Skip navigation.

ANAK SEHAT ANAK CERIA.......

Endang Tatar

OBESITAS, BAGAIMANA PENANGANANNYA?

,

Maraknya makanan siap saji, gaya hidup sedentari (kurang aktifitas) dan meningkatnya media komunikasi tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga sampai di kota-kota kecil di seluruh daerah di Indonesia, mampu mempengaruhi perubahan perilaku makan dan perilaku hidup sehat pada anak-anak sehingga beberapa dari mereka menjadi gemuk sampai akhirnya menderita kegemukan (obesitas).

Dr. Endang Tatar, MPH, SpA(K)
Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik
Bagian Anak RSUD dr. Moewardi Surakarta


Maraknya makanan siap saji, gaya hidup sedentari (kurang aktifitas) dan meningkatnya media komunikasi tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga sampai di kota-kota kecil di seluruh daerah di Indonesia, mampu mempengaruhi perubahan perilaku makan dan perilaku hidup sehat pada anak-anak sehingga beberapa dari mereka menjadi gemuk sampai akhirnya menderita kegemukan (obesitas). Keadaan ini akan menjadi semakin parah bila orang tua menganggap bahwa anak dengan obesitas itu sehat dan lucu. Obesitas bukan merupakan sesuatu hal yang membanggakan! Obesitas pada masa anak-anak dan remaja berdampak secara signifikan terhadap kesehatan fisik maupun psikologis anak dimasa sekarang maupun di masa mendatang. Untuk mencegah komplikasi medis dan psikologis dari obesitas, maka penanganan harus dilakukan sedini mungkin.

Apa itu obesitas?
Obesitas adalah penimbunan lemak yang berlebih pada jaringan tubuh. Obesitas dapat dikenali dengan dengan tanda dan gejala sebagai berikut: dagu rangkap, leher relatif pendek, dada yang menggembung dengan payudara yang membesar mengandung lemak, perut membuncit dan dinding perut berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk X dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling menempel menyebabkan laserasi dan ulserasi yang dapat menimbulkan bau tak sedap. Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena terbenam dalam jaringan lemak suprapubik.
Komite ahli merekomendasikan pendekatan secara obyektif berdasarkan pada sentil indeks masa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI). Keuntungan utama dari penggunaan IMT adalah praktis, obyektif dan mempunyai nilai biologis. IMT pada anak-anak dan remaja lebih rendah dibanding dengan IMT pada dewasa sehingga definisi batasan IMT untuk dewasa tidak dapat digunakan (IMT>30)17. Selama masa anak-anak dan remaja, IMT berubah berdasarkan umur dan berbeda antara laki-laki dan perempuan, sehingga diperlukan data umur dan jenis kelamin untuk menginterpretasikan pengukuran. IMT merupakan petunjuk untuk menentukan kelebihan berat badan berdasarkan berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2). Berdasarkan konsensus terbaru, IMT lebih dari atau sama dengan persentil ke-95 merupakan patokan nilai obesitas pada anak-anak dan remaja.

Apakah anak saya obesitas?
Beberapa grafik berikut dapat digunakan untuk mengukur apakah anak anda termasuk obesitas. Gambar 1 menunjukkan cara menghitung IMT (BMI) untuk anak dan remaja. Hasil penghitungan dibagi menjadi 4 kategori, yaitu underweight, normal weight, at risk of overweight dan overweight. Overweight yang dimaksud disini adalah masuk pada kategori obesitas. Garis mendatar menggambarkan umur anak, sedangkan garis vertikal menggambarkan nilai IMTnya. Hitung IMT dan letakkan IMT anak anda pada pada gambar grafik . Apakah anak anda termasuk obesitas?

Gambar 1: Persentil BMI anak perempuan berumur 2 tahun- 20 tahun.

Apa yang menyebabkan anak menderita obesitas?
Pada prinsipnya, obesitas disebabkan oleh ketidak seimbangan antara asupan makan dan keluarannya. Artinya, asupan makanan kemungkinan sesuai dengan anak lain usia sebayanya tetapi anak kurang melakukan kegiatan aktifitas harian dengan mengeluarkan tenaga, misalnya: pergi ke sekolah diantar dengan mobil, naik tangga dengan eskalator, mempunyai kegemaran nonton TV maupun main game ber jam-jam, dsb. Atau, anak mempunyai kebiasaan makan berlebih dengan mengkonsumsi makanan berkalori tinggi, misalnya: burger, pizza, dan makanan lain dengan kadar kalori yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya keseimbangan positif pada masukan kalori pada anak. Keadaan tersebut akan menyebabkan anak menderita obesitas. Bahkan, kelebihan asupan 100 kalori perhari yang terjadi secara terus menerus juga akan menyebabkan anak menderita obesitas!

