerial tapi belum sampai pada taraf memahami betul dalam aplikasi nyata.

Moral cerita :

5. Be Positif.
Setiap orang dianugerahi kemampuan untuk memandang, namun kemampuan cara memandang setiap orang bisa berbeda-beda. Ada orang yang bisa memandang lebih jauh dan luas, namun ada juga yang hanya bisa memandang jarak dekat. Dari contoh kisah di atas, kita bisa membuat komparasi sebagai berikut :Kami bertiga tidak mampu melihat antenna CB dan antenna parabola dari lantai 1, namun beliau sudah mengetahui terlebih dulu bahwa perangkat-perangkat tersebut akan terlihat dari lantai 2. Kami bertiga tidak mampu melihat Pesawat Terbang dari lantai 2, namun beliau pun sudah mengetahuinya terlebih dulu dengan melihatnya dari atap gedung kantornya.
Artinya bahwa seorang yang mempunyai kelebihan dalam cara memandang di antara orang-orang dalam satu kelompoknya akan diangkat menjadi pemimpin karena tentu memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain. Seorang pemimpin diibaratkan sedang naik tower, maka akan terlihat benda A, B, C mungkin hingga … Z yang jaraknya hingga jauh dibandingkan dengan staf lain yang rutinitasnya berada di lantai 1. Mungkin di depan kantornya hanya akan terlihat sepeda motor, mobil, pot bunga, customer atau calon customer, dan lainnya, namun tidak bisa melihat detail hingga …. Z.
Untuk itu, kepada pimpinan kita di lingkungan manapun hindari prasangka buruk karena perintah atau himbauannya, arahan atau nasihatnya, koreksi atau bimbingannya sudah melalui tahapan proses. Kita tidak pernah menduga kalau akan ada “Pesawat Terbang lain” di kantor kita …
So …. Be Positif ke pimpinan kita.

6. Selalu Belajar dan Upgrade Knowledge.
Ketika Anda di beri amanah untuk memimpin sebuah organisasi baik skala makro maupun mikro, hal yang perlu ditekankan adalah selalu belajar dan senantiasa mengupgrade ilmu. Cerita komparasi diatas sudah cukup jelas, bahwa seorang pemimpin dituntut memiliki pandangan dan pengetahuan lebih jauh dan luas. Seorang pimpinan tidak akan pernah tahu kalau akan ada pesawat terbang lain jika tidak ada upaya untuk selalu belajar dan mengupgrade ilmu.

7. Lihat dengan Detail dan Teliti.
Di sesi “Dengar dan jalankan perintah” kami tergelitik untuk menanyakan hal yang satu ini. “Apakah kita harus menjadi staf seperti robot yang hanya mendengar dan menjalankan perintah tanpa ide dan kreativitas apapun ?”. Beliau menjawab, Tidak.
Justru harus menjalankan perintah dengan detail dan teliti. Contoh jawaban yang detail untuk perintah "Coba' Anda keluar (turun ke bawah) dan lihat ada apa di depan kantor saya ?”.
Di depan kantor Bapak ada :
- Dua buah pot bunga warna …. dan …. Masing-masing ditanami bunga …. dan …..
- Empat buah sepeda motor berbagai merk a.l. ……… diparkir berjajar.
- Satu buah Mobil merk …… warna …… diparkir di sebelah ruko.
- Sebuah toko yang menjual aneka roti dengan brand …. bercorak warna …. Khas menyambut acara bulan Pebruari, dan sebagainya. Bandingkan dengan jawaban sebelumnya Dua pot bunga, 4 Sepeda Motor, Toko kue, seperti uraian di atas.
Ungkapan Martin Luther King “Jika seorang terpanggil menjadi tukang sapu jalan, hendaklah ia menyapu jalan sebagaimana Michael Angelo melukis, atau Beethoven menciptakan musik, atau Shakespeare menulis puisi. Hendaknya ia menyapu jalan dengan sangat baik sehingga segenap isi surga dan bumi serentak menghentikan kegiatan mereka dan berkata, disini tinggal seorang penyapu jalan yang agung yang menjalankan tuasnya dengan sangat baik”.
Sore itu, kami telah banyak belajar dari seorang konsultan bertarif Rp. 2,5 juta per satu sesi (selama 3 jam) atau Rp. 6 juta plus workshop, namun kami mendapatkannya dengan gratis. Beliau telah melejit dan sukses, mengelola uang trilyunan di Perusahaan, mengubah taraf hidup karyawan di Perusahaan tempat beliau berkerja, membuat bos-bos senang dan karyawan pun riang, namun tetap rendah hati. Bagi kita yang pernah membaca atau mempelajari rumus sukses jangka panjang versi KUBIK Leadership, beliau seorang yang memiliki “Tobe” dan “Valensi” tinggi serta “To Have” yang rendah sebagaimana cerita sukses bos-bos Jepang. Hanya sepeda motor yang selalu mengantar setiap aktivitasnya, hanya rumah paling sederhana di komplek yang dia tinggali saat ini, namun beliau memiliki 30 anak asuh yang selalu menerima uluran tangannya.
Sepuluh kiat sukses menurut pakar Branding dan Konsultan Manajemen ini akan lebih mudah ditemukan 3 kekurangan lainnya manakala kita telah menjadi seorang yang “rendah hati”.

Januari 2007
dikisahkan oleh: Anang Tripambudi