KNOWING IS NOTHING, APPLYING WHAT YOU KNOW IS EVERYTHING

BERJUANGLAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH

Subscribe to RSS feed

Kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia Setelah Jaman Majapahit

To:samaggiphala@yahoogroups.com
From: "kpropria" Add to Address Book Add
Mobile Alert
Date:Sun, 12 Feb 2006 13:34:26 -0000
Subject:[samaggiphala] kebangkitan agama buddha di indonesia setelah
jaman majapahit/serat Dharmogandul


Teman-teman,

Menyambung usulan rekan di milis ini yg menyarankan untuk membaca
buku tokoh antagonis serat Dharmogandul(terbitan gramedia) maka saya
juga akan mengkopi artikel yg mirip yg berasal dari Bhante
Saya sudah baca buku tokoh
antagonis serat Dharmogandul memang informatif.

Ringkasan 3, Diskusi Dhamma (19/10/2002)

Mengungkap Budaya Buddhisme di Nusantara (2): Pasca Majapahit Oleh:
Bhikkhu Dhammasubho Thera


Peninggalan budaya pada Jaman Majapahit di Nusantara sekarang ini
dapat dilihat situsnya di Mojokerto. Di sana ada Situs Majapahit
tetapi karena bahan bakunya dari batu bata, maka tidak bisa bertahan
lama, kini tampak telah aus dimakan waktu/keropos, runtuh. Berbeda
dengan peninggalan Candi-candi Majapahit yang lain di mana bahannya
terbuat dari batu andesit, hingga kini masih utuh. Yang menarik
untuk diperhatikan dan dipelajari adalah bagaimana Agama Buddha yang
demikian besar di Jaman Majapahit akhirnya mengalami kemunduran
hingga lenyap tidak dikenal sama sekali, yang tersisa tinggal berupa
kepingan-kepingan sejarah.

Hal yang patut dicatat bahwa suatu agama akan berkembang menjadi
besar bila didukung oleh beberapa syarat, sekurang-kurangnya ada
lima, yaitu:

Kalau menjadi agama negara; sehingga kegiatan keagamaan maju pesat
karena sepenuhnya didukung oleh raja. Candi Borobudur, Candi
Prambanan, dan lain-lain, dibangun karena sepenuhnya didukung oleh
raja.

Ditangani oleh kaum profesional agama (ulama); artinya sebagai ahli
pelaku agama (ulama), waktu sepenuhnya tercurah, berpikir, berucap,
dan bertindak untuk kemajuan agamanya.

Tingkat kemakmuran masyarakat mendukung;

Tingkat kerelaan umat; jika dari kemakmuran dan kerelaan cukup,
pengadaan sarana dan prasarana demi kegiatan pengembangan keagamaan
semua dengan mudah terwujud.

Tingkat keimanan umat cukup mantap; artinya tidak mudah terpengaruh
atau pindah agama
Agama Buddha pada Jaman Majapahit menjadi besar karena lima hal
tersebut di atas terpenuhi. Raja, pejabat tinggi negara, dan
rakyatnya menganut cara berpikir Buddhis, beragama Buddha. Akan
tetapi ketika yang terjadi sebaliknya, petinggi-petinggi negara
beralih agama, para profesional (ulama) agama menyimpang dari
haluannya, tingkat kesejahteraan rakyat tidak mendukung, keimanan
goyah, maka lambat laun agama akan ditinggalkan. Begitu pula Agama
Buddha pada jaman pasca Majapahit menjadi merosot tajam, lenyap
hilang. Agama Buddha di Indonesia sekarang dalam kondisi baik dan
aman, karena sah dan dilindungi undang-undang, akan tetapi karena
belum ditangani oleh kaum profesional (ulama) sepenuhnya, maka masih
tersendat-sendat, sering ngadat. Selama ini lembaga-lembaga,
organisasi agama masih ditangani oleh pemimpin-pemimpin yang belum
sepenuhnya profesional agama, sehingga perhatian dan pencurahan
energi, serta pemikirannya masih harus dibagi dua dengan tanggung
jawab kebutuhan keluarga atau profesi lain yang menjadi kendala.

Hal lain yang menjadi sebab Agama Buddha menurun adalah Raja ke-5
pada Jaman Majapahit yaitu Raja Brawijaya V mempunyai anak laki-laki
hasil pernikahannya dengan Putri Campa (China), di mana sejak kecil
anak tersebut yang diberi nama Raden Babah Patah dididik oleh Raja
Ariyodamar di Palembang, Sumatera, yang telah beragama lain. Jadi
Raden Patah diajar agama lain bukan Agama Buddha yang telah dianut
di negeri itu, sampai Raden Patah menjadi besar dan kembali ke
negeri Tanah Jawa di Kerajaan Majapahit. Oleh Brawijaya diterima dan
diberikan wilayah kekuasaan untuk dibuka menjadi kerajaan baru.
Tempat tersebut oleh Raden Patah dibangun bersama dengan guru-guru
spiritualnya yakni para wali, jadilah Kerajaan Demak Bintoro, di
Jawa Tengah. Akhirnya demi kepentingan tertentu guru-guru
spiritualnya mendesak Raden Patah sebagai Raja Demak Bintoro, untuk
segera mereformasi Majapahit berganti agama baru. Meskipun berkali-
kali Raden Patah menunda-nunda permintaan gurunya, akan tetapi
karena didesak dan didesak terus, akhirnya Raden Patah menurut juga.
Oleh karena Brawijaya tidak mendidik Raden Patah untuk mempelajari
Agama Buddha, akibatnya Raden Patah tidak menganut Agama Buddha,
malah bermaksud mengganti agama yang dianut Brawijaya, orangtuanya.
Sampai suatu ketika Majapahit didatangi PANSUS tentara dari Demak,
untuk tujuan mereformasi Majapahit. Prabu Brawijaya sebagai orangtua
tentu berpikir panjang, apakah dia harus berperang berhadapan dengan
anak, sedangkan sebagai orangtua rela kurang makan minum, kurang
tidur, asal anak bahagia orangtua sudah cukup puas. Maka meskipun
negeri kerajaan dalam keadaan didesak bahaya, daripada perang dengan
anak, Prabu Brawijaya memilih pergi meninggalkan kerajaan; lewat
pintu belakang beliau meninggalkan Kerajaan Majapahit menuju
Blambangan. Jadi Kerajaan Majapahit ketika itu bukan diambil alih
dengan peperangan atau perundingan, tetapi tepatnya ditinggal pergi
oleh rajanya. Raja Demak berhasil mengambil alih istana Kerajaan
Majapahit, tetapi misinya dianggap belum sukses karena Prabu
Brawijaya belum pindah agama baru. Akhirnya diputuskan untuk
mengirim Raden Sahid Sunan Kalijaga menyusul Prabu Brawijaya ke
Blambangan, di ujung timur Pulau Jawa. Tujuannya membujuk dan
merayu, serta memohon agar Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit dan
berganti agama. Pembicaraan ini berlangsung berhari-hari sampai
akhirnya Prabu Brawijaya menyanggupi untuk kembali ke Majapahit.
Tetapi beliau mengatakan bahwa: "Saya mau kembali ke Majapahit bukan
untuk kekuasaan sebagai Raja Majapahit, tetapi demi anak." Sudah
jelas dikudeta, tetapi Prabu Brawijaya tetap tidak pupus rasa sayang
pada anaknya. Walaupun demikian misi para wali guru spiritual Raden
Patah belum tercapai, maka berhari-hari terus diadakan dialog.
Karena alotnya sampai suatu ketika dialog diambil alih oleh kedua
penasehat spiritual Prabu Brawijaya yaitu Sabdopalon dan
Noyoginggong (nama yang sudah diistilahkan, yang dimaksud adalah
bhikkhu). Akhirnya Sabdopalon, Noyoginggong, dan Sunan Kalijaga
berdebat seru mengadu ilmu dan kesaktian.

