Skip navigation.

ANAK SEHAT ANAK CERIA.......

Endang Tatar

Apakah pisang merupakan buah pertama yang cocok untuk bayi?

Dr. Endang Dewi Lestari, MPH, SpA(K)
Bag Anak RSUD Dr Moewardi/Fakultas Kedokteran UNS
Surakarta

Sesuai dengan rekomendasi AAP, maka makanan padat pertama yang seharusnya dikenalkan pada bayi adalah sereal berbahan dasar beras. Untuk mencegah timbulnya reaksi alergi yang tidak alergi, maka makanan yang dikenalkan berikutnya secara ber-turut-turut setelah sereal adalah sayur-sayuran dan kemudian buah. Malanan padat ini dikenalkan pada bayi pada umur 6 bulan. Sejak jaman nenek moyang, pisang merupakan makanan favorit yang diberikan pada bayi pada saat bayi harus dikenalkan dengan makanan padat. Apakah pisang merupakan makanan buah pertama yang cocok untuk bayi?

Mengapa pisang?
Pisang mudah dikenalkan kepada bayi, karena teksturnya lembut sehingga hal ini akan memudahkan bayi untuk mengenal dan menelannya. Pisang juga mempunyai rasa yang manis, sehingga rasa manis ini mudah dikenali karena ASI juga mempunyai rasa yang manis sehingga bayi cepat beradaptasi dengan pisang. Pisang juga mudah dicerna oleh usus bayi. Bagaimanapun juga, makanan padat pertama yang dikenalkan pada bayi adalah sereal berbahan dasar beras. Jadi, pisang dikenalkan kepada bayi setelah bayi mengenal makanan padat sereal dan kemudian sayur-sayuran. Sereal berbahan dasar beras dan sayur-sayuran merupakan makan yang kurang alergenisitasnya dibandingkan dengan pisang. Pisang ini juga mudah didapat serta mudah dibawa ke-mana mana. Jika dibutuhkan untuk dikonsumsi juga mudah, pisang tinggal dikupas dan dikerok dan siap di suapkan.


Bagaimana menyiapkan pemberian pisang?
Pisang pada umumnya mudah diberikan pada bayi. Pisang dapat dikerok sehingga menghasilkan suatu bentuk yang lembut yang siap untuk disuapkan. Pisang juga jarang menyebabkan tersedak. Tetapi, walaupun demikian, pada bayi tertentu yang sering menolak pemberian makanan padat, maka pemberian kerokan pisang ini dapat dicampurkan dengan perasan ASI/susu formula. Tujuannya adalah agar bayi lebih familiar dengan rasa dan mempermudah mengenal makan barunya tersebut. Pemberian pisang tidak iperbolehkan dalam bentuk potongan bulat karena potongan pisang ini dapat menyumbat/berhenti di jalan makanan dan menbahayakan.

Kandungan zat gizi pada pisang
Pisang cukup mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan dan proses tumbuh kembangnya. Salah satu kandungan zay gizi penting didalam pisang adalah potasium dan fiber (serat).Pisang juga mengandung tinggi vitamin B6, vitamnin C dan vitamin B2. Potasium pada pisang berguna untuk menjaga fungsi jantung dan tekanan darah. Pisang juga dapat berfungsi sebagai antasid, sehingga pemberian pisang dapat membantu memberikan perlindungan terhadap tukak lambung.
Kandungan vitamin
Vitamin A - 95 IU
Vitamin C - 11 mg
Folat - 22.5 mcg
Vitamin B6 - .7mcg
Niacin - .6 mg
Asam pantotenat - .31 mg
Vitamin E - .67 IU

Kandungan mineral
Potasium - 467 mg
Magnesium - 43 mg
Phosphorus - 27 mg
Calsium - 7 mg
Selenium - 1.3 mg
Zat besi - .4 mg
Juga mengandung zink, manganesium and tembaga.

