TUBERKULOSIS
Sunday, 19. October 2008, 12:05:10
Bayi berumur sembilan bulan itu tampak sehat-sehat saja. Tak ada penyakit berarti yang menyerangnya, tidak pula batuk-batuk. Tapi ada satu persoalan yang membuat Nita, ibundanya, gundah. Berat badan Lila tidak naik sesuai dengan usianya. Dokter spesialis anak langganan Nita mengatakan Lila baik-baik saja. "Tapi saya tetap ragu," kata dia.
Atas saran tetangganya, Nita, yang tinggal di Boyolali, kemudian memboyong si buah hati ke dokter spesialis paru di Solo. Setelah melewati serangkaian tes, akhirnya Lila diketahui terkena flek--nama populer tuberkulosis. Enam bulan minum obat tanpa henti, akhirnya Lila dinyatakan sembuh.
Nita menduga bakteri yang menyerang anaknya tujuh tahun silam itu berasal dari sang kakek. "Beliau memang batuk terus-menerus dan sering datang ke rumah mengasuh Lila," kata dia.
Langkah Nita mencari sumber penyakit anaknya dinilai oleh dokter spesialis anak Endang Tatar sudah tepat. Memang, kata dia, jika anak terserang tuberkulosis, harus ditemukan orang dewasa yang juga menderita tuberkulosis. "Dialah biang keroknya," katanya dalam seminar bertema “Batuk Kronis pada Anak” di Rumah Sakit Islam Surakarta, Kamis lalu.
Sesudah ditemukan, orang dewasa penyebar bakteri ini harus dipisahkan dan diobati sampai sembuh. Sebaliknya, kata Endang, anak penderita tuberkulosis tidak perlu dijauhkan dari keluarga karena tuberkulosis pada anak hingga usia kira-kira 15 tahun tidaklah menular.
Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Bambang Supriyatno menambahkan, tuberkulosis, yang juga beken dipanggil sebagai flek, paru-paru bolong, atau paru-paru kotor, itu dipicu oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Media penularan terbaik bakteri ini adalah udara. Berawal dari orang dewasa yang batuk dan menyemburkan bakteri-bakteri tersebut, lalu terhirup oleh anak-anak. Bakteri yang nyelonong masuk itu bersarang di paru-paru. Penyebab lainnya bisa juga orang dewasa yang meludah di sembarang tempat, lalu ludah itu terbawa angin dan sampai ke anak-anak.
Bakteri yang telah masuk tidak cuma ngendon di paru-paru. Mereka bergerilya ke seluruh tubuh, seperti selaput otak, hati, ginjal, dan tulang. Masa inkubasi tuberkulosis (waktu dari masuknya kuman hingga menjadi sakit), dia melanjutkan, berkisar 2-12 minggu.
Gejala yang sering ditemui adalah berat badan tidak kunjung naik, bahkan cenderung turun, demam lama tanpa penyebab yang jelas, nafsu makan menurun, dan batuk berkepanjangan, terkadang disertai keringat pada malam hari. Bambang menggarisbawahi, gejala-gejala itu biasanya disertai adanya orang dewasa yang menderita tuberkulosis di sekitar anak.
Meski semua gejala tuberkulosis terlihat terang-benderang, ucap Bambang, menegakkan diagnosis pada pasien anak lebih sulit ketimbang pada pasien dewasa. Sebab, ya, itu tadi, jauh lebih sulit menemukan kuman tuberkulosis yang menyangkut di dahak anak daripada dahak orang dewasa.
Kalau sudah begini, biasanya dokter menegakkan diagnosis melalui teknik anamnesis (tanya jawab antara dokter dan pasien atau orang tua pasien). "Baru kemudian dilakukan uji Mantoux atau uji tuberkulin, foto roentgen dada, dan pemeriksaan laboratorium," kata Bambang.
Uji Mantoux diawali dengan menyuntikkan zat PPD tuberkulin di bawah kulit pergelangan tangan anak. Dalam waktu 48 hingga 72 jam akan diketahui hasilnya, berupa warna merah pada tempat suntikan. Seorang anak dicurigai mengidap tuberkulosis bila lebar warna merah tersebut lebih dari satu sentimeter.
Sayangnya, banyak orang tua yang enggan menjalankan uji Mantoux karena lebih percaya dengan roentgen. Padahal pilihan ini salah. Sebab, hasil roentgen belum bisa menegaskan penyakit yang diidap itu tuberkulosis atau bukan tanpa ada diagnosis lainnya.
Bambang melanjutkan, pengobatan tuberkulosis dengan antituberkulosis memerlukan waktu minimal enam bulan dengan minimal dua macam obat yang harus diminum tiap hari. Agar disiplin tetap terjaga, dikenal istilah directly observed therapy shortcourse, yaitu pengobatan dengan pengawasan ketat dari orang yang disegani anak.
Kegagalan pengobatan tuberkulosis biasanya lantaran si anak bosan menelan obat. Setelah diobati selama satu-dua bulan, biasanya berat badan anak naik, tak lagi demam, sehingga anak merasa telah membaik dan obat tak diminum lagi. "Justru ini sangat berbahaya karena kuman menjadi resistan," ujarnya.
Jika sudah demikian, penderita tuberkulosis pun kebal terhadap obat, sehingga pengobatannya bergeser jadi lebih rumit. Tak aneh, karena masih banyaknya penyakit tuberkulosis pada anak, imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) masih dianjurkan. Bukan berarti anak yang telah diberi imunisasi BCG tidak lagi kena tuberkulosis. Tapi paling tidak tuberkulosis yang diidapnya lebih ringan. PITO AGUSTIN RUDIANA (Solo)









How to use Quote function: