HATI2 PENIPUAN GAYA BARU
Monday, 9. July 2007, 07:40:38
ini bukan soal Marketing, tapi baik untuk di share. Agar kita atau
kerabat kita tidak mengalami nasib serupa.
Begini kisahnya : Temannya teman saya yang juga teman saya mengalami
nasib sial yang teramat sial. Kalau kata orang, sudah jatuh ketimpa
tangga plus cat, batu bata dan perlengkapan pertukangan lainnya. APES.COM
Karena butuh dana yang sangat mendesak, temannya teman saya yang
juga teman saya tersebut memutuskan untuk melego mobil APV yang
notabene didapatkan dari "tadangan" tetesan keringat selama bertahun-tahun.
Semua berawal saat Mas Gun (Bukan nama sebenarnya, karena nama
sebenarnya adalah Guntar Somawidjaja) memasang iklan baris di kompas
pada hari Rabu, 13 Juni 2007 lalu. Agar bisa nego, sekaligus
mengetahui harga penawaran tertinggi, maka Mas Gun memutuskan, tidak
mencantumkan harga jual. Dalam hati sih, udah dipatok harga Rp 83
juta. Syukur-syukur kalo bisa lebih.
Pukul 05.15, telepon sudah mulai berdering. Bahkan ayam tetangga
yang biasanya berkokok saban pagi, terbangun oleh kringan telepon di
rumah Mas Gun yang rada-rada jadul. Penawar pertama membuka angka Rp
81.5 juta. Mas Gun sedikit tersenyum, yakin akan ketemu penawar yang
sesuai ekspektasinya. Penawar kedua, turun ke Rp 80 juta, penawar
berikutnya tidak jauh dari dua angka tersebut. Kalau dalam bahasa
statistik disebut sebagai batas bawah dan batas atas. Mas Gun mulai
ga yakin. Nah......... ......., pucuk dicinta pucuk tiba
(maaf....sampai saat ini, saya belum mengerti arti kata "ulam"),
dari sekian penawar tiba-tiba ada yang memberikan penawaran luar
biasa. Cash Rp 87 juta. Luar biasa. Angka ini, juga ada dalam
statistik, biasa disebut sebagai out layer, kerennya disebut
PENCILAN. Karena tidak terbiasa mengutak atik SPSS (software
statistik), maka Mas Gun tidak menaruh curiga terhadap penawar
dengan angka ini.
Saking senangnya, mas Gun langsung menekan tombol DEAL dan tidak
lagi mendengarkan saran temannya agar memilih NO-DEAL lalu mencoba
membuka koper yang lain. "87 juta gi tu loh....." mungkin begitu
teriak batinnya.
Irwan (bukan nama sebenarnya, atau mungkin nama sebenarnya ???),
sang penawar menentukan tanggal dan tempat transaksi. "dua hari lagi
(Jumat, 15 Juni 2007) di Gedung Patrajasa Lt 3 MT Haryono Jakarta,
kebetulan saya bekerja di gedung ini" katanya. Irwan memberitahukan
bahwa yang akan membeli adalah atasannya sendiri.
Tanpa diketahui oleh Mas Gun, Irwan memasang iklan di media yang
sama dengan jenis mobil yang sama tapi yang dicantumkan nomor
telepon berbeda. Ya... mungkin nomor telepon Irwan. Harga mobil APV
ini dijual cukup murah, hanya Rp 70 juta.
Dalam beberapa jam saja, puluhan penawar telah menghubungi nomor
yang dicantumkan, ternyata Irwan sudah berniat buruk. Dari sekian
banyak penawar, yang di pilih adalah penawar Wanita. Si Irwan pun
memesan pada sang Wanita agar saat pembayaran, uang tidak langsung
diberikan kepada pemilik mobil. Karena yang akan menjual mobil
adalah kawannya yang berhutang kepadanya, jadi di potong hutangnya
dulu. Dan, si wanita menyanggupi.