Apa dampak dari obesitas pada anak?
Obesitas pada masa anak-anak cenderung akan melanjut menjadi obesitas pada masa dewasa dengan dampak pada masalah kesehatannya. Dampak kesehatan dari obesitas juga dapat terjadi pada masa anak dan remaja. Beberapa dampak obesitas meliputi penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah termasuk hipertensi, perlemakan hati sampai terjadinya sirosis hati, penyakit-penyakit pernapasan (terbangun saat tidur karena napas berhenti, tidur mengorok, asma dsb), penyakit kulit (jamuran pada lipatan-lipatan), penyakit ortopedik/tulang (tergelincirnya pangkal tulang tungkai maupun lutut), gangguan psikososial (depresi, gangguan makan/perilaku makan, isolasi sosial), gangguan metabolik dan endokrin (resisten insulin, diabetes tipe 2, menstruasi tak teratur), dsb.

Bila anak saya termasuk obesitas, bagaimana menanganinya?Obesitas merupakan penyakit kronis yang sulit diatasi; karena itu yang utama adalah kesiapan orang tua dan kemauan untuk melakukan perubahan! Usaha apapun tidak akan berhasil bila tidak disertai dengan kemauan orang tua dan anak untuk melakukan perubahan. Jika anak atau keluarganya tidak memahami masalahnya, maka penanganannya menjadi sulit. Tiga komponen primer dari penanganan anak dengan obesitas adalah modifikasi diet, meningkatkan aktifitas fisik, dan modifikasi perilaku untuk anak yang obesitas dan keluarganya.

Modifikasi Diet
Penanganan obesitas mempunyai beberapa cara tatalaksana diet. Penanganan obesitas pada anak dan remaja berbeda dengan pada dewasa, mereka masih memerlukan tumbuh dan berkembang sehingga mereka tidak diperbolehkan untuk mengikuti diet yang ketat. Prinsip penanganan diet pada anak adalah tetap menyediakan makanan dengan nutrien yang cukup optimum (nutrisi seimbang), serta yang perlu diperhatikan adalah membiasakan anak untuk makan sehat. Anak berumur <2 tahun tidak perlu dilakukan penanganan diet khusus, karena pada masa ini, otak anak perlu tumbuh dan berkembang dengan cepat.
Bila anak berumur >2 tahun dan < 7 tahun dengan kelebihan berat badan tanpa penyakit penyerta maka yang terpenting adalah mempertahankan berat badan semasa pertumbuhannya dengan mengubah diet dan aktifitas fisik secara sederhana sambil memantau pertumbuhan agar mencapai berat badan ideal; IMT anak akan berubah, anak masih tetap tumbuh dengan bertambahnya tinggi badan. Tetapi, jika pada anak <7 tahun tersebut mempunyai penyakit penyerta (misalnya: hipertensi, diabetes atau perlemakan hati, dsb), maka berat badan anak perlu diturunkan secara bertahap. Bila anak berumur >7 tahun, IMT pada 85-95 persentil, tanpa penyakit penyerta, maka direkomendasikan untuk mempertahankan berat badan dalam jangka waktu yang lama untuk merubah IMT, tetapi bila mempunyai penyakit penyerta maka berat badannya harus diturunkan. Sedangkan pada anak > 7 tahun dengan nilai IMTnya > 95 persentil, mempunyai maupun tidak mempunyai penyakit penyerta, maka kelebihan berat badan anak tersebut harus diturunkan secara bertahap. Gambar 4 berikut adalah alur tatalaksana obesitas pada anak.

Mengatur makanan anak
Hanya dengan mengeliminasi makanan kecil, mengurangi makanan mengandung tinggi gula/lemak atau minuman-minuman manis dapat menghasilkan penurunan berat badan. Asosiasi Jantung Amerika (AHA) secara umum merekomendasikan pemberian diet untuk anak berumur 2 tahun atau lebih untuk mengkonsumsi makanan bersandar pada makanan jenis buah-buahan, sayuran, biji-bijian, susu rendah dan bebas lemak, kedelai, ikan, dan sedikit daging. Pemberian ikan pada anak dan remaja direkomendasikan untuk diberikan sebanyak seminggu 2 kali pemberian; ikan yang dimaksud adalah bukan ikan asin (ikan kering), karena ikan kering kurang mengandung asam lemak omega 3.

