JURAIJ Seorang Ahli lbadah
Saturday, May 12, 2012 12:36:55 AM
Dari Abu Hurairah,
bahwa
Rasulullah
Shallallaahu
‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidaklah berbicara ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya: Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada zaman
Juraij. Juraij adalah seorang laki-laki ahli
Ibadah, dia membangun sendiri
tempat ibadahnya. ceritanya, pada
suatu hari di saat ia sedang shalat
ibunya memanggil, ‘Wahai
Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, apakah akan saya jawab
panggilan ibuku atau aku
meneruskan shalatku?’ Juraij
meneruskan shalatnya. Lalu ibunya
pergi. Keesokan harinya, Ibu Juraij datang
ketika ia sedang shalat lagi. Sang
Ibu memanggil, ‘Wahai Juraij!’
Juraij mengadukan kepada Allah,
‘Ya Rabbi, aku memenuhi
panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?’ Ia meneruskan
shalatnya. Lalu ibunya pergi
meninggalkan Juraij. Pada pagi hari Ibu Juraij datang
lagi, ketika itu Juraij sedang shalat.
Sang Ibu memanggil, ‘Wahai
Juraij!’ Juraij berkata, ‘Ya
Rabbi, aku memenuhi panggilan
ibuku terlebih dahulu atau meneruskan shalatku?’ Tetapi
Juraij meneruskan shalatnya.
Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya
Allah, janganlah Engkau matikan
dia, sehingga ia melihat pelacur!’
Orang-orang Bani Israil menyebut- nyebut ketekunan ibadah Juraij. Dan tersebutlah dari mereka
seorang pelacur yang sangat cantik
berkata, ‘Jika kalian
menghendaki, aku akan
memberinya fitnah.’
Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan
menggodanya. Tetapi Juraij tidak
memperdulikannya. Lalu pelacur
tersebut mendatangi seorang
penggembala yang sedang
berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan
hamil. Tatkala ia melahirkan seorang
bayi. Orang-orang bertanya,
‘Bayi ini hasil perbuatan siapa?’
Pelacur itu menjawab, ‘Juraij’.
Maka mereka mendatangi Juraij
dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya
mereka memukuli Juraij, mencaci
maki dan merobohkan tempat
ibadahnya. Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini?.’ Mereka menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya, ‘Di mana sekarang bayi itu?’ Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut. Juraij berkata, ‘Berilah aku
kesempatan untuk mengerjakan
shalat!’ Lalu Juraij shalat. Selesai
shalat Juraij menghampiri sang
bayi lalu mencoleknya di perutnya
seraya bertanya, ‘Wahai bayi, siapakah ayahmu?’ Sang bayi
menjawab, ‘Ayahku adalah
seorang penggembala.’ Serta merta orang-orang pun
berhambur, menciumi dan
meminta maaf kepada Juraij.
Mereka berkata, ‘Kami akan
mem-bangun kembali tempat
ibadah untukmu dari emas!’ Juraij menjawab, ‘Jangan! Cukup
dari tanah saja sebagaimana
semula.’ Mereka lalu
membangun tempat ibadah
sebagaimana yang dikehendaki
Juraij. Ketika ibu si bayi memangku
anaknya untuk disusui, tiba-tiba
lewat seorang lelaki menunggang
kuda yang gesit, gagah dan
tampan rupa. Maka ibu itu berdoa,
‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.’ Tiba-tiba bayi itu
melepaskan tetek ibunya dan
menghadap kepada penunggang
kuda tersebut seraya berkata,
‘Ya Allah, jangan jadikan aku
seperti dia.’ Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan melanjutkan hisapan
susunya.” Abu Hurairah berkata, “Seakan-
akan aku melihat Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
menirukan gerakan si bayi dan
meletakkan jari telunjuknya di
mulut lalu megisapnya. Lalu lewat serombongan orang
membawa wanita hamba sahaya
yang sedang dipukuli. Mereka
menuduh, ‘Kamu telah berzina,
kamu telah mencuri!’ Sementara
hamba sahaya perempuan itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai
Pelindungku!’ Melihat kejadian ini, sang Ibu
berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan
anakku seperti dia.’ Maka bayi itu
meninggalkan tetek ibunya dan
melihat ke tempat wanita hamba
sahaya tersebut sambil berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti
dia.’ Dan pembicaraan itu berulang.