Apa kerugian makan pisang?
Pada bayi yang sensitive terhadap pemberian pisang. Pisang juga bisamemberikan manifestasi alergi pada bayi. Tanda-tanda jika bayi alergi terhadap pemberian pisang adalah: kulit ke-merah-merahan (rash), diare, mata dan hidung berair atau bahkan muntah atau kolik infantil (serangan nyeri perut yang hebat terutama di sore/menjelang malam hari yang berjalan beberapa menit sehingga bayi menangis menjerit sulit dihentikan tangisannya). Jika terjadi reaksi alergi, maka pemberian pisang harus dihentikan. Disamping itu, pemberian bisang yang terlalu banyak juga menyebabkan sulit buang air besar (konstipasi).

Referensi
1.Sumber-sumber AAP.
2.http://www.wholesomebabyfood.com/bananababyfoodrecipes.html

No title

GIZI BURUK

Edisi : Kamis, 16 Oktober 2008 , Hal.VI

”Pemeriksaan harus menyeluruh”

Solo (Espos) Dokter yang menangani Nadia Putri, pasien penderita gizi buruk yang dirawat di RSUD Moewardi, dr Endang Dewi Lestari mengungkapkan, pemeriksaan terhadap penyakit gizi buruk tak bisa dilakukan hanya berdasar keluhan pasien.

Namun, pasien harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Pasalnya, penyakit gizi buruk selama ini jarang yang murni disebabkan benar-benar kekurangan gizi, banyak yang bercampur dengan penyakit primer pasien.
”Akhirnya terjadi komplikasi penyakit hingga membawa penyakit gizi buruk. Namun, untuk mendeteksinya, harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh,” ujarnya kepada Espos, Rabu (15/10).
Dia memaparkan, pemeriksaan terhadap Nadia selama ini di RSUD Moewardi dilakukan secara menyeluruh. ”Dari sana, akhirnya kami memiliki waktu cukup untuk memeriksa secara menyeluruh kondisi Nadia. Dan hasilnya, Nadia positif menderita gizi buruk.”
Meski demikian, sejumlah dokter Puskesmas atau rumah sakit yang selama ini tak menemukan penyakit gizi buruk pada Nadia, katanya, tak sepenuhnya salah. Pasalnya, untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh harus memiliki waktu yang cukup. Selain itu, sambungnya, kebanyakan pasien hanya mengeluhkan penyakit primer dan tak menyinggung penyakit gizi buruk.
”Para dokter hanya memeriksa keluhan pasien saja karena keterbatasan waktu. Sementara, kami memiliki waktu memeriksanya secara menyeluruh.” - Oleh : asa

SPESIFIKASI SUSU

Rabu, 09 Juli 2008

Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki produk susu spesifikasi umur lebih dari dua. Padahal, di negara lain spesifikasi produk susu hanya terbagi menjadi dua, yaitu susu formula dan susu umum.

"BPOM hanya mengklasifikasikan menjadi tiga, susu untuk usia 0-6 bulan (susu formula), untuk usia 6-12 bulan (follow on I), dan untuk usia 12 bulan-13 tahun (follow on II). Tapi sekarang ini muncul susu formula 4 plus, 5 plus. Kami terus terang sulit mengatur hal tersebut," ujar Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan POM Irawati di Jakarta.

Hal ini juga diungkapkan dokter spesialis anak dari Universitas Sebelas Maret, dr Endang Dewi Lestari, saat menanggapi pernyataan Irawati tersebut. Dia mengaku heran dengan adanya susu dengan label batasan usia yang spesifik ini. "Memang benar. Ini mungkin sebagai upaya untuk suplemen gizi untuk anak-anak. Tapi saya dan dokter anak lain suka tertawa melihat susu dengan label-label tertentu seperti itu. Ini hanya di Indonesia lho, di luar negeri itu tidak ada," ungkapnya.

SUSU

Dokter Spesialis Anak : Lebih 4 Jam Susu Harus Dibuang

oleh Rahajeng Kartika AP pada 28-02-2008

Hasil penelitian tim dari IPB tentang adanya susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii menyentak masyarakat. Bagaimana dokter spesialis anak menyikapi hasil penelitian itu? Berikut petikan perbincangan reporter Harian Joglosemar, Rahajeng Kartika AP dengan dokter spesialis anak RS dr Moewardi, yang juga adalah pengajar di Fakultas Kedokteran UNS, dr Endang Tatar.