Cara mengatur makanan lain yaitu dengan cara diet traffic light, makanan dibagi dalami kelompok seperti warna traffic light. Makanan-makanan dikategorikan kedalam ”makanan hijau” yaitu makanan yang dapat dimakan dalam jumlah tanpa batas, sebagai contoh makanan non fat/low fat adalah: ikan, sebagian besar buah-buahan dan sayur-sayuran, susu rendah/bebas lemak, keju bebas lemak. ”Makanan kuning” merupakan makanan yang boleh dimakan dengan hati-hati (makanan rendah lemak sampai medium, seperti: roti/pasta dari padi-padian, taoge, gandum, ubi rambat). Makanan dalam kategori ”kuning” boleh dikonsumsi secara terbatas yaitu hanya dalam waktu makan. Yang termasuk ”makanan merah” adalah makanan yang tidak boleh dimakan atau boleh dimakan hanya seminggu sekali, meliputi: makanan tinggi lemak, kacang-kacangan, margarin, cokelat, kembang gula, makanan digoreng, salami. Diet dengan cara mengurangi konsumsi makanan dalam kelompok ”makanan merah” menunjukkan keberhasilan bila dikombinasikan dengan komponen perubahan perilaku dan aktifitas fisik. Diet tersebut sama dengan diet rendah lemak jenuh, gula dan garam, serta makan banyak sayuran dan buah.
Diet tinggi serat dapat membantu menurunkan berat badan karena tinggi serat mengakibatkan rasa kenyang (walaupun rendah kalori) sehingga dapat menurunkan asupan makan, selain itu tinggi serat juga meningkatkan oksidasi lemak. Tetapi, diet tinggi serat pada anak perlu hati-hati karena diet tinggi serat juga akan mengakibatkan mineral yang penting untuk proses tumbuh kembang anak ikut keluar. Pemberian jumlah makanan berserat yang dianjurkan untuk anak>2 tahun adalah (umur dalam tahun+5) g per hari. Dalam melakukan pengaturan diet, perlu diperhatikan asupan dengan kandungan garam cukup, yaitu 5 g per hari serta masukan zat besi, kalsium dan fluor. Anak harus makan makanan seimbang yaitu dengan sumber karbohidrat, lemak dan protein yang cukup. Karbohidrat sebaiknya berkisar 50-60%, lemak 20-30%, dan protein 15-20% sehingga cukup untuk tumbuh kembang normal.

Jumlah kalori yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan normal yaitu sesuai dengan berat badan ideal menurut tinggi badannya. Bila pada awal penanganan didapatkan bahwa anak telah mengkonsumsi makanan dengan jumlah kalori yang berlebihan, maka pada diet berikutnya perlu dilakukan pengurangan jumlah asupan kalorinya, yaitu berkisar 200-500 kalori sehari, agar berat badan tidak selalu bertambah, atau dengan target penurunan berat 0,5 kg per minggu. Jika kita mentargetkan penurunan berat badan, maka penurunan badan ditargetkan sampai mencapai 10% di atas berat badan ideal. Tetapi, bila kita tidak mentargetkan penurunan berat badan, maka yang terpenting adalah mempertahankan berat badan agar tidak bertambah karena anak masih bertambah tinggi.

Diet dengan kalori sangat rendah
Diet ini diterapkan pada anak dan remaja yang obesitas yang disertai penyakit penyerta dan tidak memberkan respons terhadap anjuran diet diatas. Tujuan pemberian diet sangat rendah kalori ini adalah jika berat badannya >140% BB ideal (superobes). Protein hewani dianjurkan dikonsumsi 1,5-2,5 g/kg BB ideal, minum lebih dari 1,5 L cairan per hari, suplementasi vitamin dan mineral. Diet ini hanya boleh diterapkan selama 12 minggu dengan pengawasan dokter. Pemberian diet cara ini mempunyai efek samping yaitu: terbentuknya batu empedu, diare, kekurangan protein, tekanan darah rendah.

