Sunday, 19. October 2008, 14:54:45
susu

Rabu, 09 Juli 2008
Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki produk susu spesifikasi umur lebih dari dua. Padahal, di negara lain spesifikasi produk susu hanya terbagi menjadi dua, yaitu susu formula dan susu umum.
"BPOM hanya mengklasifikasikan menjadi tiga, susu untuk usia 0-6 bulan (susu formula), untuk usia 6-12 bulan (follow on I), dan untuk usia 12 bulan-13 tahun (follow on II). Tapi sekarang ini muncul susu formula 4 plus, 5 plus. Kami terus terang sulit mengatur hal tersebut," ujar Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan POM Irawati di Jakarta.
Hal ini juga diungkapkan dokter spesialis anak dari Universitas Sebelas Maret, dr Endang Dewi Lestari, saat menanggapi pernyataan Irawati tersebut. Dia mengaku heran dengan adanya susu dengan label batasan usia yang spesifik ini. "Memang benar. Ini mungkin sebagai upaya untuk suplemen gizi untuk anak-anak. Tapi saya dan dokter anak lain suka tertawa melihat susu dengan label-label tertentu seperti itu. Ini hanya di Indonesia lho, di luar negeri itu tidak ada," ungkapnya.
Sunday, 19. October 2008, 14:38:57
susu
Dokter Spesialis Anak : Lebih 4 Jam Susu Harus Dibuang
oleh Rahajeng Kartika AP pada 28-02-2008
Hasil penelitian tim dari IPB tentang adanya susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii menyentak masyarakat. Bagaimana dokter spesialis anak menyikapi hasil penelitian itu? Berikut petikan perbincangan reporter Harian Joglosemar, Rahajeng Kartika AP dengan dokter spesialis anak RS dr Moewardi, yang juga adalah pengajar di Fakultas Kedokteran UNS, dr Endang Tatar.
Apa pandangan Anda menyikapi hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari IPB itu?
Saya tidak tahu kebenaran dan kesahihan hasil penelitian ini.
Sebab seharusnya penelitian yang benar-benar sahih ada di Jurnal Ilmiah Terakreditasi. Dan saya rasa ini penting adanya. Saya tidak begitu tahu karena sepertinya peneliti dari IPB ini berasal dari dokter hewan. Penelitian yang sudah masuk dalam jurnal ilmiah juga belum tentu semuanya bisa dipakai hasilnya. Bila seseorang ingin menggunakan hasil penelitian, tentunya harus dikaji ulang lebih lanjut lagi.
Jadi dalam sebuah penelitian tidak mudah dan tidak bisa dilakukan secara cepat. Dalam sebuah penelitian harus mampu mempertanggungjawabkan penelitian tersebut dan mempublikasikannya di Jurnal Ilmiah. Setelah dipublikasikan, dan dibaca oleh pembaca yang berkompeten, harus dikritisi ulang lagi dengan metode Evident Base Medicine (EBM). Barulah dapat disimpulkan bahwa sebuah penelitian itu layak. Secara pribadi saya kurang begitu setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh IPB. Itu terkesan tergesa-gesa.
Secara umum, apakah susu formula potensial mengandung bakteri?
Secara umum, menurut sisi medis, suatu susu formula ini layak dikonsumsi apabila sudah melalui uji kelayakan, untuk mengetahui bahwa susu layak dikonsumsi. Biasanya suatu produk atau merek tertentu dinyatakan aman untuk dikonsumsi apabila BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan, —red) sudah menyatakan layak konsumsi. Biasanya dalam proses pengolahan susu yang benar telah memenuhi standar higienis untuk produk-produk yang dibuat di perusahaan besar.
Namun tidak menutup kemungkinan pabrik besar pun peralatannya kurang steril. Yang namanya kemungkinan selalu ada. Namun bisa jadi kuman itu muncul dari proses pembuatannya. Jadi susu kemasan ini bebas kuman, namun apabila dalam pembuatannya peralatan yang digunakan atau mungkin airnya yang kotor, otomatis tetap saja terkontaminasi kuman.
Susu yang potensial mengandung kuman itu kondisinya seperti apa?
Secara kasat mata sangat tidak mudah menentukan apakah susu ini mengandung kuman atau tidak, sebab bakteri tidak terlihat dengan mata telanjang. Susu yang potensial mengandung kuman yang kondisinya rusak. Lebih baik apabila mendapati susu yang sudah berbau serta berubah warna tidak perlu dikonsumsi sebab besar kemungkinan kuman akan mencemari susu tersebut. Jika Anda mendapati susu dalam kemasan yang kemasannya terbuka atau bahkan bocor sebaiknya urungkan niat Anda untuk membelinya.
Dua tahun yang lalu Anda pernah melakukan suatu penelitian tentang lama masa konsumsi susu, bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai penelitian tersebut?
Dua tahun lalu, saya memang pernah mengadakan suatu penelitian yang terbatas lokal saja, dalam artian penelitian saya digunakan sepenuhnya untuk kepentingan pihak rumah sakit semata, sebab pada waktu itu saya menjabat sebagai Kepala Instansi Gizi di RS dr Moewardi. Pada prinsipnya saya meneliti sekitar 12 jenis makanan sonde, produk bubur dan susu formula yang selama ini diberikan RS untuk pasiennya.
Tujuan dari penelitian saya ini untuk mengetahui seberapa amankan produk-produk ini dikonsumsi untuk pasien. Kemudian saya mulai meneliti susu. Beberapa jenis produk susu dibuat secara alamiah yang dilarutkan dalam air dan ditempatkan diwadah, kemudian diambil beberapa sampel. Mulai dari jam ke 0 hingga jam ke 6 diteliti ada tidaknya koloni kuman. Dari penelitian ini diketahui bahwa dalam susu, rata-rata pada jam ke 4 koloni-koloni kumannya bertambah banyak.
Walaupun ada beberapa jenis susu yang baru dua jam saja kuman-kumannya sudah berkoloni, namun besar kemungkinan itu karena proses pembuatannya yang kurang steril, airnya atau bahkan tempatnya. Dari penelitian ini diambil kesimpulan bahwa susu yang lebih dari 4 jam harus segera dibuang. Namun alangkah baiknya jika begitu membuat susu, langsung konsumsi untuk menghindari berkoloninya kuman. Selain itu saya simpulkan juga bahwa timbulnya bakteri tergantung pada proses pembuatan, air yang digunakan, udara serta tempat.
Apa imbauan Anda untuk masyarakat?
Saya mengimbau untuk masyarakat supaya tidak terlalu resah dengan hal semacam ini. Tunggu saja instruksi dari Menkes sebab sudah ada tim khusus yang menyelidiki mengenai penelitian ini lebih lanjut toh selama ini tidak ada kasus berat yang disebabkan karena minum susu. (***)