Tuesday, 20. October 2009, 11:34:35
Nikmat apalagi yang kau Ingkari? Ku beri semua yang kau pinta... Kupenuhi semua keinginanmu... kau yang meratap mengatakan Aku meninggalkanmu, sedang tak pernah selangkahpun Aku meninggalkanmu, kau yang telah lupakan Aku berkata Aku telah melupakanmu... kau tuduh Aku membencimu karena tak pernah kabulkan doamu sedang kau sendiri tak pernah memintanya dengan tulus iklas padaKu...
Setiap hari kutunggu engkau menyapaku, tapi tak pernah kau ingat padaKu... Kau habiskan pagimu dengan teman-teman dan pekerjaanmu... Ku tunggu kau di siang hari, sore hari, senja hari, bahkan di setiap waktu aku menunggumu menyapaaKu, tapi kau tak pernah lakukan itu. dan ketika kesedihan menimpamu, kau tuduh Aku telah berlaku tak adil padamu... padahal Aku selalu disampingmu, Kuberi kau segalanya, dan kau masih berkata Aku tidak adil padamu.... Sekarang
Nikmat apa lagi yang kau ingkari dariKu?
Tuesday, 18. August 2009, 15:30:27
EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL
DI TENGAH MARAKNYA PASAR MODERN
Sudah menjadi rahasia umum bahwa keberadaan pasar tradisional di Indonesia kini mulai tergusur oleh pasar modern atau lebih dikenal dengan sebutan minimarket, supermarket maupun hypermarket. Di kota-kota besar kemunduran eksistensi pasar tradisional terlihat sangat jelas. Apalagi dalam salah satu berita di internet disebutkan bahwa omzet penjualan pasar tradisional di salah satu kota besar Indonesia, yaitu Bandung turun hingga 60%.
Tergusurnya pasar tradisional tentu mempunyai banyak sebab, salah satunya adalah karena harga-harga di pasar-pasar modern yang terkadang sangat murah, sehingga membuat para konsumen meninggalkan pasar tradisional dan beralih menjadi customer pasar modern. Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan tak mungkin jika suatu saat nanti pasar tradisional di Indonesia akan punah. Ini berarti ribuan bahkan puluhan ribu pedagang pasar tradisional di Indonesia akan menjadi pengangguran karena pasar tradisional tempat mereka mencari nafkah punah ditinggalkan oleh pembeli yang beralih berbelanja ke pasar modern.
Kita tentu tak ingin melihat hal ini terjadi. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh pemerintah daerah dan pemerintah nasional untuk melindungi pasar tradisional dari kepunahan. Dalam UU no 5 tahun 1999 misalnya, disebutkan bahwa demokrasi dalam bidang ekonomi menghendaki adanya kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi di dalam proses produksi dan pemasaran barang dan atau usaha jasa dalam iklim usaha yang sehat efektif, dan efisien sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pasar yang wajar. Dan untuk mencegah pasar modern menjual harga jauh dibawah harga di pasar tradisional, pemerintah telah membuat larangan sebagaimana tercantum dalam pasal 5 ayat 1 Undang-Undang nomor 5 tahun 1999 yang berbunyi “pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas suatu barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama”.
Sementara itu, andil pemerintah daerah yang juga sangat penting untuk melindungi keeksistensian pasar tradisional dari kepunahan. Salah satu cara yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah adalah dengan menerapkan Perda yang antara lain berisi :
1.Setiap pasar modern yang memiliki luas 1-200 m2 harus berada minimal 200 m dari lokasi pasar tradisional. Pasar modern ini digolongkan sebagai minimarket dimana jumlahnya maksimal 1 unit di kota kecil, 2 unit di kota besar dan 3 unit di kota metropolitan per kelurahan.
2.Setiap pasar modern yang memiliki luas 201-1000 m2 harus berada minimal 400 m dari lokasi pasar tradisional. Pasar modern ini digolongkan sebagai supermarket dimana jumlahnya maksimal 1 unit di kota kecil, 3 unit di kota besar dan 5 unit di kota metropolitan per kecamatan.
3.Setiap pasar modern yang memiliki luas > 1.001 m2 harus berada minimal 1 km dari lokasi pasar tradisional. Pasar modernh ini digolongkan sebagai hypermarket dimana jumlahnya maksimal 1 unit di kota kecil, 3 unit di kota besar dan 5 unit di kota metropolitan per kota/kota bagian.