Apa pandangan Anda menyikapi hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari IPB itu?
Saya tidak tahu kebenaran dan kesahihan hasil penelitian ini.

Sebab seharusnya penelitian yang benar-benar sahih ada di Jurnal Ilmiah Terakreditasi. Dan saya rasa ini penting adanya. Saya tidak begitu tahu karena sepertinya peneliti dari IPB ini berasal dari dokter hewan. Penelitian yang sudah masuk dalam jurnal ilmiah juga belum tentu semuanya bisa dipakai hasilnya. Bila seseorang ingin menggunakan hasil penelitian, tentunya harus dikaji ulang lebih lanjut lagi.
Jadi dalam sebuah penelitian tidak mudah dan tidak bisa dilakukan secara cepat. Dalam sebuah penelitian harus mampu mempertanggungjawabkan penelitian tersebut dan mempublikasikannya di Jurnal Ilmiah. Setelah dipublikasikan, dan dibaca oleh pembaca yang berkompeten, harus dikritisi ulang lagi dengan metode Evident Base Medicine (EBM). Barulah dapat disimpulkan bahwa sebuah penelitian itu layak. Secara pribadi saya kurang begitu setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh IPB. Itu terkesan tergesa-gesa.
Secara umum, apakah susu formula potensial mengandung bakteri?

Secara umum, menurut sisi medis, suatu susu formula ini layak dikonsumsi apabila sudah melalui uji kelayakan, untuk mengetahui bahwa susu layak dikonsumsi. Biasanya suatu produk atau merek tertentu dinyatakan aman untuk dikonsumsi apabila BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan, —red) sudah menyatakan layak konsumsi. Biasanya dalam proses pengolahan susu yang benar telah memenuhi standar higienis untuk produk-produk yang dibuat di perusahaan besar.

Namun tidak menutup kemungkinan pabrik besar pun peralatannya kurang steril. Yang namanya kemungkinan selalu ada. Namun bisa jadi kuman itu muncul dari proses pembuatannya. Jadi susu kemasan ini bebas kuman, namun apabila dalam pembuatannya peralatan yang digunakan atau mungkin airnya yang kotor, otomatis tetap saja terkontaminasi kuman.

Susu yang potensial mengandung kuman itu kondisinya seperti apa?
Secara kasat mata sangat tidak mudah menentukan apakah susu ini mengandung kuman atau tidak, sebab bakteri tidak terlihat dengan mata telanjang. Susu yang potensial mengandung kuman yang kondisinya rusak. Lebih baik apabila mendapati susu yang sudah berbau serta berubah warna tidak perlu dikonsumsi sebab besar kemungkinan kuman akan mencemari susu tersebut. Jika Anda mendapati susu dalam kemasan yang kemasannya terbuka atau bahkan bocor sebaiknya urungkan niat Anda untuk membelinya.
Dua tahun yang lalu Anda pernah melakukan suatu penelitian tentang lama masa konsumsi susu, bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai penelitian tersebut?

Dua tahun lalu, saya memang pernah mengadakan suatu penelitian yang terbatas lokal saja, dalam artian penelitian saya digunakan sepenuhnya untuk kepentingan pihak rumah sakit semata, sebab pada waktu itu saya menjabat sebagai Kepala Instansi Gizi di RS dr Moewardi. Pada prinsipnya saya meneliti sekitar 12 jenis makanan sonde, produk bubur dan susu formula yang selama ini diberikan RS untuk pasiennya.
Tujuan dari penelitian saya ini untuk mengetahui seberapa amankan produk-produk ini dikonsumsi untuk pasien. Kemudian saya mulai meneliti susu. Beberapa jenis produk susu dibuat secara alamiah yang dilarutkan dalam air dan ditempatkan diwadah, kemudian diambil beberapa sampel. Mulai dari jam ke 0 hingga jam ke 6 diteliti ada tidaknya koloni kuman. Dari penelitian ini diketahui bahwa dalam susu, rata-rata pada jam ke 4 koloni-koloni kumannya bertambah banyak.