Di mana untuk membuktikan misi baru ini hebat, Raden Said mengambil
air untuk mencuci muka, begitu tersentuh tangan, air tersebut
berubah menjadi berbau wangi. Untuk menandai kejadian ajaib ini,
maka di tempat itu diberi nama Banyuwangi. Akhirnya disepakati
rombongan meninggalkan Blambangan menuju Majapahit. Dalam perjalanan
ke Majapahit rombongan berhenti di suatu tempat peristirahatan
(villa). Di tempat itu diteruskan lagi diskusi yang belum usai.
Sabdopalon dan Noyoginggong menerima keajaiban air wangi tidak
tinggal diam, tetapi ingin menguji air wangi tersebut sampai kapan
bertahan. Air wangi yang dibawa dalam bumbung (tabung) dari
Blambangan, oleh Sabdopalon dan Noyoginggong dibuka tutupnya,
ternyata air yang semula berbau wangi itu sekarang berubah menjadi
berbau basin (busuk) dan banger. Prabu Brawijaya berkata: "Saya
sudah tua, semuanya demi anak. Permintaan saya, meskipun Majapahit
sudah berganti pemerintahan tetapi jangan sampai dinodai tetesan
darah. Saya sanggup berganti agama tetapi saya mempunyai permintaan,
kalau saya meninggal jangan ditulis di sini makam Brawijaya, cukup
diberi tanda 'di sini peristirahatan si putra bulan [trowulan]."
Begitu Prabu Brawijaya memberi disposisi, kedua penasehat
spiritualnya berkata: "Brawijaya, saya tidak akan mengikuti
perjalananmu lagi, saya akan tidur saja, dan saya tidak akan bangun
sebelum Agama Buddha kembali. Dan ingatlah keharuman air wangi nanti
akan bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman." Usai berkata demikian
Sabdopalon dan Noyoginggong "moksa" (menghilang). Mendengar kata-
kata itu Brawijaya menangis tetapi semuanya sudah terlambat. Untuk
memberi saksi harumnya air wangi menjadi berbau basin dan banger,
tempat itu diberi nama Jember. Dihitung-hitung perjalanan dari
Banyuwangi sampai Jember selama 4 hari dan 5 malam. Artinya
keharuman itu nanti bertahan selama 500 tahun dan 4 jaman.

Inilah pentingnya dunia pendidikan, besar sekali pengaruh ucapan
seorang guru pada anak-anak. Diakui atau tidak, sebuah nasehat yang
sama isi kata-kata maupun artinya dari orangtua, masih lebih
didengar ucapan guru untuk anak-anak. Maka berhati-hatilah orangtua
mencarikan guru untuk anak-anak, karena ucapan guru lebih didengar
oleh anak-anak. Orangtua jika ingin hidupnya aman, agamanya tidak
terputus, maka seyogyanya anak-anak harus diajar agama yang sama
dengan orangtuanya. Kalau orangtua terlambat mendidik anak, suatu
ketika akan menjadi masalah dikemudian hari. Jadi jangan heran kalau
nanti anaknya tidak akan menyembayangi orangtuanya yang sudah
menjadi leluhur. Tetapi kadang orangtua terlalu merdeka, bebas, dan
bangga mempunyai keluarga yang berbeda-beda agamanya, padahal itu
akan menjadi masalah dikemudian hari. Sejak terjadi reformasi
pemerintahan di Majapahit, petinggi-petinggi Majapahit banyak yang
terpaksa atau dipaksa berubah haluan. Bagi yang tidak kuat imannya
dan goyah, demi hidup, demi jabatan, mereka pindah keyakinan agama.
Yang bimbang diberi pilihan hidup atau mati. Tetapi yang betul-betul
idealis Buddhis meskipun dengan berbagai cara ditekan, tidak
tergoyahkan. Orang-orang idealis Buddhis ini lebih baik menyingkir,
menjauh sampai ke daerah-daerah pedalaman hingga menjadi komunitas
masyarakat tersendiri. Mereka hidup apa adanya tidak banyak aturan,
tetapi aman tenteram tanpa gangguan, tidak ada gejolak, tetap
memegang teguh ajaran agama lama secara turun temurun. Ajaran
penting ini diberikan sangat tradisional/sederhana, tidak ada tulis
menulis, tetapi dihafal melalui lisan, contoh dalam perilaku dan
perbuatan, bagian-bagian yang amat penting cukup di dalam bathin.
Orang-orang idealis yang ditakut-takuti, ajarannya "diamputasi",
budayanya dilarang berfungsi, dan menyingkir ini, selanjutnya
dikenal sebagai Orang Badui di Jawa Barat, Orang Samin di Jawa
Tengah, Orang Tengger di Jawa Timur, Suku Kajang di Sulawesi
Selatan, Suku Kaly di Sulawesi Tengah, Orang Sangir di Sulawesi
Utara, Suku Dayak Kaharingan di Kalimantan, Suku Karo di Sumatera,
dan lain-lain. Ajaran yang diajarkan turun-temurun melalui hafalan
lisan dan perbuatan itu tadi tetap utuh. Hanya karena tidak terbuka
secara umum dan kadang-kadang hanya di bathin-bathin saja, maka lama-
lama menjadi istilah "Kebathinan" yang di Jawa disebut "Kejawen",
sehingga ketika mengalami kebangkitan lagi 500 tahun kemudian, orang-
orang kebathinan itu umumnya sangat respon pada Agama Buddha. Ibarat
bola karet yang menggelinding di pasir, tidak lagi terlihat itu
sebagai bola karet tetapi yang tampak adalah bola pasir. Begitu juga
dengan Ajaran Buddha yang meskipun tetap dipraktikkan oleh
masyarakat, tetapi tidak dikenal lagi bahwa itu sesungguhnya Ajaran
Buddha. Ajaran ini dapat dilihat hanya dalam bentuk sastra budaya,
tradisi puja, perilaku tata krama, sopan santun, dan beberapa kosa
kata yang menjadi dialek masyarakat, atau kepingan-kepingan candi
yang kita baca lewat prasasti; tetapi bentuk agama yang kongkrit
sudah tidak dikenal lagi selama 500 tahun sejak Majapahit surut,
runtuh.