Selain dengan menerapkan Perda, pemerintah daerah juga harus melakukan cara-cara lain demi menjaga keeksistensian pasar tradisional. Dalam hal ini, pemerintah daerah dapat mengambil andil dengan mengatur tata letak (lokasi) baik pasar modern maupun pasar tradisional. Selain itu, pemerintah daerah juga dapat melakukan pembinaan-pembinaan kepada para pedagang pasar tradisional untuk membentuk jiwa pedagang mereka menjadi jiwa pedagang dengan pribadi pelayanan prima (3A). Dengan jalan itu, kualitas dan layanan para pedagang pasar tradisional akan semakin meningkat.
Pemerintah seharusnya melakukan perbaikan di bidang pembangunan dan fasilitas pasar tradisional guna memberikan kenyamanan bagi para konsumen (pembeli). Langkah-langkah tersebut dapat diambil dengan jalan memperbaiki dan atau merenovasi bangunan pasar tradisional yang sudah tak layak pakai, melatih para pedagang pasar tradisional untuk menjaga kebersihan pasar, memberikan himbauan kepada semua aspek masyarakat agar berbelanja di pasar tradisional, baik dengan jalan melakukan himbauan di sekolah SD, SMP, SMA maupun di perkumpulan remaja di desa-desa.
Disini akan saya ambilkan contoh sebuah cara jitu yang dilakukan oleh pemerintah Malang demi menjaga keeksistensian pasar tradisional. Setiap minggu pagi, area jalan Semeru ditutup dan diubah menjadi sebuah pasar tradisional dadakan. Disitu berkumpul para pedagang kaki lima dan atau pedagang asongan yang menjajakan dagangan mereka di sepanjang jalan. Begitulah seharusnya pemerintah daerah bersikap. Siapa lagi yang bisa diharapkan para pedagang untuk membantu keksistensian pasar tradisional, sumber penghasilan mereka selain para pemerintah daerah yang terhormat. Kita sebagai masyarakat umum juga seharusnya ikut membantu menjaga pasar tradisional dari kepunahan dengan jalan membiasakan diri berbelanja di pasar tradisional. Dengan kesadaran kita, kita bahkan bisa menyakinkan orang-orang di sekitar kita untuk berbelanja di pasar tradisional.
Dan semua itu akan berjalan dengan sukses apabila semua bagian dari negara Indonesia mengikuti saran dan anjuran dengan benar dan tepat. Pedagang pasar tradisional harus menyadari akan pentingnya pelayanan prima dalam menghadapi pelanggannya, juga tentang arti kebersihan dalam lingkungan pasar, karena kebanyakan masyarakat enggan berbelanja di pasar tradisonal karena kebanyakan pasar tradisional di Indonesia dalam kondisi kumuh dan kotor. Pemerintah juga harus terus menerus menggalakakkan progam-progam guna memajukan sarana dan prasarana pasar tradisional, seperti melakukan penyuluhan kepada para pedagang pasar tradisional, melarang pasar modern dibangun di area sekitar pasar tradisional dan juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional. Sementara masyarakat dalam hal ini harus menyadari kebaikan-kebaikan yang didapat apabila mereka berbelanja di pasar tradisional.
Kita harus senantiasa menjaga keeksistensian pasar tradisional demi negara kita. Seperti yang saya paparkan diatas, kita tentu tidak mau melihat para pedagang pasar tradisional kehilangan pekerjaan mereka, menjadi pengangguran karena pasar tradisonal tempat mereka bekerja telah punah dimakan oleh waktu. Jika hal itu sampai terjadi, pengangguran di Indonesia akan bertambah berkali-kali lipat dan itu berarti perekonomian Indonesia akan semakin merosot. Maka dari itu, kita sudah seharusnya membuka mata kita. Pasar tradisional adalah warisan kakek nenek moyang kita dan lapangan kerja saudara-saudara kita yang harus kita jaga kelestariannya.