Walaupun ada beberapa jenis susu yang baru dua jam saja kuman-kumannya sudah berkoloni, namun besar kemungkinan itu karena proses pembuatannya yang kurang steril, airnya atau bahkan tempatnya. Dari penelitian ini diambil kesimpulan bahwa susu yang lebih dari 4 jam harus segera dibuang. Namun alangkah baiknya jika begitu membuat susu, langsung konsumsi untuk menghindari berkoloninya kuman. Selain itu saya simpulkan juga bahwa timbulnya bakteri tergantung pada proses pembuatan, air yang digunakan, udara serta tempat.

Apa imbauan Anda untuk masyarakat?
Saya mengimbau untuk masyarakat supaya tidak terlalu resah dengan hal semacam ini. Tunggu saja instruksi dari Menkes sebab sudah ada tim khusus yang menyelidiki mengenai penelitian ini lebih lanjut toh selama ini tidak ada kasus berat yang disebabkan karena minum susu. (***)


OBESITAS ANAK

Obesitas, Bahayakan Tumbuh Kembang Anak

Rabu, 02 Agustus 2006 08:41

Kapanlagi.com - Dokter spesialis anak, nutrisi, dan penyakit metabolik RS dr Moewardi Solo, dr Endang Tatar, SpA mengatakan, obesitas atau kegemukan memiliki dampak yang membahayakan bagi tumbuh kembang anak. "Anak yang menderita obesitas dapat mengalami ketidakmatangan sosial, seperti tidak mandiri, mengalami depresi, dan lain-lain," katanya, di Solo, Rabu.

Selain itu, katanya, obesitas dapat menyebabkan penyakit jantung, penyumbatan pembuluh darah, dan diabetes.

Menurut dia, akibat pengaruh dari gaya hidup kebarat-baratan, angka kejadian obesitas atau kegemukan justru mengalami peningkatan, terutama di kota-kota besar.

Dia mengungkapkan, hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 ditemukan, sekitar 2,1 persen anak SD di Kota Solo mengalami kegemukan.

"Dari angka tersebut, kasus terbanyak ditemukan di SD swasta," ujarnya.

Dia menjelaskan, obesitas sedini mungkin harus dicegah dan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur cara diet dan olah raga yang benar.

Penyebab utama terjadinya obesitas, lanjut dia, adalah tidak adanya keseimbangan antara asupan makanan dengan keluaran energi.

"Apalagi anak-anak sekarang cenderung malas, terlalu sering menonton TV sambil makan camilan, ke mana-mana selalu diantar dengan mobil, dan lain-lain," katanya.

Ia menyarankan orangtua memberi kegiatan fisik lebih proporsional kepada anak-anak, agar asupan makanan dengan energi yang disalurkan lebih proporsional sehingga tidak menimbulkan kelebihan berat badat. (*/rit)

TUBERKULOSIS

Dari Kakek Turun ke Cucu

Bayi berumur sembilan bulan itu tampak sehat-sehat saja. Tak ada penyakit berarti yang menyerangnya, tidak pula batuk-batuk. Tapi ada satu persoalan yang membuat Nita, ibundanya, gundah. Berat badan Lila tidak naik sesuai dengan usianya. Dokter spesialis anak langganan Nita mengatakan Lila baik-baik saja. "Tapi saya tetap ragu," kata dia.

Atas saran tetangganya, Nita, yang tinggal di Boyolali, kemudian memboyong si buah hati ke dokter spesialis paru di Solo. Setelah melewati serangkaian tes, akhirnya Lila diketahui terkena flek--nama populer tuberkulosis. Enam bulan minum obat tanpa henti, akhirnya Lila dinyatakan sembuh.

Nita menduga bakteri yang menyerang anaknya tujuh tahun silam itu berasal dari sang kakek. "Beliau memang batuk terus-menerus dan sering datang ke rumah mengasuh Lila," kata dia.

Langkah Nita mencari sumber penyakit anaknya dinilai oleh dokter spesialis anak Endang Tatar sudah tepat. Memang, kata dia, jika anak terserang tuberkulosis, harus ditemukan orang dewasa yang juga menderita tuberkulosis. "Dialah biang keroknya," katanya dalam seminar bertema “Batuk Kronis pada Anak” di Rumah Sakit Islam Surakarta, Kamis lalu.

