Give thanks to the Lord, because He is good

His faithful love continues forever. ( Psalm 107 : 1 )

Subscribe to RSS feed

What’s For Dinner?



I can hardly imagine inviting special friends over for dinner and then throwing a few leftovers into the microwave to serve up to them. But if I were to do that, it would speak volumes about how I really feel about them.

Giving God the leftovers of our lives speaks volumes about His true worth to us. When God asked Abraham to give Isaac back to Him as an act of worship, Genesis 22:1 calls it a test. A test to see if there was anything in his life that he treasured more than God.

It’s no different for us. There are times when God requires something really important to get His work done. He’ll ask us to give up our natural instincts to seek revenge so that we can communicate His forgiving love by forgiving our enemies. He may call us to sacrifice portions of our time or money or comforts to advance His cause. Or He may require us to allow our sons and daughters to go to a far-off land to tell others about His saving love. The way we respond to what He requires says volumes about how we really feel about Him.

Anyone can offer the leftovers. Only those who love God more than anything else will serve up the very best for Him. — Joe Stowell

“Take up thy cross and follow Me,”
I hear the blessed Savior call;
How can I make a lesser sacrifice
When Jesus gave His all? —Ackley


No sacrifice we make is too great for the One who sacrificed His all.

Petak Umpet

Anak-anak balita bermain petak-umpet dengan cara mereka yang unik. Mereka bersembunyi sambil bersuara, berisik, tertawa-tawa.

Dan yang paling lucu, menurut saya, mereka bersembunyi dengan cara menutup mata atau kepala mereka dengan bantal atau selimut.

Bagi mereka, asal mereka tidak melihat orang lain - mereka pikir orang lain pun tidak akan melihat mereka.

Mereka lucu, karena mereka anak-anak.
Namun menjadi tidak lucu lagi, bahkan tidak waras; ketika "cara bermain" yang sama diperlihatkan oleh orang-orang dewasa.

Nyatanya, kitalah orang dewasa yang tidak lucu tersebut.

Kita berdosa, kita dikejar rasa bersalah, kita lari dan kita bersembunyi dari Allah.

Kita mencoba bersembunyi dari Allah dengan menutup mata-rohani, kita tidak mau lagi berpikir tentang Allah - dan kita kira Allah pun tidak akan memperhatikan kita.

Kita mencoba menyembunyikan dosa dengan mengambil "bantal-selimut" kesalehan lahiriah, untuk menutupi kenajisan batiniah.

Intinya, sama dengan anak balita: Asal kita tidak melihat manusia lain ketika kita berdosa - mereka tidak akan tahu, Allah juga tidak tahu; Asal ada kesalehan lahiriah yang bisa dipamerkan - kita meyakini diri tetap suci.

Kita tertawa-tawa, penuh percaya diri bahwa kita berhasil bersembunyi dengan sukses.

Tidak waras!

Benar, karena di dalam kewarasan sanubari kita, siapa pun manusia, sesungguhnya di kedalaman hatinya bergaung nada yang sama, "Allah Maha Melihat!" - bergema suara yang sama, "aku tidak mungkin menipu Allah!"

Kembalilah waras wahai manusia; percayai nada-suara sanubari di dalam hati yang hening.

Jangan lagi bermain petak-umpet dosa dengan Allah.

Source : http://yesaya6.blogspot.com/

Seumur Hidup Jadi Tongkat Bagi Ibunda





Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi.......

Menurut laporan "City Evening Post", di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

"Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……"

Sumber : Unknown

Satisfaction

Pornography, once a secretive backdoor industry, is now out in the open. The easy access and anonymity of the Internet have turned it into a multibillion-dollar-a-year “business.” But it leaves a trail of broken families, ineffective Christian leaders, and men who have lost the respect of their loved ones.

The apostle John was known for his great love for Christ and His church. In 1 John 2:12-17, he warned fathers and young men against these three lusts:

The lust of the flesh—the insatiable appetite to indulge in pleasures that inflame the flesh but never satisfy.
The lust of the eyes—wandering eyes that continually want more riches and possessions but always remain covetous.
The pride of life—the vain mind that thirsts for man’s applause. But the glory evaporates quickly.


Pornography damages users and victims alike. It feeds lustful desires in ways that can never satisfy. True satisfaction is found only when we give our affections to eternal things—to a right relationship with our heavenly Father and with those He has created in His image.
— Albert Lee

The world is passing away, and the lust of it; but he who does the will of God abides forever. —1 John 2:17

Many Christian men struggle with the temptations of pornography. Find help by reading When A Man’s Eye Wanders

Inner peace springs out of inner purity.