Meskipun Ajaran Buddha sudah hilang dari permukaan Bumi Nusantara
ini, tetapi tetap tidak lenyap. Ibarat sebatang pohon yang cabang
rantingnya sudah patah, daunnya sudah rontok, batangnya sudah rubuh,
tetapi akarnya belum tercabut. Jadi meskipun pohon tersebut tumbuh
tidak segar, rantingnya tidak panjang, batang tidak besar, daunnya
tidak subur karena tidak dipupuk dan iklim yang tidak menunjang,
tetapi pohon itu tetap hidup. Cuma tumbuhnya kecil seperti bonsai,
namun meskipun bonsai itu kecil, nilainya unggul harganya mahal.
Di Sulawesi Selatan dahulu ada 15 kerajaan yang masyarakatnya
beragama Buddha. Pada abad ke-15 kerajaannya berganti agama, maka
yang tersisa tinggal kosa kata. Seperti Bahasa Makasar, ada beberapa
yang persis sama dengan yang ada di Jawa. Di Kabupaten Bone ada
Kecamatan Palaka, di Kabupaten Sengkang ada Kecamatan Attangasila,
di Kabupaten Sopeng ada Kecamatan Aparitta. Di daerah Aparitta ada
satu hal yang mentradisi dari tahun ke tahun yaitu dilarang keras
orang-orang menggunakan warna kuning. Jika ditanya alasannya,
dikatakan kalau memakai warna kuning hidupnya akan sial. Ternyata
warna kuning adalah warna bagi bhikkhu, warnanya Agama Buddha.
Karena mendapat tekanan politik pada jaman itu, mereka tidak boleh
mengaku ini itu, apalagi membaca paritta (aparitta); tidak memakai
warna Buddhis supaya tidak ketahuan. Di Sulawesi Selatan pernah
diketemukan sebuah Patung Buddha posisi berdiri. Menurut ahli
antropologi patung tersebut duplikatnya ada di Jember dan Nepal.
Patung itu hadiah dari Mpu Tantular ketika melakukan perjalanan
mengunjungi daerah-daerah Wilayah Majapahit.

Disposisi Prabu Brawijaya pada waktu itu ditandai dengan Chandra
Sangkala (Tahun Caka) 'Sirno Hilang Kertaning Bumi' artinya Tahun
Caka 1400 (Tahun Masehi 1408). Itulah awal perjalanan Dhamma selama
500 tahun tidak dikenal wujud sesungguhnya. Baru di jaman Republik
ini 'api' Dhamma mulai berkelip lagi, dan yang mengelipkannya adalah
kaum Theosofi yaitu kelompok kebathinan terdiri dari kumpulan kaum
elit Belanda dan ningrat Jawa yang secara khusus mendiskusikan ilmu
agama-agama serta Ketuhanan dalam Agama Buddha. Sehingga pada tahun
1934 mengundang Bhikkhu Narada dari Sri Lanka berkunjung ke
Indonesia. Tanggal 4 Maret 1934, untuk pertama kalinya ada seorang
bhikkhu di Bumi Nusantara sejak surutnya Majapahit. Dari tahun ke
tahun Beliau selalu datang ke Indonesia mengadakan ceramah-ceramah
umum di berbagai tempat, sehingga akhirnya resmi menjadi kunjungan
negara, dan ditandai dengan penanaman Pohon Bodhi di lingkungan
Candi Borobudur. Setelah putera Indonesia menerima benih-benih
Ajaran Buddha, akhirnya beberapa dari mereka memutuskan untuk
menjadi bhikkhu.
Dihitung-hitung sejak 500 tahun lampau Pemerintahan Majapahit
runtuh, berganti jaman Kerajaan Demak, jaman penjajahan Hindia
Belanda, dan jaman pendudukan Jepang, di ketiga jaman itu Agama
Buddha tidak dikenal sama sekali, tidak sebagai agama negara.
Sekarang dihitung sejak kejatuhan Majapahit, tahun 1400 caka, 500
tahun kedepan berarti tahun 1900 caka, dan tahun 1478, ditambah 500
tahun kedepan berarti tahun 1978, sejak itulah sesuai perkataan
Sabdopalon dan Noyoginggong, Agama Buddha bangkit kembali sejak
kedatangan Bhikkhu Narada dari Sri Lanka tahun 1934. Dan duduk
sejajar dengan agama-agama lainnya di Indonesia sejak Direktorat
Urusan Agama Buddha berdiri tahun 1978.

Saat ini memang Agama Buddha sedang tumbuh kembali di Bumi
Nusantara. Maju atau mundur Agama Buddha ada di tangan kita. Oleh
karena kita sudah belajar dari sejarah mengapa agama yang begitu
besar bisa runtuh, maka dari itu hendaklah kita tidak mengulang
pengalaman tidak indah itu. Tiga hal penting tanda menjadi umat
beragama yang tidak mudah goyah yaitu beragama di tempat ibadah, di
rumah, dan di masyarakat. Tahu, mengerti, mengalami praktik sehari-
hari. Praktik untuk diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan. [MR]

Saya Gila Tapi Tidak Bodoh

Suatu malam, Joni pulang kantor terburu-buru dan ingin segera sampai di rumah sakit menemui istrinya yang sedang akan melahirkan. Sayang, melewati rumah sakit jiwa sebelum rumah sakit bersalin, ban mobil Joni pecah dan mau tak mau harus menggantinya. Tak lama kemudian Ia ingat akan kedua buah kelapa muda yang kebetulan ia tenteng untuk mengganjal ban yang kempes tersebut sebagai dongkrak. Tapi, Joni terlalu sayang akan buah kelapa yang diidamkan istrinya tersebut untuk di jadikannya sebagai ganjal roda.

Dari jauh Joni mendengar teriakan : "Hey bodoh!! kenapa kamu tidak ganjal saja roda mu itu untuk menggantinya, khan kamu tidak bawa dongkrak!!"

Sadar Joni akan teriakan yang ternyata berasal dari seorang pasien rumah sakit jiwa tersebut, Ia ganti menjawab : "Hey, kamu pintar juga ya? Kenapa kamu ada dirumah sakit jiwa ini?"

Pasien : "Hey, aku disini tentunya karena aku gila, bukan karena bodoh!!"

Read more...

rahasia Hidup damai dan Bahagia

Ada sebuah resep kebahagiaan dari Buddha yang belakangan ini terasa terus menggema dalam ingatanku, setelah sebelumnya sempat aku baca dalam sebuah posting. Sejujurnya, sebelum membaca posting tersebut, aku bukannya tidak tahu mengenai resep itu Tetapi karena kesederhanaannya, aku tidak menganggapnya sebagai hal yang istimewa untuk diingat dan direnungkan.