Sesudah ditemukan, orang dewasa penyebar bakteri ini harus dipisahkan dan diobati sampai sembuh. Sebaliknya, kata Endang, anak penderita tuberkulosis tidak perlu dijauhkan dari keluarga karena tuberkulosis pada anak hingga usia kira-kira 15 tahun tidaklah menular.

Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Bambang Supriyatno menambahkan, tuberkulosis, yang juga beken dipanggil sebagai flek, paru-paru bolong, atau paru-paru kotor, itu dipicu oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Media penularan terbaik bakteri ini adalah udara. Berawal dari orang dewasa yang batuk dan menyemburkan bakteri-bakteri tersebut, lalu terhirup oleh anak-anak. Bakteri yang nyelonong masuk itu bersarang di paru-paru. Penyebab lainnya bisa juga orang dewasa yang meludah di sembarang tempat, lalu ludah itu terbawa angin dan sampai ke anak-anak.

Bakteri yang telah masuk tidak cuma ngendon di paru-paru. Mereka bergerilya ke seluruh tubuh, seperti selaput otak, hati, ginjal, dan tulang. Masa inkubasi tuberkulosis (waktu dari masuknya kuman hingga menjadi sakit), dia melanjutkan, berkisar 2-12 minggu.

Gejala yang sering ditemui adalah berat badan tidak kunjung naik, bahkan cenderung turun, demam lama tanpa penyebab yang jelas, nafsu makan menurun, dan batuk berkepanjangan, terkadang disertai keringat pada malam hari. Bambang menggarisbawahi, gejala-gejala itu biasanya disertai adanya orang dewasa yang menderita tuberkulosis di sekitar anak.

Meski semua gejala tuberkulosis terlihat terang-benderang, ucap Bambang, menegakkan diagnosis pada pasien anak lebih sulit ketimbang pada pasien dewasa. Sebab, ya, itu tadi, jauh lebih sulit menemukan kuman tuberkulosis yang menyangkut di dahak anak daripada dahak orang dewasa.

Kalau sudah begini, biasanya dokter menegakkan diagnosis melalui teknik anamnesis (tanya jawab antara dokter dan pasien atau orang tua pasien). "Baru kemudian dilakukan uji Mantoux atau uji tuberkulin, foto roentgen dada, dan pemeriksaan laboratorium," kata Bambang.

Uji Mantoux diawali dengan menyuntikkan zat PPD tuberkulin di bawah kulit pergelangan tangan anak. Dalam waktu 48 hingga 72 jam akan diketahui hasilnya, berupa warna merah pada tempat suntikan. Seorang anak dicurigai mengidap tuberkulosis bila lebar warna merah tersebut lebih dari satu sentimeter.

Sayangnya, banyak orang tua yang enggan menjalankan uji Mantoux karena lebih percaya dengan roentgen. Padahal pilihan ini salah. Sebab, hasil roentgen belum bisa menegaskan penyakit yang diidap itu tuberkulosis atau bukan tanpa ada diagnosis lainnya.

Bambang melanjutkan, pengobatan tuberkulosis dengan antituberkulosis memerlukan waktu minimal enam bulan dengan minimal dua macam obat yang harus diminum tiap hari. Agar disiplin tetap terjaga, dikenal istilah directly observed therapy shortcourse, yaitu pengobatan dengan pengawasan ketat dari orang yang disegani anak.

Kegagalan pengobatan tuberkulosis biasanya lantaran si anak bosan menelan obat. Setelah diobati selama satu-dua bulan, biasanya berat badan anak naik, tak lagi demam, sehingga anak merasa telah membaik dan obat tak diminum lagi. "Justru ini sangat berbahaya karena kuman menjadi resistan," ujarnya.