Sang ibu berkata kepada anaknya,
‘Di belakangku berlalu seorang
penunggang kuda yang gagah dan
tampan, lalu aku berkata, ‘Ya
Allah, jadikan anakku seperti dia.’ Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah,
jangan jadikan aku seperti dia.’
Lalu berlalu di hadapanku, wanita
hamba sahaya dan mereka
memukulinya serta mengatakan
bahwa ia telah berzina, ia telah mencuri! Melihat hal ini, aku
berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan
anakku seperti dia.’ Lalu engkau
berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku
seperti dia.’ Maka bayi itu menerangkan
kepada ibunya, ‘Wahai Ibu,
sesungguhnya penunggang kuda
yang tampan itu adalah orang
yang sangat sombong. Maka aku
berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadi- kan aku seperti dia!’ Sedangkan
terhadap hamba sahaya wanita itu,
yang orang-orang berkata,
‘Kamu berzina, padahal dia tidak
berzina, kamu mencuri padahal dia
tidak mencuri.’ Maka, aku berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku
seperti dia’.” [1] Pelajaran Yang Dapat Dipetik: 1. Kewajiban birrul walidain
(berbakti kepada kedua orang tua)
terutama ibu, dan bahwasanya jika
ia menyumpahi anaknya maka
akan dikabulkan.
2. Allah menyelamatkan seseorang dengan ketakwaan dan
keshalihannya.
3. Jika suatu urusan nampak
tumpang tindih, hendaknya
memprioritaskan yang terpenting
kemudian yang penting. 4. Disunnahkan berwudhu terlebih
dahulu sebelum berdoa untuk hal-
hal yang genting.
5. Wudhu sudah dikenal umat dan
disyariatkan sebelum Nabi
Muhammad. 6. Penetapan karamah para wali,
yang bisa diperoleh melalui ikhtiar
atau usaha mereka.
7. Bersikap lemah lembut dan
sayang kepada murid ketika
memberikan pendidikan kepadanya.
8. Orang yang memiliki
kepercayaan yang tinggi kepada
Allah tidak mudah termakan fitnah.
9. Boleh melakukan ibadah yang
banyak/secara maksimal bagi yang mengetahui bahwa dirinya
mampu.
10. Orang yang biasa berbuat keji
tidak akan memperoleh
penghormatan.
11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan kepadanya suatu
tuduhan hendaknya segera
menghadap Allah dengan shalat.
12. Menjelaskan keyakinan Juraij
yang sangat tinggi begitu pula
harapannya kepada Allah untuk memperoleh pertolongan-Nya.
Sehingga ketika ia meminta anak
bayi berbicara, Allah
mengabulkannya. Padahal
sebagaimana biasanya yang
namanya bayi tentu belum bisa bicara.
13. Sombong dan membanggakan
diri adalah perbuatan tercela,
demikian pula orang yang
sombong dan zhalim, mereka
semua dicela. 14. Orang yang dizhalimi
mempunyai kedudukan dan
kelebihan di sisi Allah. Jika tidak
demikian tentu tidak ada kebaikan-
nya seorang anak yang masih
menyusu ingin menjadi seorang pembantu yang rendah hati.
15. Seseorang boleh membatalkan
shalat sunnahnya manakala
dipanggil orang tuanya untuk
melakukan sesuatu yang syar’i.