Ketika seorang raja datang berkunjung ke vihara di mana Buddha bersemayam, dia sungguh terkesan akan suasana kehidupan para bhikkhu yang dilihatnya. Dan kekaguman itu dia ungkapkan kepada Buddha dengan kata-kata seperti ini: “Guru, saya sungguh kagum melihat pancaran ketenangan dan kebahagiaan dari murid-muridMu, yang mana tidak pernah saya saksikan terpancar dari wajah para petapa lain. Apakah yang menyebabkan murid-muridMu bisa sedemikian tenang dan bahagia?”

Buddha menjawab, “Mereka tidak MENYESALI MASA LALU, MENCEMASKAN MASA DEPAN, dan HIDUP DALAM DAMAI DI MASA KINI. Itulah sebabnya mereka memancarkan ketenangan dan kebahagiaan.”

Wahai, seru hatiku, betapa sederhananya, bukan? Tidak ada sesuatu pun yang rumit di situ, hanyalah tiga buah formula yang diucapkan dengan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti bagi setiap orang yang cukup cerdas, tetapi sekaligus juga langsung mengena kepada inti dari seluruh persoalan ketidakbahagiaan kita: kita tidak bahagia karena kita sering MENYESALI MASA LALU, MENCEMASKAN MASA DEPAN, dan GAGAL UNTUK HIDUP DALAM KEDAMAIAN DI MASA KINI.

Merenungkan kembali kata-kata itu, membuat hatiku terasa ringan, berdesir sejuk bagai bara panas yang tersiram air dingin. Ada begitu banyak impian yang tak terwujudkan dan menjadikan aku menyesali masa lalu. Ada setumpuk harapan yang membuat aku mencemaskan masa depan. Dan ada tak terhitung banyaknya tetek bangek sehari-hari yang tanpa sadar menyeret aku kian kemari, tiada tenang dan tiada damai.

Kini saatnya untuk menyadari bahwa semua itu tidak berguna. Bahwa kebahagiaan itu ada di sini dan saat ini juga, ketika aku mampu menyadari kesia-siaan mencemasi dan menyesali, dan saat aku tahu bagaimana membiarkan berlalu segalanya.

Sedikit Bagian Dari Skripsiku (penjelasan tentang Brahma-vihara)

Tinjauan Tentang Brahma-vihāra

Sifat luhur dalam Buddhisme lebih dikenal dengan istilah brahma-vihāra, yang terdiri dari empat macam sifat luhur dan apabila keempat sifat ini dilatih secara sungguh-sungguh akan membawa manfaat besar bagi pelakunya. Brahma-vihāra dikatakan sebagai sifat luhur karena brahma-vihāra dapat membuat seseorang menjadi luhur atau mulia. Dalam ajaran Buddhisme kata brahma-vihāra sudah tidak asing lagi di telinga setiap umatnya. Karena ajaran Buddha mempunyai ciri khas pengembangan cinta kasih kepada semua makhluk, dan ajaran cinta kasih ini merupakan salah satu dari empat sifat luhur dalam brahma-vihāra.

Pengertian Brahma-vihāra

Ajaran mengenai cinta kasih, belas kasihan, turut berbahagia, dan tentang keseimbangan batin merupakan ciri khas dari Buddhisme. Cinta kasih di sini bukan berarti cinta seperti dalam pengertian umum, bukan cinta yang mempunyai pamrih dan juga bukan cinta kepada hal-hal atau orang-orang tertentu melainkan cinta yang tidak membedakan apa dan siapa pun. Keempat sifat yang terdapat dalam brahma-vihāra ini merupakan sifat yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi lebih menekankan pada kepentingan dan kesejahteraan bersama, sehingga sifat-sifat ini dapat membuat manusia saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain.
Kata brahma dapat diartikan sebagai ‘sangat baik’, agung, luhur atau mulia, dan vihāra diartikan sebagai ‘keadaan dari kehidupan’. Oleh karena itu brahma-vihāra berarti keadaan yang luhur atau kediaman luhur (Piyadasi, 2003:247). Brahma-vihāra dapat diterjemahkan sebagai cara bertingkah laku yang luhur atau tempat kediaman dewa brahma. Brahma-vihāra adalah cara atau keadaan kehidupan yang halus atau mulia seperti brahmacariya (kehidupan mulia). Mereka juga disebut appamañña (tanpa batas ikatan), karena bentuk pikiran ini dipancarkan pada semua makhluk tanpa batas dan tanpa rintangan (Narada, 1992:275).
Dikatakan brahma-vihāra karena orang yang memiliki dan mengembangkan sifat-sifat tersebut berarti ia memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh para dewa brahma yang berdiam di alam-alam brahma. Suatu makhluk dapat terlahir di alam-alam brahma apabila ia senantiasa mengembangkan sifat luhur seperti cinta kasih, belas kasihan, turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain, dan batin yang selalu seimbang. Untuk itu apabila orang selalu mengembangkan sifat luhur ini, dan sifat tersebut telah menyatu dalam dirinya maka setelah meninggal dunia tidak menutup kemungkinan ia dapat terlahir di salah satu alam para dewa brahma.
Jadi brahma-vihāra adalah keadaan batin yang luhur dan halus yang dikembangkan secara bebas, luas, dan menyeluruh ke segenap penjuru, kepada apa dan siapa saja baik yang terlihat atau yang tidak terlihat, yang bersifat mengasihi atau membenci tanpa adanya keterikatan terhadap obyek, baik obyek yang menyenangkan atau pun obyek yang tidak menyenangkan. Brahma-vihāra adalah keadaan yang tidak terbatas dan meliputi segala sesuatu, yang merupakan sifat-sifat luhur para brahma.
Orang yang telah memiliki dan menyatu dengan brahma-vihāra tersebut akan selalu berusaha berada dalam keadaan batin yang seimbang dalam menghadapi segala permasalahan dalam hidup, ia akan menghadapinya dengan penuh kebijaksanaan. Oleh karena itu seseorang yang mengembangkan brahma-vihāra secara terus-menerus dengan sepenuh hati, orang tersebut dikatakan ”berdiam dalam brahma”. Artinya ia bersifat seperti halnya makhluk brahma yang luhur yang berdiam di alam-alam brahma.

Sifat-sifat Brahma-vihāra

Brahma-vihāra memiliki empat sifat mulia yang saling mendukung dan mempengaruhi satu sama lain. Walaupun ada perbedaan obyek dari keempat sifat-sifat brahma-vihāra tersebut, tetapi dalam mengembangkannya harus seimbang antara keempatnya. Apabila yang satu berkembang maka dengan demikian ketiga sifat yang lainnya pun juga ikut berkembang karena sifat tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Empat sifat tersebut dikatakan luhur karena merupakan cara bertindak dan bersikap yang benar dan ideal terhadap semua makhluk hidup, sattesu sammā paöipatti. Keempat sifat luhur tersebut adalah mettā (cinta kasih), karunā (kasih sayang, belas kasih), muditā (turut bergembira), dan upekkhā (keseimbangan batin).