Softly and Tenderly Jesus Is Calling

Softly and tenderly Jesus is calling,
Calling for you and for me;
See, on the portals He’s waiting and watching,
Watching for you and for me.

Refrain
Come home, come home,
You who are weary, come home;
Earnestly, tenderly, Jesus is calling,
Calling, O sinner, come home!

Why should we tarry when Jesus is pleading,
Pleading for you and for me?
Why should we linger and heed not His mercies,
Mercies for you and for me?

Time is now fleeting, the moments are passing,
Passing from you and from me;
Shadows are gathering, deathbeds are coming,
Coming for you and for me.

O for the wonderful love He has promised,
Promised for you and for me!
Though we have sinned, He has mercy and pardon,
Pardon for you and for me.

BAHAYA KESUKSESAN

Alexandr Solzhenitsyn mengatakan bahwa ia belajar berdoa di sebuah kamp konsentrasi di Siberia karena ia tidak punya harapan lain. Sebelum penangkapannya, ketika segala sesuatu berjalan dengan baik-baik saja, ia jarang memikirkan tentang Allah.

Demikian juga dengan bangsa Israel. Mereka mempelajari kebiasaan untuk bergantung kepada Allah di tengah padang gurun Sinai, tempat yang tidak memberi mereka pilihan lain; mereka membutuhkan campur tangan dari-Nya setiap hari hanya untuk urusan makan dan minum. Namun, ketika akhirnya mereka sampai di tepi sungai Yordan, mereka menghadapi pencobaan yang lebih berat untuk iman mereka. Setelah mereka memasuki tanah yang penuh kelimpahan, apakah mereka akan segera melupakan Allah?

Karena lama hidup di gurun, bangsa Israel tidak mengetahui banyak tentang godaan dari budaya-budaya lain. Musa lebih khawatir pada datangnya kelimpahan daripada kerasnya kehidupan di gurun—sensualitas yang menggoda, agama-agama yang eksotis, dan kekayaan yang gemerlap. Bangsa Israel dapat saja melupakan Allah dan memuji diri sendiri atas kesuksesan mereka (Ul. 8:11,17).

Ironisnya, kesuksesan membuat kita lebih sulit bergantung kepada Tuhan. Bangsa Israel sudah membuktikan bahwa mereka menjadi kurang setia setelah mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Berulang kali mereka memalingkan hati kepada ilah-ilah lain.

Waspadalah terhadap godaan yang menyertai kesuksesan. Ada bahaya mematikan dari mendapat apa yang kita inginkan. —PDY

Dengan gegabah, Aku meminta apa yang kuingini,
Dengan hati yang angkuh dan keinginan yang tamak;
Dia sering menolak apa yang kucari,
Tetapi memberiku anugerah sebagai gantinya. —NN.


Kesuksesan tanpa Allah jauh lebih menghancurkan daripada kegagalan yang terburuk sekalipun.

Silent Helper

The discovery of penicillin revolutionized health care. Prior to the 1940s, bacterial infections were often fatal. Since then, penicillin has saved countless lives by killing harmful bacteria. The men who recognized its potential and developed it for widespread use won a Nobel Prize in 1945.

Long before the discovery of penicillin, other silent killers were at work saving lives by destroying bacteria. These silent killers are white blood cells. These hard workers are God’s way of protecting us from disease. No one knows how many invasions they have stopped or how many lives they have saved. They receive little recognition for all the good they do.

The Lord gets similar treatment. He often gets blamed when something goes wrong, but He seldom gets credit for all the things that go right. Every day people get up, get dressed, drive to work or school or the grocery store, and return safely to their families. No one knows how many times God has protected us from harm. But when there is a tragedy, we ask, “Where was God?”

When I consider all the wonderful things that God does silently on my behalf each day (Isa. 25:1), I realize that my list of praises should be much longer than my list of petitions. — Julie Ackerman Link

God’s goodness undergirds our lives
In many silent ways;
His blessings are beyond compare—
For them we give Him praise. —D. De Haan

God keeps giving us reasons to praise Him.
[/B]

Don't be surprised if one day I don't know you !!