Jika sudah demikian, penderita tuberkulosis pun kebal terhadap obat, sehingga pengobatannya bergeser jadi lebih rumit. Tak aneh, karena masih banyaknya penyakit tuberkulosis pada anak, imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) masih dianjurkan. Bukan berarti anak yang telah diberi imunisasi BCG tidak lagi kena tuberkulosis. Tapi paling tidak tuberkulosis yang diidapnya lebih ringan. PITO AGUSTIN RUDIANA (Solo)

Bayi Imatur Enam Bulan Berat 600 Gram Tumbuh Normal

Kompas Kamis, 19 Juni 2003

Bayi Imatur Enam Bulan Berat 600 Gram Tumbuh Normal

Semarang, Kompas - Tim dokter anak Rumah Sakit Islam Surakarta berhasil mempertahankan hidup bayi yang lahir imatur-lahir saat usia kandungan kurang tujuh bulan-hingga hampir tiga bulan. Padahal, usia bayi yang lahir imatur, menurut kalangan dokter dan bidan, biasanya bertahan hidup paling lama satu minggu.

Direktur Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Dr Djufrie Asmorejo SKM, Rabu (18/6), mengatakan, keberhasilan RSIS menunjukkan, bayi imatur yang selama ini divonis tak bisa bertahan hidup lebih dari seminggu, sesungguhnya tetap dapat tumbuh normal, asal tim medis mau telaten merawat.

"Kita selama ini lebih suka menganggap usia bayi imatur tidak bisa dipertahankan, padahal buktinya bisa. Dan ini merupakan tantangan bagi kami. Bahkan, di negara maju seperti Swedia, misalnya, bayi imatur 3,5 bulan pun dapat tetap hidup," ujar Djufrie.

Bayi imatur bernama Zaky Alfalah ini lahir pada tanggal 22 Maret 2003, saat usia kandungan ibunya, Nurul Khotimah (28), berusia sekitar enam bulan, atau 26 minggu lebih tiga hari. Saat lahir, berat Zaky 640 gram, panjang badan 30 sentimeter (cm), lingkar kepala 22 cm, dan lingkar dada 20 cm.

Ketua tim dokter anak yang menangani Zaky, Dr Endang Tatar SpA, menjelaskan, setelah lahir pihaknya berusaha sedapat mungkin menciptakan lingkungan bagi Zaky yang semirip mungkin dengan kondisi di dalam kandungan. "Zaky langsung kami tempatkan dalam inkubator. Kami juga menghindari Zaky dari benda-benda yang bersifat toxid atau racun," ujar Endang.

Selama Zaky berada di dalam inkubator, tim dokter dan bidan sangat memperhatikan suplai oksigen bagi Zaky. Selama dua bulan di dalam inkubator, Zaky menghabiskan 50 tabung oksigen, setiap tabung berisi 2.000 liter. Pemakaian oksigen cukup boros, menurut Endang, karena suplai tidak diberikan lewat hidung, melainkan dihembuskan langsung ke dalam inkubator. Dalam satu hari, Zaky menghabiskan satu tabung oksigen.

Endang mengatakan, selama satu minggu pertama, Zaky diberi air susu ibu (ASI) setiap 15 menit sekali setengah cc yang diberikan lewat pipet ke mulutnya selebar 4 milimeter. Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, pemberian ASI setiap 15 menit juga bertujuan merangsang sistem pencernaan bayi. "Mulut bayi sangat kecil sehingga ASI diberikan menggunakan pipet," jelas Endang.

Selama dirawat intensif, Zaky tumbuh normal. Kini, beratnya 2.600 gram dan lingkar kepala 34 sentimeter. Berat 2.600 gram tersebut, menurut Jufrie, sama dengan berat bayi saat dalam kandungan yang berusia sembilan bulan. "Jadi, hidup di luar rahim dan di dalam rahim hampir sama.

Endang menambahkan, hingga berusia 10 tahun nanti, Zaky harus mendapat pengawasan intensif karena bagaimanapun anak yang dahulunya lahir imatur memiliki kelemahan, terutama dalam perkembangan organ paru-paru dan otak. (ato/sie)

ASUPAN GIZI ANAK RENDAH

ASUPAN GIZI ANAK RENDAH

Jakarta, Kompas - Asupan gizi anak-anak SD di beberapa wilayah Indonesia sangat memprihatinkan. Padahal, asupan gizi yang baik setiap harinya dibutuhkan supaya mereka memiliki pertumbuhan, kesehatan dan kemampuan intelektual yang lebih baik sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul.