Singkat cerita (emangnya siapa yang manjang-manjangin ?),
berangkatlah Mas Gun bersama sopirnya ditemani mas Irwan ke Gd.
Patrajasa lt 3. Sambil menunggu kedatangan si Wanita (sang bos,
menurut versi Irwan), Mas Gun diminta menuliskan kuitansi di atas
materai, menyiapkan surat-surat kendaraan dan dokumen lainnya. Tak
lama berselang, si Wanita hadir ditempat yang sudah ditentukan. Si
Wanita hadir bersama tiga anak lelakinya. Mungkin mobil APV ini buat
salah satu dari ketiga anaknya tersebut. Who ever lah..!
Setelah cek fisik sana-sini, Si Wanita setuju membeli mobil APV
tersebut dan melakukan pembayaran. Sesuai pembicaraan sebelumnya,
uang diserahkan kepada Irwan. Mas Gun cuek aja, dia fikir itu khan
bawahannya, mungkin mau dihitung dulu atau apalah. Mas Gun diminta
untuk menyerahkan kuitansi dan semua dokumen kepada si Wanita,
tujuannya agar si Wanita bisa melakukan cek dan ricek terhadap
keabsahan dokumen kendaraan tersebut. Saat si wanita melakukan cek
dokumen, si Irwan menawarkan kepada dua dari tiga anak lelaki si
Wanita untuk melakukan test drive terlebih dahulu. Mas Gun juga
setuju, "coba dulu aja, biar ga nyesel ... mobil ini sangat terawat
koq, sama seperti saya", ungkapnya berpromosi. Jadilah, Irwan, 2
anak lelaki dan Sopir Mas Gun melakukan test drive. Si Wanita dan
Mas Gun sama sekali tidak menaruh curiga.
Sekitar 5 menit berlalu, dan setelah puas memeriksa dokumen, si
Wanita memulaibuka obrolan, "kenapa dijual mas ?"
"Orang tua saya ngasih mobil baru, jadi yang ini dijual dan dananya
buat liburan aja" jawab guntar
"Emangnya ibu deal berapa ?" guntar balik bertanya.
"Rp 70 juta", belum sempat guntar berfikir...si Wanita ngomong lagi
"oooo....saya kira buat bayar hutang, makanya dijual sangat murah".
Mas Gun mulai merasakan ada kejanggalan. Instingnya mulai bekerja.
Indera keenamnya mencium aroma tak beres. (klo untuk mencium sih, ga
usah pakai indera ke enam kali yaaa...?).
"Irwan bawahan Ibu khan?" tebak...ini kalimat siapa ?
"Bukan..., loh bukannya dia teman bapak ?" .....selanjutnya tebak
sendiri kalimat siapa....... ......... ...
"Waduh, ga beres nih........, anak ibu yang ikut punya hape ?"
"Ada"
"telponin dong.."
"ok........ ...Hallo. .."
"yaaaa..hallo, ada apa ma ?"
"Mas yang tadi megang duit ada disitu ga ?"
"Ga ada ma, tadi turun di lantai dua.. katanya mau nyetorin uangnya
ke bank Mandiri, katanya ga aman megang duit banyak-banyak"
GUBRAKKKKKKKKKK. ....!!! Mas Gun kehilangan keseimbangan ..........
"Ya, udah segera kembali ke sini..."
Setelah kedua KORBAN menghadap Polsek setempat, Mas Gun dinyatakan kalah.
Mobil dibawa pulang oleh si Wanita.
Beberapa hari kemudian, takut membawa sial, mobil tersebut di jual
lagi... dan laku dengan harga Rp 80 juta.
Si Wanita, mengambil pokoknya..lalu lebihnya sebesar Rp 10 juta
diserahkan kepada mas Gun.
Kalau tidak jadi berlibur keliling eropa, mungkin dengan Rp 10 juta,
bisa keliling PRJ selama ulang tahun kota Jakarta.
