Skip navigation.

exploreopera

| Help

Sign up | Help

Wong Murah Kok Njaluk Slamet


Kocap-kacarita ,...Bayan Semun mau kepasar pingkuk karena "brompitnya" lagi ngadat dia naik becak.

“Pasar Pingkuk berapa pak”? Tukang becak ngejawab singkat, “Biasa.. lima ribu pak”

“Lima ratus aja ya pak ”, Bayan Semun memang jago kalau soal tawar menawar. Nggak tanggung-tanggung, hingga cuma 10% dan deallllll,...

Tanpa menunggu lama apalagi teken kontrak, Bayan Semun sudah nangring di atas becak. Maka becakpun mulai melaju kencang di jalanan yang padat. Meliuk kesana kemari. Serempat sana sini. Tak peduli lampu merah, becak tetap melaju kencang... entah sudah berapa kali hampir nabrak mobil bahkan masuk selokan, tak terhitung berapa pengguna jalan yang menyumpahi becak ”bermesin nasi pecel” ini.

Sudah berkali-kali Bayan Semun protes, tapi becak tetap melaju kencang. Makin diprotes makin ngebut. Takut jantungnya kambuh apalagi kalau bisulnya meletus, Bayan Semun akhirnya marah, ”Hati-hati to pak, jangan ngebut. Dasar tukang becak nggak punya otak!”. Dan dengan wajah yang ekspresi emosi, tukang becak bales teriak, ”Limang atus njaluk slamet” (baca : Lima ratus minta selamat)

Musibah hilangnya Adam Air yang hingga hari ini (6/1/2007) ”jasad”nya belum ditemukan, membuat saya bertanya, apa yang menyebabkannya? Pemerintah memang mengumumkan bahwa ini adalah akibat cuaca buruk, sebuah alasan yang tentu saja sangat logis. Minggu-minggu ini alam memang kurang bersahabat. (mungkin alam mulai bosan melihat tingkah kita,..coba bertanya pada rumput yang bergoyang ,..kaya syair lagunya Ebiet)

Tapi benarkah faktor alam? Terlepas musibah ini adalah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa, saya kira harus dilakukan penyelidikan secara tuntas. Adam Air dan juga Lion Air, tak terhitung mengalami ”musibah” dalam tahun-tahun belakangan ini. Tergelincir, pendaratan darurat, masalah ban pesawat, dan entah apa lagi. Bahkan Adam Air pernah nyasar, maunya ke Makasar, tapi ”mampir” dulu ke Tambulaga NTB (Februari 2006). Dan bagaimana kelanjutan kasus langka tersebut, saya juga tak mengikutinya. Masyarakat mungkin sudah banyak yang lupa yang jelah tidak ada penyelidikan lebih lanjut Adam air yang "mampir" ke Tambulaga NTB itu langsung mengudara kembali weleh.

Di banding maskapai lain, Adam Air dan Lion Air termasuk armada yang tiketnya murah meriah. Sebagai sebuah strategi bisnis, itu sih boleh-boleh saja. Seat memang harus terjual, kalau nggak mereka akan kesulitan cashflow tentu saja. Tapi dengan dalih tiket murah lalu mengabaikan keselamatan penumpang, jelas tidak bisa diterima (jangan kaya tukang becak yang ditumpangi Bayan Semun , murah tapi ngawur he he he). Makanya pemerintah perlu mengumumkan secara terbuka hasil temuannya nanti, apakah benar pesawatnya layak terbang? jangan asal "ngejar setoran", Banyak hal yang perlu diungkap.

Mungkin perlu dibuatkan standar tarif, jadi walaupun murah tapi bukan murahan (kayak iklan aja) artinya tarif murah tapi pesawat kondisi fit dan keselamatan penumpang tetap nomor 1.

Bahwa hal itu membuat banyak masyarakat yang ”terpaksa” tidak mampu beli tiket pesawat ya nggak apa-apa. Mereka khan nggak harus memaksakan diri terbang. Masih ada kereta, bis, atau alternatif lain yang lebih murah, Tapi kalau harus nyebrang laut gimana ya,..banyak juga kapal yang berlayar di indonesia tidak laik jalan.

Kita memang kepinginnya yang ideal, tiket pesawat itu murah tapi juga selamat di perjalanan. "Murah tur slamet kata orang jawa" Tapi kalau nggak mungkin, ya ganti saja ”biar mahal asal selamat”.

Akhirnya, marilah kita tunggu kabar perkembangan selanjutnya hasil investigasi kasus hilangnya Adam Air, apakah nabrak gunung, off track, atau mendarat ”darurat” di laut atau "mampir" lagi seperti kasus sebelumnya. Semoga semua bisa mengambil hikmah dari pelajaran yang amat sangat berharga ini. Bagaimanapun korbannya mencapai 102 orang, suatu jumlah yang tidak sedikit.

Apa Rahasia 90/10?Jadilah Gelas Kosong

Write a comment

You must be logged in to write a comment. if you're not a registered member, please sign up.