Kenyataan satatus gizi anak-anak SD yang memprihatinkan ini terungkap dari hasil penelitian terhadap 440 siswa SD berusia 7-9 tahun di Jakarta dan Solo, yang dipaparkan dalam diskusi soal status gizi anak sekolah di Jakarta Senin (10/12). Acara yang dihadiri pemerhati gizi, kesehatan, pendidikan, serta dunia usaha ini digagas Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).Saptawati Bardosono, ahli gizi dari UI, menjelaskan bahwa dari penelitian terhadap 220 anak di lima SD di Jakarta, asupan kalori anak-anak umumnya dibawah 100 persen dari kebutuhan mereka.

Dari total anak yang di teliti, 94,5 persen mengonsumsi kalori di bawah angka kecukupan gizi yang dianjurkan, yakni 1.800 kilo kalori. Untuk asupan protein sebanyak 64,5 persen di bawah batas kecukupan, zat besi sebesar 91,8 persen dan seng sebanyak 98,6 persen di bawah kebutuhan yang seharusnya. Temuan status gizi anak sekolah yang berasal dari keluarga tidak mampu di Solo, menurut Endang Dewi Lestari dari Universitas Sebelas Maret, Solo, kondisinya tidak jauh berbeda dengan di Jakarta.

Akan tetapi, yang mengejutkan sebanyak 220 anak dari 10 SD yang diteliti semuanya menderita defisiensi zat seng. Padahal, zat seng merupakan ko-faktor hampir 100 enzim yang mengatalisasi fungsi biologis yang penting. Seng juga dibutuhkan untuk memfasilitasi sintesis DNA dan RNA (metabolisme protein).Persoalan ini bukan diserahkan masalah kesehatan semata. Ada masalah sosial ekonomi dan sosialisasi pengetahuan soal gizi yang juga perlu diatasi. (ELN)


sumber: Kompas Selasa 11 Desember 2007

Parents risk children's health by choosing snacks over milk

,

Sunday, October 19, 2008 6:41 PMBe a member & get the benefits! Register or login

Parents risk children's health by choosing snacks over milk
The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 06/13/2008 10:03 AM | National

Indonesian children drink less milk than the minimum intake required for a healthy diet because their parents prefer to buy them snacks, nutritionists said Thursday.

Inadequate milk consumption can cause children to become deficient in calcium, vitamin D and other vitamins and minerals necessary for their growth, said Saptawati "Tati" Bardosono, a lecturer at the nutrition department at the University of Indonesia.

Worse, calcium deficiency can weaken children's resistance to diseases and inhibit their ability to learn.

"Ideally, school children need about 600 milligrams of calcium per day, which they can obtain by drinking two to three glasses of milk," she said.

She said many parents did not realize the benefits of milk and were therefore reluctant to spend money on it.

Her recent study in Jakarta and Surakarta in Central Java found most parents advised their children to spend their pocket money on snacks sold on the street, instead of on milk.

"Many parents think milk is too expensive. Actually, many milk producers sell milk in small packs at lower prices. If they can't afford cow's milk, they can replace it with soy milk, which is even cheaper," she added.

Tati and another nutritionist, Endang Dewi Lestari of Sebelas Maret University, conducted a joint study on milk consumption among elementary school students aged between 7 and 9 years old who live in poor districts in Jakarta and Surakarta.

The study found students who drank milk fortified with zinc for six months could think better than those who consumed regular milk.

Health Ministry data show Indonesians consume less milk than residents of neighboring countries.

In 2006, the average level of milk consumption was 7.7 liters per person per year, compared with Singapore's 32 liters per person per year, Malaysia's 25 liters per person per year and the Philippines' 11 liters per person per year.

Endang said replacing milk with other dairy foods was not sufficient.

"If parents want to replace milk with other dairy products that contain calcium, they should provide them for their children in greater quantities. It will be hard for children to eat that much," she said.

"Milk is the easiest way to get the benefits of calcium." (trw)

Download Opera, the fastest and most secure browser
November 2009
M T W T F S S
October 2009December 2009
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30