My Opera is closing 3rd of March

Artikel Islami

Power by www.ulilalbab.wen.ru

TERJEMAH HADITS "SHOHIH AL-BUKHORI (5 JILID)"

HATI-HATI DAN WASPADA MEMBACA DAN MENYIMAK BUKU TERJEMAHAN HADITS TANPA MENGGUNAKAN KITAB SYARAH ATAU PENJELASAN ULAMA YANG AHLI DI BIDANGNYA !

oleh Thobary Syadzily
HATI-HATI DAN WASPADA MEMBACA DAN MENYIMAK BUKU TERJEMAHAN HADITS TANPA MENGGUNAKAN KITAB SYARAH ATAU PENJELASAN ULAMA YANG AHLI DI BIDANGNYA !

Terjemahan hadits "Shohih al-Bukhori" ini dikeluarkan oleh salah satu group penerbit Wahabi / Salafi, yaitu "Pustaka As-Sunnah" Jakarta dan sangat baik dibaca untuk menambah wawasan keilmuan kita, sehingga dapat menjadikan khazanah keilmuan Islam. Begitupula bisa dijadikan sebagai "studi komperatif" dengan cara memperbandingkan terjemahannya dengan teks aslinya, sesuai dengan apa yang dimaksud dengan isi kandungan hadits tersebut. Dengan demikian, kita harus hati-hati dan waspada membaca dan menyimaknya, apalagi hanya dengan mempergunakan akal atau logika semata tanpa mengikuti penjelasan atau kitab syarahnya, seperti kitab: Fathul Bari, Umdatul Qari, Kirmani, dan Irsyadus Sari.

Dalam menterjemahkan sya'ir dari Abi Thalib pada jilid 2 halaman 707 (lihat tulisan pada foto ketiga), penterjemah telah menyelewengkan artinya, yaitu kalimat:

و أبيض يستسقى العمام بوجهه

(WA ABYADHU YUSTASQAL GHAMAAMU BIWAJHIHI)

diterjemahkan menjadi "Semoga awan putih disiramkan dengan pertolongan-Nya." Seharusnya kalimat-kalimat tersebut terjemahannya: "Dengan wajah beliau yang putih bersinar, diturunkanlah hujan." Maksudnya: Orang-orang kalau sedang tertimpa musim kemarau yang panjang, mereka mendatangi Nabi saw agar beliau memohon kepada Allah SWT untuk diturunkan hujan. Olehkarena itu, dengan sebab (wasilah atau perantara) wajah beliau yang putih bersinar, maka Allah SWT menurunkan hujan kepada mereka. Jadi, dalam hal ini masalah "Tawassul'" diperbolehkan dalam syari'at Islam (termasuk tawassul lewat pembacaan Shalawat badar, Shalawat Nariyah / Munfarijah / Kamilah, Shalawat Fatih dan sebagainya), baik ketika Nabi masih hidup maupun setelah wafat, sebagaimana disebutkan dalam hadits (lihat tulisan yang ada di foto keempat) sebagai berikut:


Artinya:
=====

"Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Umar bin Khaththab apabila mereka sedang mengalami kemarau yang panjang, mereka minta hujan dengan perantaraan Abbas bin Abdul Muthallib, kemudian beliau berkata:

"ALLAAHUMMA INNA KUNNA NATAWASSALU ILAIKA BINABIYYINA FATASQIINA WA INNA NATAWASSALU ILAIKA BI'AMMI NABIYYINA FASQINA QAALA: FAYUSQAUNA."

{YA ALLAH ! SESUNGGUHNYA KAMI BERTAWASSUL KEPADAMU DENGAN PERANTARAAN NABI KAMI, MAKA TURUNKANLAH KAMI HUJAN ! DAN, SESUNGGUHNYA KAMI BERTAWASSUL KEPADAMU DENGAN PERANTARAAN PAMAN NABI KAMI, MAKA TURUNKANKANLAH KAMI HUJAN ! BELIAU BERKATA: KEMUDIAN ORANG-ORANG ITU DITURUNKAN HUJAN (OLEH ALLAH SWT) }.

JAWABAN AHLUSSUNNAH TERHADAP BEBERAPA SYUBHAT KAUM WAHABI ANTI MAULID

Write a comment

New comments have been disabled for this post.