Tujuan Pamungkas Manusia; Perspektif Pelbagai Mazhab 4
Wednesday, April 25, 2012 7:12:17 PM
5. Aliran Naturalisme (Prinsipalitas Alam)
Pendukung aliran ini berasas pada keyakinan bahwa usaha dan upaya manusia harus berada dalam lingkup kemestian dan kecenderungan alami dari kehidupan ini.
Dengan ibarat lain, jika seorang manusia bertindak sesuai dengan kemestian alami dan natural yang diperuntukkan bagi manusia, maka ia pasti akan memperoleh kehidupan yang ideal dan bahagia.
Salah satu dari penggagas teori ini adalah Lao Tzu/Laozi yang menganggap bahwa peradaban, teknologi, dan varian-variannya merupakan musuh bagi kebahagiaan manusia dan berkeyakinan bahwa manusia harus menyingkir dari hal-hal seperti itu.
Cyniques yang hidup pada masa Yunani kuno mengekspresikan teori semacam ini, bahwa orang-orang pada zaman Yunani kuno berada dalam keyakian dimana persoalan-persoalan semacam pemerintahan, kekayaan, perkawinan, dan kenikmatan-kenikmatan seksual seluruhnya merupakan persoalan-
persoalan yang tidak bermanfaat, dengan demikian untuk memperoleh kehidupan yang berbahagia dan beruntung tidak ada cara lain kecuali dengan meninggalkan masyarakat dan kembali memulai sebuah kehidupan yang sederhana. Para pengikut Stoiciens pun hingga batasan tertentu merupakan pendukung dari teori ini, tentunya dengan perbedaan pendapat dalam masalah kesempurnaan manusia sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya.
Pada kurun akhir Jean-Jacques Rousseau memperbaharui teori ini dari dasar. Dia mencoba mengembalikan teori ini kepada alam dan dia meletakkan penghindaran dari segala hiruk pikuk peradaban sebagai inti bagi seluruh program pendidikannya.
6. Scientisme (Prinsipalitas Ilmu)

Sekelompok dari para ilmuwan menganggap ilmu dan pengetahuan sebagai tujuan tertinggi dari kehidupan manusia dan mereka menyarankan kepada manusia untuk meletakkannya sebagai sembahan dan menganggapnya sebagai tujuan akhir kehidupannya. Sigmund Freud sepakat bahwa ilmu harus disembah dan diletakkan sebagai pengganti posisi Tuhan dan mazhab.
Menurut persangkaan Freud jika kita menganggap ilmu sebagai sesuatu yang ideal dalam kehidupan manusia, maka di bawah pancaran keberadaannya akan tercipta persahabatan dan persamaan, dan seluruh kesulitan, keresahan, dan kesusahan manusia akan mendapatkan kemudahan dan ketenangan.
Bertrand Russell pun termasuk salah satu dari pendukung teori ini. Sebagaimana halnya Freud dia pun memiliki keimanan dan keyakinan yang begitu kuat terhadap ilmu dan dia juga menganggapnya sebagai sesuatu yang layak untuk disembah dan dijunjung tinggi. Menurut persangkaannya, ilmu
mampu menambah kemampuan-kemampuan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik dan buruk ,dan pada akhirnya keimanan dan keyakinan kepadanya akan mampu menciptakan hubungan sosial yang benar di antara para individu.
Pada prinsipnya akar dari Scientisme ini telah dimulai oleh Francis Bacon pada awal Renaisance dengan slogannya yang mengetengahkan kesejajaran ilmu dengan kemampuan dan kekuasaan, dan setelah itu Auguste Comte yang berkebangsaan Perancis dengan teriakannya bahwa mazhab generasi mendatang adalah ilmu dan pengetahuan.
Di dalam teori ini pun ditemukan beberapa kritikan dan kelemahan, karena pada hakikatnya ilmu hanyalah murni sebagai alat pengenal dan hanya mampu menjelaskan hubungan antara fenomena-fenomena dan persoalan-persoalan yang ada.
Ilmu adalah pengetahuan tentang manusia dan alam. Manfaat dari ilmu adalah ia mampu menambah pengetahuan manusia dan menciptakan manusia untuk mendominasi alam. Ilmu merupakan alat dan perantara bagi manusia untuk mengetahui dan menambah kemampuan menguasai sesuatu. Akan tetapi, dengan adanya hal ini, bukan berarti bahwa manusia hanya membutuhkan pada ilmu saja! Karena lebih dari itu, manusia juga membutuhkan pada sesuatu yang lain, dan sesuatu-sesuatu yang lain tersebut adalah sesuatu yang menjadi pelengkap ilmu, dan ilmu akan mampu mengkonstruksi manusia hanya ketika ia berada dalam bayangannya. Tidak diragukan lagi bahwa hanya ketika berada di bawah pancaran iman-lah ilmu akan mampu melakukan gerak dan dinamika; dan iman jualah yang menunjukkan tujuan serta sasaran dari kehidupan manusia, ia mendorong manusia kepada semangat dan rasionalitas lalu mengkonstruksinya dari dalam. Iman-lah yang mampu menentukan tujuan pengggunaan dan pemanfaatan ilmu. Ilmu tanpa iman tak ubahnya musibah dan bala bagi manusia, sebagaimana hal ini telah terjadi pada masa lalu maupun saat ini.