Cinta Kasih (Mettā)

Mettā (bahasa pali) atau maitri (bahasa sansekerta) berarti sesuatu yang dapat menghaluskan hati seseorang, atau rasa persahabatan sejati. Dalam bahasa Indonesia mettā sering diterjemahkan dengan arti “cinta kasih”. Dalam bahasa Inggris disebut “loving kindness”, kadang-kadang “benevolence”. Disebut demikian karena perasaan ini merupakan suatu perasaan yang hangat bagi makhluk-makhluk. Kehangatan berasal dari matahari yang disebut “mitra” dalam kepustakaan Vedā. Seseorang yang mempunyai hati yang hangat pada kita disebut “mitrā” atau “mittā” (dalam bahasa Indonesia: teman); sifat dari “mitra” atau “mittā” adalah “maitri” atau “mettā”. Sebagaimana matahari menyinari segala sesuatu di dunia ini, “mettā” atau “maitri” memancar kepada semua makhluk tanpa perbedaan (Dharmawidya, 1990:23).
Oleh karena itu seperti halnya matahari yang selalu memberi kehangatan kepada siapa saja tanpa terkecuali, demikian pula mettā. Ia selalu memberikan kehangatan cinta kasih dan kasih sayang kepada siapa pun, baik yang bersifat netral ataupun yang bersifat bermusuhan kepadanya. Itulah kemuliaan mettā, cinta sejati yang benar-benar tulus dan tanpa pamrih sedikit pun, akan memancar ke segenap penjuru dunia menawarkan perdamaian dan ketentraman bagi manusia yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupannya dan orang-orang di sekitarnya.
Mettā dirumuskan sebagai keinginan akan kebahagiaan semua makhluk tanpa terkecuali. Mettā juga sering dikatakan sebagai niat suci yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk-makhluk lain. Seperti yang terdapat dalam mettā-sutta, yang berbunyi sebagai berikut: “sebagaimana seorang ibu yang mempertaruhkan jiwanya melindungi anak tunggalnya, demikianlah terhadap semua makhluk; kembangkan pikiran cinta kasih tanpa batas” (¥anamoli, 2001:15). Musuh langsung dari mettā adalah kebencian, keinginan jahat atau keengganan, kodha, musuh tidak langsungnya adalah kecintaan pribadi, pema. Pema atau cinta dalam pengertian umum, seperti cinta seorang suami kepada istri, dan istri kepada suami.
Cinta seperti itu tidaklah sama dengan mettā, melainkan berperan sebagai musuh tidak langsung dari mettā. Karena pema memiliki keegoan sebagai dasar mencintai seseorang. Mettā menjangkau semua makhluk tanpa kecuali. Puncak mettā adalah persamaan diri sendiri dengan semua makhluk. Ia merupakan pengharapan terhadap kebaikan dan kebahagiaan semua pihak. Sikap bajik merupakan ciri utamanya, mettā menghapus semua kehendak jahat.
Pengembangan cinta kasih ini dapat dilakukan dengan cara mengharap kebahagiaan, dimulai dari diri sendiri, sanak keluarga, kerabat, teman, orang-orang yang bersikap netral atau yang bersikap bermusuhan hingga akhirnya cinta kasih tersebut meliputi semua makhluk tanpa terkecuali, semoga semua makhluk berbahagia dan bebas dari penderitaan. Demikian cinta kasih itu dikembangkan Sehingga pikiran benar-benar terpenuhi dengan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas.
Cinta kasih memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan dapat mempengaruhi orang ataupun makhluk lain, sebagai contoh ketika Buddha menakhlukkan seekor gajah yang sedang mengamuk karena dibuat mabuk oleh Devadatta dengan tujuan untuk mencelakakan Buddha. Namun, dengan cinta kasih yang dipancarkan oleh Buddha, gajah tersebut berubah menjadi tunduk dan jinak dihadapan Buddha dan para siswanya (Widjaja, 2006:553).
Contoh lain adalah ketika Bodhisatta, calon Buddha sedang menyempurnakan cinta kasih di salah satu kehidupannya sebelum pangeran Siddhatta mencapai penerangan sempurna. Beliau pernah terlahir sebagai anak muda yang tekun melatih dan mengembangkan mettā. Ayahnya tidak setuju dan menentangnya, sehingga pada suatu hari ketika kemarahan ayahnya memuncak, ia menyuruh seorang prajurit untuk membunuh anaknya. Bodhisatta berpikir dalam hatinya: ”sekarang ini merupakan suatu kesempatan yang sangat baik bagiku untuk melatih mettā. Ayah menentang dan marah padaku; ibu bersedih hati karena tingkah laku ayah padaku; algojo sudah siap untuk memotong tangan, kaki, dan kepalaku. Aku akan menjadi korban yang berada di tengah-tengah. Cinta kasihku memancar ke segala penjuru, sama rata dan tidak mebedakan siapa pun, terus mengalir tidak terganggu sedikit pun. Semoga ayahku tercinta tidak mengalami kesusahan akibat perbuatannya yang tidak mengenal belas kasihan! Semoga aku dapat menjadi Buddha di masa mendatang!”.
Demikianlah beliau melatih dirinya dalam mengembangkan cinta kasih tanpa batas, cinta kasih yang tulus mengharapkan kebahagiaan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan ia memancarkan cinta kasihnya baik kepada orang yang membenci, menyayangi, atau yang bersifat netral kepadanya.

Belas Kasihan/kasih sayang (karunā)