TO WHOM IT MAY CONCERN

You call Me the Way
but you don't follow Me

You call Me the Light
but you don't see Me

You call Me the Teacher
but you don't listen to Me

You call Me the Lord
but you don't serve Me

You call Me the Truth,
but you don't beleive Me

DON'T BE SURPRISED IF ONE DAY I DON'T KNOW YOU

Mat 7 : 23



Warisan

Nenek moyang sayalah yang memiliki senapan ini," ujar seorang pria dengan bangga. Tangannya menggenggam sebuah senapan yang kondisinya seolah tampak baru, berasal dari zaman tatkala para pendatang menjelajahi bagian barat Amerika. Saya mengagumi gagang senapan yang indah itu dan perlengkapannya yang terbuat dari kuningan yang kemilau. Katanya, "Ini diwariskan kepada Kakek, yang mewariskannya kepada ayah saya, dan yang kemudian mewariskannya kepada saya. Senapan ini telah disimpan turun-temurun dalam keluarga kami selama lebih dari 100 tahun. Saya pun akan mewariskannya kepada anak saya kelak saat ia sudah berusia 25 tahun."

Kita sering memikirkan apa saja yang dapat diwariskan kepada anak-anak. Istri saya, Shirley, berharap dapat mewarisi piring, gelas, dan barang-barang keramik Cina milik neneknya. Dalam rumahtangga Anda mungkin warisan itu agak berbeda: meja tulis model 'rolltop', selimut buatan tangan, atau sebuah Alkitab keluarga yang sudah tua. Warisan memang penting bagi kita.

Melalui teladan hidup kita, kita dapat mewariskan hal-hal yang jauh lebih penting kepada anak-anak, seperti nama baik dan karakter yang agung. Bacaan Alkitab hari ini menyebutkan tentang warisan terbaik yang pernah ada, yaitu teladan iman dalam Yesus Kristus. Nenek Timotius, Lois dan ibunya, Eunike, telah beriman kepada Kristus dan mengajar Timotius untuk melakukan hal yang sama (2 Tim. 1:5; 3:14-15).

Tatkala memikirkan apa saja yang hendak Anda wariskan kepada anak-cucu, jangan lupa untuk mewariskan teladan iman dalam Yesus. Itu merupakan warisan yang paling berharga. David Egner

Berilah kami rumah yang dibangun kokoh di atas dasar Juruselamat,
Dengan Kristus sebagai Kepala, Penuntun, dan Penasehat,
Dalam kasih dan jalan Allah setiap anak dididik,
Dan memberi diri kepada Kristus yang tersalib. Hart


NILAI-NILAI YANG KITA TANAMKAN DALAM ANAK-ANAK KITA JAUH LEBIH PENTING DARIPADA WARISAN BARANG-BARANG BERHARGA.

TEOLOGI EEYORE

Bagaimanakah seorang yang percaya dalam Yesus Kristus menangani dengan baik singkatnya hidup dan banyaknya beban tanpa merujuk pada pendapat Michael Easley dari Moody Bible Institute tentang “teologi Eeyore ”? Eeyore adalah seekor keledai murung yang menjadi temannya Winnie-the-Pooh. Keledai ini selalu berjalan pelan-pelan dengan kepala tertunduk. Ia melihat segala sesuatu dari sisi negatif.Kita dapat mendengar seorang Kristen yang seperti Eeyore membuat pernyataan seperti ini: “Dosa berkeliaran di segala tempat—bahkan di dalam gereja.” “Dunia makin lama makin buruk saja.” “Allah akan menghakimi kita karena kejahatan kita.”

Ketika menulis Mazmur 90,Musa sedang dalam suasana hati yang murung saat ia memikirkan perbedaan antara kemuliaan Allah yang kekal dengan kelemahan kita sebagai manusia. Kita bergumul,berduka, berdosa,takut akan Allah,dan kita mati (ay.7-10).Membuat depresi, bukan?Namun,Musa tidak menutup mazmurnya dalam kemurungan.

Bagaimanakah Musa menanggapi teologi Eeyore? Ia menulis, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorak dan bersukacita semasa hari-hari kami!” (ay.14). Ketika kita melihat nilai dari setiap peristiwa, hidup dalam kemuliaan penebusan kita, dan bersukacita atas segala berkat di dalam Kristus, kita menunjukkan sukacita kita di dalam Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita (ay.16-17).

Tuhan, jangan biarkan kami menjadi seperti Eeyore, dan tolonglah kami untuk meninggalkan warisan sukacita,pengharapan,dan damai kepada anak dan cucu kami.—DCE

Ketika cobaan menyerang dan semangatku kendur,
Ketika rasa sakit dan kesedihan tampaknya tak pernah berakhir,
Aku berpaut pada-Mu, Tuhan, agar aku boleh melihat
Damai dan sukacita yang telah Engkau janjikan padaku. —Fitzhugh


Anda tidak akan menjadi anak yang berputus asa jika Anda mengingat pemeliharaan Bapa Anda.
May 2013
M T W T F S S
April 2013June 2013
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31