Lumayanlahhhhhhhh. ......... ........
Note :
Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi kepada kita semua. So, Dont try it at home.
kerabat kita tidak mengalami nasib serupa.
Begini kisahnya : Temannya teman saya yang juga teman saya mengalami
nasib sial yang teramat sial. Kalau kata orang, sudah jatuh ketimpa
tangga plus cat, batu bata dan perlengkapan pertukangan lainnya. APES.COM
Karena butuh dana yang sangat mendesak, temannya teman saya yang
juga teman saya tersebut memutuskan untuk melego mobil APV yang
notabene didapatkan dari "tadangan" tetesan keringat selama bertahun-tahun.
Semua berawal saat Mas Gun (Bukan nama sebenarnya, karena nama
sebenarnya adalah Guntar Somawidjaja) memasang iklan baris di kompas
pada hari Rabu, 13 Juni 2007 lalu. Agar bisa nego, sekaligus
mengetahui harga penawaran tertinggi, maka Mas Gun memutuskan, tidak
mencantumkan harga jual. Dalam hati sih, udah dipatok harga Rp 83
juta. Syukur-syukur kalo bisa lebih.
Pukul 05.15, telepon sudah mulai berdering. Bahkan ayam tetangga
yang biasanya berkokok saban pagi, terbangun oleh kringan telepon di
rumah Mas Gun yang rada-rada jadul. Penawar pertama membuka angka Rp
81.5 juta. Mas Gun sedikit tersenyum, yakin akan ketemu penawar yang
sesuai ekspektasinya. Penawar kedua, turun ke Rp 80 juta, penawar
berikutnya tidak jauh dari dua angka tersebut. Kalau dalam bahasa
statistik disebut sebagai batas bawah dan batas atas. Mas Gun mulai
ga yakin. Nah......... ......., pucuk dicinta pucuk tiba
(maaf....sampai saat ini, saya belum mengerti arti kata "ulam"),
dari sekian penawar tiba-tiba ada yang memberikan penawaran luar
biasa. Cash Rp 87 juta. Luar biasa. Angka ini, juga ada dalam
statistik, biasa disebut sebagai out layer, kerennya disebut
PENCILAN. Karena tidak terbiasa mengutak atik SPSS (software
statistik), maka Mas Gun tidak menaruh curiga terhadap penawar
dengan angka ini.
Saking senangnya, mas Gun langsung menekan tombol DEAL dan tidak
lagi mendengarkan saran temannya agar memilih NO-DEAL lalu mencoba
membuka koper yang lain. "87 juta gi tu loh....." mungkin begitu
teriak batinnya.
Irwan (bukan nama sebenarnya, atau mungkin nama sebenarnya ???),
sang penawar menentukan tanggal dan tempat transaksi. "dua hari lagi
(Jumat, 15 Juni 2007) di Gedung Patrajasa Lt 3 MT Haryono Jakarta,
kebetulan saya bekerja di gedung ini" katanya. Irwan memberitahukan
bahwa yang akan membeli adalah atasannya sendiri.
Tanpa diketahui oleh Mas Gun, Irwan memasang iklan di media yang
sama dengan jenis mobil yang sama tapi yang dicantumkan nomor
telepon berbeda. Ya... mungkin nomor telepon Irwan. Harga mobil APV
ini dijual cukup murah, hanya Rp 70 juta.
Dalam beberapa jam saja, puluhan penawar telah menghubungi nomor
yang dicantumkan, ternyata Irwan sudah berniat buruk. Dari sekian
banyak penawar, yang di pilih adalah penawar Wanita. Si Irwan pun
memesan pada sang Wanita agar saat pembayaran, uang tidak langsung
diberikan kepada pemilik mobil. Karena yang akan menjual mobil
adalah kawannya yang berhutang kepadanya, jadi di potong hutangnya
dulu. Dan, si wanita menyanggupi.
Singkat cerita (emangnya siapa yang manjang-manjangin ?),
berangkatlah Mas Gun bersama sopirnya ditemani mas Irwan ke Gd.