Bahkan pasar tradisional sebenarnya memiliki keunikan tersendiri, yaitu mengenai tradisi tawar menawar. Kita bisa saling tawar-menawar jika berbelanja di pasar tradisional, bahkan akan terlihat sangat aneh jika kita membeli suatu barang dari pasar tradisional tanpa melakukan penawaran terlebih dahulu. Biasanya pedagang di pasar tradisional akan menawarkan harga barang dua kali lipat dari harga yang seharusnya. Jika pembeli itu pintar menawar, maka dia akan mendapatkan barang dengan harga yang sangat murah tetapi akan terjadi sebaliknya jika sang pembeli tidak bisa menawar, dia akan mendapatkan barang dengan harga yang relatif tinggi. Tapi, bukankah tawar-menawar memang sudah menjadi kebiasaan ibu-ibu Indonesia? Ibu-ibu Indonesia sangat gemar melakukan kegiatan tawar menawar, sehingga ada suatu statement di salah satu media bahwa kalangan skeptis 100% percaya bahwa pasar tradisonal tidak akan pernah punah di Indonesia karena ibu-ibu Indonesia gemar melakukan tawar-menawar.
Tapi kita tidak lantas harus terpaku pada statement itu, kita harus tetap menjaga pasar tradisional tetap eksis dengan menjalankan beberapa point seperti yang saya sebutkan dia atas. Apalagi dengan semakin bertambahnya pasar-pasar modern di seluruh pelosok negeri, hal itu akan membuat keberadaan pasar tradisional terancam punah. Maka dari itu, kita sebagai salah satu element negara Indonesia, harus menyatukan tangan, melakukan perubahan-perubahan, baik dalam pola pikir maupun dalam perbuatan, untuk senantiasa menjaga keeksistensian pasar tradisional di negara Indonesia tercinta sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang kita. Pasar tradisional adalah pasar Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu, pasar Indonesia saat ini, dan akan tetap menjadi tempat berbelanja orang-orang Indonesia ratusan tahun yang akan datang.
Monday, 17. August 2009, 13:23:53
ketika malam menjelang, ketika sang surya pulang ke peraduannya, saat itu aku baru tersadar, aku telah menghabiskan satu hari dengan sia-sia. Hanya benci yang terus tumbuh dalam pelataran biru hatiku, tak ada lagi rasa damai yang biasanya menyelimuti hatiku dengan selimut sutra bersulamkan ketenangan dan kebaikan. Hatiku seakan mengelupas seiring berjalannya waktu, hanya menyisakan sekelumit kisah yang sangat menyedihkan untuk dikenang.
Andai aku bisa seperti mereka... Begitu sering kulafadzkan kalimat itu, sebuah pengandaian yang selalu mebuntutiku sesering "Andai aku pacarnya Christiano Ronaldo" maupun "Andai aku bisa sesukses menteri Perekonomian kita". Untuk pengandaian seperti ini, aku tidak menokohkan seorang rising star maupun figur yang patut ditiru. Mereka disini adalah sekelompok remaja seusiaku yang berjiwa besar, mau menrima takdir dengan ikhlas, sekejam apapun takdir itu. Aku merasa simpatik kepada mereka, walaupun kadang-kadang timbul perasaan kesal, mengapa mereka begitu bodoh mau dipermainkan nasib... Dan sekarang, mereka boleh tertawa melihatku. Seorang aku yang begitu gigih memperjuangkan nasibku kini tersungkur jatuh, terjerembab pada sebuah jurang yang menganga dalam, tak mungkin aku bisa kembali berjalan memperjuangkan nasib sedang untuk keluar dari jurang inipun aku tak kuasa...
Hiks... Hiks... Hiks...
Melankolis banget ya... but that's me... Ada salah seorang "teman" yang mengatakan bahwa aku adalah pribadi yang heboh dan dramatis. Hmmffh.. Thanks mbak atas nasehatnya, yach, walaupun aku yakin maksud mbak lebih dari sekedar menasehati, tapi aku tak peduli. Aku hidup dengan kecuekanku sekarang. Tidak ada tempat lagi untuk memikirkan semua tindakan "manis"mu padaku. Aku ikhlas menerimanya mbak, karena aku yakin, suatu hari nanti aku akan mendapatkan balasan atas semua kebaikan yang pernah mbak tanam. Seperti pada kasus "adik mbak tersayang". Setelah semua "perlakuan baik"nya padaku, akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang dia impikan selama ini, dan aku mendapatkannya dengan tidak bersusah payah, seolah aku mendapatkan panen dari sawah kebaikan yang dia tanam hanya karena dia telah memperlakukan aku dengan sangat "manis".
