Faktot Tidak Terkabulnya Do'a
Thursday, May 10, 2012 5:32:34 PM
Dikisahkan bahwa suatu hari,
Ibrahim bin Ad-ham RAH melintas
di pasar Bashrah, lalu orang-orang
berkumpul mengerumuninya
seraya berkata, “Wahai Abu
Ishaq, apa sebab kami selalu berdoa namun tidak pernah
dikabulkan.?
” Ia menjawab, “Karena hati
kalian
telah mati oleh 10 hal:
Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya.
Ke-dua, kalian mengaku cinta
Rasulullah SAW tetapi meninggalkan
sunnahnya.
Ke-tiga, kalian membaca al-
Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.
Ke-empat, kalian memakan
nikmat-nikmat Allah SWT tetapi
tidak pernah pandai
mensyukurinya.
Ke-lima, kalian mengatakan bahwa syaithan itu adalah musuh kalian
tetapi tidak pernah berani
menentangnya. Ke-enam, kalian
katakan bahwa
surga itu adalah haq (benar
adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya.
Ke-tujuh, kalian katakan bahwa
neraka itu adalah haq (benar
adanya) tetapi tidak mau lari
darinya.
Ke-delapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar
adanya) tetapi tidak pernah
menyiapkan diri untuknya. Ke-
sembilan, kalian bangun dari
tidur lantas sibuk
memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri.
Ke-sepuluh, kalian kubur orang-
orang yang meninggal dunia di
kalangan kalian tetapi tidak pernah
mengambil pelajaran dari
mereka.” (SUMBER: Mi’ah Qishshah Wa
Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa
Samiir al-Muttaqiin karya
Muhammad Amin al-Jundi, Juz.II,
hal.94)
Ibrahim bin Ad-ham RAH melintas
di pasar Bashrah, lalu orang-orang
berkumpul mengerumuninya
seraya berkata, “Wahai Abu
Ishaq, apa sebab kami selalu berdoa namun tidak pernah
dikabulkan.?
” Ia menjawab, “Karena hati
kalian
telah mati oleh 10 hal:
Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya.
Ke-dua, kalian mengaku cinta
Rasulullah SAW tetapi meninggalkan
sunnahnya.
Ke-tiga, kalian membaca al-
Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.
Ke-empat, kalian memakan
nikmat-nikmat Allah SWT tetapi
tidak pernah pandai
mensyukurinya.
Ke-lima, kalian mengatakan bahwa syaithan itu adalah musuh kalian
tetapi tidak pernah berani
menentangnya. Ke-enam, kalian
katakan bahwa
surga itu adalah haq (benar
adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya.
Ke-tujuh, kalian katakan bahwa
neraka itu adalah haq (benar
adanya) tetapi tidak mau lari
darinya.
Ke-delapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar
adanya) tetapi tidak pernah
menyiapkan diri untuknya. Ke-
sembilan, kalian bangun dari
tidur lantas sibuk
memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri.
Ke-sepuluh, kalian kubur orang-
orang yang meninggal dunia di
kalangan kalian tetapi tidak pernah
mengambil pelajaran dari
mereka.” (SUMBER: Mi’ah Qishshah Wa
Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa
Samiir al-Muttaqiin karya
Muhammad Amin al-Jundi, Juz.II,
hal.94)