Patrajasa lt 3. Sambil menunggu kedatangan si Wanita (sang bos,
menurut versi Irwan), Mas Gun diminta menuliskan kuitansi di atas
materai, menyiapkan surat-surat kendaraan dan dokumen lainnya. Tak
lama berselang, si Wanita hadir ditempat yang sudah ditentukan. Si
Wanita hadir bersama tiga anak lelakinya. Mungkin mobil APV ini buat
salah satu dari ketiga anaknya tersebut. Who ever lah..!
Setelah cek fisik sana-sini, Si Wanita setuju membeli mobil APV
tersebut dan melakukan pembayaran. Sesuai pembicaraan sebelumnya,
uang diserahkan kepada Irwan. Mas Gun cuek aja, dia fikir itu khan
bawahannya, mungkin mau dihitung dulu atau apalah. Mas Gun diminta
untuk menyerahkan kuitansi dan semua dokumen kepada si Wanita,
tujuannya agar si Wanita bisa melakukan cek dan ricek terhadap
keabsahan dokumen kendaraan tersebut. Saat si wanita melakukan cek
dokumen, si Irwan menawarkan kepada dua dari tiga anak lelaki si
Wanita untuk melakukan test drive terlebih dahulu. Mas Gun juga
setuju, "coba dulu aja, biar ga nyesel ... mobil ini sangat terawat
koq, sama seperti saya", ungkapnya berpromosi. Jadilah, Irwan, 2
anak lelaki dan Sopir Mas Gun melakukan test drive. Si Wanita dan
Mas Gun sama sekali tidak menaruh curiga.
Sekitar 5 menit berlalu, dan setelah puas memeriksa dokumen, si
Wanita memulaibuka obrolan, "kenapa dijual mas ?"
"Orang tua saya ngasih mobil baru, jadi yang ini dijual dan dananya
buat liburan aja" jawab guntar
"Emangnya ibu deal berapa ?" guntar balik bertanya.
"Rp 70 juta", belum sempat guntar berfikir...si Wanita ngomong lagi
"oooo....saya kira buat bayar hutang, makanya dijual sangat murah".
Mas Gun mulai merasakan ada kejanggalan. Instingnya mulai bekerja.
Indera keenamnya mencium aroma tak beres. (klo untuk mencium sih, ga
usah pakai indera ke enam kali yaaa...?).
"Irwan bawahan Ibu khan?" tebak...ini kalimat siapa ?
"Bukan..., loh bukannya dia teman bapak ?" .....selanjutnya tebak
sendiri kalimat siapa....... ......... ...
"Waduh, ga beres nih........, anak ibu yang ikut punya hape ?"
"Ada"
"telponin dong.."
"ok........ ...Hallo. .."
"yaaaa..hallo, ada apa ma ?"
"Mas yang tadi megang duit ada disitu ga ?"
"Ga ada ma, tadi turun di lantai dua.. katanya mau nyetorin uangnya
ke bank Mandiri, katanya ga aman megang duit banyak-banyak"
GUBRAKKKKKKKKKK. ....!!! Mas Gun kehilangan keseimbangan ..........
"Ya, udah segera kembali ke sini..."
Setelah kedua KORBAN menghadap Polsek setempat, Mas Gun dinyatakan kalah.
Mobil dibawa pulang oleh si Wanita.
Beberapa hari kemudian, takut membawa sial, mobil tersebut di jual
lagi... dan laku dengan harga Rp 80 juta.
Si Wanita, mengambil pokoknya..lalu lebihnya sebesar Rp 10 juta
diserahkan kepada mas Gun.
Kalau tidak jadi berlibur keliling eropa, mungkin dengan Rp 10 juta,
bisa keliling PRJ selama ulang tahun kota Jakarta.
Lumayanlahhhhhhhh. ......... ........
Note :
Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi kepada kita semua. So, Dont try it at home.