Saturday, April 28, 2012 6:40:02 PM
fundamental manusia, karena penerimaan maupun penolakan terhadapnya memberikan konsekuensi yang fundamental.
Alam luas yang diasumsikan sebagai produk sebuah kekuatan yang maha sempurna dan maha
bijaksana dengan tujuan yang sempurna berbeda dengan alam yang diasumsikan sebagai akibat dari
kebetulan atau insiden. Manusia yang
memandang alam sebagai hasil penciptaan Tuhan
Maha Bijaksana adalah manusia yang optimis dan
bertujuan. Sedangkan
manusia yang memandang alam sebagai akibat
dari serangkaian peristiwa acak atau chaos adalah
manusia yang pesimis, nihilis, absurd dan risau
akan
kemungkinan-kemungkinan yang tak dapat
diprediksi.
Umat manusia sejak awal kehadirannya di atas
pentas sejarah telah memberikan nama yang
berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang
digunakan masing-masing, kepada kausa prima
alam keberadaan.
Orang Persia menyebutnya Yazdan atau Khoda.
Orang Inggris menyebutnya Lord atau God. Kita
menyebutnya Tuhan atau Sang Hyang.
Dialah Tuhan Maha
Sempurna.
Kepercayaan pada “yang adikodrati”, merupakan
bagian integral dari kehidupan manusia, baik
terbentuk dalam sebuah lembaga transendental
yang disebut “agama” maupun tidak diagamakan.
Kendati demikian, konsep dan keyakinan tentang
Tuhan telah berkembang dan terpecah dalam
beberapa aliran ketuhanan.
Tuhan sejak babak pertama peradaban sampai
sekarang telah menjadi objek pengimanan dan
penolakan. Manusia, sebelum dibagi dalam
kelompok agama bahkan sebelum dibagi dalam
kelompok monteis dan politeis, telah terbagi dalam
dua aliran besar, ateisme dan teisme. Istilah ini
berasal dari kata Yunani atheos (tanpa Tuhan) dari a
(tidak) dan theos (Tuhan). Ia adalah aliran yang
menolak adanya Tuhan Pencipta alam semesta.
Dalam bahasa Arab disebut Al-ilhad.
Kata yang memberikan signifikansi wujud Pencipta
dalam al-Qur’an sangat banyak.
Semuanya dapat
dibagi dalam beberapa dimensi dan
konteks:
Pertama, kata yang menunjuk Tuhan
dipergunakan sebagai
nama umum atau atribut universal.
Kedua, kata yang menunjuk Tuhan digunakan
dalam dua bentuk sekaligus, universal dan
personal.
Ketiga, kata yang menunjuk Tuhan digunakan
sebagai nama umum semata.
Keempat, kata yang mengandung arti
kesempurnaan dan kebaikan. (al-asma’ al-
hunsa).
Kata “Tuhan”, misalnya, yang bila digunakan
sebagai nama umum, maka huruf “t” di depannya
dikecilkan, dan bila digunakan untuk menunjuk
nama khusus, maka huruf “t” di depannya
dibesarkan (Tuhan). Demikian pula “God” dalam
bahasa Inggris atau “Khoda” dalam bahasa Persia.
Karena itu bila ada yang mengartikan la ilaha illallah
dengan “tiada tuhan selain Tuhan” bisa ditolerir.
Kelima, kata yang menunjuk “Tuhan” digunakan
sebagai nama personal (alam syakhshi) semata.