Sifat luhur kedua yang dapat memuliakan seseorang adalah belas kasihan (karunā), yang diartikan sebagai hal yang membuat hati yang baik bergetar ketika pihak lain terkena musibah, atau sesuatu yang mengusir penderiataan pihak lain. Ciri utamanya adalah keinginan untuk melenyapkan penderiataan pihak lain. Musuh langsungnya adalah kekejaman, hims⬬¬ dan musuh tidak langsungnya yaitu dukacita, hawa nafsu, domanassa. Kasih sayang mencakup makhluk yang terkena kesedihan, dan sifat karunā ini mengurangi kekejaman (Uttamo, 2007:270). Hati seseorang yang penuh kasih sayang adalah halus; ia tidak akan berhenti dan tidak puas sebelum dapat meringankan penderitaan orang lain. Bahkan kadang-kadang ia sampai rela mengorbankan hidupnya demi membebaskan orang lain dari segala penderitaannya.
Sebuah kisah dalam cerita Vyaghari Jataka terdapat contoh yang baik mengenai kasih sayang, di mana Sutasoma sebagai seorang Bodhisatta telah rela mengorbankan hidupnya sendiri untuk menolong seekor harimau betina yang sedang kelaparan dan hendak memangsa anak-anaknya yang masih kecil guna menghilangkan rasa laparnya. Bodhisatta mencegah niat harimau betina itu, dan sebagai gantinya ia memberikan tubuhnya sendiri untuk dimakan oleh harimau betina tersebut. Dengan demikian beliau telah menyelamatkan anak-anak harimau dan juga induknya dari kematian yang mengancam, dengan mengorbankan kehidupan beliau.
Karunā merupakan sifat yang empati, turut prihatin terhadap penderitaan yang sedang dialami oleh makhluk lain. Namun apabila perasaan empati ini berlanjut kepada perasaan kalut dan keputusasaan, dan terbawa pada kesedihan yang mendalam, hal ini akan menjadi musuh dari karunā itu sendiri. Karunā bukanlah sifat yang pesimis, melihat penderitaan orang lain sehingga mengakibatkan hilangnya semangat dalam menghadapi hidup. Orang yang memiliki karunā akan sadar; walaupun banyak orang yang tertimpa musibah, mengalami banyak permasalahan dalam hidup, namun di balik itu semua, ada sebuah jalan untuk mengeluarkan mereka dari penderitaan tersebut. Untuk itu keseimbangan batin juga dibutuhkan dalam melatih karunā ini sehingga tidak ada sifat pesimis ataupun optimis.
Unsur kasih sayang dapat mendorong seseorang menolong orang lain dengan ketulusan hati. Orang yang memiliki kasih sayang murni tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Ia mencari kesempatan untuk dapat menolong orang lain tanpa mengharapkan balas jasa dalam bentuk apapun, baik materi ataupun pengormatan sebagai timbal balik dari kebajikan yang ia lakukan. Obyek dari karuna atau kasih sayang adalah orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan, orang-orang sakit, orang-orang bodoh, orang-orang jahat, tanpa membeda-bedakan.
Adalah kewajiban bagi mereka yang kaya untuk membantu orang-orang yang miskin, yang kekurangan segala kebutuhan hidup mereka. Dan bagi mereka yang sehat sudah tentu memiliki kewajiban untuk menolong orang-orang yang sedang sakit. Sebenarnya, kasih sayanglah yang menjadi pendorong utama bagi seseorang untuk menolong orang sakit. Kasih sayang ini tidak lain merupakan sifat yang berhubungan dengan kesucian, yang dapat dilihat dalam semua agama dan kemanusiaan. Seorang dokter yang tidak egois ataupun gila akan harta, memberikan pertolongan cuma-cuma terhadap orang-orang yang menderita. Salah satu contohnya adalah seseorang yang amat terkenal dan patut diberi penghormatan, yaitu Dr. Albert Sechweitzer yang menyerahkan waktu dan tenaganya untuk menolong orang-orang di Afrika yang terkena lepra.
Orang-orang yang kejam, pendendam, pemarah, serakah, dan tidak bijaksana patut menerima kasih sayang atau belas kasihan sama seperti halnya mereka yang sakit jasmani atau batin. Mereka hendaknya jangan dibenci, dicemooh atau dihina, bahkan sebaliknya kita harus menaruh rasa kasihan dan sayang kepada mereka, karena sebenarnya orang-orang tersebut akan membuat kehidupannya di masa yang akan datang menjadi sengsara dan penuh dengan penderitaan dengan memiliki dan mengembangkan sifat-sifat negatif tersebut. Buddha pun juga memiliki rasa kasih sayang yang begitu besar terhadap seorang pelacur yang bernama Ambapali, dan Angulimala seorang pembunuh dan perampok yang sangat kejam, yang pada akhirnya mereka sadar dan menjadi orang yang mulia di bawah bimbingan Sang Buddha.

Rasa Simpati (muditā)

Sifat luhur yang ketiga adalah muditā atau rasa simpati, yaitu perasaan bahagia melihat orang lain berbahagia atau perasaan gembira yang dapat menghilangkan rasa iri hati. Muditā bukan hanya rasa simpati tetapi juga sukacita yang mendalam dan tulus atas keberhasilan atau kesejahteraan yang dicapai oleh pihak lain. Musuh langsungnya adalah kecemburuan (issā) dan musuh tidak langsungnya adalah kesenangan (pahasā). Muditā memiliki ciri utama yaitu kebahagiaan yang sungguh tulus atas kesejahteraan dan keberhasilan pihak lain (anumodanā).
Objek dari muditā adalah semua makhluk yang sejahtera. Ia mengurangi ketidaksenangan dan iri hati (Uttamo, 2007:270). Corak utama dalam muditā adalah perasaan bahagia melihat kemakmuran dan kesejahteraan orang lain. Sedang tepuk tangan, sorak gembira, dan sebagainya bukanlah corak dari muditā, karena hal tersebut dapat dianggap sebagai musuh tidak langsung dari muditā.
Muditā dipancarkan kepada semua makhluk yang makmur dan sejahtera, yang merupakan sikap ikut merasa berbahagia dan bersyukur. Muditā dapat melenyapkan sifat iri hati, antipati atau tidak senang melihat kemajuan yang dicapai oleh orang lain. Seperti halnya mettā dan karunā yang lebih mudah dikembangkan terhadap orang-orang yang dekat dengan kita, demikian pula dengan muditā. Ia akan terasa lebih sulit dikembangkan kepada orang-orang yang mungkin kurang dekat atau bahkan musuh. Apabila ada seorang musuh yang sedang mengalami kebahagiaan atas apa yang ia capai, tentunya akan lebih sulit untuk ikut merasakan kebahagiaan musuh tersebut. Namun inilah yang harus dikembangkan untuk kedewasaan batin masing-masing. Muditā harus dikembangkan dengan tanpa membeda-bedakan siapa yang mengalami kebahagiaan atau keberhasilan, walaupun lawan sekalipun, hendaknya seseorang tetap menunjukkan sikap turut berbahagia ini terhadapnya.
Dengan demikian tidak menutup kemungkinan orang yang tadinya memiliki prasangka negatif akan merasa dihargai dan merubah pemikirannya setelah mengetahui sikap bermudita-cita yang ditunjukkan kepadanya. Hal tersebut tentunya akan lebih membawa kebahagiaan terhadap semua pihak, dan tidak menutup kemungkinan dapat menyelesaikan permusuhan yang telah lama terjadi. Inilah alasan mengapa setiap orang atau setiap golongan harus berlatih dengan sungguh-sungguh dalam mengembangkan muditā atau rasa simpati dan bergembira atas keberuntungan dan keberhasilan orang atau golongan lainnya, jika mereka ingin meluhurkan dirinya dan menjadi orang yang berbahagia lahir dan batin.