Selama ini, 18 tahun 10 bulan 26 hari,aku hidup dengan identitas namaku. Dengan agama turunan dari keluargaku, dengan bahasa dari ibu pertiwiku. Tapi aku bahkan tak tahu, siapa aku? Sering aku bertanya, Siapa aku? Mengapa aku bisa ada dalam tubuh ini? Mengapa harus tubuh ini? Dengan wajah ini, dengan sifat ini, dengan paham ini? Mengapa aku tidak seperti mbak Ira? Mbak Mia?Apa alasan Tuhan menempatkanaku didunia sebagai manusia, dengan bapak dan ibuku sebagai orang tuaku, dengan Fudin dan Ryan sebagai adekku, mengapa?? Setiap pertanyaan itu melintas dalam otakku, perasaan pusing yang aneh selalu menjalar dalam diriku. Rasanya seakan aku benar-benar buta dari semuanya. Aku bahkan tidak tahu mengapa jantung ada dalam tubuhku? Tuhan... betapa bodohnya aku...
Aku yakin pertanyaan seperti itu hanya akan menghambat langkahku, maka setiap kali pertanyaan itu terlintas, aku akan dengan segera mengalihkan perhatianku pada hal lain, aku terlalu bodoh untuk mengetahui jawaban atas semua pertanyaan sulit itu. Tapi setiap kali aku terjatuh, pertanyaan serupa akan kembali padaku, bahkan disertai dengan seribu pertanyaan hebat lain yang takkan mungkin bisa kujawab. Aku hanya ingin tahu akan arti keexisanku di dunia ini? Apa aku? dan mengapa aku ada disini?
Tuhan.... Tolong aku.... Aku benar-benar tersesat, aku lupa jalan pulang, Sinari aku dengan pancaran rahmatMu, Terangi aku dengan HidayahMu... Selalu Ingatkan aku jika aku Khilaf Tuhan...
Monday, 10. August 2009, 05:15:26
Moodku agak sedikit bagus tadi pagi, tapi langsung memburuk begitu aku sampai di teknos. Entah mengapa aku sekarang menjadi sangat sensitif pada kata "teman".
Aku sekarang sangat membenci pertemanan. Mengapa? Kalian mungkin berfikir aku orang aneh atau aku orang yang sangat menyebalkan sehingga tidak bisa diterima di masyarakat. Terserah mau bilang apa, aku tahu bahwa aku bukan manusia yang baik. Aku tahu bahwa aku adalah gudang salah, khilaf dan dosa. Tapi tentu tidak seburuk itu kan? Maksudku, ada beberapa orang yang "tampaknya" seperti menyukaiku. Sebut saja kedua orang tuaku, kedua adikku, kakek-nenekku dan para familiku, bukankah mereka sayang padaku? Ada juga beberapa orang "sahabat" yang aku jamin pasti sayang padaku. Yang kumaksud disini adalah "teman". Ones around us, who has interaction with us. Orang-orang disekitar kita yang berinteraksi dengan kita.
Bukankah mempunyai banyak teman itu bagus? Begitulah anggapan banyak orang sekarang, dan begitu pula anggapanku dulu. Tapi setelah aku mengalami banyak kekacauan gara-gara ingin punya banyak "teman", aku sekarang berada pada tahap pemikiran yang sangat individualis, bahwa teman adalah tak lebih dari sekedar panggilan yang kita tujukan kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan kita tanpa mengakibatkan hubungan emosional seperti setia kawan, berkorban demi teman dan sebagainya.
Ada satu waktu (at past) dimana aku sangat menghargai "pertemanan". Maksudku, aku benar-benar menjalin hubungan emosional dengan orang-orang yang sering berinteraksi denganku. Para rekan kerjaku dan para teman sekelasku misalnya. Ketika para "teman" ini mengeluhkan masalah mereka padaku, aku akan langsung terlibat pula dalam masalah itu, mencoba membantu sang "teman" lepas dari masalahnya. Itu terjadi berulang kali, aku menyibukkan diriku terlalu jauh memasuki dunia mereka, bahkan seringkali aku mengabaikan kepentinganku sendiri. Bukankah berkorban demi teman itu bagus?