Latihan Fisik
Latihan fisik dimaksudkan untuk mengurangi gaya hidup sedentari dan meningkatkan penggunaan energi untuk mengeluarkan kalori., meningkatkan masa muskuler, dan membantu mengkontrol berat badan. Latihan fisik perlu dilakukan secara teratur, selama 30-60 menit per hari. Latihan fisik saja jarang membawa keberhasilan dalam menurunkan berat badan, tetapi lathan fisik dikombinasikan dengan diet dapat merupakan cara untuk meningkatkan gaya hidup sehat dan rasa harga diri. Beberapa program yang digunakan untuk latihan fisik adalah dengan menggunakan cara berjalan sepanjang 1 mil sebagai standar awal, kemudian secara bertahap jarak dan kecepatannya ditingkatkan. Konsep lain dengan latihan mengubah gaya hidup, yaitu usaha membuat lebih banyak aktifitas fisik dengan aktifitas reguler, seperti berjalan naik turun tangga dan memarkir mobil jauh dari tujuan. Cara ini lebih mudah dan bertahan dalam waktu yang lama, serta dapat dimodifikasi berdasarkan umur dan kemampuan perkembangan anak.

Perubahan Perilaku
Intervensi perilaku merupakan komponen yang paling penting dalam penanganan obesitas. Program perubahan perilaku bukan merupakan program yang mudah untuk diterapkan; dalam penerapannya sangat diperlukan keterlibatan orang tua secara intensi. Program perilaku mempunyai tiga komponen, yaitu: 1) mengkontrol lingkungan, 2) monitoring diri sendiri, 3) membuat perjanjian yang realistik. Perubahan lingkungan rumah dapat dilakukan dengan cara meniadakan makanan risiko tinggi, belanja dan memasak makanan disesuaikan dengan resep diet yang disarankan. Anak diberitahu untuk meregulasi perilakunya, seperti mengurangi ngemil didepan televisi/game, mengurangi waktu untuk menonton televisi/memainkan game, mengurangi jajan di sekolah, dsb. Menonton TV/game sebaiknya <2 jam perhari, membiasakan anak untuk tidak minum manis (larutan gula dalam minuman), membiasakan anak melakukan aktifitas fisik merupakan contoh target perilaku yang realistik yang dapat diterapkan oleh anak dengan obesitas dan keluarganya. Tujuan penanganan perubahan perilaku harus realistik dan dapat dicapai.

Ringkasan
Obesitas pada anak merupakan awal dari obesitas pada dewasa dengan segala dampak buruknya. Prevalensinya cenderung meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang terjadi karena balans energi positif dalam jangka waktu yang lama. Penanganan obesitas harus dilakukan sejak dini, dan dilakuan secara komprehensif. Penanganan kasus obesitas pada anak dengan cara modifikasi diet, aktifitas fisik dan perubahan perilaku harus dilakukan secara simultan. Pemberian modifikasi diet pada penangananan anak dan remaja dengan obesitas adalah dengan menerapkan gizi seimbang untuk pencapaian tumbuh kembang. Dalam menangani anak dengan dengan obesitas diperlukan keterlibatan keluarga secara aktif.

Daftar Pustaka
1.Reily JJ. Obesity in childhood and adolescence: evidence based clinical and public health perspectives. Postgraduate Medical Journal. 2006;82:429-437.
2.Schneider MB, Brill SR. Obesity in Children and Adolescents. (Pediatrics in Review. 2005;26:155-162.
3.Guo SS, Chumlea WC. Tracking of body mass index in children in relation to overweight in adulthood. Am J Clin Nutr. 1999;70(suppl) :145S –148S.
4.Reilly JJ, Methven E, McDowell SC, et al. Health consequences of obesity: systematic review. Arch Dis Child. 2003;88:748–52.
5.Whitaker RC, Wright JA, Pepe MS, Seidel RD, Dietz WH. Predicting obesity in young adulthood from childhood and parental obesity. N Engl J Med. 1997;337:869-873.
6.The World Health Report, 2006 Ed. Diunduh dari: http://www3.who.int/whosis/core/core_select_process.cfm

NUTRISI ENTERALKau sudah dewasa Gilang....

Comments

Anonymous 4. May 2008, 08:04

Anonymous writes:

Tes

How to use Quote function:

  1. Select some text
  2. Click on the Quote link

Write a comment

Comment
(BBcode and HTML is turned off for anonymous user comments.)

If you can't read the words, press the small reload icon.


Smilies

Download Opera, the fastest and most secure browser
December 2009
M T W T F S S
November 2009January 2010
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31