Kebersamaan dalam Keberagaman

, ,

Awal bulan September ini, sebuah kenangan indah tertoreh dalam ingatanku.



Dari kiri ke kanan: Nenek Ida, Kakek Bambang, Opa Tarto, Oma Eli, Eyang Agnes dan Yang kung Theo


Baru beberapa hari yang lalu saudara-saudaraku umat Muslim merayakan Idul Fitri, hari kemenangan bagi orang yang telah mengalahkan dirinya sendiri. JIHAD BESAR. Salah satu bagian terpenting dalam merayakan hari Lebaran itu adalah dengan saling kunjung-mengunjungi saudara, kerabat dan juga teman. Mempererat tali silaturahmi smile

Foto diatas diambil saat kami sekeluarga mengunjungi orang tua saya di Bandung untuk bersama-sama merayakan Idul Fitri. Nah kaitannya dengan foto diatas walaupun awalnya foto diatas saya ambil sebagai kenang-kenangan agar kelak anak saya tahu siapa-siapa saja leluhurnya....namun saya baru menyadari bahwa foto diatas juga menggambarkan arti sebuah Kebersamaan dalam Keberagaman ...SILATURAHIM...
Dalam foto itu adalah semua kakek-nenek, opa-oma, dan eyang-eyang dari Rafa.
Yap, Rafa memiliki tiga pasang grand parents, satu pasang dari mamahnya dan dua pasang dari saya.


Untuk kedua pasang orang tua saya, awalnya tentunya hanya satu pasang, mereka bercerai dan masing-masing menikah kembali. Namun walaupun telah berpisah kedua orang tua kandung saya tetap rukun. Dari kedua pasang orang tua saya, saya memetik pelajaran pertama dari mereka bahwa perceraian tidak harus diikuti dengan permusuhan, perpisahan tidak harus diikuti dengan kebencian. Malah sebaliknya jalinan persaudaraan pun dapat tumbuh.

Pelajaran kedua yang dapat saya ambil adalah betapa majemuknya adat budaya dan suku bangsa yang orang tua-orang tua saya wariskan. Nenek Ida berdarah Toraja, Oma Eli Campuran Padang dan Aceh. Kakek Bambang dan Opa Tarto, keduanya berdarah Jawa namun keduanya besar di tanah Sunda. Sedang Eyang Agnes dan Theo, sama-sama berdarah Jawa namun yang pertama dibesarkan di Riau yang satu lahir dan besar di Jakarta. Betapa kayanya kebudayaan Rafa bigsmile

Untuk pelajaran ketiga saya juga diingatkan bahwa dalam kebersamaan kita harus dapat menerima keberagaman yang paling mendasar, yaitu kepercayaan kita. Nenek Ida adalah seorang Katolik, ia dilahirkan dalam keluarga Pendeta Protestan. Kakek Bambang adalah seorang Katolik, dilahirkan dari sebuah keluarga Muslim. Baik Opa Tarto maupun Oma Eli adalah Muslim, walaupun awalnya Opa Tarto lebih condong ke 'Olah Kejiwaan' (hal ini berbeda dengan 'olah kebatinan') dari pada mendalami sebuah agama tertentu. Eyang Agnes adalah seorang Katholik dan menikah dengan Yang kung Theo, seorang Protestan. Jadi keluarga saya mewakili setengah dari agama-agama yang diakui di Indonesia he he.

Semoga foto kecil ini dapat menjadi pengingat akan indahnya kebersamaan saat dihadapkan dengan ancaman perpecahan akibat keberagaman.



"KEBENARAN adalah ibarat puncak gunung yang satu
namun dilihat dari berbagai lembah yang berbeda"

Selamat Menjalankan Ibadah PuasaMaps of the World

Write a comment

New comments have been disabled for this post.