16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu tuduhan tanpa bukti. _______________ [1] HR. al-Bukhari, 3436; Muslim,
2550. [Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram,
Muhammad bin Hamid Abdul
Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61
KISAH PENGANTAR TIDUR
Diriwayatkan Secara Shahih dari
Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta] Suka
bahwa
Rasulullah
Shallallaahu
‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidaklah berbicara ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya: Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada zaman
Juraij. Juraij adalah seorang laki-laki ahli
Ibadah, dia membangun sendiri
tempat ibadahnya. ceritanya, pada
suatu hari di saat ia sedang shalat
ibunya memanggil, ‘Wahai
Juraij.’ Juraij berkata, ‘Ya Rabbi, apakah akan saya jawab
panggilan ibuku atau aku
meneruskan shalatku?’ Juraij
meneruskan shalatnya. Lalu ibunya
pergi. Keesokan harinya, Ibu Juraij datang
ketika ia sedang shalat lagi. Sang
Ibu memanggil, ‘Wahai Juraij!’
Juraij mengadukan kepada Allah,
‘Ya Rabbi, aku memenuhi
panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?’ Ia meneruskan
shalatnya. Lalu ibunya pergi
meninggalkan Juraij. Pada pagi hari Ibu Juraij datang
lagi, ketika itu Juraij sedang shalat.
Sang Ibu memanggil, ‘Wahai
Juraij!’ Juraij berkata, ‘Ya
Rabbi, aku memenuhi panggilan
ibuku terlebih dahulu atau meneruskan shalatku?’ Tetapi
Juraij meneruskan shalatnya.
Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya
Allah, janganlah Engkau matikan
dia, sehingga ia melihat pelacur!’
Orang-orang Bani Israil menyebut- nyebut ketekunan ibadah Juraij. Dan tersebutlah dari mereka
seorang pelacur yang sangat cantik
berkata, ‘Jika kalian
menghendaki, aku akan
memberinya fitnah.’
Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan
menggodanya. Tetapi Juraij tidak
memperdulikannya. Lalu pelacur
tersebut mendatangi seorang
penggembala yang sedang
berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan
hamil. Tatkala ia melahirkan seorang
bayi. Orang-orang bertanya,
‘Bayi ini hasil perbuatan siapa?’
Pelacur itu menjawab, ‘Juraij’.
Maka mereka mendatangi Juraij
dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya
mereka memukuli Juraij, mencaci
maki dan merobohkan tempat
ibadahnya. Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini?.’ Mereka menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya, ‘Di mana sekarang bayi itu?’ Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut. Juraij berkata, ‘Berilah aku
kesempatan untuk mengerjakan
shalat!’ Lalu Juraij shalat. Selesai
shalat Juraij menghampiri sang
bayi lalu mencoleknya di perutnya
seraya bertanya, ‘Wahai bayi, siapakah ayahmu?’ Sang bayi
menjawab, ‘Ayahku adalah
seorang penggembala.’ Serta merta orang-orang pun
berhambur, menciumi dan
meminta maaf kepada Juraij.
Mereka berkata, ‘Kami akan
mem-bangun kembali tempat
ibadah untukmu dari emas!’ Juraij menjawab, ‘Jangan! Cukup
dari tanah saja sebagaimana
semula.’ Mereka lalu
membangun tempat ibadah
sebagaimana yang dikehendaki
Juraij. Ketika ibu si bayi memangku
anaknya untuk disusui, tiba-tiba
lewat seorang lelaki menunggang
kuda yang gesit, gagah dan
tampan rupa. Maka ibu itu berdoa,
‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.’ Tiba-tiba bayi itu
melepaskan tetek ibunya dan
menghadap kepada penunggang
kuda tersebut seraya berkata,
‘Ya Allah, jangan jadikan aku
seperti dia.’ Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan melanjutkan hisapan
susunya.” Abu Hurairah berkata, “Seakan-
akan aku melihat Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
menirukan gerakan si bayi dan
meletakkan jari telunjuknya di
mulut lalu megisapnya. Lalu lewat serombongan orang
membawa wanita hamba sahaya
yang sedang dipukuli. Mereka
menuduh, ‘Kamu telah berzina,
kamu telah mencuri!’ Sementara
hamba sahaya perempuan itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai
Pelindungku!’ Melihat kejadian ini, sang Ibu
berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan
anakku seperti dia.’ Maka bayi itu
meninggalkan tetek ibunya dan
melihat ke tempat wanita hamba
sahaya tersebut sambil berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti
dia.’ Dan pembicaraan itu berulang.