Keseimbangan Batin (upekkhā)


Sifat luhur keempat yang merupakan sifat luhur yang paling sukar dan paling penting adalah keseimbangan batin (upekkhā). Dalam bahasa Pāli, kata ”upa” berarti ”dekat”, dan kata ”ikh” berarti ”melihat”; jadi upekkhā berarti melihat dari dekat, yang mempunyai makna: melihat dengan adil, tidak berat sebelah, lurus atau tegak. Secara harfiah upekkhā berarti memandang tanpa berpijak, yaitu tidak dengan kemelekatan ataupun keengganan, tidak ada terikat atau benci, tidak ada rasa senang dan tidak senang. Upekkhā bukan merupakan sikap acuh tak acuh tetapi lebih pada sikap keseimbangan sempurna atau batin yang seimbang di tengah-tengah semua perubahan kehidupan, seperti pujian dan celaan, penderitaan dan kebahagiaan, untung dan rugi, dikenal dan tidak dikenal. Upekkhā juga memandang semua makhluk dengan seimbang, sebagai ahli waris atas hasil perbuatan mereka sendiri, tanpa kemelekatan atau
penolakan. Upekkhā adalah ketenangan yang tidak memihak dari seseorang yang
memahaminya.
Musuh langsung dari upekkhā yaitu kemelekatan (rāga) dan musuh tidak langsungnya adalah perasaan yang beku (acuh). Sikap tidak memihak merupakan ciri utama dari keseimbangan batin ini. Pada umunya orang akan merasa bingung dan kacau apabila mengalami perubahan dari senang menjadi tidak senang, dari terkenal menjadi tidak terkenal, dari kaya menjadi miskin, dipuji dan dicela, dan sebagainya. Dalam hal ini Buddha pernah bersabda: ”orang bijaksana tidak menunjukkan rasa gembira maupun kecewa di tengah-tengah pujian dan celaan. Mereka tetap teguh bagaikan batu karang yang tidak tergoncangkan oleh badai” (Widya, 2002:31).
Terdapat sebuah syair dalam kisah Jataka sebagai berikut: ”persis seperti sikap tanah, apa pun yang manis ataupun pahit, acuh tak acuh ia menerima semuanya, dengan sikap yang sama; begitu pula hendaknya seorang siswa, terhadap sikap yang membenci atau pun yang bersahabat, kebajikan ataupun kajahatan, tetap tenang seimbang mereka menerimanya, inilah dasar perkembangan upekkhā” (Narada, Tanpa tahun:27).
Jadi keseimbangan batin merupakan sikap bijaksana dalam menghadapi segala bentuk permasalahan yang dialami. Tidak menunjukkan rasa suka cita yang berlebihan ketika mengalami kebahagiaan, dan sebaliknya tidak terlarut dalam kesedihan yang sangat mendalam ketika mengalami kesusahan.
Itulah sifat-sifat luhur dalam brahma-vihāra yang merupakan kondisi batin positif dan luhur yang jika dikembangkan pada diri manusia akan dapat mengikis serta melenyapkan sifat yang bertentangan dengannya, seperti kebencian, egois, keserakahan serta dapat menumbuhkan kesabaran dan kebijaksanaan hingga pada kebahagiaan sejati yaitu terbebasnya dari segala bentuk kekotoran batin.

Membuat Webpage Album Foto Pribadi

Apakah Anda ingin melengkapi website Anda dengan koleksi foto pribadi? Kalau jawabannya ya, mungkin Anda perlu mencoba aplikasi yang satu ini. Web Album Generator 1.5.0, aplikasi ini memungkinkan Anda membuat webpage koleksi foto dengan mudah. Aplikasi ini bisa di-download gratis dan tidak ada batasan waktu penggunaan. Keunggulan Web Album Generator bukan hanya terletak pada sisi kegratisannya tapi juga fitur-fiturnya yang sangat user-friendly. Kalaupun Anda belum mempunyai website pribadi Anda bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk menyimpan koleksi foto Anda. Album foto Anda akan lebih menarik tampilannya. Tertarik untuk mencoba? Ayo kita mulai.

LANGKAH 1
Pertama-tama Anda perlu men-download Web Album Generator. Buka web browser Anda dan buka alamat www.ornj.net/software/webalbum/, kemudian klik [Download]. Jangan lupa untuk menempatkan hasil file download di folder yang mudah diingat, bila perlu buat folder baru lewat Windows Explorer, misalnya D:\Downloads\webalbum. Setelah proses download selesai coba periksa pada direktori tersebut, ada file baru, webalbum_setup.exe yang berukuran 861Kb.

LANGKAH 2
Setelah proses download selesai, lakukan instalasi dari file download tersebut. Klik dua kali pada file webalbum_setup.exe maka proses instalasi akan berjalan secara otomatis. Setelah proses instalasi beres Anda bisa langsung menggunakan aplikasi ini.

LANGKAH 3
Sebelum memulai proses pembuatan webpage koleksi foto, sebaiknya dibuat dulu folder baru dimana seluruh file akan di tempatkan. Buat folder baru lewat Windows Explorer, misalnya D:\My Documents\Webalbum\foto. Selanjutnya masukkan foto-foto pilihan Anda ke direktori ini. Yang perlu diperhatikan, format foto tersebut harus berformat JPEG Image (*.jpg atau *.jpeg) karena Web Album Generator hanya mendukung format ini.

LANGKAH 4
Sekarang Anda siap memulainya. Jalankan aplikasi Web Album Generator, klik [Start] [Programs] [Web Album Generator] kemudian klik ikon [Web Album Generator]. Terlihat tampilan menu awal dari Web Album Generator.

LANGKAH 5
Masukkan foto yang telah terpilih sebelumnya ke dalam daftar [My Photograps]. Caranya klik [Photo] [Add Photo] kemudian cari folder tempat foto-foto tersebut. Setelah itu blok seluruh file foto dan klik [Open]. Sekarang pada daftar [My Photograps] sudah terlihat nama-nama file foto yang kita pilih. Bila ingin mengubah nama file foto, edit saja nama file pada [Photo title]. Anda bisa juga memberi deskripsi pada setiap foto dengan menuliskannya pada form [Photo Caption]. Nanti setelah album foto jadi, deskripsi ini akan terlihat di bawah tampilan foto.

LANGKAH 6
Simpan dulu pekerjaan Anda dengan klik ikon disket yang ada di toolbar. Langkah selanjutnya klik [File] [Generate Album..], atau langsung Anda klik ikon [Generate the current album] yang ada di toolbar. Selanjutnya akan muncul halaman pertama dari Album Generation Wizard. Tuliskan judul album yang Anda inginkan pada [Album Title], misalnya “Album Minggu Iniâ€. Anda juga bisa melakukan kustomisasi terhadap warna-warna dari album tersebut, sesuaikan dengan keinginan Anda. Setelah itu klik [Next].

LANGKAH 7
Selanjutnya kita masuk ke kotak dialog untuk melakukan setting terhadap halaman index dari album. Tentukan jumlah baris dan kolom dari thumbnail foto yang Anda inginkan. Bila menginginkan format 5 baris dan 4 kolom maka isikan 5 pada [Index rows] dan 4 pada [Index Columns]. Setelah sesuai keinginan Anda klik [Next].

LANGKAH 8
Pada kotak dialog ini Anda bisa melakukan pengaturan format halaman album foto Anda. Tentukan letak Navigation Control, diatas atau dibawah foto Anda, setiap perubahan yang dilakukan akan terlihat pada preview. Selanjutnya tentukan ukuran foto, pada [Photo size] pilih [640X480]. Klik juga pada pilihan [Preserve Original Aspect Ratio] agar tampilan gambar dalam album tidak rusak. Klik [Next] untuk melanjutkan ke proses selanjutnya.