Sampai pada suatu waktu dimana aku mulai belajar untuk berfikir, ketika aku mulai merasa kecewa pada para "teman". Aku bukannya meminta mereka membantuku dari masalah yang aku hadapi. Aku tidak pernah berfikir untuk mendapatkan bantuan dari semua masalah yang aku hadapi. Aku lebih suka mengatasi masalahku sendiri daripada dibantu sahabat, teman, pun oleh keluargaku. Aku hanya tak habis pikir, setelah apa yang aku puja tentang mereka, ternyata sebagian besar dari mereka adalah "my trouble maker". Sebagian besar diantara mereka ternyata mempunyai beberapa planning (rencana) untuk memakmurkan diri mereka dengan cara mencekikku, seperti itulah kiasannya. Ketika aku menghadapi beribu masalah semacam itu dgn dalang "teman" dibalik semua masalah yang menimpaku, sampailah aku pada kesimpulan "no friend is better".
Bukannya aku sombong dan sok tak butuh teman. Tapi keberadaan mereka memang tak membantu banyak. Ayolah berfikir... Aku sudah bilang kan kalau aku memang terbiasa melakukan apa-apa sendiri, pun ketika aku mentog, jedok, notok pada jalan buntu, aju tidak akan mencari teman untuk membantuku, pasti keluarga dan sahabatku yang akan datang tanpa perlu kuundang. Menurutku itu adalah pemikiran terbagus yang pernah terlintas di otakku. Aku memang tidak butuh "teman" secara emosi. Aku mungkin memang harus "berteman" dengan orang-orang disekelilingku, tapi aku tak akan benar-benar berusaha mengenal mereka. Prinsipku, semakin kurangi interaksi, semakin aku menjauh dari mereka, maka semakin aman pula diriku. Pun jika akhirnya menjadi "my trouble maker", aku pasti tidak akan begitu kecewa. Akan kuanggap saja dia orang lain yang tidak kukenal, orang asing yang setiap hari selalu datang. Tapi bukankah kita memang diharuskan untuk tidak mempedulikan orang asing. Jadi...
Let's our life going on.. Without friend..
Jika kamu dihadang masalah, pecahkanlah, dan kamu juga tidak akan kecewa pada si pembuat masalah itu. Toh dia adalah orang asing yang tidak pernah kamu kenal..
No friend is better, isn't it?
Sunday, 9. August 2009, 06:37:56
What's going on? I don't know what happen to my self these last day.. I mean, i spend a very unbelieve day as my grandma's death day. I feel i lost my self..
Ya, aku kehilangan diriku. Oh, aku bahkan lupa apakah aku punya something special. Mungkin aku yang terlalu berani bermimpi. Seorang "aku" yang lupa daratan, aku yang menginginkan sesuatu yang sangat berharga..
Kebahagiaan, itu yang aku inginkan. Tapi aku selalu gagal, maksudku terlalu banyak cobaan yg harus aku lewati.. Dan aku hanya seorang manusia, aku tidak bisa terus menerus bersabar. Aku ingin sekali menjadi seperti teman-temanku. Mereka yang pasrah pada takdir dan membiarkan kdhidupan mereka mengalir apa adanya? Mengapa aku punya perasaan, mengapa aku tidak bisa pasrah pada nasib, mengapa aku tdk bisa membiarkan hidupku mengalir apa adanya...
Aku bermimpi terlalu banyak.. Bantu aku bangun TUHAN.. Bantu aku.. Jangan biarkan aku dilelapkan mimpi.. Mungkin sudah saatnya aku membunuh semua mimpi-mimpiku..
God bye my dreams...
Sunday, 9. August 2009, 05:46:40
All about my dream? You might think i've reached all i've dreamed.. But it isn't allright. I'm just a girl who wannabe someone else, who dreams too much, and who being stubbed in the back.. "welcome to my life"nya simple plan adalah lagu, semangat, dan motivasiku. Hampir setiap hari aku terjatuh, muak akan segala omong kosong dunia. Tapi aku terus mencoba untuk bertahan, bukan demi diriku, tapi demi orang-orang yang aku cintai.. Aku pergi meninggalkan mereka, meninggalkan semua kebahagiaanku hanya demi membuat mereka bahagia.. Aku sendirian disini, di tanah yang tak kukenal.. Tapi aku tetap bertahan..
Untuk orang-orang sepertiku, manusia yang meninggalkan kebahagian mereka demi kebahagiaan orang yg mereka cintai.. Terus semangat.. Aku yakin, mimpi kita akan membimbing kita ke jalan yg benar.. Keep Trying and Praying.. I believe we can reach my dream.. For ones we love...