Sang ibu berkata kepada anaknya,
‘Di belakangku berlalu seorang
penunggang kuda yang gagah dan
tampan, lalu aku berkata, ‘Ya
Allah, jadikan anakku seperti dia.’ Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah,
jangan jadikan aku seperti dia.’
Lalu berlalu di hadapanku, wanita
hamba sahaya dan mereka
memukulinya serta mengatakan
bahwa ia telah berzina, ia telah mencuri! Melihat hal ini, aku
berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan
anakku seperti dia.’ Lalu engkau
berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku
seperti dia.’ Maka bayi itu menerangkan
kepada ibunya, ‘Wahai Ibu,
sesungguhnya penunggang kuda
yang tampan itu adalah orang
yang sangat sombong. Maka aku
berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadi- kan aku seperti dia!’ Sedangkan
terhadap hamba sahaya wanita itu,
yang orang-orang berkata,
‘Kamu berzina, padahal dia tidak
berzina, kamu mencuri padahal dia
tidak mencuri.’ Maka, aku berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku
seperti dia’.” [1] Pelajaran Yang Dapat Dipetik: 1. Kewajiban birrul walidain
(berbakti kepada kedua orang tua)
terutama ibu, dan bahwasanya jika
ia menyumpahi anaknya maka
akan dikabulkan.
2. Allah menyelamatkan seseorang dengan ketakwaan dan
keshalihannya.
3. Jika suatu urusan nampak
tumpang tindih, hendaknya
memprioritaskan yang terpenting
kemudian yang penting. 4. Disunnahkan berwudhu terlebih
dahulu sebelum berdoa untuk hal-
hal yang genting.
5. Wudhu sudah dikenal umat dan
disyariatkan sebelum Nabi
Muhammad. 6. Penetapan karamah para wali,
yang bisa diperoleh melalui ikhtiar
atau usaha mereka.
7. Bersikap lemah lembut dan
sayang kepada murid ketika
memberikan pendidikan kepadanya.
8. Orang yang memiliki
kepercayaan yang tinggi kepada
Allah tidak mudah termakan fitnah.
9. Boleh melakukan ibadah yang
banyak/secara maksimal bagi yang mengetahui bahwa dirinya
mampu.
10. Orang yang biasa berbuat keji
tidak akan memperoleh
penghormatan.
11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan kepadanya suatu
tuduhan hendaknya segera
menghadap Allah dengan shalat.
12. Menjelaskan keyakinan Juraij
yang sangat tinggi begitu pula
harapannya kepada Allah untuk memperoleh pertolongan-Nya.
Sehingga ketika ia meminta anak
bayi berbicara, Allah
mengabulkannya. Padahal
sebagaimana biasanya yang
namanya bayi tentu belum bisa bicara.
13. Sombong dan membanggakan
diri adalah perbuatan tercela,
demikian pula orang yang
sombong dan zhalim, mereka
semua dicela. 14. Orang yang dizhalimi
mempunyai kedudukan dan
kelebihan di sisi Allah. Jika tidak
demikian tentu tidak ada kebaikan-
nya seorang anak yang masih
menyusu ingin menjadi seorang pembantu yang rendah hati.
15. Seseorang boleh membatalkan
shalat sunnahnya manakala
dipanggil orang tuanya untuk
melakukan sesuatu yang syar’i.
16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu tuduhan tanpa bukti. _______________ [1] HR. al-Bukhari, 3436; Muslim,
2550. [Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram,
Muhammad bin Hamid Abdul
Wahab, edisi bahasa Indonesia: "61
KISAH PENGANTAR TIDUR
Diriwayatkan Secara Shahih dari
Rasulullah dan Para Sahabat", pent. Pustaka Darul Haq, Jakarta] Suka