LANGKAH 9
Tentukan direktori tempat album yang akan dihasilkan. Letakkan di direktori yang telah kita buat sebelumnya yaitu: D:\My Documents\Webalbum\. Terakhir klik [Finish], prosesnya memakan waktu beberapa saat. Untuk melihat hasilnya klik [View Finished Album]. Bisa juga lewat Windows Explorer dengan klik dua kali pada file index.html.

LANGKAH 10
Sekarang Anda sudah bisa melihat hasil album Anda. Album yang dihasilkan terdiri dari dua bagian utama yaitu halaman index dan halaman foto. Pada halaman index album terlihat thumbnail dari semua foto yang ada. Bila kita klik salah satu thumbnail tersebut maka otomatis foto yang berukuran besar akan terlihat. Apabila telah sesuai dengan keinginan selanjutnya Anda bisa langsung meng-upload album foto Anda. Upload semua output yang dihasilkan yaitu folder photos, folder thumbnail, file advance.css, file index.html dan file main.css.

Adakah Tuhan Itu????

Keberadaan Tuhan itu seperti hukum. Sekeras apa hukum itu diciptakan, hal itu tidak akan mempengaruhi mereka yang tidak melakukan kesalahan. Karena hukum hanya berlaku pada mereka yang melakukan kesalahan. Hukum diciptakan untuk mengatur manusia agar tidak melakukan kesalahan dan tidak keluar dari jalur etika kemoralan maupun adat suatu daerah tertentu. Begitu juga, selama manusia selalu berada dalam jalan kebenaran dan selalu melakukan kebajikan, terlepas dari ada atau tidak adanya Tuhan, bukanlah merupakan suatu masalah besar. Toh belum ada yang dapat membuktikan secara nyata tentang keberadaan maupun ketidakberadaan Tuhan?
Merujuk dari buku Ajhan Bram, 'Good question good answer' diceritakan ada oarang inggris, prancis, tionghoa,dan orang indonesia. mereka sedang membicarakan sebuah cangkir. orang inggris mengatakan ini adalah "cup", orang prancis mengatakan bukan! ini "tesse", orang tionghoa tidak mau kalah dengan membantah, ini adalah "pei". orang inggris mengambil sebuah kamus dan menunjukkan pada mereka; dalam kamusku jelas-jelas mengatakan bahwa benda ini adalah cup. dan yang lainpun tidak mau kalah, mereka juga mengambil kamus mereka masing-masing dan menunjukkannya. di sela-sela perdebatan mereka, datang orang indonesia dengan berkata: apapun nama yang kalian gunakan untuk menyebut benda ini, yang jelas benda ini dibuat agar kita dapat minum menggunakan benda ini, jadi gunakan benda ini untuk minum dan hilangkan dahagamu.
Terkadang kita terlalu menghambur-hamburkan waktu untuk memperdebatkan sesuatu yang tidak memberi manfaat bagi kehidupan kita dan sesama. banyak hal yang lebih bermanfaat yang dapat kita lakukan untuk kemajuan kehidupan manusia dari pada hanya memperdebatkan sesuatu yang kurang bermanfaat, dan tidak jarang hanya akan membuat kita bingung karena spekulasi.

Memilih Pasangan=Memilih Bis???

Memilih pasangan ibarat memilih bis saat kita akan bepergian ke suatu tempat.
Ketika kita sampai pada tempat penyetopan bis/halte bis, kita menunggu bis datang. Ketika ada sebuah bis datang anda berpikir: "ah...bis ini jelek! pasti tidak nyaman". lalu anda pun memutuskan untuk membiarkan bis jelek itu berlalu di hadapan anda.
tak lama kemuadian datang bis yang lain lagi; dan lagi-lagi anda berpikir: "bis ini terlalu tua,aku tidak akan naik bis ini". dan untuk kedua kalinya anda membiarkan bis berlalu. kemudian datanglah bis ketiga datang, tetapi anda melihat bahwa bis itu penuh dan tidak ber-AC sehingga muncul pemikiran pada diri anda:" ah...bis ini penuh dan tidak ber-AC,aku ingin naik bis yang ada ACnya". untuk sekian kalinya anda membiarkan bis-bis berlalu. tak terasa hari tlah mulai gelap dan anda pun mulai panik kalau-kalau idak ada bis yang lewat lagi dikarenakan waktu tlah malam. dalam kondisi seperti itu, ketika anda melihat sebuah bis, tanpa pimkir panjang kali lebar tambah tinggi, anda langsung naik ke dalam bis tersebut. dan setelah beberapa saat anda baru tersadar bahwa bis yang anda tumpangi adalah bis jurusan lain. anda tersadar bahwa anda telah menyia-nyiakan uang dan waktu, dan celakanya lagi, bis yang anda tumpangi adalah bis jurusan lain, tidak sesuai dengan arah tujuan yang anda inginkan.

Kita semua tentunya pernah mengalami hal berikut ini:
ketika kita sedang menunggu bis, kita melihat sebuah bis yang sangant bagus, indah, ber-AC, dan sepertinya nyaman sekali berada di dalamnya. Wooow!!!Sungguh sebuah bis yang selama ini anda impi-impikan!. Yahh... tentunya tanpa ragu lagi anda akan segera melambaikan tangan dengan harapan bis tersebut berhenti dan membawa anda. Tetapi ternyata bis tersebut mengabaikan lambaian tangan anda dan terus melaju dengan kencangnya tanpa memperdulikan anda seolah-olah ia tidak melihat keberadaan anda. Akhirnya anda tersadar bahwa selama ini anda telah menuggu sesuatu yang sia-sia. Dan betapa anda telah mengabaikan bis-bis jelek dan tidak ber-AC yang sesungguhnya menawarkan tumpangan secara tulus untuk mengantaranda mencapai tujuan yang anda inginkan. Anda tersadar bahwa selama ini anda telah mengabaikan dan tidak memperdulikan bis-bis yang sesungguhnya lebih pantas untuk anda hargai dengan sepantasnya. anda baru tersadar bahwa anda telah mencampakkan bis tersebut hanya karena anda menginginkan sebuah bis yang anda impikan selama ini, bis yang masih bagus dan ber-AC. Namun pada kenyataannya bis tersebut ber'plat' hitam (tidak bersedia anda tumpangi wkwkwkwkwkwk...), sehingga ia pun mengabaikan lambaian tangan anda yang penuh harapan...

Yaah... bis yang bagus, yang ber-AC, kita ibaratkan sebagai seseorang yang kita impikan dan kita inginkan. Sedangkan bis-bis jelek (di mata anda) dan tidak ber-AC ibarat orang yang mencintai kita dengan tulus, dan kebanyakan orang tidak memperdulikan bis-bis jelek tak ber-AC tersebut. Nah inilah bentuk nyata keegoisan kita yang dapat kita lihat secara langsung dalam hidup ini. Begitu besarnya perasaan egois kita dengan mengabaikan semua hal hanya untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri....
semoga ilustrasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua...
be happy.
e-mail
May 2013
M T W T F S S
April 2013June 2013
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31